Filsafat Lalat?

http://en.clipart-fr.com

Belajar Berpikir Kritis

Oleh Aluysius Bayu

            Bagi banyak orang, lalat adalah hewan yang menjijikan. Lalat terbang ke sana- kemari, ia hinggap di tempat sampah, di kotoran hewan, bahkan mungkin di makanan kita. Dengan keadaan seperti ini, lalat membawa banyak kuman di tubuhnya dan menjadi penyebar penyakit, sehingga banyak orang berusaha menjauhkan makanan dan minuman mereka dari lalat, agar tidak terkena penyakit seperti diare dan sebagainya. Maka, predikat hewan yang menjijikkan sangat tepat ditujukan kepada lalat.

            Akan tetapi, jika kita bisa melihat secara detail bagian-bagian tubuh lalat, kita akan menemukan satu bagian lalat yang sungguh menjadi inspirasi bagi kita untuk belajar kritis. Bagian itu adalah mata lalat. Mengapa mata lalat bisa menjadi inspirasi belajar kritis? Mata lalat yang majemuk dapat memberikan inspirasi pada pikiran kita untuk berefleksi tentang sudut pandang dan cara berpikir para filsuf, yakni para pecinta kebjaksanaan. Sebab, mata majemuk lalat melihat suatu ‘hal’ dari beberapa pembagian mata majemuknya, sehingga lalat bisa menangkap obyek yang dilihatnya dengan jelas. Begitu pula belajar sikap kritis, ibarat mata lalat, pikiran kita diajak untuk mengenali sudut pandang para filsuf satu per satu dalam memahami dunia.

               Hal ini bukanlah suatu hal yang biasa dan sia-sia, namun melatih pikiran kita untuk bisa ‘bergerak’ dalam berbagai sudut pandang, sehingga kita juga terbiasa melihat sesuatu hal dari berbagai sudut pandang seperti mata majemuk lalat. Selain itu, belajar berpikir kritis menguntungkan kita dalam mengambil keputusan yang paling baik. Mengapa? Karena dengan melihat masalah dari berbagai sudut pandang, kita dapat memahami masalah dengan lebih jelas, sehingga kita pun dapat mengambil solusi yang paling baik. Baik di sini dalam arti tepat dan adil untuk semua subjek yang terkait dengan masalah tersebut.

Penerapan

            Dalam berbagai sudut pandang, ide yang tidak diwujudkan ibarat harimau ompong, yang hanya bisa mengaum tanpa bisa menggigit sasarannya. Begitu juga ide tentang mata majemuk lalat yang tertera di atas tidak akan bisa memberikan bukti perubahan yang nyata dalam kehidupan kita, jika tidak dituangkan dalam hidup kita sehari-hari. Maka, kita harus menarik kaki Sang ide, agar ide tersebut bisa membumi dan merubah kehidupan yang kita alami saat ini. Sebagai contoh, kemajemukan sudut pandang kita dapat digunakan untuk melihat masalah-masalah politik yang terjadi di negara kita, serta posisi dan tindakan apakah yang paling baik yang akan kita ambil, agar Indonesia semakin membaik kondisinya. Tentunya, kita sebagai masyarakat Indonesia juga mempunyai peran dalam membangun bangsa dan Negara.

            Tantangan bagi kita adalah bagaimana kita dengan sikap kritis tersebut, kita bisa membawa perubahan yang radikal dalam hidup kita. Dengan modal latihan kemajemukan sudut pandang para Pecinta Kebijaksanaan, kita bisa memberikan kontribusi dalam membangun negara. Sehingga, bukan hanya sebagai komentator dalam pertandingan politik antara klub-klub partai politik, tetapi berpartisipasi dalam pertandingan sebagai pelatih yang memberikan instruksi kepada para pemain politik, agar bermain dengan baik, jujur dan mengutamakan kesejahteraan masyarakat.

            Kemajemukan sudut pandang dapat melatih sikap kritis kita terhadap segala sesuatu. Dan dengan sikap kritis, kita dapat ambil bagian dalam membangun Negara, agar lebih baik serta mewujudkan keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Mahasiswa Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala

Seminari Tinggi Providentia Dei

Keuskupan Surabaya

Jl. Jemur Andayani/XVII/20   

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s