Kamu adalah Pengungsi…

hearbreaking-pictures-of-syrian-refugee-kids
zerobulletin.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Usiamu 29 tahun. Kamu punya seorang istri, dan dua orang anak kecil. Kamu punya pekerjaan yang bagus di kota tempat tinggalmu. Gajimu cukup. Kamu bisa menabung, dan hidup dengan nyaman. Kamu punya rumah kecil di pinggir kota.

Tiba-tiba, keadaan politik di negaramu berubah. Dalam waktu beberapa bulan, banyak tentara lalu lalang di depan rumahmu. Mereka memaksamu untuk ikut berperang bersama mereka. Jika kamu tidak mau, kamu akan ditembak. Salah seorang tetanggamu berani melawan mereka. Ia ditembak. Mati.

Salah seorang tentara mengancam untuk memperkosa istrimu. Kamu tidak merasa aman lagi di rumahmu sendiri. Daerah perumahanmu sudah nyaris rata dengan tanah, karena dibom. Hampir tidak ada gedung yang utuh.

Kamu memutuskan untuk membawa seluruh keluargamu ke luar kota, kembali ke rumah orang tuamu di kota lain. Namun, rumah itu sudah tidak ada. Orang tuamu juga sudah mati tertembak. Tidak ada mayat. Tidak ada kabar.

Mereka bilang: “Namun, para pengungsi itu punya banyak barang bagus. Mereka punya Smartphone mewah! Baju mereka pun bagus-bagus!”

Dalam keadaan panik, kamu dan keluargamu segera berkemas. Kamu memasukan semua pakaian yang kiranya dibutuhkan untuk perjalanan. Apa yang akan kamu bawa? Kamu mungkin tidak akan kembali ke tanah airmu lagi. Bagaimana kamu bisa mendengar kabar dari mereka? Dengan terburu-buru, kamu memasukkan smartphone yang kamu punya ke dalam tas. Kamu juga membawa beberapa baju, beberapa makanan, dan boneka kesayangan anakmu.

Mereka bilang: “Para pengungsi itu punya banyak uang. Mereka bisa kabur buktinya!”

Kamu sudah tahu sebelumnya, bahwa krisis akan datang. Kamu menarik semua uang yang kamu punya dari bank, dan menjual semua hartamu. Uang 150 juta Rupiah pun terkumpul. Untuk bisa mengungsi ke negara lain, kamu harus membayar 50 juta rupiah untuk satu kepala. Dengan sedikit keberuntungan, kamu bisa pergi sebagai satu keluarga. Jika tidak, kamu harus merelakan istrimu untuk pergi bersama kedua anakmu. Akhirnya, semua uangmu habis. Yang ada hanya tas berisi pakaian. Kamu harus berjalan kaki selama dua minggu untuk mencapai pelabuhan.

Perutmu lapar. Selama seminggu terakhir, kamu nyaris tidak makan. Tubuhmu lemah. Tubuh istrimu pun juga lemah. Namun, setidaknya, kedua anakmu mendapatkan cukup makan dan minum. Mereka terus menangis sepanjang perjalanan. Kamu juga harus menggendong anakmu yang paling kecil. Usianya baru 21 bulan. Dua minggu lagi, kamu akan tiba di pelabuhan.

Di malam yang gelap, kamu dan keluargamu masuk ke dalam kapal bersama para pengungsi lainnya. Kamu beruntung, bahwa seluruh keluargamu bisa pergi mengungsi. Kapal laut itu terlalu kecil, dan penumpang terlalu banyak. Semoga ia tidak tenggelam. Orang-orang di sekitarmu berteriak dan menangis.

Beberapa anak kecil sudah meninggal, karena kehausan. Mayat mereka dibuang ke laut begitu saja. Istrimu duduk di pinggir kapal. Dia tidak makan dan minum selama dua hari ini. Setelah beberapa waktu, kamu harus berpisah dengan mereka. Istrimu dan anak tertuamu di satu kapal, dan kamu bersama anak terkecilmu di kapal lain.

Kamu dipaksa untuk tetap diam sepanjang perjalanan, supaya kapalmu tidak dicurigai tentara. Anak tertuamu mengerti. Namun, anak terkecilmu terus menangis. Para pengungsi lainnya tampak prihatin. Mereka meminta kamu untuk menenangkan anakmu. Salah seorang dari mereka merebut anakmu darimu, dan membuangnya ke laut. Kamu melompat untuk menyelamatkan dia. Namun, cahaya terlalu gelap. Udara dan air terlalu dingin. Kamu tidak bisa menemukannya. Kamu tidak akan pernah bisa melihat dia lagi. Padahal, tiga bulan lagi, usianya dua tahun….

Mereka bilang: “Tapi, para pengungsi itu hanya menjadi parasit disini! Mereka mengemis, tanpa mau berusaha!”

Sampai detik ini, kamu tidak tahu, kemana kamu akan pergi. Kamu duduk sendiri. Istrimu dan anak tertuamu ada di kapal lain. Kamu beruntung, akhirnya, kamu bisa bertemu lagi dengan mereka. Istrimu hanya terdiam, ketika kamu bercerita tentang anak terkecilmu. Anak tertuamu memeluk boneka adiknya yang telah meninggal. Ia tampak membeku…

Akhirnya, kamu tiba di daratan. Tempat ini disebut kamp pengungsi darurat. Orang-orang dengan berbahasa asing berteriak mengatur keadaan. Ada 500 tempat tidur yang saling berdempetan satu sama lain.

Lebih dari tiga hari, kamu tidak makan dan minum. Tubuhmu lemas. Kamu berharap untuk mati saja. Lalu, kamu melihat istri dan anakmu. Kamu memeluk mereka ke dalam dekapanmu. Kamu tertidur bersama mereka.

Mereka bilang: “Mereka sudah enak hidupnya disini. Tidak perlu kerja, tapi dapat makan! Mereka harus merasa bahagia!”

Esok paginya, kamu mendapat makan dan minumnya untuk pertama kalinya setelah beberapa hari. Kamu memeriksa teleponmu, menantikan kabar dari keluargamu di tanah air. Tidak ada kabar apapun.

Segerombolan orang datang dan berteriak, “Kembali ke rumahmu! Kamu tidak diinginkan disini!”

Kamu adalah pengungsi…

Jutaan pengungsi dari Suriah dan beragam negara di Timur Tengah lainnya mengalami nasib semacam ini setiap harinya. Apakah kita sudah membantu? Dimana Indonesia? Dimana Arab Saudi? Dimana Qatar? Dimana negara-negara tetangga di Timur Tengah yang mengaku beragama dan beriman? Bukankah kita seharusnya saling membantu? Mau berapa mayat lagi dibuang di laut? Mau berapa anak kecil dan orang tak bersalah lagi yang harus jadi korban?

Diolah dari tulisan Faz Ali dan John Vibes dari media independen TrueActivist.com

 

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

4 tanggapan untuk “Kamu adalah Pengungsi…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s