Ada yang palsu dari debat Pilkada Jakarta 2017. Beberapa calon tampak sekedar mengatakan hal-hal luhur, tanpa sungguh memahami apa maknanya.
Mulut manis dibarengi dandanan mewah. Namun, itu tak mampu menutupi bau kepalsuan yang keluar dari suara dan gerak tubuh.
Kepalsuan lahir dari ketidakjujuran dan ketidaktulusan. Yang satu dititipi pesanan pihak lain, sementara yang lain tampak sakit hati, karena tak lagi diberi kedudukan politis yang tinggi.
Beberapa berkampanye dengan berita-berita fitnah. Masyarakat kita pun semakin muak dengan fitnah bertubi-tubi. Lanjutkan membaca Dunia dan Kepalsuan
Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang
Sebagai ibu kota Indonesia, Jakarta memiliki keunikan tersendiri. Ia menjadi tolok ukur bagi semua daerah lainnya di Indonesia.
Apa yang terjadi di Jakarta akan membuka kemungkinan bagi daerah-daerah lainnya untuk mengalami kejadian serupa. Jika Jakarta gagal mewujudkan cita-cita keberadaan negara Indonesia yang adil dan makmur untuk semua, tanpa kecuali, maka, kemungkinan besar, daerah-daerah lainya juga akan jatuh ke lubang yang sama.
Indonesia lalu menjadi negara gagal. Konflik dan ketidakadilan pun merajalela.
Untuk mencegah itu, Jakarta jelas membutuhkan kepemimpinan yang bersih dan kuat di berbagai jenjang organisasinya. Sudah terlalu lama, Jakarta menjadi kota yang macet, kumuh, banjir dan tidak aman untuk ditinggali. Lanjutkan membaca Jakarta, Pilkada,… dan Serigala
Tahun 2016 akan berakhir. Tahun 2017 mengetuk pintu di depan mata.
Banyak hal yang telah terjadi, dan banyak yang selalu bisa dipelajari. Kesalahan pasti dibuat, namun kemampuan untuk terus belajar membuka berbagai kemungkinan baik di masa depan.
Di berbagai belahan dunia, konflik masih mewarnai kehidupan manusia. Perang di Suriah yang tak kunjung padam, sampai dengan tegangan di Afrika tengah yang masih belum menemukan jalan keluar.
Kesempitan, Kerakusan dan Ketidakpedulian
Kesempitan berpikir juga masih melanda berbagai kehidupan manusia, mulai dari hubungan di dalam keluarga sampai dengan hubungan antar bangsa. Dari kesempitan berpikir tersebut lahirlah berbagai keputusan yang salah kaprah. Lanjutkan membaca Memerangi Keterbelakangan di 2017
Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang
Anda mungkin belum sadar, bahwa kita sedang mengalami perang dunia ketiga. Perang yang terjadi di Suriah adalah perang antar bangsa-bangsa, mulai dari Arab Saudi, AS, Russia, Iran, sampai dengan Turki.
Kita tidak sadar akan hal ini, karena konsep kita soal perang dunia amat bersifat eropasentrik. Artinya, kita hanya memahami perang dunia sebagai perang antar negara-negara di Eropa yang melibatkan sekutunya.
Kerusakan dan korban jiwa, akibat perang Suriah, amatlah besar. Dampaknya pun merembet ke berbagai belahan dunia lainnya.
Di hadapan begitu banyak konferensi perdamaian internasional, penelitian-penelitian kajian perdamaian, dan berbagai upaya menjaga perdamaian lainnya, mengapa kita jatuh lagi ke dalam lubang yang sama, yakni perang dan kekerasan yang berkepanjangan? Apa yang bisa kita refleksikan dari semua peristiwa ini? Lanjutkan membaca “Ruang Hening” untuk Perdamaian Dunia
Siapa yang tidak kesal, ketika menyaksikan pengendara yang begitu ceroboh di jalan raya, dan sama sekali tidak peduli pada peraturan lalu lintas? Siapa yang tidak marah, ketika menyaksikan para penegak hukum di Indonesia justru menjadi pelaku pelanggaran hukum, dan tidak ada seorang pun yang berani menindaknya?
Padahal, banyak peraturan dibuat untuk menata hidup manusia, supaya damai dan aman. Ketika peraturan tersebut dilanggar, yang menderita bukan hanya si pelanggar, tetapi juga orang-orang di sekitarnya.
Kegagalan untuk mematuhi prinsip-prinsip hidup bersama berakar pada ketidaktahuan, atau tiadanya perspektif. Ketika orang gagal menjalankan prinsip-prinsip hidup bersama, maka konflik akan menjadi buahnya.
Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang
Berapa gaji presiden direktur sebuah perusahaan swasta menengah di Jakarta? Bandingkan dengan gaji seseorang yang baru saja lulus kuliah.
Anda pasti akan menemukan jarak yang amat besar, apalagi jika anda bekerja di perusahaan multinasional dengan modal raksasa. Banyak orang tidak lagi mempertanyakan hal ini, karena sudah menjadi bagian hidup sehari-hari masyarakat Indonesia.
Di tengah peliknya kompetisi ekonomi nasional, yang kaya semakin kaya, sementara yang miskin justru semakin miskin. Terciptalah kesenjangan sosial yang amat besar antara si kaya dan si miskin.
Agama lahir dan berkembang sebagai bagian dari peradaban manusia. Ia lahir dari rasa kagum sekaligus gentar manusia terhadap segala yang ada, yakni alam dan seisinya.
Agama memberikan makna terhadap hidup manusia. Ketika krisis melanda, agama memberikan arah dan penguat harapan.
Sayangnya, agama kini banyak menjadi permainan kekuasaan. Ajaran dan tradisi religius digunakan untuk mengabdi pada kepentingan politik dan ekonomi yang tidak sehat.
Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden Cikarang
Agama lahir dan berkembang sebagai bagian dari peradaban manusia. Ia lahir dari rasa kagum sekaligus gentar manusia terhadap segala yang ada, yakni alam dan seisinya.
Agama memberikan makna terhadap hidup manusia. Ketika krisis melanda, agama memberikan arah dan penguat harapan.
Sayangnya, agama kini banyak menjadi permainan kekuasaan. Ajaran dan tradisi religius digunakan untuk mengabdi pada kepentingan politik dan ekonomi yang tidak sehat.
Akibatnya, agama kini justru menjadi alat pemecah. Ia menjadi ideologi yang keras dan jahat terhadap hal-hal yang berbeda dari dirinya. Lanjutkan membaca Agama dan Perdamaian Dunia
Tampaknya, kita hidup di abad kegelapan. Di dalam abad ini, kesempitan berpikir menjadi semangat jaman (Zeitgeist).
Beragam fenomena menggiring kita menuju abad ini, mulai dari perang tak berkesudahan di Timur Tengah, politik yang semakin semerawut di Indonesia, gunjang ganjing di Uni Eropa, dan terpilihnya para politikus fasistik di AS. Amerika selatan pun menyaksikan jatuhnya berbagai pemerintahan pro rakyat, dan bangkitnya pemerintahan sayap kanan yang tak peduli pada keadilan sosial.
Abad Kegelapan
Kata abad kegelapan (dark age) diambil dari upaya untuk menjelaskan apa yang terjadi di Eropa, setelah kekaisaran Romawi Barat jatuh. Kemiskinan, kebodohan dan fanatisme berkembang biak, seperti anak kelinci.
Ada empat hal yang kiranya menjadi ciri dari abad kegelapan di awal abad 21 ini. Pertama, irasionalitas menjadi menu sehari-hari di dalam politik dunia. Lanjutkan membaca Politik di Abad Kegelapan
Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang
Banyak konflik di dunia ini disebabkan kelekatan kita pada identitas sosial kita. Kita merasa menjadi bagian dari suatu kelompok tertentu, entah ras, etnis, bangsa, negara ataupun agama.
Lalu, kita beranggapan, bahwa kelompok kita memiliki kebenaran tertinggi. Kelompok lain adalah kelompok sesat.
Kesalahan berpikir ini telah mengantarkan manusia pada konflik berdarah, pembunuhan massal, pembersihan etnis sampai dengan genosida. Ratusan juta orang terkapar berdarah sepanjang sejarah, akibat kesalahan berpikir semacam ini.
Bagaimana supaya kesalahan berpikir mendasar tentang dunia ini bisa diperbaiki? Saya ingin menawarkan ide tentang manusia kosmopolis. Lanjutkan membaca Manusia Kosmopolis
Pepatah lama mengatakan, bahwa kita harus belajar sampai negeri Cina. Tentu, banyak sekali yang bisa dipelajari disana, mulai dari seni sampai dengan politik.
Namun, ada region yang jauh lebih menarik untuk dikaji sekarang ini. Prestasinya di tingkat nasional maupun internasional amat diperhitungkan di awal abad 21 ini.
Letaknya sedikit lebih jauh dari Cina, tepatnya di Eropa Utara. Mereka adalah negara-negara Skandinavia, yakni Norwegia, Finlandia, Swedia dan Denmark. Lanjutkan membaca Belajarlah Sampai Ke Skandinavia
Kita, rupanya, hidup di dunia yang galau. Orang-orang di dalam dunia ini selalu dalam gerak cepat. Mereka merasakan kegalauan di hati mereka. Mereka selalu ingin mencapai sesuatu di luar diri mereka, dan selalu ingin mengubah, atau memperbaiki sesuatu. Apakah anda merasakan hal yang sama?
Ketidaktenangan dunia, die Unruhe der Welt, begitulah judul buku dari Ralf Konersmann, filsuf asal Jerman, pada 2015 lalu. Apakah rasa galau dan tidak tenang ini sesuatu yang secara alamiah ada di dalam diri manusia? Ataukah peradaban dan lingkungan sosial mengubah kita menjadi mahluk-mahluk yang galau, yang selalu merasa harus mengejar sesuatu di luar diri kita? Inilah yang menjadi pertanyaan dasar Konersmann. Lanjutkan membaca Dunia yang Galau
Rasa sakit adalah bagian dari hidup manusia. Ketika terlahir di dunia, kita sudah langsung berjumpa dengan rasa sakit. Ibu yang melahirkan kita pun sudah akrab dengan rasa sakit. Tak mungkin manusia untuk menghindar dari rasa sakit.
Ketika rasa sakit tiba, tubuh dan pikiran langsung mengalaminya secara bersamaan. Ia melukai tubuh, sekaligus menggetarkan pikiran. Cerita tentang sakit datang tanpa diundang. Cemas dan khawatir juga datang menerkam. Lanjutkan membaca Di atas Rasa Sakit
Tulisan lama saya, ketika masih mengajar di Unika Widya Mandala Surabaya dulu:
pinterest
PENDIDIKAN FILSAFAT UNTUK ANAK?
PENDASARAN, PENERAPAN DAN REFLEKSI KRITIS UNTUK KONTEKS INDONESIA Reza A.A. Wattimena
Abstrak Tulisan ini ingin memperlihatkan pentingnya pendidikan filsafat untuk anak di Indonesia. Filsafat disini dilihat sebagai pendidikan nilai sekaligus pendidikan hidup yang amat penting bagi perkembangan kepribadian manusia. Oleh karena itu, pendidikan filsafat harus diberikan sejak usia dini, yakni usia sekolah dasar. Namun, pola mengajar filsafat berbeda dengan pola mengajar ilmu-ilmu lainnya. Ia mengajak orang berpikir sendiri dan menemukan jawaban sendiri atas pertanyaan-pertanyaan hidupnya. Namun, filsafat untuk anak tidak boleh membebani proses belajar anak. Ia juga harus mempertimbangkan konteks kultur lokal yang sebelumnya telah ada di Indonesia.
Belakangan ini, diskusi politik di Indonesia begitu biadab. Suku, ras dan agama dijadikan bahan untuk saling memaki dan mencaci di ranah publik. Orang-orang yang dulunya dianggap cerdas kini berbalik menjadi beringas, mungkin karena sakit hati, karena tak lagi mendapat kue kekuasaan. Berbagai kelompok kepentingan yang pikirannya primitif dibiarkan merajalela di ruang publik, dan menciptakan keresahan sosial.
Mengapa mutu diskusi politik di Indonesia menjadi begitu rendah? Penyebabnya tentu tak sederhana. Akarnya panjang ke masa lalu yang kini terlupakan. Ada tiga hal yang kiranya perlu diperhatikan. Lanjutkan membaca Menuju Politik Beradab
Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)
Banyak masalah di dalam hidup kita bisa ditarik ke satu sebab mendasar, yakni tidak adanya dialog. Orang mengira pendapatnya sendiri sebagai benar, dan menghina pendapat orang lain. Orang tidak lagi mendengar dengan seksama, sehingga salah paham, dan cenderung menanggapi dengan amarah dan kebencian. Akibatnya, banyak masalah tak selesai, sementara masalah baru datang bermunculan.
Sebenarnya, dialog bukanlah barang baru di dalam hidup manusia. Ia sudah selalu menjadi bagian hidup kita. Dialog adalah upaya untuk memahami maksud dan cara berpikir seseorang dengan berbicara langsung dengannya. Ia adalah landasan dari beragam bentuk diskusi.
Ketika kita merencanakan sesuatu, misalnya tujuan dari liburan tahun ini, kita berdialog dengan teman ataupun keluarga kita. Dialog dan diskusi juga amat penting untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang biasanya berujung pada konflik. Ia juga menjadi cara paling baik untuk membuat berbagai keputusan penting dalam hidup.
Bisakah kita membayangkan dialog sebagai jalan hidup kita? Artinya, kita siap sedia untuk berdialog saat demi saat, baik dengan diri kita dalam bentuk refleksi, maupun dengan orang lain. Kita lalu bisa belajar dari pengalaman hidup kita, dan bekerja sama dengan orang lain. Apakah yang kiranya diperlukan untuk mewujudkan hidup dialogis semacam itu? Lanjutkan membaca Dialog sebagai Jalan Hidup
Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)
Kutipan ini kiranya perlu untuk kita resapi bersama: „Hidup yang tidak direfleksikan (diperiksa) tidaklah layak dijalani.“ Begitu kata Sokrates, pemikir asal Yunani, lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Hidup yang tidak direfleksikan berarti hidup seperti robot yang otomatis dan tanpa makna.
Di Indonesia, ketika mendengar kata “refleksi”, orang langsung berpikir tentang pijat refleksi. Ini berarti memijat titik-titik tertentu di telapak kaki, supaya orang bisa merasa lebih segar. Bukan refleksi semacam itu yang dimaksud disini. Refleksi, dalam arti sesungguhnya, adalah belajar dari apa yang sudah dilalui sebelumnya. Lanjutkan membaca Menjadi Manusia Reflektif
Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)
Ikut campur, ini mungkin salah satu hobi orang mayoritas orang Indonesia. Mulai dari politik sampai dengan urusan kelamin, semua dicampur-dicampur. Akhirnya, orang jadi bingung. Kalau sudah bingung, ketegangan dan konflik lalu menjadi warna dari hidup sehari-hari.
Politik Ikut Campur
Di September 2016 ini, warga Jakarta sedang menantikan pemilihan gubernur di 2017 nanti. Langkah “ikut campur” pun mulai tampak. Para calon gubernur baru muncul dengan menggunakan militer dan agama sebagai pendukungnya. Politik “campur baur” adalah hasilnya, dan ini membuat para calon pemilih menjadi bingung, serta terpecah. Lanjutkan membaca “Ikut Campur”
Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)
Beberapa bulan ini, saya tinggal di dua kota terbesar di Indonesia, yakni Jakarta dan Surabaya. Ada satu hal yang cukup menganggu pikiran saya. Di dua kota besar tersebut, mobil sekaligus motor mewah seri terbaru berkeliaran di jalan raya. Rumah mewah juga bertebaran di mana-mana.
Pesta perkawinan dan ulang tahun dirayakan dengan begitu mewah. Banyak orang juga bergaya hidup mewah, tanpa peduli hal-hal lain, kecuali kenikmatan diri dan kerabatnya. Keadaan ini sebenarnya tak bermasalah, jika Indonesia sudah bisa dianggap sebagai negara makmur. Namun, kenyataan berbicara berbeda: Indonesia masih merupakan negara berkembang dengan tingkat kemiskinan yang terus meningkat (per data Badan Pusat Statistik Juli 2016). Lanjutkan membaca Tentang “Kepantasan”