Agama, Alam dan Alat

cdn.visualnews.com
cdn.visualnews.com

Tentang Laudato si, Ensiklik Paus Fransiskus, 24 Mei 2015

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang kuliah di Munich, Jerman

Laudato si adalah salah satu teks paling indah, jujur, lugas, mendalam, ilmiah, filosofis dan teologis yang pernah saya baca di dalam hidup saya.1 Jujur saja, ketika membacanya, saya menangis terharu dan bangga. Laudato si (terjemahan: Terpujilah Engkau, Tuhan) adalah ensiklik2 terbaru dari Paus Fransiskus, pimpinan tertinggi Gereja Katolik Roma. Menurut Michael Schöpf, pimpinan Institut für Gesellschaftspolitik, Hochschule für Philosophie München, ensiklik ini bukanlah semata tulisan resmi Gereja Katolik Roma tentang lingkungan hidup.3 Ini adalah tulisan tentang kaitan antara krisis lingkungan hidup dan krisis sosial dalam bentuk ketidakadilan global. Keduanya memiliki kaitan yang amat erat sekaligus akar yang sama. Keduanya hanya bisa diatasi dengan kerja sama yang erat dari berbagai pihak, mulai dari politik, agama dan ekonomi.

Johannes Wallacher, pimpinan Hochschule für Philosophie München, melihat kritik tajam Paus Fransiskus terhadap orang-orang yang masih menyangkal adanya perubahan iklim di dunia sekarang ini. Para penyangkal ini adalah orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu di politik dan ekonomi, guna memperkaya dirinya sendiri dengan merugikan orang lain. Wallacher menegaskan, bahwa Paus Fransiskus amat menekankan keterhubungan antara segala sesuatu, terutama hubungan antar manusia, dan hubungan antara manusia dan alam. Tulisannya merumuskan fondasi yang menyeluruh dan mendalam untuk menjadi dasar bagi perkembangan peradaban manusia secara global. Dialog yang seimbang antara ilmu pengetahuan, politik dan agama adalah kuncinya.

Michael Reder, filsuf politik asal München, juga melihat aspek tanggung jawab pribadi dalam kaitan dengan pelestarian lingkungan hdup dan ketidakadilan global. Tanggung jawab pribadi ini terwujud di dalam perubahan mendasar pola hidup sehari-hari, terutama mereka yang hidup di negara-negara industri. Ia juga melihat pengaruh besar tulisan Paus ini untuk pola pendidikan di sekolah-universitas dan pola asuh orang tua di keluarga. Arahnya adalah kesadaran ekologis dan pengembangan ilmu pengetahuan yang berpijak pada pelestarian lingkungan hidup dan keadilan sosial. Hanya dengan jalan ini, kemiskinan global dan pengrusakan lingkungan hidup akibat tindakan manusia bisa diatasi.

Laudato si

Ensiklik “Laudato si” merupakan langkah penting dalam dialog antara agama dengan lingkungan hidup di dalam dunia berteknologi modern sekarang ini.4 Bagian awal tulisan tersebut menjabarkan tantangan manusia sekarang ini dalam hubungan dengan lingkungan hidup. Seperti disinggung sebelumnya, tantangan tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari salah satu tantangan terbesar global sekarang ini, yakni kemiskinan. Ada kaitan yang amat erat antara sikap melestarikan lingkungan hidup dengan perjuangan untuk menghapuskan kemiskinan dari muka bumi ini.

Di banyak negara, dua hal itu tampak dalam krisis air bersih dan krisis pangan. Di dalam dua bentuk krisis ini, kemiskinan tak bisa dipisahkan dari kerusakan lingkungan hidup, akibat penggunaan teknologi yang tidak bertanggung jawab. Ini adalah salah satu tantangan terbesar umat manusia di awal abad 21 ini. Di bagian dunia lainnya, orang hidup dengan foya-foya, seringkali tanpa pertimbangan. Inilah yang disebut sebagai “budaya membuang-buang” (Wegwerfkultur). Akibatnya, bumi dipenuhi dengan sampah yang seharusnya bisa didaur ulang.

Maka, krisis lingkungan hidup dan kemiskinan global tak bisa juga dipisahkan dari gaya hidup manusia. Kritik ekologis dan kritik sosial tidak dapat dipisahkan. Agama memainkan peranan besar di dalam gerakan sosial guna menopang kritik semacam ini, yakni kritik terhadap kecenderungan konsumsi berlebihan dan tindakan tidak bertanggung jawab dalam kaitan dengan lingkungan hidup dan kemiskinan global.

Teknologi, Ekologi dan Dialog

Ada beberapa konsep penting di dalam ensiklik ini. Yang pertama adalah konsep teknologi, atau teknik. Kata ini merujuk pada perkembangan pesat teknologi modern yang tidak berjalan searah dengan perkembangan kesadaran moral manusia. Akibatnya, teknologi modern tersebut justru menghancurkan hidup manusia dan alam itu sendiri.

Konsep kritik teknologis ini terkait dengan konsep kedua, yakni kritik masyarakat. Ensiklik tulisan Paus Fransiskus ini langsung mengritik hubungan-hubungan kekuasaan yang tidak adil, yang menjadi dasar dari sistem politik dan sistem ekonomi dunia sekarang ini. Dalam konteks ini, ada dua bentuk tanggung jawab yang perlu diperhatikan, yakni tanggung jawab pribadi sebagai pelaku utama di bidang politik dan ekonomi, dan tanggung jawab bersama dalam bentuk solidaritas global. Fokus kepedulian dari Ensiklik ini adalah kehidupan orang-orang miskin di berbagai belahan dunia. Mereka adalah orang-orang yang kalah ataupun tak punya kesempatan untuk menikmati kemakmuran global. Mereka adalah korban dari ketidakadilan sistem ekonomi dan sistem politik global.

Konsep penting kedua adalah ekologi, yakni kesadaran akan pelestarian lingkungan hidup sebagai rumah bagi semua kehidupan di bumi. Ia memberikan kehidupan bagi semua, tanpa kecuali. Segala mahluk hidup berkembang di bawah naungannya. Di dalam alam terdapat jaringan yang luar biasa luas dan rumit antara berbagai hal. Tidak ada yang bisa berdiri sendiri, tanpa jaringan raksasa ini. Sebagai keseluruhan, segalanya adalah satu. Kita adalah bagian dari segalanya, dan segalanya adalah bagian dari kita. Dengan cara berpikir ini, kita harus hidup dan membuat keputusan di dalam politik maupun ekonomi, yakni dari sudut pandang keseluruhan alam semesta, serta segala isinya, dan bukan dari sudut pandang pribadi atau kelompok kita semata.

Di dalam kerangka berpikir ini, kritik ekologi sekaligus adalah kritik atas ketidakadilan sosial di dalam masyarakat, terutama dalam bentuk kemiskinan global sekaligus kesenjangan sosial yang begitu besar antara yang kaya dan yang miskin. Dasar dari ensiklik ini adalah tradisi biblis dan teologis di dalam Gereja Katolik Roma, sekaligus penelitian-penelitian di dalam ilmu pengetahuan, terkait dengan permasalahan lingkungan hidup dan kemiskinan global. Seruan utamanya adalah pembangunan bersama bumi ini sebagai rumah bagi semua, tanpa kecuali. Kritik ekologi (Ökologie, rumah bersama) tidak hanya berarti berpikir kritis tentang lingkungan hidup, melainkan juga berpikir dari sudut pandang keseluruhan semesta.

Konsep penting lainnya adalah konsep ekologi manusia (Humanökologie). Konsep ini telah lama menjadi bagian dari seruan Gereja Katolik Roma soal pelestarian lingkungan hidup, terutama oleh Paus Yohanes Paulus II. Konsep ini terkait dengan konsep ekologi budaya (Kulturökologie) yang mengacu pada arah hidup yang baik dalam kaitan antara manusia dengan alam. Konsep ini mengalir deras di dalam tulisan Paus Fransiskus ini. Umat manusia membutuhkan perubahan mendasar gaya hidup, sehingga mereka bisa hidup secara harmonis dan bertanggung jawab dengan seluruh alam ini.

Paus juga mengritik tajam soal pandangan antroposentrik yang mengakar begitu kuat di dalam peradaban modern. Pandangan ini melihat manusia sebagai ukuran dari segalanya. Seluruh alam dilihat sebagai obyek untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Ini pandangan yang salah dan merusak. Di dalam tulisannya, Paus Fransiskus menekankan arti penting dari hewan dan tumbuhan sebagai bagian dari semesta. Hanya dengan begini, kita bisa hidup dalam ekosistem bersama yang lestari. Di dalam ekosistem yang lestari (nachhaltig) semacam ini, kelestarian lingkungan hidup bisa terjaga, dan tidak ada kemiskinan global, akibat dari kerusakan lingkungan ataupun ketidakadilan global.

Tulisan Paus Fransiskus ini berasal dari beragam konferensi dan penelitian yang dilakukan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Vatikan dan Komisi Keadilan dan Perdamaian di Vatikan. Beragam konferensi dan penelitian ini sampai pada satu kesimpulan, bahwa kesalahan tata kelola politik dan ekonomi, terutama dalam kaitan dengan teknologi, telah membuat perubahan iklim mendasar di bumi ini. Perubahan iklim menciptakan banyak bencana alam, seperti krisis pangan dan krisis air bersih, di berbagai tempat. Melalui tulisan dalam bentuk Ensiklik ini, Paus Fransiskus ingin membangun kesadaran global akan pentingnya mengubah seluruh tata kelola mendasar politik dan ekonomi dunia sekarang ini. Ia juga melakukan kritik tajam pada para penyangkal perubahan iklim (Klimaskeptiker) yang menolak adanya fenomena perubahan iklim yang sebagian terjadi, karena ulah manusia yang tak bertanggung jawab.

Bumi adalah rumah bagi semua, termasuk manusia di dalamnya. Semua ajaran etika sosial dan filsafat politik berpijak pada pengandaian mendasar ini. Karena bumi adalah rumah bagi semua, maka adalah tanggung jawab kita semua untuk melestarikannya. Ini sudah selalu menjadi bagian dari ajaran filosofis dan teologis di dalam Gereja Katolik Roma. Salah satu hal nyata yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan perlindungan nyata bagi para pengungsi yang harus meninggalkan kampung halamannya, karena kerusakan lingkungan hidup yang parah. Mereka tidak bisa mendapatkan air bersih dan gizi yang memadai di kampung halaman mereka, akibat kerusakan lingkungan yang terjadi.

Konsep dialog juga menjadi bagian penting dari tulisan Paus Fransiskus. Dialog disini berarti dua hal, yakni dialog di dalam agama dan dialog antar agama. Dialog menjadi kunci penting untuk melakukan perubahan bersama, terutama untuk mengubah pemikiran orang-orang yang merasa, bahwa masalah lingkungan hidup dan masalah ketidakadilan global adalah masalah bohongan. Dialog juga menjadi jalan utama, supaya para penyangkal masalah global ini bisa kembali menatap kenyataan yang ada, dan mencari jalan keluar bersama.

Beragam argumen yang diajukan di dalam Ensiklik ini juga merupakan hasil dari dialog dengan Gereja Dunia. Paus Fransiskus mengutip banyak sekali surat-surat dari beragam Keuskupan Gereja Katolik Roma di berbagai tempat di dunia. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah, seorang Paus, sebagai pimpinan tertinggi lembaga keagamaan terbesar di dunia, memberikan ruang besar bagi suara-suara di luar Vatikan dan di luar Eropa. Suara dan aspirasi dari berbagai gereja dunia di Afrika, Asia, Amerika, Eropa dan Australia mendapatkan tempat yang seimbang di tulisan Paus Fransiskus terbaru ini.

Di sisi lain, Paus Fransiskus juga mengutip banyak pendapat dari para pimpinan dan tokoh agama lain. Ini juga menjadi sejarah baru bagi Gereja Katolik Roma. Ini menandakan adanya usaha untuk bekerja sama dengan berbagai agama di dunia, guna menghadapi tantangan kerusakan lingkungan hidup dan ketidakadilan global secara bersama-sama. Inti dari dialog ini adalah seruan untuk mengubah pola hidup konsumtiv yang telah menciptakan begitu banyak sampah setiap harinya, dan akibatnya membawa kerusakan lingkungan hidup dan bencana alam lainnya di berbagai tempat di dunia. Pola hidup konsumtiv semacam ini juga dianggap tidak pantas, terutama mengingat masih begitu besarnya kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin di berbagai belahan dunia sekarang ini.

Metode penulisan teks ini juga perlu diperhatikan. Paus Fransiskus menggunakan metode melihat-menilai-bertindak. Semua analisis dilakukan atas dasar hal-hal yang sungguh terjadi di dalam kehidupan manusia, yakni krisis lingkungan hidup dalam kaitan dengan ketidakadilan dan kemiskinan global. Ini membuat tulisannya menjadi nyata dan jelas, serta tidak lagi dipenuhi dengan pesan-pesan religius yang seringkali abstrak dan tak berguna. Paus Fransiskus juga banyak menggunakan bahasa-bahasa yang indah dan jelas, sehingga tulisan ini amat mudah dimengerti oleh semua orang. Di samping itu, ia juga banyak mengutip dari ajaran tradisional Gereja Katolik Roma, tanpa kehilangan pendasaran pada kenyataan konkret yang terjadi di lapangan.

Harapan dan Spiritualitas

Tulisan Paus Fransiskus ini bukanlah sebuah ratapan. Sebaliknya, ini adalah seruan, bahwa perubahan ke arah yang lebih baik untuk semua itu mungkin. Ini juga adalah ungkapan syukur, bahwa lepas dari segala masalah dan tantangan yang ada, banyak orang mulai terlibat ambil bagian untuk menjadi jalan keluar dari beragam masalah dan tantangan yang ada. Laudato si adalah seruan perubahan yang berpijak pada harapan.

Paus Fransiskus menjadikan spiritualitas Santo Fransiskus Asisi sebagai dasar. Fransiskus Asisi adalah simbol bagi kesucian, kesederhanaan, dialog dan pelestarian lingkungan hidup di dalam Gereja Katolik Roma. Ia adalah orang suci yang memberikan teladan nyata bagi hidup banyak orang, tidak hanya orang Katolik. Di dalam pandangannya, seluruh alam ini adalah saudara. Binatang adalah saudara. Tumbuhan adalah saudara. Tidak ada perbedaan dan pertentangan antara manusia dan alam semesta.

Paus Fransiskus juga banyak mendapatkan pengaruh dari spiritualitas alamiah dari Amerika Selatan. Di dalam spiritualitas ini, alam dilihat sebagai ibu dan rumah untuk semua. Dari sudut pandang ini, manusia harus membangun tata politik dan tata ekonomi yang baru dalam kaitan dengan bumi sebagai rumah untuk semua, tanpa kecuali. Hanya dengan ini, kehidupan yang bermutu untuk semua bisa diwujudkan di dunia ini. Ini tidak hanya sejalan dengan ajaran Gereja Katolik Roma, tetapi juga dengan ajaran semua agama dan filsafat yang pernah ada di muka bumi ini. Harapannya, tulisan Paus Fransiskus ini bisa mendorong perubahan nyata di dunia.

Kritik atas Laudato si

Ensiklik Laudato si ini merangsang banyak perdebatan di masyarakat luas. Beragam pujian dan kritik datang begitu cepat dan begitu intens. Secara pribadi, saya memiliki tiga kritik atas Ensiklik ini. Walaupun, Ensiklik ini, pada hemat saya pribadi, sungguh merupakan pencapaian luar biasa di dalam Gereja Katolik Roma dan dunia sebagai keseluruhan.

Pertama, agama-agama Timur Tengah (Yahudi, Kristen dan Islam) memang memiliki akar antroposentrisme yang kuat. Manusia dilihat sebagai titik pusat dan bahkan mahluk terpenting di seluruh semesta. Pandangan ini begitu kuat mengakar, sehingga kerap tidak lagi dipertanyakan secara kritis. Tulisan Paus Fransiskus ini juga tidak lepas dari pengandaian, bahwa manusia adalah mahluk terpenting di dalam alam ini, walaupun ia berkata sebaliknya. Antroposentrisme tersembunyi ini telah membawa akibat jelek untuk banyak hal, mulai dari kerusakan alam (karena diperas habis untuk kepentingan manusia), egoisme ekstrem (karena merasa paling penting dan paling berharga) sampai dengan beragam penyakit kejiwaan (depresi dan stress akut), akibat kesalahan berpikir. Selama Gereja Katolik Roma masih belum sadar akan antroposentrisme tersembunyi ini, selama itu pula ia bisa memperparah masalah, justru ketika ia berusaha berbuat baik.

Kedua, kemunafikan sering menjadi masalah bagi orang-orang yang berusaha berbuat baik. Ada jurang besar antara kata, pikiran dan tindakan nyata. Dalam beberapa hal, ini memang tak mungkin dihindarkan. Kita memiliki cita-cita indah. Namun, kita seringkali bertindak dari kebutuhan akan kekuasaan serta kenikmatan. Semua orang di muka bumi ini pasti mengalami ini. Saya rasa, sampai batas tertentu, jurang, atau kemunafikan, semacam ini bisa diterima. Namun, dalam banyak hal, jurang antara kata dan tindakan masih begitu besar di dalam Gereja Katolik Roma. Pemerkosaan terhadap anak kecil di berbagai belahan dunia oleh para pemuka agama Katolik dan intoleransi terhadap perbedaan (kaum Gay, transeksual, dan kepentingan kaum perempuan) masih menjadi masalah besar di dalam Gereja Katolik Roma, lepas dari cita-cita indah yang mereka suarakan. Ini tentu harus menjadi perhatian lebih jauh.

Ketiga, Gereja Katolik Roma jelas amat terlambat dalam hal kesadaran lingkungan hidup. Terlalu lama kita melihat dalam sejarah, Gereja Katolik Roma berpelukan dengan kekuasaan yang korup demi uang dan kejayaan politik semata. Kita masih ingat semboyan penjajahan dan penindasan Eropa atas seluruh dunia: Gold, Glory and Gospel (Emas, Kejayaan dan Injil Kristiani). Ini juga memberikan pengaruh besar bagi pengrusakan lingkungan dan pelanggaran hak-hak asasi manusia yang melahirkan ketidakadilan global. Bisa dibilang, dalam banyak hal, Gereja Katolik Roma terkait erat dengan para pelaku pengrusakan lingkungan hidup dan pelanggaran hak-hak asasi manusia di masa lalu. Semua ini membuat Gereja Katolik Roma terlambat untuk sadar akan apa yang penting dalam hidup bersama kita di dunia. Dibandingkan dengan ajaran Filsafat Timur (Buddhisme, Taoisme dan Hinduisme) yang selalu menekankan keterkaitan antara segala sesuatu, Gereja Katolik Roma tertinggal jauh dalam soal kesadaran ekologis. Namun, seperti banyak orang bilang, lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali. Begitu bukan?

Sumber:

Ensiklik Laudato si. http://w2.vatican.va/content/francesco/de/encyclicals/documents/papa-francesco_20150524_enciclica-laudato-si.html 25 Juni 2015

Schöpf, Michael,„‚Laudato Si’‘ ist keine reine Umweltenzyklika“ Institut für Gesellschaftspolitik ordnet Lehrschreiben des Papstes ein: https://www.hfph.de/presse-oeffentlichkeitsarbeit/pressemeldungen-2/laudato-si-ist-keine-reine-umweltenzyklika 25 Juni 2015

Vogt, Markus, Es gilt das gesprochene Wort! Würdigung der neuen Enzyklika „Laudato si‘ – Über die Sorge für das gemeinsame Haus“ durch Prof. Dr. Markus Vogt, bei der Pressekonferenz am 18. Juni 2015 in München

Wallacher, Johannes, Laudato Si‘ –Kompass für eine menschen- und umweltgerechte Entwicklungsagenda Thesen zur Zusammenfassung und Einordnung der Enzyklika „LAUDATO SI’. ÜBER DIE SORGE FÜR DAS GEMEINSAME HAUS“ von Papst Franziskus, https://www.hfph.de/nachrichten/thesen-zur-enzyklika-laudato-si 25 Juni 2015

Catatan Kaki: 

1 Saya menggunakan: Ensiklik Laudato si. http://w2.vatican.va/content/francesco/de/encyclicals/documents/papa-francesco_20150524_enciclica-laudato-si.html 25 Juni 2015

2 Salah satu dokumen terpenting di dalam Gereja Katolik Roma yang biasanya ditulis oleh Paus sebagai pimpinan tertinggi kepada seluruh umatnya.

3 Saya terinspirasi uraian: Schöpf, Michael,„‚Laudato Si’‘ ist keine reine Umweltenzyklika“ Institut für Gesellschaftspolitik ordnet Lehrschreiben des Papstes ein: https://www.hfph.de/presse-oeffentlichkeitsarbeit/pressemeldungen-2/laudato-si-ist-keine-reine-umweltenzyklika 25 Juni 2015

4 Saya terinspirasi uraian: Vogt, Markus, Es gilt das gesprochene Wort! Würdigung der neuen Enzyklika „Laudato si‘ – Über die Sorge für das gemeinsame Haus“ durch Prof. Dr. Markus Vogt, bei der Pressekonferenz am 18. Juni 2015 in München dan Wallacher, Johannes, Laudato Si‘ –Kompass für eine menschen- und umweltgerechte Entwicklungsagenda Thesen zur Zusammenfassung und Einordnung der Enzyklika „LAUDATO SI’. ÜBER DIE SORGE FÜR DAS GEMEINSAME HAUS“ von Papst Franziskus, https://www.hfph.de/nachrichten/thesen-zur-enzyklika-laudato-si 25 Juni 2015

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

4 tanggapan untuk “Agama, Alam dan Alat”

  1. salam kenal pak, saya seorang mahasiswi dari fakultas psikologi widya mandala surabaya, saya senang membaca karya-karya bapak. saya minta izin untuk mensharekannya di akun sosmed saya, terima kasih pak. GBU.. 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s