Trilogi Filsafat Jerman dan Demitologisasi Kehidupan

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Sudah sejak awal, filsafat berusaha memahami dunia dengan segala isinya. Salah satu jalannya adalah dengan membongkar beragam kesalahan berpikir yang bercokol di kepala manusia. Harapannya, dengan pemahaman yang tepat tentang dunia, kita lalu bisa menjalani hidup yang bermutu sebagai manusia. Kita tidak lagi tertipu oleh beragam pengetahuan palsu, maupun terjebak pada kesalahan yang berpikir yang tak perlu terjadi.

Di dalam filsafat Eropa, ada dua aliran besar yang amat berpengaruh. Mereka adalah filsafat Yunani kuno dan Idealisme Jerman. Walaupun relatif singkat, namun dunia modern tidak akan terbentuk seperti sekarang ini, tanpa pengaruh dari kedua aliran filsafat tersebut.

Filsafat Yunani kuno sibuk merumuskan pendekatan untuk mencapai hidup yang baik (good life). Untuk itu, dua hal kiranya penting, yakni pemahaman teoritik (Theoria) dan kemampuan menerapkan pemahaman tersebut dalam hidup sehari-hari (Praxis). Pemahaman teoritik mencakup metafisika, yakni pemahaman tentang prinsip-prinsip terdalam dari segala yang ada, sekaligus epistemologi, yakni pemahaman tentang unsur-unsur sekaligus batas-batas pengetahuan manusia. Sementara, filsafat terapan mencakup etika, yakni diskusi kritis tentang moralitas, atau pemahaman baik dan buruk yang ada di dalam masyarakat.

Sementara, Idealisme Jerman lebih berfokus pada upaya untuk memahami cara kerja realitas, sekaligus prinsip-prinsip terdalam dari realitas tersebut. Ia bisa dilihat sebagai salah satu bagian dari trilogi filsafat Jerman, yakni Idealisme Jerman, Marxisme dan Teori Kritis Frankfurt. Saya akan menguraikan beberapa pemahaman dasar dari trilogi filsafat Jerman ini. Saya akan melihat trilogi filsafat Jerman ini dalam kerangka pembongkaran kesalahan berpikir (demitologisasi), sesuai dengan tujuan filsafat sejak awal.

Idealisme Jerman

Idealisme Jerman dimulai dengan filsafat Immanuel Kant. Ia menyentuh tiga bidang kehidupan manusia, yakni pengetahuan, moralitas dan estetika atau penyelidikan tentang keindahan dan pertimbangan. Sumbangan terbesar Kant adalah teorinya tentang dasar universal bagi moralitas dan estetika. Kant juga menjadi peletak dasar epistemologi modern tentang batas-batas serta dasar dari pengetahuan manusia. (Die Bedingungen der Möglichkeit des Wissens)

Filsuf Idealisme Jerman kedua adalah Hegel. Di tangannya, kata idealisme sungguh mewujud menjadi nyata. Idealisme adalah paham yang berpendapat, bahwa keseluruhan kenyataan adalah ide semata. Di tangan Hegel, inti dan proses terjadinya kenyataan dijelaskan dengan menggunakan ide Roh Absolut (absoluter Geist) sebagai titik tolak.

Roh absolut tersebut mengasingkan dirinya ke dalam sejarah, serta membentuk peradaban manusia dan dunia sebagai keseluruhan. Metode Hegel yang terkenal adalah metode dialektika, yakni metode untuk menjelaskan perubahan kenyataan dalam pertentangan terus menerus, guna mencapai tingkat yang lebih tinggi. Hegel menggunakan konsep Roh Absolut dan metode dialektika untuk menjelaskan segala sesuatu yang ada, mulai dari seni, agama sampai dengan politik. Di tangan Hegel, Idealisme Jerman mencapai puncaknya.

Marxisme

Karl Marx adalah murid Hegel. Dapat juga dikatakan, bahwa Marxisme merupakan turunan langsung dari Idealisme Jerman. Marx mengambil konsep Hegel tentang dialektika dan keterasingan (Entfremdung) dari Roh Absolut. Ia menggunakannya untuk melakukan analisis sosial ekonomi pada jamannya. Yang mengalami dialektika dan keterasingan bukanlah roh absolut, melainkan manusia dan masyarakat.

Awalnya adalah masyarakat feodal, dimana kaum bangsawan berkuasa, dan rakyat biasa menjadi pekerja maupun budak. Keadaan pun berubah, karena kaum pekerja kini memiliki sumber daya yang cukup besar. Kaum bangsawan terpuruk, dan digantikan oleh kaum pemilik modal (kapitalis). Namun, kaum pemilik modal memiliki pekerja dalam jumlah besar, guna menggerakan bisnisnya.

Keadaan pun berubah, karena kontradiksi di dalam sistem kapitalis menghasilkan banyak masalah sosial politik. Kaum pekerja melakukan revolusi, dan menciptakan masyarakat tanpa kelas. Tidak ada kesenjangan ekonomi di dalam masyarakat ini. Bagi Marx, ini adalah bentuk masyarakat terbaik.

Masyarakat kapitalis menciptakan keterasingan. Kaum pekerja terasing satu sama lain, terasing dari karya mereka dan bahkan terasing dari diri mereka sendiri. Ini merupakan sumber masalah yang nantinya menumbangkan sistem kapitalisme. Dialektika Marx adalah dialektika mekanis, yakni perubahan sosial yang terjadi, karena masalah di dalam sistem kapitalisme itu sendiri.

Pandangan ini dikritik oleh Lenin dan Lukacs. Mereka adalah para pemikir Neo-Marxis. Mereka berpendapat, bahwa revolusi harus didorong oleh kesadaran revolusioner. Lenin menempuh jalan konflik bersenjata untuk membawa perubahan sosial di Rusia. Lukacs menegaskan pentingnya peran kaum intelektual di dalam menumbuhkan kesadaran revolusioner di dalam diri kaum pekerja.

Sekolah Frankfurt

Sekolah Frankfurt dimulai dengan tiga pemikir Jerman, yakni Adorno, Horkheimer dan Marcuse. Adorno dan Horkheimer menulis sebuah buku dengan judul Dialektik der Aufklärung. Isinya adalah analisis tentang kegagalan rasionalitas di dalam menciptakan masyarakat beradab. Sebaliknya, rasionalitas justru dipergunakan untuk menciptakan totalitarisme kejam yang baru, yakni lahirnya rezim NAZI di Jerman sebelum perang dunia kedua.

Rasionalitas telah disempitkan menjadi alat untuk kekuasaan dan penindasan. Inilah yang disebut sebagai instrumentelle Vernunft, atau rasionalitas instrumental. Ia menjadi budak justru dari kekuatan-kekuatan irasional manusia. Ia kehilangan daya kritisnya, dan justru menjadi sumber masalah baru di dalam masyarakat modern.

Jika rasionalitas sudah mengalami kebuntuan, lalu apa jalan keluar yang bisa diambil? Habermas, pemikir Sekolah Frankfurt generasi kedua, melihat sisi lain dari rasionalitas, yakni rasionalitas komunikatif (kommunikative Vernunft). Dengan ini, Habermas mengembangkan teori komunikasi untuk analisis sosial sekaligus merumuskan teori demokrasi. Komunikasi, baginya, merupakan jalan penyatu masyarakat majemuk, sekaligus pijakan untuk membuat kebijakan yang sah.

Sekolah Frankfut berlanjut di tangan Axel Honneth dengan teori politik pengakuannya. Baginya, sejarah perjuangan sosial adalah sejarah perjuangan untuk memperoleh pengakuan (Der Kampf um Anerkennung). Setiap orang dan kelompok berjuang untuk memperoleh pengakuan akan keberadaannya. Di dalam pengakuan terkandung pula penghormatan satu sama lain yang akan membawa pada perdamaian.

Sekolah Frankfurt mengembangkan analisisnya dengan masuk ke ranah toleransi dan justifikasi. Tokoh yang berpengaruh di bidang ini adalah Rainer Forst. Baginya, di dalam masyarakat demokratis, pendasaran, atau justifikasi, adalah syarat dari pembuatan kebijakan. Ia menyebutnya sebagai hak atas justifikasi (das Recht der Rechtfertigung). Pendasaran yang kokoh, yang berpijak pada kepentingan bersama serta rasionalitas, adalah dasar bagi persetujuan dan legitimasi sebuah kebijakan politik maupun hukum.

Membongkar Kesalahan Berpikir

Trilogi filsafat Jerman, yakni Idealisme Jerman, Marxisme dan Sekolah Frankfurt, tetap setia dengan tujuan awal filsafat, yakni membongkar kesalahan berpikir. Proses ini bisa juga disebut sebagai demitologisasi, yakni upaya untuk membongkar mitos-mitos yang tersebar di kehidupan manusia. Mitos adalah kesesatan berpikir yang menghasilkan kesalahan perilaku dan kesalahan pembuatan keputusan.

Idealisme Jerman membongkar mitos soal pengetahuan dan moralitas. Pengetahuan tidak berpijak pada dunia obyektif, melainkan pada unsur-unsur penting yang terletak di dalam diri manusia. Moralitas tidak lagi berpijak pada iman dan agama, melainkan pada rasionalitas yang bersifat universal. Hegel, misalnya, juga mengembangkan sebuah sistem filsafat yang menawarkan cara pandang baru terhadap keseluruhan realitas.

Marx juga melakukan proses demitologisasi besar dalam bidang politik dan ekonomi. Masyarakat kapitalis justru menciptakan ketidakadilan besar yang akan menghancurkan masyarakat. Analisis Marx tentang dialektika kelas dan konsep alienasi membongkar krisis yang tertanam dalam di kapitalisme klasik. Sampai sekarang, analisis Marx masih amat relevan untuk memahami krisis ekonomi politik global.

Sekolah Frankfurt membongkar kesalahan berpikir soal rasionalitas. Ada unsur lain dari rasionalitas yang bisa memperbaiki masyarakat, yakni unsur komunikatif. Sekolah Frankfurt tetap bergerak di ranah normatif untuk menawarkan jalan keluar dari berbagai krisis yang terjadi, mulai dari teori komunikasi, politik pengakuan dan hak atas justifikasi. Proses demitologisasi terus berlangsung, guna menunjukkan kesalahan berpikir yang berkembang di masyarakat, serta mengajukan jalan keluar yang mungkin dilakukan untuk menciptakan kebaikan bersama.

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

14 tanggapan untuk “Trilogi Filsafat Jerman dan Demitologisasi Kehidupan”

  1. Mantap sekali tulisannya mas Reza, yang dibahas kali ini adalah filsafat jerman.Bagaimana dengan filsafat Buddhisme dari India, filsafat Taoisme dari China, dan filsafat lokal dari Indonesia? Demitologisasi apa yang tersampaikan melalui ketiga filsafat tersebut? Saya sendiri sangat tertarik pada Filsafat Tao, semoga mas reza dapat membuat ulasan baru mengenai taoisme.

    Suka

  2. Kadang saya takjub jika membaca pemikiran rasional dari filsafat kontemporer dan kajian-kajian humaniora. Silakan aja sih siapa saja berhak berpendapat. Namun yang saya heran, apa ngga ada keinginan untuk mengintip tetangga sebelah. Misalnya temuan-temuan empirik d bidang biologi dan psikologiner, yg hasil-hasilnya tak terduga. Misalnya bahwa mitologi justru merupakan bagian tak terpisahkan dari evolusi; atau bahwa kode moral itu terbentuk bottom-up (entah itu lobster, tikus, simpanse ataupun manusia) dan bukan up-bottom (oleh suatu kekuasaan yang memaksa). Wajar sih, karena ada sekat-sekat ideologis yg membuat orang tidak secara mudah berpindah-pindah perspektif.

    Suka

  3. Terima kasih. Saya sendiri banyak belajar politik komparatif, neurosains dan kajian budaya. Moral memang selalu terbangun dari bawah. Namun, konsep mitos memiliki banyak arti. Apa arti mitos menurut anda?

    Suka

  4. Kadang, mitos lebih “berwibawa” dan menyelamatkan dibanding produk rasionalitas dan komunikatif (rembugan).

    Damai semua!

    Suka

  5. Oh iya bang, posisi goethe dimana dalam sejarah filsafat jerman? Bukankah ia banyak mempengaruhi hegel? Goethe sendiri lebih akrab ke kaum sufi arab & persia yg banyak memberinya “pencerahan”.

    Suka

  6. Artikel mas reza ini sangat bagus, trimakasih mas reza, dengan membaca artikel ini saya jadi tau trilogi jerman. Tapi ada sedikit yang saya kurang paham, kitika komunikasi mampu di jadikan sebuah jalan untuk menyakutakan masyarakat majemuk, lalu bagaimana sudut pandang kita bisa di terima di masyarakat jika sebuah realitas itu belum ada.?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.