Gedankenlosigkeit

                                                                    Pinterest

atau tentang Ketidakberpikiran

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Gedankenlosigkeit… Jangan khawatir, karena istilah ini bukanlah sebuah mantra sihir. Ia tidak memiliki kekuatan gaib untuk menyihir orang, seperti misalnya di film Harry Potter. Ini merupakan kata yang lahir dari rahim filsafat Jerman, terutama dari pemikiran Hannah Arendt dan Martin Heidegger. Artinya sederhana, yakni ketidakberpikiran, atau sebuah keadaan, dimana orang tidak lagi menggunakan pikirannya, sehingga ia hidup hanya mengikuti apa yang ada, tanpa tanya.

Gedankenlosigkeit dialami oleh seseorang, ketika ia tidak lagi berpikir kritis. Ia gampang sekali percaya pada apa yang dikatakan orang, tanpa kecurigaan apapun. Ia gampang disetir, sehingga gampang sekali dipergunakan oleh orang lain untuk tujuan-tujuan yang tidak baik. Ia bagaikan robot yang diprogram untuk patuh buta pada tuannya. Lanjutkan membaca Gedankenlosigkeit

Iklan

Filsafat Manajemen Bisnis

Ideas
learnalearning.com

Sebuah Refleksi Awal

Oleh Reza A.A Wattimena

1.Filsafat dan Ilmu Manajemen

Konsep filsafat manajemen bisnis terkait dengan perkembangan ilmu manajemen.[1] Perkembangan dunia sekarang ini mendorong beragam refleksi ilmiah, termasuk filsafat dan manajemen, untuk terlibat dengan beragam persoalan dunia. Kita hidup di dunia yang saling terkait satu sama lain. Ekonomi tidak bisa dipisahkan dengan kebudayaan, politik, seni dan budaya sebuah masyarakat. Perubahan pada satu bagian masyarakat akan mempengaruhi bagian-bagian lainnya. Inilah yang disebut sebagai interdependensi, yakni kesalingterkaitan dari segala sesuatu yang ada di alam semesta. Fakta ini juga mempengaruhi tingkat persaingan global antara berbagai negara dan berbagai perusahaan di bidang ekonomi. Untuk bisa bertahan dan berkembang di era persaingan global semacam ini, kita membutuhkan cara berpikir dan penerapan tindakan yang tepat.[2] Di titik inilah filsafat manajemen bisnis memainkan peranan penting.  Lanjutkan membaca Filsafat Manajemen Bisnis

Bisnis dan Sikap Kritis, Apa Hubungannya?

http://www.blog.iqmatrix.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Mau tahu apa yang anda perlukan, supaya berhasil dalam bisnis di abad 21 ini? Jawabannya mungkin tak terduga, yakni kemampuan berpikir kritis. Itulah pendapat John Baldoni di dalam artikelnya di Harvard Business Review. Bahkan ia lebih jauh menekankan, bahwa yang diperlukan oleh para pemimpin bisnis sekarang ini adalah kemampuan untuk mendekati suatu masalah dengan sudut pandang multikultural. Maka seorang pemimpin bisnis harus memahami filsafat, sejarah, budaya, dan bahkan sastra. Bingung? Saya akan coba jelaskan lebih jauh.

Sikap Kritis

Kemampuan berpikir kritis adalah sesuatu yang amat dibanggakan di dalam filsafat maupun teori-teori tentang kepemimpinan. Namun sebagaimana dicatat Baldoni, sekolah-sekolah bisnis di dunia, dan juga di Indonesia, sekarang ini lebih giat mengajarkan kemampuan berpikir kuantitatif dengan menggunakan perhitungan matematis dan statistik. Dengan proses itu kemampuan berpikir kritis pun terhambat, atau bahkan hilang sama sekali. Apakah anda juga mengalami ini? Lanjutkan membaca Bisnis dan Sikap Kritis, Apa Hubungannya?

Filsafat Lalat?

http://en.clipart-fr.com

Belajar Berpikir Kritis

Oleh Aluysius Bayu

            Bagi banyak orang, lalat adalah hewan yang menjijikan. Lalat terbang ke sana- kemari, ia hinggap di tempat sampah, di kotoran hewan, bahkan mungkin di makanan kita. Dengan keadaan seperti ini, lalat membawa banyak kuman di tubuhnya dan menjadi penyebar penyakit, sehingga banyak orang berusaha menjauhkan makanan dan minuman mereka dari lalat, agar tidak terkena penyakit seperti diare dan sebagainya. Maka, predikat hewan yang menjijikkan sangat tepat ditujukan kepada lalat.

            Akan tetapi, jika kita bisa melihat secara detail bagian-bagian tubuh lalat, kita akan menemukan satu bagian lalat yang sungguh menjadi inspirasi bagi kita untuk belajar kritis. Bagian itu adalah mata lalat. Mengapa mata lalat bisa menjadi inspirasi belajar kritis? Mata lalat yang majemuk dapat memberikan inspirasi pada pikiran kita untuk berefleksi tentang sudut pandang dan cara berpikir para filsuf, yakni para pecinta kebjaksanaan. Sebab, mata majemuk lalat melihat suatu ‘hal’ dari beberapa pembagian mata majemuknya, sehingga lalat bisa menangkap obyek yang dilihatnya dengan jelas. Begitu pula belajar sikap kritis, ibarat mata lalat, pikiran kita diajak untuk mengenali sudut pandang para filsuf satu per satu dalam memahami dunia. Lanjutkan membaca Filsafat Lalat?