Kebohongan, Media dan Propaganda

inhalemag.com
inhalemag.com

Noam Chomsky dan Edward Herman tentang Propaganda

Oleh Reza A.A Wattimena

Noam Chomsky dan Edward Herman menulis buku berjudul Kesepakatan yang Diatur: Ekonomi Politik dari Media Massa pada 1988 lalu.1 Argumen utama dalam buku tersebut masih cocok untuk memahami beragam kekuatan ekonomi politik yang menentukan pemberitaan di berbagai media di seluruh dunia sekarang ini. Kita bisa menyebutnya sebagai filter yang menentukan isi media, baik cetak maupun elektronik.2

Ide dasarnya adalah, bahwa ada kekuatan ekonomi politik yang dimiliki sekelompok orang dan perusahaan raksasa yang menentukan dan menyaring segala bentuk pemberitaan kepada masyarakat luas, sehingga semua pemberitaan itu hanya mengabdi pada kepentingan sekelompok orang dan perusahaan raksasa tersebut, yakni kepentingan untuk memperoleh kekuasaan politik dan keuntungan ekonomi yang lebih besar lagi dengan mengorbankan banyak pihak lainnya.3

Yang dimaksud dengan media disini mencakup koran, majalah, televisi, mesin pencari internet, blog-internet, berita online di internet, penerbit buku, pembuat film, pembuat mainan anak-anak, radio, perusahaan yang merekam dan menyebarkan musik, perusahaan yang memberikan dana untuk penelitian di berbagai lembaga penelitian dan lembaga pendidikan, pengelola taman hiburan, pemilik serta pengelola toko retail yang memiliki banyak cabang, dan bioskop-bioskop. Semua ini mempengaruhi budaya, politik dan ekonomi suatu masyarakat. Semua ini juga mempengaruhi selera, cara berpikir dan cara hidup pribadi orang-orang yang ada di dalamnya.

Uang dan Kepemilikan

Chomsky dan Herman merumuskan lima hal yang menentukan isi media. Yang pertama adalah uang dan kepemilikan media. Di dalam masyarakat kapitalis, persaingan antar perusahaan tidak bisa dihindari. Perusahaan yang lemah akan hancur, dan perusahaan yang besar akan memenangkan persaingan, menguasai pasar, serta memperoleh keuntungan ekonomi maupun pengaruh politik yang lebih besar lagi.

Akhirnya, pasar pun dikuasai oleh sekelompok perusahaan raksasa. Biasanya, ada satu perusahaan yang amat besar, dan beberapa perusahaan lainnya yang mencoba menantang dominasi perusahaan tersebut. Kepemilikan dan kekuasaan ekonomi maupun politik pun terpusat pada sekelompok perusahaan tersebut. Ketika hukum yang mengatur persaingan tersebut lemah, maka akan muncul beragam pelanggaran, karena kekuasaan yang terpusat di beberapa pihak tersebut.

Persaingan tidak sehat dalam bentuk intimidasi yang mengarah pada kejahatan pun kerap terjadi. Setiap perusahaan selalu bertujuan untuk memberikan keuntungan bagi pemiliknya. Seringkali, penumpukan keuntungan tersebut hanya memperhatikan keuntungan jangka pendek belaka dengan mengorbankan kepentingan pihak-pihak lainnya. Kesejahteraan pekerja dan masyarakat luas sama sekali tidak menjadi perhatian.

Ini biasanya terjadi, ketika perusahaan telah dibuka untuk investasi dari masyarakat luas. Perusahaan tersebut lalu hanya memperhatikan meningkatkan harga saham yang merupakan lambang dari keuntungan jangka pendek semata. Chomsky dan Herman mengamati pola ini di dalam perusahaan-perusahaan media. Di dalam industri media internasional, hanya ada sekelompok perusahaan besar yang memiliki dan mengatur isi pemberitaan dari media massa di seluruh dunia.

Ini juga terjadi di era internet sekarang ini. Sekelompok perusahaan raksasa yang dimiliki para konglomerat menguasai jaringan pemberitaan media raksasa di seluruh dunia. Perusahaan-perusahaan media di Indonesia pun seringkali hanya mengikuti tanpa sikap kritis pemberitaan dari perusahaan-perusahaan raksasa ini. Perusahaan-perusahaan penguasa media internasional ini juga memiliki kekuatan untuk mempengaruhi undang-undang di berbagai negara, terutama undang-undang yang mengatur tentang sepak terjang media.

Pengaruh Iklan

Uang adalah unsur penting di dalam bisnis. Tanpa uang, bisnis tidak dapat hidup dan berkembang. Di dalam masyarakat kapitalis, uang menjadi tujuan utama, dan seringkali satu-satunya, dari berbagai perusahaan yang ada. Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana suatu perusahaan bisa memperoleh sumber keuangan untuk membiayai dan mengembangkan bisnisnya?

Bagi perusahaan media, sumber keuangan ada dua, yakni orang-orang yang berlangganan, dan dari iklan. Di berbagai perusahaan media, pencarian iklan diperkuat, supaya pelanggan tidak perlu membayar dengan harga yang terlalu tinggi. Ini berlaku baik untuk media cetak maupun elektronik, seperti internet dan televisi. Namun, kecenderungan dewasa ini adalah perusahaan-perusahaan media berpijak sepenuhnya pada iklan, dan kemudian memberikan hasil pemberitaannya secara cuma-cuma kepada masyarakat luas.

Jika sumber keuangan utama adalah dari iklan, maka isi pemberitaan dan analisis dari suatu media pun juga dipengaruhi oleh perusahaan-perusahaan atau orang yang memasang iklan di media tersebut. Redaksi suatu media akan mengalami kesulitan, jika mereka menerbitkan pemberitaan atau analisis yang dianggap merugikan kepentingan perusahaan atau perorangan yang memasang iklan di media mereka. Perusahaan atau orang yang merasa dirugikan tersebut bisa mencabut iklan mereka, dan perusahaan media pun kehilangan sumber keuangan utama mereka.

Di sisi lain, perusahaan atau orang yang memasang iklan bisa secara gamblang mendukung pemberitaan tertentu yang mendukung kepentingan mereka, walaupun pemberitaan tersebut merugikan pihak-pihak lainnya, maupun masyarakat luas. Jadi, masyarakat memperoleh pemberitaan yang salah, karena kantor-kantor berita disetir oleh pihak-pihak yang memperoleh keuntungan dari ketidaktahuan masyarakat luas tersebut. Di era internet, ini banyak terjadi, ketika kita menggunakan mesin pencari (search engine).

Mesin pencari di internet biasanya hanya akan memberikan hasil pencarian yang telah diatur sebelumnya seturut dengan pengaruh perusahaan pengiklan. Tidak hanya itu, mesin pencari kerap justru menawarkan barang kepada kita sesuai dengan minat kita. Informasi ini diperoleh dari kata kunci yang kita gunakan, ketika menggunakan mesin pencari tersebut. Artinya, kita sendiri lalu menjadi komoditi yang dijual kepada perusahaan pengiklan. Semua faktor ini jelas membuat informasi yang kita terima menjadi tidak obyektif, dan kerap kali justru salah.

Sumber Pemberitaan

Setiap isi berita pasti memiliki sumber. Banyak perusahaan media mendasarkan isi beritanya dari sumber kedua. Mereka tidak langsung mengirim orang ke lapangan untuk meliput. Ini jelas mempengaruhi isi pemberitaan media tersebut.

Media juga kerap kali harus bekerja secara cepat. Mereka tidak punya waktu dan tenaga untuk memeriksa keaslian berita yang akan mereka terbitkan. Ini tentu membuka celah bagi pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan berita-berita sesat ke masyarakat luas. Perusahaan-perusahaan dengan dana besar untuk pemasaran dan hubungan masyarakat akan menyebarkan berita yang tidak dapat dicek sepenuhnya keasliannya, dan akhirnya menipu masyarakat luas.

Media juga kerap tunduk para perusahaan yang menerbitkan iklan di media tersebut. Mereka lalu memiliki analisis dari ahli yang sesuai dengan kepentingan mereka. Bahkan, penelitian-penelitian di dunia akademik kerap mendapat uang dari perusahaan media dan perusahaan pengiklannya. Ini tentu memberikan pengaruh pada hasil penelitian tersebut yang juga memiliki kemungkinan besar untuk membohongi masyarakat luas.

Di era internet, banyak orang bisa menuliskan pendapat mereka. Namun, sedikit sekali yang mendapat sorotan dari masyarakat luas. Hal yang serupa pun terjadi, yakni sekelompok perusahaan dan orang-orang kaya menyebarkan pendapat dan isi berita mereka ke masyarakat luas melalui internet, tanpa bisa dicek keaslian sumber-sumbernya. Masyarakat pun mendapatkan berita bohong, dan dirugikan oleh sepak terjang perusahaan-perusahaan raksasa tersebut.

Tekanan Penguasa dan Penyebaran Rasa Takut

Isi pemberitaan juga kerap menantang kepentingan dari penguasa politik. Ada berbagai tanggapan atas pemberitaan semacam itu, mulai dari permintaan maaf dari penguasa politik tersebut ke masyarakat luas, sampai dengan ancaman finansial maupun personal kepada kantor berita terkait. Banyak media lalu memilih bermain aman dengan tidak menyebarkan berita-berita yang dianggap merugikan pemerintah.

Pada tingkat yang lebih dalam, media justru dikontrol sepenuhnya oleh penguasa politik dan ekonomi untuk mengabdi pada satu tujuan tertentu. Biasanya tujuan itu adalah menyebarkan rasa takut, sehingga pemerintah memiliki alasan untuk meningkatkan dana pertahanan dan kontrol atas penduduknya. Perusahaan-perusahaan senjata dan penyedia jasa keamanan pun memperoleh keuntungan besar. Di Indonesia, kita selama bertahun-tahun hidup dalam ketakutan terhadap komunisme.

Setelah komunisme runtuh, kita lalu berusaha mencari musuh baru, yakni terorisme yang berpijak pada agama. Kita lalu mengimpor film-film dari Amerika Serikat yang menyebarkan kebencian pada kelompok teroris tertentu. Pola ini terjadi juga di banyak negara lainnya. Orang hidup dalam rasa takut, dan akhirnya menyerahkan kebebasannya untuk diatur oleh para penguasa politik dan ekonomi.

Polanya tetap sama, yakni sekelompok orang dan perusahaan memperoleh keuntungan ekonomi dan pengaruh politik yang semakin besar. Sementara, masyarakat luas, dan bahkan seluruh dunia, hidup dalam rasa takut dan dirugikan terus menerus, akibat perang dan kemiskinan global. Propaganda media membuat semua ini tampak biasa-biasa saja. Propaganda media yang disetir oleh sekelompok penguasa politik dan ekonomi menyebarkan kebohongan, dan merusak tatanan hidup bersama kita di dunia ini.

Racun Propaganda

Fakta dikaburkan dengan kebohongan. Niat jahat dipoles, sehingga terlihat cantik dan suci, seperti malaikat. Bencana kemanusiaan tidak diberitakan. Masyarakat diberikan berita-berita dangkal yang menumpulkan akal budi, seperti gosip selebriti, lawakan murahan dan iklan barang-barang mewah yang menggiurkan panca indera.

Berita dan analisis tentang ketidakadilan global disingkirkan dari pengetahuan masyarakat luas. Musik dan mode dibuat menjadi sedangkal mungkin, sehingga menumpulkan segala bentuk perlawanan terhadap penguasa yang ada. Permainan-permainan elektronik dibuat dan disebarkan dengan gencar, supaya orang tetap terkurung di kamar-kamarnya, dan tidak bekerja sama mendorong perubahan. Dengan propaganda, media menciptakan masyarakat yang jinak yang juga terdiri dari manusia-manusia yang jinak pula.

Sementara itu, jutaan orang hidup dalam kemiskinan akut. Perang dan ketidakadilan berkobar di berbagai penjuru dunia. Perusahaan-perusahaan raksasa mengeruk keuntungan dengan merugikan masyarakat luas. Alam rusak, akibat sepak terjang perusahaan-perusahaan raksasa yang tidak terkontrol. Umat manusia berjalan menuju kehancurannya sendiri sambil sibuk mendengarkan musik-musik tentang cinta murahan, dan terhipnotis oleh gosip, lawakan murahan maupun gaya hidup konsumtivisme ekstrem.

Pertanyaannya, mau sampai kapan?

Sumber Acuan:

1 Herman, Edward S. and Noam Chomsky (1988). Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media. New York: Pantheon

2 Saya menafsirkan uraian dari http://changingminds.org/techniques/propaganda/propaganda_model.htm 2/3 8 Oktober 2015.

3 Herman, E.S. (1996). The Propaganda Model Revisited. Monthly Review, Vol.48, Juli-Agustus.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

13 tanggapan untuk “Kebohongan, Media dan Propaganda”

  1. Pernah dengar – lupa dari mana sumbernya – barangkali kenyataan ini yang membuat warga Inggris lebih mempercayai Wikipedia daripada portal berita online dan website lain yang menyediakan warta berita.

    Suka

  2. Kapitalisme telah mengusai seluruh kehidupan manusia mulai dari tubuhnya, lingkungannya, bahkan sampai pada jiwanya. Oleh itu benar pemikiran pemberontak seperti nietzsche bahkan Karl Marx yang telah membuka mata dunia. Bahwa kita perlu berjuang terhadap kesalahan dan penindasan…. Marx memberikan sumbangan pemikiran praxis dari teori Hegel akan perlunya Revolusi untuk melawan kapitalis.. Bangsa ini tidak akan pernah bisa melangkah ke arah yang lebih baik lagi tanpa REVOLUSI total..

    Suka

  3. Untuk memulai suatu revolusi tidak perlu didahului oleh metode, metode nanti jika sudah ada pergerakan. Revolusi harus dimulai dari pergerakan, yaitu semua manusia yang merasa dirinya tertindas oleh kapitalis bersama-sama merasa senasib dapat memulai revolusi itu. Contohnya jika Bapak Reza A.A Wattimena merasa tertindas akibat kapitalisme turun bersama-sama saya atau yang lainnya (yang merasa dirinya tertindas) untuk memulai revolusi. Revoluis dimulai dari hal-hal kecil dahulu contohnya yang dulunya suka dengan gaya model barat, musik barat, atau stop makan di KFC, dll atau mulai dengan tidak ikut pemilu atau menolak investasi asing dan kepemilikan asing atas sumber daya alam, sumber daya tenaga kerja.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s