Mengapa Indonesia “Miskin”?

balticasia.lt
balticasia.lt

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Unika Widya Mandala Surabaya

Mengapa Indonesia miskin? Padahal, jumlah rakyatnya banyak. Banyak yang berbakat, cerdas dan mau bekerja keras untuk mengembangkan diri dan bangsanya. Kekayaan alam pun berlimpah ruah.

Kita memiliki minyak, gas dan beragam logam sebagai sumber daya alam yang siap untuk diolah. Kita memiliki tanah yang subur yang siap ditanami beragam jenis tanaman. Kita memiliki hutan yang luas yang bisa memberikan udara segar tidak hanya untuk bangsa kita, tetapi untuk seluruh dunia. Akan tetapi, mengapa kita masih miskin, walaupun kita memiliki itu semua?

Keadaan Kita

Di satu sisi, banyak orang kesulitan untuk mencari pekerjaan yang layak. Mereka harus menerima fakta, bahwa pekerjaan mereka bersifat sementara. Mereka bisa dipecat sewaktu-waktu. Gajinya pun tidak layak untuk memberikan kehidupan yang layak.

Banyak juga orang yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Mereka kesulitan mencari makan, sandang dan papan yang layak untuk manusia. Banyak juga keluarga yang hidup di dalam kemiskinan akut. Mereka tidak hanya mengalami kesulitan ekonomi berat, tetapi juga kerap kali sakit secara fisik.

Di sisi lain, ada orang-orang yang hidup dengan amat berkelimpahan. Gaji mereka puluhan bahkan ratusan juta setiap bulannya. Mereka hidup di rumah-rumah besar, seperti yang bisa kita lihat di berbagai perumahan mewah di berbagai kota di Indonesia. Mereka menggunakan mobil mewah setiap harinya.

Mereka berbelanja di mall-mall besar. Mereka berwisata ke “negara-negara mahal” setiap tahunnya. Keadaan ini kontras berbeda dengan keadaan kelompok lainnya yang hidup dalam kemiskinan akut. Kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin begitu besar dan begitu terasa di Indonesia.

Jika ini dibiarkan, maka hidup bersama akan menjadi sulit. Keadaan hidup sehari-hari akan dipenuhi ketegangan, kecurigaan dan rasa takut antar warga. Kriminalitas meningkat. Dan sangatlah mungkin, bahwa kekerasan akan meledak di tingkat politik, misalnya dalam bentuk revolusi berdarah.

Lembaga dan Mentalitas

Yang mendorong suatu negara berkembang adalah kualitas lembaga publiknya, seperti berbagai lembaga pemerintah, penegak hukum, parlemennya, militer dan lembaga pendidikan. Mereka adalah lembaga yang dibiayai dengan uang rakyat, yakni pajak, dan bekerja untuk kepentingan seluruh rakyat, tanpa kecuali. Mereka bertanggungjawab untuk kesejahteraan publik rakyat Indonesia. Mereka adalah motor pembangunan.

Di Indonesia, lembaga-lembaga publik ini tidak bekerja dengan baik. Mayoritas dipenuhi korupsi. Uang rakyat digunakan untuk keperluan pribadi ataupun golongan semata. Akibatnya, banyak program untuk pengembangan kesejahteraan bersama tidak berjalan.

Lembaga-lembaga ini telah mengkhianati kepercayaan rakyat. Mereka mengingkari alasan keberadaannya, yakni demi kesejahteraan rakyat. Padahal, pimpinan-pimpinan utama mereka dipilih langsung oleh rakyat. Mengapa ini bisa terjadi?

Di berbagai negara yang makmur, lembaga publik berkembang lintas generasi. Mereka sudah diciptakan sejak ratusan tahun yang lalu. Banyak hal telah dipelajari, sehingga kini mereka bisa berfungsi dengan relatif baik. Ada mentalitas dan budaya yang sudah tercipta di dalam berbagai lembaga publik tersebut, yang mendukung proses-proses kerja mereka.

Ini tidak terjadi di Indonesia. Lembaga-lembaga publik di Indonesia masih amat muda. Mereka tidak punya tradisi yang berkembang lintas generasi, seperti yang ditemukan di berbagai negara makmur. Mentalitas dan budaya lembaga yang ada hancur, akibat penjajahan selama ratusan tahun oleh Belanda, Inggris, Spanyol, Portugis dan Jepang, serta juga oleh Orde Baru Suharto.

Penjajahan telah merusak budaya dan mentalitas di Indonesia. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di banyak negara Afrika dan Amerika Latin. Jejak-jejak penjajahan masa lalu yang dipenuhi kekerasan, perbudakan, penipuan, penghisapan, pembunuhan massal serta penghancuran tata nilai masih mempengaruhi kehidupan saat ini. Kehancuran budaya dan mentalitas ini pula yang membuat banyak lembaga publik di Indonesia dan di berbagai negara tersebut cacat.

Penjajahan Asing

Sejujurnya, penjajahan asing belum berakhir di Indonesia. Infrastruktur ekonomi dan budaya kita masih amat tergantung sama asing. Mayoritas perusahaan besar yang mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia masih dimiliki oleh asing. Perjanjian kerja yang dibuat antara pemerintah dan berbagai perusahaan asing tersebut juga kerap kali tidak adil.

Banyak perusahaan asing mendirikan pabrik dan kantor di Indonesia. Mereka memanfaatkan standar gaji dan perlindungan pekerja yang rendah di Indonesia. Di beberapa tempat, mereka menggunakan kekerasan untuk menekan para pekerja. Para penegak hukum Indonesia disuap untuk diam, dan bahkan mendukung kekerasan yang terjadi.

Beragam pengolahan sumber daya alam juga masih dikuasai oleh pihak asing. Manajemen puncak masih dipegang oleh orang-orang asing. Mayoritas pekerja Indonesia hanya menjadi manajer rendah atau pesuruh belaka, walaupun kemampuan mereka setingkat dengan para pekerja asing, atau bahkan lebih baik. Perjanjian kerja yang dibuat antara beragam perusahaan asing dan pemerintah Indonesia pun kerap kali juga tidak adil.

Yang lebih mengherankan lagi adalah soal struktur mata uang. Mengapa orang Eropa bisa dengan mudah liburan ke Indonesia, sementara kita sulit sekali untuk liburan ke Eropa? Yang jelas, mereka tidak lebih cerdas ataupun rajin, jika dibandingkan dengan orang Indonesia. Ini terjadi, karena struktur mata uang dunia yang tidak adil.

Saya masih heran sampai sekarang dengan struktur mata uang tersebut. Jika diperhatikan dengan jeli, ini adalah sistem warisan masa penjajahan dahulu, ketika bangsa-bangsa Eropa secara agresif menyerbu berbagai negara lain di dunia. Sistem mata uang dunia adalah sistem yang secara inheren tidak adil dan berbau penjajahan serta penindasan. Ini memberikan kerugian yang amat besar untuk Indonesia, sekaligus keuntungan yang berlimpah ruah untuk negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Tata nilai kita juga kabur, akibat dominasi asing yang begitu kuat. Di satu sisi, banyak orang yang lebih bangga bergaya hidup Amerika dan Eropa, daripada menghayati nilai budaya tempat asalnya. Di sisi lain, banyak orang yang meniru budaya Arab, supaya kelihatan lebih saleh dan suci, walaupun sebenarnya dipenuhi kemunafikan. Kebingungan identitas antara budaya lokal Indonesia, budaya Arab Timur Tengah serta budaya AS dan Eropa ini berdampak luas, terutama dalam soal tata nilai yang menjadi dasar dari tindakan sehari-hari kita di Indonesia.

Tersangka koruptor tiba-tiba menggunakan jilbab, ketika disidang. Ayat-ayat agama digunakan untuk menindas dan merugikan orang lain. Orang tergila-gila dengan merk asing, walaupun harganya sangat tidak masuk akal, dan mutunya biasa-biasa saja. Orang rela jadi budak asing, supaya dapat uang receh, suap ataupun cipratan hasil korupsi.

Kerancuan tata nilai tersebut menciptakan kebingungan di banyak bidang, termasuk lembaga-lembaga publik kita. Tekanan suap dari pihak asing dan dominasi budaya yang dipenuhi kemunafikan membuat beragam lembaga publik kita tersendat. Tak heran, kita tetap “miskin”, walaupun sebenarnya kita kaya, amat sangat kaya. Kemiskinan akut di tengah “surga” dengan kekayaan melimpah bernama Indonesia, ironis bukan?

Mengapa Kita “Miskin”?

Sebagai bangsa, kita tetap “miskin”, karena lembaga publik kita tidak memiliki mentalitas dan budaya yang cocok untuk melayani rakyatnya. Kita juga hidup dalam bayang-bayang asing, baik dalam tingkat politik, ekonomi maupun tata nilai (Barat dan Timur Tengah). Secara kualitatif, mutu berpikir dan kemauan bekerja orang Indonesia setara dengan beragam negara lainnya, bahkan mungkin lebih baik dalam banyak hal. Jika kita bisa “memaksa” lembaga publik kita untuk menjalankan fungsinya sebaik mungkin, dan bersikap kritis terhadap beragam pengaruh asing yang masuk, maka jalan menuju keadilan dan kemakmuran bersama di Indonesia terbuka luas.

Tunggu apa lagi?

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

24 tanggapan untuk “Mengapa Indonesia “Miskin”?”

  1. Saya setuju terutama di bagian struktur mata uang asing. Apalagi di daerah perbatasan spt di kab Nunukan warga belanja dengan mata uang Ringgit. Garuda kalah dengan macan Malaya di negerinya sendiri.

    Suka

  2. Dari uraian bapak, mungkin bagi saya lebih tepat kritikan tersebut bukan ditujukan oleh lembaga2 pemerintah. KarenA lembaga-lembaga pemerintah hanya’nya wadah untuk orang-orang yang ada didalam’nya dalam menjalankan kewenangan’nya.
    Kritikan semacam itu lebih tepat ditujukan kepada rakyat Indonesia yang masih bermental lemah. Kehilangan identitas pribadi, dan mendewakan dunia diluar Indonesia.

    Suka

      1. memang kenyataan yang saya lihat seperti itu pak, mental orang2 yang ada di dalam lembagalah yang lemah. bukan karena lembaga publik’nya.
        Karena orang-orang’lah yang menjalankan lembaga publik itu, bukan lembaga publik yang menjalankan orang-orang’nya.
        seperti analogi “Pistol”, pistol tidak’lah bernilai baik atau buruk ia netral, namun orang yang menggunakan Pistol itulah yang menentukan apakah sebuah pistol akan bernilai baik atau buruk.
        Ditangan Polisi Pistol akan bernilai baik, karena digunakan untuk keperluan kedinasan untuk melindungi rakyat sipil (Ideal’nya)
        Ditangan Perampok Pistol akan bernilai buruk, karena digunakan untuk melakukan perampokan.
        Jadi disini bukan’lah salah Pistol, tapi orang yang menggunakan’nya.

        layak’nya lembaga publik itu.
        Jadi kita bisa membenahi’nya dari SDM yang ada di Lembaga Publik itu sendiri.

        Suka

  3. salah satu kesalahan kita adalah dalam setiap perjanjian kontrak kerja dengan asing selalu melibatkan orang ke 3 yang notabene pejabat publik yang berkopeten sehingga pembagian hasil sering kali lebih banyak ke asing dan orang ketiga,negara hanya diberi 0,….%sampai paling banyak 2%. kemiskinan negara ini karna MENTAL yang dibangun salah,salah satu kesalahan paling fatal mengubah negara agraris dan perikanan menjadi negara industri tanpa persiapan pembangunan SDM.

    Suka

  4. Saya fikir problem utama lembaga publik di Indonesia khususnya masyarakat jawa adalah filsafat PNS yang diciptakan oleh orang tua di daerah – daerah. ” Sekolah yang pinter men iso dadi PNS tuanem kepenak ayem tentrem ora kefikiran neko-neko”. Saat sudah memasuki lembaga – lembaga publik dilema antara kemampuan dan hasil. Generasi – generasi terbaik yang seharusnya bisa berkembang sangat pesatjustru harus terjebak dan terkurung di dalam sebuah tempurung yang bernama lembaga publik dan berlabel “PNS”. Ketidaksiapan individual-individual di dalam lembaga-lembaga pemerintah antara beban psikologis yang harus dia tanggung dengan hasil (Kemampuan negara membayar) menciptakan faktor pendorong yang cukup kuat untuk mengambil sedikit yang menurut mereka pantas dapatkan. Ditunjang dengan sistem kekeluargaan ala Jawa dan filsafat Indonesia, “Gajah di pelupuk mata tak tampak, Semut di seberang lautan tampak”.

    Suka

  5. Ironis sekali ya..
    Kita menjadi “budak” di negeri sendiri. Kita bagaikan ikan yang kehausan di tengah air. Ditambah lagi, mentalitas bahwa yang “asing” lebih baik ada di mana-mana. Orang yang hebat ialah orang yang menggunakan pakaian, aksesoris dan barang-barang bermerek “luar negeri” (padahal bahan bakunya dari Indonesia). Selanjutnya, mulailah barang-barang produksi Indonesia dilabeli dengan merk luar negeri supaya laris.

    Korupsi..??? Indonesia bahkan disebut sebagai negara paling korup di Asia Tenggara. Korupsi telah menjadi sedemikian sistematis. Di mana-mana korupsi. Mulai dari pusat sampai ke daerah-daerah. Biaya kampanye yang begitu besar pada akhirnya menuntut pengembalian. Orang yang tidak korupsi di tengah-tengah kelompok yang melakukannya dianggap sebagai orang asing yang harus disingkirkan (persona non grata).

    Menurut saya, yang perlu diubah ialah “mentalitas”. Bagaimana mengubahnya? Salah satu cara ialah melalui pendidikan. Sayangnya, pendidikan yang ada sekarang ini belum bisa diandalkan. Siswa yang tidak lulus dibuat lulus. Ijazah palsu beredar di mana-mana. Bagaimana para anak didik dibiasakan untuk bertindak jujur sementara ada ketidakjujuran dalam lingkungan pendidikan? Apalagi tenaga pengajar hanya sibuk dengan urusan “sertifikasi” ketimbang bagaimana mendidik siswa/i. Dedikasi – itulah yang kurang dari sistem pendidikan sekarang ini.

    Mengangkat Indonesia dari kemiskinannya merupakan tanggung jawab kita bersama. Setelah bertanya “mengapa Indonesia miskin?” selanjutnya kita harus bertanya “apa yang harus dilakukan supaya Indonesia tidak miskin?” – kalau belum bisa dikatakan “kaya”. Pertanyaannya, apakah sudah saatnya kita bertanya demikian, ataukah kita tetap tinggal dalam pertanyaan: mengapa Indonesia miskin?

    Terima kasih atas ulasannya..
    salam.

    Suka

  6. Indonesia perlu perubahan besar mulai dari tatanan, mentalitas, hukum, politik, budaya (kembali ke budaya lokal yang arif), semua sistem (sistem pendidikan, sistem perdagangan, sistem politik, dll).. waduh buanyak banget nih. Yah ujung-ujungnya harus REVOLUSI…. Dan pertanyaannya mengapa sampai saat ini belum ada revolusi total… untuk melakukan revolusi memang kita harus merevolusi diri kita terlebih dahulu. Akan tetapi, sungguh susah mencari orang-orang yang memiliki visi yang sama.

    Suka

  7. Ada dogma yang kita yakini bersama, secara komunal, sadar atau tidak, tentang beberapa nilai & alat yang kita mutlakkan. Kita melekat kepadanya selama ini, dan mengira itulah “dunia yang ideal”. Maka selama ilusi2 ini tidak ditanggalkan, bangsa ini akan selalu terperangkap dalam “kemiskinan” baik secara material maupun spiritual. Tiga ilusi yang membutakan kita selama ini;

    Demokrasi & trias politika: mulanya ini adalah kesepakatan sosial saja, karena mencontoh gagasan dan model politik mainstream. Dalam perjalanannya kita mengalami banyak kerugian namun evaluasi kita melulu melihat bahwa itu adalah kesalahan dalam penerapan tanpa pernah berani melihat bahwa demokrasi dan trias politika itu sendiri bisa jadi masalah sebenarnya.

    Padahal ia bukan modal dasar kita melainkan sebuab ‘model’ saja. Ibarat mobil sudah rusak & tua maka jalan terbaik adalah menggantinya alih-alih bersikeras memperbaiki dan mempertahankannya. Karena dogma ini kita kehilangan spontanitas kita sehingga kita menjadi lamban dan selalu dalam ketegangan politik. (Ilusi pertama)

    Modernisasi: mengapa kita tidak pernah mau mengakui bahwa modernisasi adalah pem-barat-an. Semua sendi produksi dan konsumsi kita dipenuhi oleh gagasan oposisi ; kuno – modern, tertinggal – maju, tidak canggih – canggih. Kita menerima kategorisasi ini sedemikian rupa dan kita dipaksa terus mengejarnya agar kita selalu modern, maju dan canggih. Pertanyaannya di mana finishnya?

    Lalu muncul pembenaran ; hutang, valuta, impor, investasi asing, dan pasar bebas. Faktanya alam kita rusak, tanah kita diakusisi, sampah menggunung, rakyat kita miskin, impor kita besar, harga2 mahal dan hutang luar negeri sangat besar. Inilah ilusi yang diciptakan peradaban Barat untuk menciptakan relasi : atas – bawah, ini adalah feodalisme ekonomi! (Ilusi kedua)

    Epistemologi: tidak ada yang betul betul salah dan tidak ada yang betul betul benar, sebab hidup ini adalah soal interpretasi dan konsensus. Perbedaan genealogis akan kebenaran; Tuhan, agama, ideologi, ras, suku dan identitas sosial, adalah kenyataan yang otentik di dunia ini.

    Tapi ada yang bersifat universal dan ada yang bersifat pilihan/primordial. Jika pondasi kehidupan (pendidikan) kita jalankan dengan logika salah – benar maka kita menciptakan manusia yang kaku dan masyarakat yang penuh ketegangan, sebab bagi mereka hanya ada dua kemungkinan, jika tidak salah maka benar, aku- dia, kita-mereka, ini dikotomi yang sakit.

    Pendidikan kita mesti menganut asas universalitas sebab di dunia ini, secara alamiah dan intuitif, manusia sudah mengetahui apa itu baik – buruk. Dengan begini kita harus simpulkan tidak ada manusia yang betul2 salah atau benar, hanya ada dua jenis manusia: baik – buruk. Bangsa kita harus memahami subtansi ini. (Ilusi ketiga)

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s