Terbitan Terbaru: Bisakah Perang Dihindari?

Sejarah, Anatomi dan Kemungkinan Perang di Abad 21

Oleh Reza A.A Wattimena

DITERBITKAN DALAM

ARY SUTA CENTER SERIES FOR STRATEGIC MANAGEMENT

OKTOBER 2018 VOL 43

Abstrak

Tulisan ini hendak membahas seluk beluk filsafat perang, terutama dalam konteks abad 21, dimana dunia menjadi bersifat multipolar, dan mayoritas perang tidak lagi dilaksanakan di medan terbuka. Filsafat perang hendak membahas definisi, sebab serta hubungan antar manusia dengan perang. Metode yang digunakan adalah analisis teks-teks filsafat yang terkait dengan pemahaman tentang perang. Dalam arti ini, perang adalah hasil dari keputusan bebas manusia yang dipengaruhi beberapa faktor kunci, yakni unsur biologis, budaya dan alasan rasional. Dengan memahami ketiga unsur tersebut, dan mengelolanya melalui jalan-jalan damai, maka perang, dalam segala bentuknya, bisa dihindari. Dalam hal ini, teori perang yang adil bisa memberikan sumbangan yang amat besar.

Kata-kata kunci: Perang, Filsafat Perang, Teori Perang yang Adil, Dunia Multipolar. Lanjutkan membaca Terbitan Terbaru: Bisakah Perang Dihindari?

Dahaga akan Sensasi

Art People Gallery

Oleh Reza A.A Wattimena

Pada dasarnya, kita adalah mahluk yang merindukan sensasi. Ada semacam kehausan akan sensasi bercokol di kodrat kita sebagai manusia. Sayangnya, ia cenderung tak dikenali, dan diabaikan. Dampaknya pun beragam, mulai dari kenikmatan sesaat sampai dengan tindakan yang merusak.

Drama terkait Ratna Sarumpaet dan Tim Koalisi Prabowo-Sandi juga adalah ujung yang tampak dari dahaga akan sensasi. Orang mencari popularitas dengan menyebarkan kebohongan yang menggemparkan. Padahal, ada masalah lain yang jauh lebih menuntut perhatian, yakni bencana yang menimpa saudari-saudara kita di Lombok dan Sulawesi Tengah. Dahaga akan sensasi berujung tidak hanya pada pengalihan fokus masyarakat, tetapi juga ancaman kekalahan telak salah satu calon Presiden dan Wakil Presiden Indonesia. Lanjutkan membaca Dahaga akan Sensasi

Katrok

ThoughtCo

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita memang hidup di jaman katrok. Dalam arti ini, katrok menggambarkan sikap tidak mau belajar, sehingga ketinggalan jaman. Orang yang katrok akan terus ketinggalan kereta perubahan. Negara yang katrok juga akan terus ketinggalan kereta peradaban.

Bangsa Katrok

Dalam hal politik, sikap katrok dengan amat mudah ditemukan. Identitas primordial dimainkan untuk mendulang suara dan membohongi rakyat. Politik bukannya memberikan pendidikan, tetapi justru pembodohan. Politik katrok menjauh dari cita-cita masyarakat demokratis modern yang adil dan beradab, dan kembali menampilkan kebohongan, serta sikap-sikap primitif yang merusak. Lanjutkan membaca Katrok

Martabat di Pusaran Politik Predator

Essay And Cover Letter

Oleh Reza A.A Wattimena

Warga Negara Indonesia, Tinggal di Jakarta

Masa-masa Pemilihan Umum, termasuk Pemilihan Presiden, Legislatif atau Kepala Daerah, adalah masa-masa yang menarik. Di masyarakat demokratis modern, seperti Indonesia, ini adalah masa-masa yang amat menentukan bentuk dan masa depan bangsa. Tak berlebihan, jika masa-masa ini juga dikenal sebagai pesta demokrasi, dimana rakyat menggunakan kekuasaannya untuk memilih para pemimpin bangsa. Namun, sisi gelapnya juga terus merongrong, yakni kehadiran politik predator yang rakus kuasa dan siap memangsa.

Masa-masa ini juga adalah masa penuh tawa. Kita tertawa melihat kelakuan para calon pemimpin bangsa, ketika berkampanye. Kepalsuan dan kebohongan begitu kuat tercium di udara. Dalam banyak hal, perilaku mereka menghibur, namun dengan cara-cara yang bisa membuat sakit perut. Lanjutkan membaca Martabat di Pusaran Politik Predator

Agama, Kemiskinan dan Politik Kekuasaan

Evening Standard

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Seorang teman bertanya, mengapa orang Indonesia begitu fanatik dengan agamanya? Ia berasal dari negara yang tak peduli pada agama. Maka dari itu, ia heran, mengapa orang Indonesia sangat gandrung dengan agama. Saya terdiam di hadapan pertanyaan tersebut.

Saya mulai berpikir soal asal muasal agama. Mengapa agama ada? Mengapa ia bisa begitu tersebar di berbagai belahan dunia? Lanjutkan membaca Agama, Kemiskinan dan Politik Kekuasaan

Indonesia Darurat Filsafat

Oleh Reza A.A Wattimena

Dalam banyak hal, Indonesia memang sedang darurat akal sehat. Ini berarti, Indonesia sedang darurat filsafat, karena filsafat merupakan alat utama untuk mengembangkan akal sehat manusia. Filsafat pula yang melahirkan pemikiran-pemikiran besar yang mengubah dunia. Di peradaban Eropa, filsafat yang melahirkan ilmu pengetahuan modern dan teknologi, sebagaimana bisa dirasakan sekarang ini.

Filsafat, Agama dan Ilmu Pengetahuan

Di Indonesia, filsafat nyaris tak mendapat tempat. Kita lebih terpukau dengan agama dan ilmu pengetahuan modern. Ada dua masalah disini. Pertama, agama selalu berpijak pada kepercayaan mutlak terhadap tradisi, sehingga kerap kali menutup akal sehat dan pemikiran kritis. Ini merupakan salah satu sebab berkembangnya radikalisme agama di Indonesia sekarang ini. Lanjutkan membaca Indonesia Darurat Filsafat

Publikasi Terbaru: Pendidikan Gila Gelar?

Pendidikan Gila Gelar? Pemikiran Julian Nida-Rümelin tentang “Kegilaan Akademisasi” (Akademisierungswahn) di Uni Eropa dan Amerika Serikat serta Arti Pentingnya untuk Keadaan Indonesia

Oleh Reza A.A Wattimena

Diterbitkan di Wanua: Jurnal Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Hasanuddin  Volume 3 Issue 3, December 2017 

Tulisan ini ingin menjabarkan beberapa argumen penting dari Julian Nida-Rümelin terkait dengan kegilaan akademisasi yang terjadi di Amerika Serikat dan Uni Eropa, serta menunjukkan arti pentingnya bagi keadaan di Indonesia. Kegilaan akademisasi ini tampak jelas pada obsesi masyarakat luas dan pemerintah terhadap gelar akademik, serta melupakan unsur pendidikan lainnya, yakni pendidikan yang berfokus langsung pada keterampilan kerja. Ini terjadi, karena kesalahpahaman pemerintah dan masyarakat luas tentang arti pendidikan, serta kesalahpahaman tentang hubungan antara kebijakan politik pendidikan dengan keadaan ekonomi nyata di lapangan. Nida-Rümelin menawarkan analisis terhadap hal ini, sekaligus jalan keluar dari permasalahan pendidikan yang terjadi, yakni dalam bentuk pengakuan kesetaraan antara dual pendidikan keterampilan kerja di satu sisi, dan pendidikan akademik di sisi lain. Keduanya tetap didasarkan pada pandangan filosofis tentang pendidikan sebagai pengembangan kepribadian. Beberapa relevansi atas argumen ini terhadap keadaan Indonesia, beserta dengan tanggapan kritis atasnya, juga akan diberikan di dalam tulisan ini.

Silahkan download Gila Gelar, Pendidikan Nida Rümelin

 

Antara Petarung dan Penyatu

Drawdeck

Oleh Reza A.A Wattimena

Dunia terbelah oleh dua keutamaan sekarang ini. Di satu sisi, keutamaan petarung lahir dan berkembang. Di sisi lain, keutamaan penyatu juga tersebar di berbagai tempat. Di dalam kolomnya di New York Times, David Brooks menyebut kedua keutamaan ini sebagai keutamaan Athena (petarung) dan keutamaan Jerusalem (penyatu). (Brooks, 2018)

Keutamaan petarung adalah keutamaan kekuatan dan kekuasaan. Keberanian menjadi unsur utama di dalam keutamaan ini. Keberanian juga harus dibalut dengan kekuatan maupun kekuasaan yang besar. Tujuan utamanya adalah untuk mengalahkan musuh-musuh yang dianggap menganggu. Lanjutkan membaca Antara Petarung dan Penyatu

Fenomenologi Ketidaktahudirian

DeviantArt

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Mengapa ada orang yang tidak tahu diri? Pertanyaan ini menjadi penting di tengah pengajuan presiden dan calon presiden untuk Pilpres 2019 nanti. Fenomenologi mencoba mendekati keadaan sebagaimana adanya (zurück zu den Sachen selbst). Pendekatan ini kiranya penting untuk memahami sepak terjang politisi Indonesia sekarang ini.

Nuansa ketidaktahudirian tercium pekat di udara. Masa depan politik Indonesia pun dipertaruhkan.

Tidak Tahu Diri

Tidak tahu diri memiliki tujuh unsur. Pertama, ketidaktahudirian berakar pada ketidaktahuan (Unwissenheit). Orang yang tak sadar kemampuan, lalu berlagak untuk mengambil peran besar, akan menjadi orang yang tak tahu diri. Sayangnya, di Indonesia, banyak orang tak kenal dirinya sendiri, sehingga tak sadar pada kemampuannya. Mereka lalu berlagak di panggung politik untuk menjadi pemimpin yang penuh dengan omong kosong. Lanjutkan membaca Fenomenologi Ketidaktahudirian

Apakah Kita Memerlukan Negara?

The Flying Merchant by Christian Schloe

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Apakah kita masih memerlukan negara? Ketika negara harus berhutang ribuan trilyun rupiah, guna menggaji para pejabat negara ratusan juta rupiah setiap bulannya, apakah kita masih memerlukan negara? Ketika banyak kepala daerah dan pejabat negara melakukan korupsi terhadap uang rakyat, apakah kita masih memerlukan negara?

Ketika para penegak hukum tunduk pada suap dan hanya membela hak-hak orang kaya dan kelompok mayoritas, apakah kita masih memerlukan negara? Ketika pejabat negara bertindak layaknya raja kecil di jalan raya, dan menindas hak pengguna jalan lainnya, apakah kita masih memerlukan negara? Lanjutkan membaca Apakah Kita Memerlukan Negara?

Spiritualitas Politik, Spiritualitas Ekonomi

Connie Rose

Oleh Reza A.A Wattimena

Politik adalah kata yang luhur. Ia adalah soal mengelola hidup bersama dengan berpijak pada tata nilai kehidupan yang ada. Ia memperjuangkan keadilan untuk semua warga, dan bukan hanya segelintir kelompok. Namun, sekarang ini, politik sudah berubah arti menjadi pertarungan untuk memperoleh kekuasaan dengan cara-cara yang jahat, licik dan kejam.

Hal yang sama kiranya terjadi di bidang ekonomi, sehingga ia terpelintir ke dalam kesesatan berpikir yang merusak. Sejatinya, ekonomi adalah soal mengelola beragam sumber daya, guna menciptakan kemakmuran bersama. Kemiskinan dan ketimpangan sosial antara si kaya dan si miskin adalah dosa besar tata kelola ekonomi. Asas dasar ekonomi adalah solidaritas antar manusia yang membawa pada kesejahteraan bersama. Lanjutkan membaca Spiritualitas Politik, Spiritualitas Ekonomi

Hukum, Politik dan Pemerintahan Jokowi

catur-jokowi-mega-di-tempo-Foto-via-sociapolitica-Nusantaranews
Nusantara News

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

            Hukuman yang menimpa Ahok (dipenjara dua tahun karena penistaan agama) sungguh menganggu rasa keadilan kita. Tidak hanya Indonesia, berbagai bangsa dan komunitas internasional mengutuk keputusan pengadilan terhadapnya. Pemerintahan Jokowi bersikeras, bahwa hukum tidak boleh dicampur dengan politik. Terkesan ini alasan untuk tidak berbuat apa-apa, walaupun ketidakadilan telah terjadi.

            Hal ini membuat kita berpikir ulang soal hubungan antara hukum dan politik. Pemerintahan Jokowi berpegang pada pandangan, bahwa hukum adalah seperangkat prosedur yang bebas dari campur tangan politik. Bahkan, ketika keputusan hukum sungguh mencerminkan ketidakadilan, tidak ada yang boleh mencampuri urusan hukum. Pendek kata, hukum hanya soal para ahli hukum dan para penegak hukum semata. Lanjutkan membaca Hukum, Politik dan Pemerintahan Jokowi

Politik, Bisnis dan Spiritualitas

Mystic Sea – The Sea Empress, Daniel Arrhakis

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Ketiga kata ini, yakni politik, bisnis dan spiritualitas, hampir tak pernah dihubungkan. Ketiganya menempati dunia yang berbeda. Politik dan bisnis memang cukup sering disandingkan. Namun, kata spiritualitas amatlah asing bagi kedua dunia tersebut.

Politik dan Bisnis

Politik kerap dipahami sebagai perebutan kekuasaan. Politik disempitkan ke dalam pengertian yang dirumuskan oleh Thomas Hobbes di dalam bukunya Leviathan, yakni perang semua melawan semua (bellum omnia contra omnes). Di dalam politik, manusia adalah serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Kepentingan dan bahkan nyawa orang lain dikorbankan, demi mempertahankan dan memperbesar kekuasaan politik. Lanjutkan membaca Politik, Bisnis dan Spiritualitas

Peduli

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Rasa peduli rupanya menjadi barang langka di dunia sekarang ini. Orang hanya hidup untuk kepuasaan dirinya semata. Kepentingan orang lain dikorbankan, tanpa rasa salah. Alam pun rusak, karena manusia memeras alam, demi kepuasan dirinya semata.

Rasa Peduli

Padahal, seperti dikatakan oleh Martin Heidegger, filsuf Jerman, di dalam bukunya yang berjudul Sein und Zeit, rasa peduli (Sorge) adalah hubungan dasariah antara manusia dengan dunianya. Manusia hidup di dalam dunia yang tak ia pilih. Ia “terlempar”, begitu kata Heidegger. Mutu hidup manusia ditentukan dari sejauh mana ia mampu mengembangkan rasa peduli ini di dalam hubungannya dengan dunia. Lanjutkan membaca Peduli

Tolong, Bayinya Jangan Dibuang

Too Much Baby – Mark Bryan

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Alkisah, seorang ibu sedang memandikan bayinya di dalam sebuah bak mandi kecil. Tubuh dan rambut sudah dibersihkan dengan sabun dan shampoo terbaik.  Semua kotoran sudah lenyap dari tubuh, walaupun masih menggenang di air cucian bayi.

Setelah selesai, air kotorannya pun dibuang. Lalu, apakah bayinya juga dibuang? Tentu saja tidak. Hanya orang sakit yang membuang bayi bersama dengan air cuciannya, setelah ia selesai mandi. Lanjutkan membaca Tolong, Bayinya Jangan Dibuang

Kecerdasan Politik

Salvador Dalí and the Evolution of Surrealism

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Di dalam bukunya yang berjudul Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences, Howard Gardner mengubah semua pemahaman kita tentang kecerdasan manusia. Baginya, kecerdasan itu memiliki banyak bentuk, mulai dari kecerdasan musikal, logis-matematis, gerak tubuh sampai dengan kecerdasan empatis dalam hubungan antar manusia.

Sebelumnya, kita cenderung melihat kecerdasan melulu sebagai kecerdasan logis-matematis. Pandangan ini mulai terpatahkan sekarang, walaupun masih dianut sebagian besar orang di Indonesia.

Di tahun 2018 dan 2019 ini, Indonesia memasuki tahun-tahun penting yang menentukan masa depan bangsa. Kita menyebutnya sebagai tahun politik.

Di luar berbagai bentuk kecerdasan yang telah dikenali, ada baiknya kita merumuskan bentuk kecerdasan baru yang merupakan gabungan dari beragam kecerdasan lainnya, yakni kecerdasan politik (political intelligence). Jenis kecerdasan ini penting untuk para politisi, supaya mereka bisa menjadi politisi yang baik, sekaligus untuk rakyat pada umumnya, supaya mereka bisa mengenali politisi busuk, dan tidak memilihnya. Lanjutkan membaca Kecerdasan Politik

Politik, Agama dan Tafsirannya

Troglodyte – Painting, 50×35 m ©2017 by önder caymaz

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Kehadiran kelompok-kelompok radikal yang menggunakan bendera agama membuat kita mempertanyakan ulang hubungan antara politik dan agama. Kelompok-kelompok itu tersebar di seluruh dunia, mulai dari Taliban, Boko Haram, Biksu Radikal di Myanmar, Muslim Cyber Army, Ku Klux Klan, ISIS sampai dengan Al-Qaeda.

Beberapa pihak berpendapat, bahwa mereka hanya menggunakan agama sebagai pembenaran bagi tindakan-tindakan mereka yang penuh kekerasan. Ada juga peran orang di belakang layar yang sengaja memelintir berbagai ajaran agama untuk menciptakan ketakutan, dan memecah belah masyarakat.

Pandangan ini tentu semakin mendorong kita untuk melakukan kajian lebih dalam tentang bagaimana agama dan tafsirannya bisa berujung pada kekerasan. Lanjutkan membaca Politik, Agama dan Tafsirannya

Tentang “Ketidaktahudirian”

Wolfgang Paalen, Fumage (Smoke Painting) (c. 1938), oil, candle burns and soot on canvas, 10-3/4″ x 16-3/8″; courtesy The Morgan Library & Museum

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Sudah berapa kali kita melihat, orang yang telah terbukti melakukan korupsi, bahkan membunuh, masih berani mengajukan diri menjadi pejabat publik, bahkan presiden? Di tempat lain, kita juga bisa melihat, bagaimana orang yang suka berbohong, bahkan melakukan pelecehan seksual, justru menjadi pemimpin dari negara terkuat di dunia sekarang ini.

Di dunia bisnis, kita juga bisa melihat hal yang serupa. Pebisnis, yang sudah terbukti melanggar prinsip-prinsip integritas dalam bisnis, masih percaya diri untuk terus menjabat sebagai pemimpin perusahaan, bahkan punya ambisi maju sebagai presiden. Suara dan dukungan dibeli dengan uang, walaupun dengan mengorbankan kehormatan diri dan prinsip-prinsip kehidupan yang luhur. Padahal, yang diwariskan dari sepak terjangnya hanya satu, yakni keteladanan tentang ketidaktahudirian.   Lanjutkan membaca Tentang “Ketidaktahudirian”

Sekali Lagi: Jangan Lupa

Dali 2

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Menjelang 2019, Indonesia bersiap melakukan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden secara nasional. Ada satu fakta menarik yang terus berulang. Partai-partai warisan Orde Baru, yakni partai-partai anak-anak dari Soeharto, kembali maju. Secara umum, mereka setidaknya membawa tiga program dasar, yakni stabilitas nasional yang dinamis, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan.

Kita harus kritis membaca ketiga program tersebut, terutama melihat sepak terjang Orde Baru selama 32 tahun di masa lalu. Pertama, konsep stabilitas nasional yang dinamis seringkali dipelintir menjadi pembungkaman suara-suara yang berbeda. Keberagaman pendapat ditindas demi kepatuhan pada penguasa pusat. Suasana memang stabil, namun ketakutan dan kebencian terpendam tersebar di berbagai tempat.   Lanjutkan membaca Sekali Lagi: Jangan Lupa

Gosip Politik, Politik Gosip

Saatchi Art

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Ditemani kopi dan asap rokok, orang seringkali menikmati diskusi politik. Namun, yang seringkali terjadi bukanlah diskusi politik, melainkan membicarakan gosip politik. Diskusi berpijak pada nalar sehat, teori dan data yang terpercaya. Sementara, gosip tak terarah, dan lebih suka mencari sensasi, daripada pengetahuan.

Seperti kita semua tahu, di 2018 dan 2019 ini, Indonesia memasuki tahun politik. Beberapa daerah secara langsung melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah. Tahun 2019 nanti, Pemilihan Anggota Legislatif (DPR) dan Pemilihan Presiden baru akan dilangsungkan. Di dalam keadaan ini, gosip politik menyebar begitu cepat dan begitu dasyat. Lanjutkan membaca Gosip Politik, Politik Gosip