Terbitan Buku Terbaru: Dengarkanlah, Zen, Pandangan Hidup Timur dan Jalan Pembebasan

Oleh Reza A.A Wattimena 

Pemesanan bisa di 
Penerbit Karaniya
JL.Mangga I Blok F 15
Duri Kepa, Kebon Jeruk
Jakarta Barat 11510
Telepon: +6221 568 7957
WhatsApp: +62 813 1531 5699

Atau di Toko Buku Terdekat

Buku ini lahir dari penderitaan yang saya alami. Selama bertahun-tahun, saya hidup dalam depresi. Secara singkat, depresi dapat dipahami sebagai kesedihan yang berkelanjutan, kerap kali tanpa alasan yang jelas, dan membuat orang tidak bisa menjalani kesehariannya dengan damai dan bahagia. Depresi ini mempengaruhi banyak unsur dalam hidup saya, mulai dari soal hubungan pribadi, sampai dengan hubungan profesional.

Saya kerap kali bertanya, apakah hidup memang seperti ini? Ketika keadaan tidak sesuai keinginan, penderitaan dan kekecewaan muncul. Saya juga menyaksikan, begitu banyak keluarga dan teman-teman saya terjebak pada soal yang sama. Mereka mencoba menemukan jalan keluar melalui agama ataupun konsultasi dengan profesional. Namun, jawaban atas permasalahan mereka tak kunjung tiba. Lanjutkan membaca Terbitan Buku Terbaru: Dengarkanlah, Zen, Pandangan Hidup Timur dan Jalan Pembebasan

Terbitan Terbaru: How to Be a Nationalist in The Cosmopolitan Era? A Historical and Scientific Reflection

Oleh Reza A.A Wattimena

Dalam Terbitan

THE ARY SUTA CENTER SERIES ON STRATEGIC MANAGEMENT

April 2018, Volume 41

Bisa didapatkan di

Ary Suta Center
Contact person:
Priska (081370170585)
Nurul (085362026629)
Email: arysutacenter@arysutacenter.com

Abstract

Nationalism provides foundation for the love of one’s nation. This feeling is based on the shared history and mutual purpose for the future, which stand on solidarity and feeling of unity in a certain group. However, nationalism can often be used as justification for national fanaticism that sacrifice the interests of other groups or other nations. A new interpretation of nationalism in the cosmopolitan era is needed, where interdependence between nations and groups become a concrete and factual reality, and at the same time, the consciousness that human as an integral part of universal order is increasing. This article is an effort to place nationalism in the cosmopolitan framework, which puts highest importance on struggle to create tolerance, solidarity and social equality.

Key Words: Nationalism, Cosmopolitanism, Tolerance, Solidarity Lanjutkan membaca Terbitan Terbaru: How to Be a Nationalist in The Cosmopolitan Era? A Historical and Scientific Reflection

Buku Terbaru: To Infinity and Beyond, Cosmopolitanism in International Relations

Penulis

Reza A.A Wattimena

Anak Agung Banyu Perwita

Penerbit: Ary Suta Center

Bisa didapatkan di

Ary Suta Center
Contact person:
Priska (081370170585)
Nurul (085362026629)
Email: arysutacenter@arysutacenter.com

Forewords 

Ary Suta Center stands for three things, namely building competencies, value creation and increasing competitiveness in Indonesia. Central to these things is the cooperation in scientific researchs and programs with so called people with fair minds and executive intelligence. From this cooperation, the higher level of competitiveness and value creation can be created in order to enhance the innovative capabilities of Indonesian based on good leadership, strategy and critical thinking in various areas of life, namely social-cultural, politics, economics, human relations and education. Lanjutkan membaca Buku Terbaru: To Infinity and Beyond, Cosmopolitanism in International Relations

Trilogi Filsafat Jerman dan Demitologisasi Kehidupan

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Sudah sejak awal, filsafat berusaha memahami dunia dengan segala isinya. Salah satu jalannya adalah dengan membongkar beragam kesalahan berpikir yang bercokol di kepala manusia. Harapannya, dengan pemahaman yang tepat tentang dunia, kita lalu bisa menjalani hidup yang bermutu sebagai manusia. Kita tidak lagi tertipu oleh beragam pengetahuan palsu, maupun terjebak pada kesalahan yang berpikir yang tak perlu terjadi.

Di dalam filsafat Eropa, ada dua aliran besar yang amat berpengaruh. Mereka adalah filsafat Yunani kuno dan Idealisme Jerman. Walaupun relatif singkat, namun dunia modern tidak akan terbentuk seperti sekarang ini, tanpa pengaruh dari kedua aliran filsafat tersebut. Lanjutkan membaca Trilogi Filsafat Jerman dan Demitologisasi Kehidupan

Empat Langkah Zen untuk Patah Hati

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Dua minggu terakhir, beberapa orang datang pada saya. Mereka menceritakan kegagalan yang membawa mereka ke penderitaan. Ada yang menderita soal pekerjaan. Ada yang menderita soal hubungan percintaan. Ada yang menderita, karena tak punya uang. Ada yang menderita, karena bingung kebanyakan uang (mau invest apa?)

Sebagai jalan keluar cepat, ada yang mengundang untuk mabok bersama. Ada juga yang ngajak “kawin”, seolah kawin itu melenyapkan semua penderitaan. Ada yang mengajak traveling keliling Asia (tentu dengan biaya masing-masing). Lanjutkan membaca Empat Langkah Zen untuk Patah Hati

Tentang Ego yang Tak (Pernah) Ada

Peter Gric, “Dissolution of Ego IV”

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Ada dua misteri semesta yang masih menjadi pergulatan para ilmuwan. Yang pertama adalah hakekat dari alam semesta, termasuk seberapa besar dan unsur-unsur apa saja yang menyusunnya. Yang kedua adalah hakekat dari diri, atau ego, termasuk eksistensi dan unsur-unsur pembentuknya. Yang kedua ini lebih menarik untuk diperhatikan.

Sejarah “Ego”

Penyelidikan tentang ego sudah lama berlangsung di dalam sejarah pemikiran manusia. Pemikiran Jawa kuno, misalnya, membedakan antara ego kecil dan ego besar. Ego kecil adalah bentukan sosial, yakni hasil dari hubungan dengan keluarga dan masyarakat secara luas. Ego besar adalah energi semesta yang sudah selalu ada, dan menjadi sumber dari kebijaksanaan hidup yang tertinggi. Lanjutkan membaca Tentang Ego yang Tak (Pernah) Ada

Politik, Bisnis dan Spiritualitas

Mystic Sea – The Sea Empress, Daniel Arrhakis

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Ketiga kata ini, yakni politik, bisnis dan spiritualitas, hampir tak pernah dihubungkan. Ketiganya menempati dunia yang berbeda. Politik dan bisnis memang cukup sering disandingkan. Namun, kata spiritualitas amatlah asing bagi kedua dunia tersebut.

Politik dan Bisnis

Politik kerap dipahami sebagai perebutan kekuasaan. Politik disempitkan ke dalam pengertian yang dirumuskan oleh Thomas Hobbes di dalam bukunya Leviathan, yakni perang semua melawan semua (bellum omnia contra omnes). Di dalam politik, manusia adalah serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Kepentingan dan bahkan nyawa orang lain dikorbankan, demi mempertahankan dan memperbesar kekuasaan politik. Lanjutkan membaca Politik, Bisnis dan Spiritualitas

Heidegger, “Ada” dan Utopia

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Ilmu pengetahuan modern lahir dari rahim filsafat. Filsafat sendiri dapat dilihat sebagai upaya manusia untuk memahami segala yang ada secara kritis, rasional dan sistematik. Buah dari filsafat adalah pengetahuan tentang kehidupan. Walaupun begitu, menurut Martin Heidegger, filsafat haruslah bergerak lebih dalam dengan mempertanyakan dasar dari keberadaan segala sesuatu itu sendiri, atau yang disebutnya sebagai “Ada” (Sein).

Filsafat berkembang melalui pertanyaan tentang alam. Inilah yang disebut sebagai kosmosentrisme. Alam menjadi obyek utama berbagai diskusi dan refleksi filosofis. Inilah akar dari ilmu fisika modern, sebagaimana dipahami sekarang ini. Walaupun begitu, alam adalah bagian dari Ada, dan bukan merupakan Ada itu sendiri. Lanjutkan membaca Heidegger, “Ada” dan Utopia

Indonesia, Utopia dan Protopia

Pinterest, S. Toyo

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Setiap bangsa lahir ke dunia dengan cita-cita. Begitu pula Indonesia. Kemerdekaan sebuah bangsa adalah sebuah jalan untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Walaupun indah, namun cita-cita ternyata mengandung bahaya.

Belakangan ini, muncul juga beberapa gerakan untuk menciptakan masyarakat dengan satu agama di Indonesia. Mereka berpikir, dengan satu agama dan satu tafsiran, Indonesia lalu berubah menjadi surga untuk semua. Cita-cita seperti ini berbahaya, bukan hanya karena bertentangan dengan dasar negara, tetapi juga dengan kodrat alam. Cita-cita, tanpa kejernihan pikiran, akan bermuara pada petaka. Lanjutkan membaca Indonesia, Utopia dan Protopia

Peduli

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Rasa peduli rupanya menjadi barang langka di dunia sekarang ini. Orang hanya hidup untuk kepuasaan dirinya semata. Kepentingan orang lain dikorbankan, tanpa rasa salah. Alam pun rusak, karena manusia memeras alam, demi kepuasan dirinya semata.

Rasa Peduli

Padahal, seperti dikatakan oleh Martin Heidegger, filsuf Jerman, di dalam bukunya yang berjudul Sein und Zeit, rasa peduli (Sorge) adalah hubungan dasariah antara manusia dengan dunianya. Manusia hidup di dalam dunia yang tak ia pilih. Ia “terlempar”, begitu kata Heidegger. Mutu hidup manusia ditentukan dari sejauh mana ia mampu mengembangkan rasa peduli ini di dalam hubungannya dengan dunia. Lanjutkan membaca Peduli

Tolong, Bayinya Jangan Dibuang

Too Much Baby – Mark Bryan

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Alkisah, seorang ibu sedang memandikan bayinya di dalam sebuah bak mandi kecil. Tubuh dan rambut sudah dibersihkan dengan sabun dan shampoo terbaik.  Semua kotoran sudah lenyap dari tubuh, walaupun masih menggenang di air cucian bayi.

Setelah selesai, air kotorannya pun dibuang. Lalu, apakah bayinya juga dibuang? Tentu saja tidak. Hanya orang sakit yang membuang bayi bersama dengan air cuciannya, setelah ia selesai mandi. Lanjutkan membaca Tolong, Bayinya Jangan Dibuang

Kompetisi dan Komparasi: Dua Racun Mematikan Pendidikan

Words like Poison (•Katie)

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta, Sedang Menulis Buku Berjudul “Pendidikan sebagai Pembebasan: Terobosan untuk Pendidikan Abad 21’”

Secara global, keadaan pendidikan amatlah memprihatinkan. Pendidikan berubah  menjadi proses dehumanisasi, dimana orang kehilangan kemanusiaannya justru dengan belajar untuk mengembangkan dirinya. Inilah ironi pendidikan terbesar di abad 21. Tak heran jika Noam Chomsky, salah satu pemikir terbesar dunia sekarang ini, menulis di dalam bukunya yang berjudul Class Warfare, bahwa pendidikan justru membunuh kecerdasan, kepekaan moral dan kebahagiaan yang merupakan tiga ciri utama kemanusiaan.

Kompetisi dan Komparasi

Mari kita cermati keadaan pendidikan global sekarang ini. Di semua negara, dua prinsip pendidikan diterapkan, tanpa ada sikap kritis, yakni kompetisi dan komparasi, atau perbandingan. Kompetisi dianggap sebagai prinsip suci yang tak boleh dibantah. Anak didorong untuk berkompetisi menjadi yang terbaik dari antara teman-temannya, jika perlu dengan mengorbankan kebahagiaan maupun kecerdasan alami yang ia punya. Lanjutkan membaca Kompetisi dan Komparasi: Dua Racun Mematikan Pendidikan

Kecerdasan Spiritual

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Mendengar kata kecerdasan spiritual, orang langsung teringat dengan agama, beserta segala ritual maupun aturannya. Pandangan ini salah besar.

Kecerdasan spiritual tidak ada hubungannya dengan agama, termasuk dengan segala ritual maupun aturan-aturannya. Yang seringkali terjadi, jika tidak ditafsirkan secara bijak, agama justru bisa menghambat kecerdasan spiritual seseorang, terutama dengan ritual serta aturannya yang sudah ketinggalan jaman.

Kecerdasan Spiritual

Konsep kecerdasan spiritual (Spiritual Intelligence) dirumuskan secara sistematis oleh Robert Emmons di dalam artikel ilmiahnya yang berjudul Is Spirituality an Intelligence? Motivation, Cognition, and the Psychology of Ultimate Concern. Tulisan ini diterbitkan di dalam sebuah jurnal ilmliah yang bernama International Journal for the Psychology of Religion.

Konsep ini berkembang dari penelitian Howard Gardner tentang kecerdasan jamak (Multiple Intelligences). Ia menekankan, bahwa kecerdasan manusia memiliki banyak jenis, dan masing-masing harus dilihat secara unik, walaupun saling terhubung satu sama lain. Lanjutkan membaca Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan Politik

Salvador Dalí and the Evolution of Surrealism

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Di dalam bukunya yang berjudul Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences, Howard Gardner mengubah semua pemahaman kita tentang kecerdasan manusia. Baginya, kecerdasan itu memiliki banyak bentuk, mulai dari kecerdasan musikal, logis-matematis, gerak tubuh sampai dengan kecerdasan empatis dalam hubungan antar manusia.

Sebelumnya, kita cenderung melihat kecerdasan melulu sebagai kecerdasan logis-matematis. Pandangan ini mulai terpatahkan sekarang, walaupun masih dianut sebagian besar orang di Indonesia.

Di tahun 2018 dan 2019 ini, Indonesia memasuki tahun-tahun penting yang menentukan masa depan bangsa. Kita menyebutnya sebagai tahun politik.

Di luar berbagai bentuk kecerdasan yang telah dikenali, ada baiknya kita merumuskan bentuk kecerdasan baru yang merupakan gabungan dari beragam kecerdasan lainnya, yakni kecerdasan politik (political intelligence). Jenis kecerdasan ini penting untuk para politisi, supaya mereka bisa menjadi politisi yang baik, sekaligus untuk rakyat pada umumnya, supaya mereka bisa mengenali politisi busuk, dan tidak memilihnya. Lanjutkan membaca Kecerdasan Politik

Harian Kompas 10 Maret 2018: Tekno-Demokrasi

Diterbitkan di Harian Kompas, 10 Maret 2018

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Tak sampai setahun Ahok meninggalkan kursi kepemimpinan ibu kota, semua seolah kembali seperti semula. Saya mengurus surat di kelurahan. Suasana begitu kacau. Puluhan orang berdiri, tanpa ada pelayanan dan pengaturan yang jelas. Kursi-kursi pegawai kelurahan tampak kosong, dan semua tampak bingung dengan pelayanan yang tak efektif dan efisien.

Semua ini dibarengi dengan tingkat korupsi, kolusi dan nepotisme yang amat dalam mencengkram birokrasi pemerintahan negeri ini. Mulai dari tender pengadaan barang, pembangunan serta perawatan infrastruktur, sampai dengan proyek E-KTP, semua dipenuhi dengan unsur kecurangan yang merugikan rakyat. Tak dapat disangkal, bahwa korupsi merupakan tantangan terbesar di Indonesia sekarang ini. Beragam program pembangunan menjadi kotor dan terancam gagal, sehingga rakyat terjebak di lingkaran kemiskinan yang akan melahirkan beragam masalah lainnya. Lanjutkan membaca Harian Kompas 10 Maret 2018: Tekno-Demokrasi

Politik, Agama dan Tafsirannya

Troglodyte – Painting, 50×35 m ©2017 by önder caymaz

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Kehadiran kelompok-kelompok radikal yang menggunakan bendera agama membuat kita mempertanyakan ulang hubungan antara politik dan agama. Kelompok-kelompok itu tersebar di seluruh dunia, mulai dari Taliban, Boko Haram, Biksu Radikal di Myanmar, Muslim Cyber Army, Ku Klux Klan, ISIS sampai dengan Al-Qaeda.

Beberapa pihak berpendapat, bahwa mereka hanya menggunakan agama sebagai pembenaran bagi tindakan-tindakan mereka yang penuh kekerasan. Ada juga peran orang di belakang layar yang sengaja memelintir berbagai ajaran agama untuk menciptakan ketakutan, dan memecah belah masyarakat.

Pandangan ini tentu semakin mendorong kita untuk melakukan kajian lebih dalam tentang bagaimana agama dan tafsirannya bisa berujung pada kekerasan. Lanjutkan membaca Politik, Agama dan Tafsirannya

Seminar Nasional: Multikulturalisme Indonesia dalam Timbangan Poskolonial dan Hegemoni Radikalisme Agama

Silahkan datang

Terima kasih

Paradoks Harapan

Mard Issa The Wasteland of Hope

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Manusia memang mahluk yang berharap. Hidupnya didorong oleh harapan. Orang bisa bangun tidur, dan kemudian siap beraktivitas, juga karena punya harapan akan hidup yang lebih baik. Ketika kesulitan menerpa, harapan pula yang mampu menyelamatkan manusia.

Namun, harapan juga memiliki paradoks. Ia tidak hanya daya dorong kehidupan, tetapi juga sumber kehancuran, terutama harapan yang tak terwujud. Ketika harapan besar terhempas oleh gejolak kehidupan, patah hati, kebencian dan konflik adalah buahnya. Ini terjadi di banyak tingkat, mulai dari tingkat pribadi sampai dengan hubungan antar bangsa. Lanjutkan membaca Paradoks Harapan

Tentang “Ketidaktahudirian”

Wolfgang Paalen, Fumage (Smoke Painting) (c. 1938), oil, candle burns and soot on canvas, 10-3/4″ x 16-3/8″; courtesy The Morgan Library & Museum

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Sudah berapa kali kita melihat, orang yang telah terbukti melakukan korupsi, bahkan membunuh, masih berani mengajukan diri menjadi pejabat publik, bahkan presiden? Di tempat lain, kita juga bisa melihat, bagaimana orang yang suka berbohong, bahkan melakukan pelecehan seksual, justru menjadi pemimpin dari negara terkuat di dunia sekarang ini.

Di dunia bisnis, kita juga bisa melihat hal yang serupa. Pebisnis, yang sudah terbukti melanggar prinsip-prinsip integritas dalam bisnis, masih percaya diri untuk terus menjabat sebagai pemimpin perusahaan, bahkan punya ambisi maju sebagai presiden. Suara dan dukungan dibeli dengan uang, walaupun dengan mengorbankan kehormatan diri dan prinsip-prinsip kehidupan yang luhur. Padahal, yang diwariskan dari sepak terjangnya hanya satu, yakni keteladanan tentang ketidaktahudirian.   Lanjutkan membaca Tentang “Ketidaktahudirian”

Sekali Lagi: Jangan Lupa

Dali 2

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Menjelang 2019, Indonesia bersiap melakukan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden secara nasional. Ada satu fakta menarik yang terus berulang. Partai-partai warisan Orde Baru, yakni partai-partai anak-anak dari Soeharto, kembali maju. Secara umum, mereka setidaknya membawa tiga program dasar, yakni stabilitas nasional yang dinamis, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan.

Kita harus kritis membaca ketiga program tersebut, terutama melihat sepak terjang Orde Baru selama 32 tahun di masa lalu. Pertama, konsep stabilitas nasional yang dinamis seringkali dipelintir menjadi pembungkaman suara-suara yang berbeda. Keberagaman pendapat ditindas demi kepatuhan pada penguasa pusat. Suasana memang stabil, namun ketakutan dan kebencian terpendam tersebar di berbagai tempat.   Lanjutkan membaca Sekali Lagi: Jangan Lupa