Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya
Dengan Bangga
Menyelenggarakan
SIMPOSIUM NASIONAL FILSAFAT
IMAN DAN AKAL BUDI Lanjutkan membaca SIMPOSIUM NASIONAL FILSAFAT: IMAN DAN AKAL BUDI
Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya
Dengan Bangga
Menyelenggarakan
SIMPOSIUM NASIONAL FILSAFAT
IMAN DAN AKAL BUDI Lanjutkan membaca SIMPOSIUM NASIONAL FILSAFAT: IMAN DAN AKAL BUDI

Oleh Reza A.A Wattimena
Tahun 2011 adalah tahun yang cukup bersejarah untuk umat manusia. Sampai Oktober 2011 setidaknya sudah ada beberapa peristiwa yang mengubah “wajah” dunia.
Musim semi di Arab, di mana rakyat di daerah Arab dan Afrika Utara mulai bergerak melawan pemerintahan diktator yang menindas mereka, kerusuhan di London terkait dengan kebijakan pemerintah yang dirasa merugikan rakyat, protes dari kelas ekonomi menengah di Israel terkait dengan semakin mahalnya harga rumah tinggal dan mahalnya biaya hidup, gerakan sosial (nasional) India melawan korupsi di negaranya, kontroversi terkait dengan hubungan Tibet dan Cina, dan yang terbaru adalah gerakan menduduki Wall Street di New York dan di berbagai bursa efek di seluruh dunia, termasuk Bursa Efek Indonesia di Jakarta. (Roubini, 2011) Lanjutkan membaca Indonesia, Krisis Ekonomi Global, dan Pancasila Kita

OLEH BANDUNG MAWARDI
Ketika berhadapan dengan demokrasi, puisi adalah sangkaan dan sangkalan. Ia menantang dan menghardik. Karena demokrasi itu elitis dan dominatif, puisi pun pantas untuk menampik dengan rasa gerah dan marah. Demokrasi ternyata bukanlah sebuah garansi bagi kemakmuran, keadilan, dan kesetaraan. Demokrasi adalah sebuah kekuasaan, yang ternyata diskriminatif, berkah bagi elite, tetapi pelit bagi kaum yang pailit.
Maka, puisi pun dituliskan dan lantang disuarakan untuk mengoreksi cacat bawaan demokrasi itu. Puisi adalah resistensi dan menolak arogansi politik yang dibangun di atas fondasi demokrasi. Konon, serangan yang dilakukan Socrates pada demokrasi Yunani kuno antara lain juga menggunakan kutipan-kutipan puisi yang sarkastik. Puisi pun menjadi sangkalan atas selebrasi demokrasi sejak awalnya di Yunani. Dan, Socrates pun menjadi martir karenanya. Lanjutkan membaca Puisi yang Menyangkal Demokrasi
Semoga anda tidak bosan dengan artikel tentang Steve Jobs. Saya ingin kembali mengunjungi sosok hidup, yang telah meninggal, dari Steve Jobs, pendiri dan reformis perusahaan Apple. Tapi ini bukan sekedar kunjungan, melainkan suatu upaya untuk belajar lebih jauh tentang cara berpikir yang mendasari keputusan-keputusan hidupnya.
Seperti dicatat oleh Gene Marks di dalam majalah Forbes, Jobs, jelas, adalah seorang jenius dalam bidang pengembangan teknologi alat komunikasi. Namun kunci utama kesuksesannya bukanlah karena dia kreatif, brilian, dan pekerja keras, setidaknya bukan hanya itu. Kuncinya –menurut Marks- adalah karena dia adalah orang brengsek. Jobs adalah seorang wirausahawan yang kreatif, brilian, pekerja keras, dan… brengsek. Jangan marah dulu. Saya jelaskan lebih jauh. Lanjutkan membaca Steve Jobs dan Kepemimpinan yang “Brengsek”

Oleh Reza A.A Wattimena
Masihkah kita bisa bicara soal patriotisme sekarang ini? Di tengah situasi negara yang pemimpinnya penuh dengan korupsi, serta berbagai masalah bangsa lainnya yang tak terselesaikan, masihkah kita bisa mencintai bangsa Indonesia sekarang ini? Mari kita mulai dengan pengertian singkat. Patriotisme adalah rasa cinta pada bangsa dan negaranya sendiri. Rasa cinta itu terwujud di dalam tindakan nyata. Ada empat aspek dari patriotisme. (SEP, 2011)
Yang pertama, patriotisme mencakup afeksi, yakni perasaan sayang dan cinta, pada negara dan bangsanya. Yang kedua, patriotisme mencakup kepedulian pada kekayaan maupun permasalahan negaranya sendiri. Yang ketiga, patriotisme mencakup beragam upaya untuk memperbaiki situasi bangsa dan negara. Yang keempat, patriotisme mencakup kesediaan untuk rela berkorban, demi kebaikan bangsa dan negaranya. Lanjutkan membaca Bangkitlah, Patriotisme Indonesia!

Oleh Ahmad Syafii Maarif
Dengan jumlah warga sekitar 400 juta pada tahun 2050—jika pertumbuhan penduduk 1,48 persen per tahun berkelanjutan—Indonesia mungkin akan menggeser posisi Amerika Serikat yang kini berada di peringkat ketiga—setelah China dan India—dengan jumlah penduduk 325.000.000, berkat program keluarga berencana yang dijalankan.
China dan India dengan penduduk masing-masing 1,3 miliar dan 1,1 miliar tampaknya akan tetap berada di puncak saat penghuni planet Bumi ini mencapai 9.850 juta (mendekati 10 miliar) tahun itu. Para pakar demografi umumnya mencemaskan laju pertumbuhan penduduk yang dahsyat itu jika negara-negara di dunia tidak cukup awas memperhitungkannya lebih awal. Hanya tersisa 39 tahun menjelang umat manusia berada pada angka yang mencemaskan itu. Bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, laju pertumbuhan penduduk yang tak terkendali pasti akan mengundang masalah-masalah serius yang sulit diperkirakan akibatnya. Lanjutkan membaca Indonesia 2050 seperti Apa?
Oleh Satryo Soemantri Brodjonegoro
Beberapa hari lalu dunia kehilangan Steve Jobs, seorang visionaris Apple Group yang melegenda karena visi hidupnya yang menakjubkan. Dalam beberapa hari ini pun dunia dicerahkan tampilnya sejumlah pemenang Hadiah Nobel di sejumlah bidang, seperti kimia, fisika, kedokteran, dan sastra.
Jika kita cermati riwayat hidup para pemenang Hadiah Nobel tersebut ternyata mengandung satu kesamaan yang hakiki, yaitu mereka semua bekerja dengan hati. Mereka sangat mencintai pekerjaannya. Lanjutkan membaca Bekerja dengan Hati

Belajar Berpikir Kritis
Oleh Aluysius Bayu
Bagi banyak orang, lalat adalah hewan yang menjijikan. Lalat terbang ke sana- kemari, ia hinggap di tempat sampah, di kotoran hewan, bahkan mungkin di makanan kita. Dengan keadaan seperti ini, lalat membawa banyak kuman di tubuhnya dan menjadi penyebar penyakit, sehingga banyak orang berusaha menjauhkan makanan dan minuman mereka dari lalat, agar tidak terkena penyakit seperti diare dan sebagainya. Maka, predikat hewan yang menjijikkan sangat tepat ditujukan kepada lalat.
Akan tetapi, jika kita bisa melihat secara detail bagian-bagian tubuh lalat, kita akan menemukan satu bagian lalat yang sungguh menjadi inspirasi bagi kita untuk belajar kritis. Bagian itu adalah mata lalat. Mengapa mata lalat bisa menjadi inspirasi belajar kritis? Mata lalat yang majemuk dapat memberikan inspirasi pada pikiran kita untuk berefleksi tentang sudut pandang dan cara berpikir para filsuf, yakni para pecinta kebjaksanaan. Sebab, mata majemuk lalat melihat suatu ‘hal’ dari beberapa pembagian mata majemuknya, sehingga lalat bisa menangkap obyek yang dilihatnya dengan jelas. Begitu pula belajar sikap kritis, ibarat mata lalat, pikiran kita diajak untuk mengenali sudut pandang para filsuf satu per satu dalam memahami dunia. Lanjutkan membaca Filsafat Lalat?
![MPj03414090000[1]](https://rumahfilsafat.com/wp-content/uploads/2011/10/mpj034140900001.jpg?w=660)
Menjamurnya pelbagai cerita miris di Tanah Air kita akhir-akhir ini, yaitu korupsi anggaran, penggelembungan nilai proyek, kerakusan jabatan, dan beragam praktik lain, menciptakan kesangsian kepada kita tentang apa sebenarnya makna sebuah habitat yang bernama manusia.
Manusia sebagai sebuah habitat dikisahkan oleh Will Richard Bird dalam novelnya, The Shy Yorkshireman (1955). Menurut kisah itu, apa yang secara mencolok membedakan habitat manusia dengan binatang bukanlah logika ataupun kepiawaian. Bukan pula keberanian dan ketakutan. Binatang, sebagaimana manusia, bisa saja berlogika, piawai, berani, dan takut.
Kucing, misalnya. Jika binatang mengeong ini mencuri ikan di dapur, lalu mendengar suara pintu terbuka, ia akan lari kencang ketakutan. Namun, jika ikan yang dimakan sengaja diberi tuannya, kucing pun khusyuk melahapnya tanpa menghiraukan kegaduhan apa pun di sekelilingnya. Kucing, tampaknya, bisa berlogika: mana makanan yang direlakan pemiliknya dan yang tidak. Lanjutkan membaca Rasa Malu

dan “Kesalahan-kesalahan” yang Bijaksana
Oleh Reza A.A Wattimena
Setiap orang pasti ingin menjadi ahli dalam satu bidang tertentu. Ada yang ingin menjadi ahli kesehatan (dokter), ahli mesin (insinyur), ahli politik, ahli pendidikan, ataupun apapun. Namun apa sebenarnya arti kata “ahli”? Seorang ahli fisika ternama, Niels Bohr, pernah menulis begini, “seorang ahli adalah orang yang telah membuat semua kesalahan yang dapat dibuat pada satu bidang yang amat sempit.”
Jadi seorang ahli adalah orang yang telah membuat semua kesalahan pada satu bidang yang amat spesifik. Itulah kiranya pendapat Bohr, dan didukung oleh seorang ahli neuropsikologi, Jonah Lehrer. Jika dipikir lebih jauh, inilah juga inti belajar, yakni membuat kesalahan pada satu bidang, lalu membuat perbaikan, lalu membuat kesalahan lagi. Pendidikan bukanlah seni menghafal, melainkan suatu “kebijaksanaan yang lahir dari kegagalan.” (Lehrer, 2011) Lanjutkan membaca Filsafat Steve Jobs

Oleh Dedy Suryadi
Pemerintah berencana menambah jam mengajar guru PNS dari 24 jam pelajaran per minggu menjadi 27,5 jam pelajaran.
Rencana itu akan direalisasikan awal Januari 2013. Pemerintah beralasan, jam kerja guru selama ini lebih sedikit daripada para birokrat sehingga banyak guru PNS yang keluyuran di mal atau di pasar selama jam kerja. Keinginan pemerintah ini telah menimbulkan kegusaran di kalangan pendidik. Bukan karena merasa terusik waktu santainya, melainkan karena beban guru yang sesungguhnya tak dipahami oleh para pembuat kebijakan. Lanjutkan membaca Guru atau Buruh?
Oleh Andri G Wibisana
Dalam tulisan berjudul ”A New Vision of the Public University”, Michael Burawoy—Guru Besar Sosiologi di UCLA, Amerika Serikat—menyatakan bahwa saat ini universitas publik di berbagai belahan dunia sedang mengalami krisis.
Menurut dia, krisis itu terjadi karena ada benturan berbagai kepentingan dengan kebijakan negara. Pada satu sisi, posisi penting universitas publik melahirkan keinginan agar universitas mampu mengeluarkan gagasan dan solusi berguna bagi masyarakat. Di sisi lain, pemotongan anggaran negara dan invasi konsep ”pasar” pada setiap dimensi universitas telah mendorong universitas publik melakukan komersialisasi pendidikan. Lanjutkan membaca Solusi bagi Universitas Publik

Proses demokratisasi yang berlangsung lebih dari satu dekade membawa banyak kemajuan dengan terciptanya iklim kebebasan dalam aneka ruang kehidupan berbangsa.
Namun, perkembangan demokrasi akhir-akhir ini diancam tindakan, perilaku, dan gerakan ”kontrademokrasi”, yang menggerogoti bangunan demokrasi dari dalam: korupsi, politik uang, kekerasan, terorisme, dan aneka konflik horizontal.
Ada semacam ”parasit” tumbuh di atas pohon demokrasi, merusak sistem metabolisme, mengacau arus sirkulasi, dan menghancurkan jejaring akarnya. Inilah para ”politikus parasit”, zoon politicon, yang menggerogoti tempat hidup mereka (partai, parlemen, departemen, dan negara) serta saling mengisap sesama di ruang komunitas politik. Dalam sepak terjangnya, parasit politik tak hanya individu, tapi juga membentuk kelompok atau jejaring. Lanjutkan membaca Parasit Demokrasi

Oleh Reza A.A Wattimena
Setiap hari kita membuat rencana. Rencana itu mencakup apa yang akan kita lakukan hari ini. Harapannya semua rencana tersebut bisa terlaksana dengan baik. Namun harapan tak selalu sesuai dengan kenyataan, bukan?
Ada orang-orang yang memang amat produktif. Mereka memiliki target kerja yang jelas di awal hari. Mereka pun bekerja rajin seharian penuh, fokus pada rencana mereka, dan pada akhir hari, mereka telah memenuhi target kerja mereka sesuai rencana. Orang-orang semacam ini bisa menciptakan hal-hal besar dengan melakukan hal-hal kecil secara sempurna setiap harinya. Lanjutkan membaca Kepemimpinan, Sikap Produktif, dan Kontrol Diri

Oleh SIDHARTA SUSILA
Keteladanan adalah metode efektif dalam pendidikan karakter. Keteladanan menjadikan dinamika pendidikan membumi, konkret, dan kontekstual.
Bagaimanakah jadinya pendidikan jika harus dijalankan di negeri yang penuh kebohongan?
Pendidikan seharusnya membangun rasa bangga dan cinta peserta didik kepada negerinya. Ini hanya bisa berlangsung bila kualitas para pengelola negeri unggul dan berkarakter. Mereka layak diteladani karena menjadi pribadi yang merdeka dari kepentingan pribadi dan kelompok. Keadilan dan kesejahteraan hidup segenap rakyat adalah satu-satunya yang diperjuangkan. Lanjutkan membaca Guru di Negeri Bohong

Oleh Reza A.A Wattimena
Pola berpikir induksi berkembang pesat dalam konteks revolusi saintifik pada abad 16 dan 17.[1] Pada masa itu pula lahirlah apa yang sekarang ini kita kenal sebagai ilmu pengetahuan modern.[2]Disebut revolusi karena pada masa itu, segala pandangan-pandangan lama di dalam masyarakat dengan sangat cepat dibuang, dan segera digantikan dengan pandangan-pandangan baru yang didasarkan pada metode penelitian ilmiah. Perubahan besar ini dimulai dengan karya-karya Galileo Galilei (1564-1642), dan mencapai puncaknya dalam karya Isaac Newton (1642-1727) tentang fisika. Bahkan dapat dikatakan bahwa perkembangan di dalam fisika adalah tanda majunya seluruh ilmu pengetahuan pada masa itu. Fisika adalah garda depan perkembangan ilmu pengetahuan modern.[3]Hal ini terjadi karena ilmu fisika mampu memberikan penjelasan, dan bahkan prediksi, yang kuat atas terjadinya berbagai fenomena alam. Juga di dalam fisika terjadi perkembangan teknologi yang amat pesat, seperti lahirnya teleskop, mikroskop, dan berbagai peralatan lainnya. Lanjutkan membaca Metode Induksi di dalam Penelitian Ilmiah

Oleh Kurnia JR
Negeri ini tak ubahnya ruang tanpa jendela. Salah satu dindingnya adalah kaca satu arah: dari dalam layaknya cermin, dari luar kaca tembus pandang. Melalui kaca itu, mereka yang ada di luar dapat mengamati kita yang menghuni ruang ini.
Orang yang prihatin meyakini mereka yang ada di balik dinding kaca tersebut adalah penguasa sesungguhnya republik ini. Para pemimpin yang bersama kita di dalam kamar adalah boneka-boneka yang nyaris tanpa otoritas menangani berbagai masalah kebangsaan dan kenegaraan. Lanjutkan membaca Negeri Seribu Misteri

Oleh Indra Tranggono
Seusai peristiwa pengeroyokan terhadap wartawan (19/9), seorang pelajar sebuah SMA di Jakarta melalui Twitter-nya mengaku puas memukuli wartawan.
Kata ”puas” mengindikasikan sang pelaku menganggap kekerasan sebagai kebenaran dan ”prestasi” yang wajib dirayakan. Ironisnya, pola pikir yang mengagungkan kekerasan fisik dan nonfisik itu kini kian menggejala dalam masyarakat dan negara.
Hukum harus menindak pelaku kekerasan. Siapa pun pelakunya, termasuk para pelajar. Lanjutkan membaca Budi Pekerti Elite Politik

Oleh Reza A.A Wattimena
Anda pasti ingin bekerja di perusahaan (ataupun organisasi-organisasi dalam bentuk lainnya) atau mendirikan perusahaan yang baik. Siapa yang tidak?
Dalam arti ini perusahaan yang baik adalah perusahaan yang terdiri dari orang-orang yang bekerja secara produktif, mampu memberikan kepuasan maksimal pada pelanggan, dan, pada akhirnya, menjadi nomor satu di bidang usahanya. Menarik bukan?
Namun sebagaimana dicatat oleh Tony Schwartz (2011), kontributor resmi Harvard Business Review, hanya 20 persen dari seluruh pekerja di dunia yang menyatakan, bahwa mereka bekerja di perusahaan yang baik. Logikanya, 80 persen lainnya merasa, bahwa mereka bekerja di perusahaan yang tidak baik. Lanjutkan membaca Indonesia, Bisnis, dan Kepemimpinan yang Memanusiakan

Oleh Mochtar Pabottingi
Ada tiga pertimbangan penting mengapa kita harus teguh menuntut keadilan bagi saudara kita, Munir.
Pertama, jika Munir yang namanya menasional-mendunia itu bisa dizalimi begitu keji secara terang-terangan, apatah lagi tiap kita, warga negara lainnya. Kedua, pembunuhan keji terhadap Munir bisa berefek melecehkan atau menegasikan makna sosok perjuangannya, yang bagi kita sungguh mulia. Ketiga, dan terpenting, sosok perjuangan Munir sama sekali tak bisa dilepaskan dari ideal-ideal tertinggi yang melahirkan, menjadi tumpuan, sekaligus menjadi tujuan negara kita. Lanjutkan membaca Munir dalam Kerangka Keindonesiaan