Apakah Kita Memerlukan Negara?

The Flying Merchant by Christian Schloe

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Apakah kita masih memerlukan negara? Ketika negara harus berhutang ribuan trilyun rupiah, guna menggaji para pejabat negara ratusan juta rupiah setiap bulannya, apakah kita masih memerlukan negara? Ketika banyak kepala daerah dan pejabat negara melakukan korupsi terhadap uang rakyat, apakah kita masih memerlukan negara?

Ketika para penegak hukum tunduk pada suap dan hanya membela hak-hak orang kaya dan kelompok mayoritas, apakah kita masih memerlukan negara? Ketika pejabat negara bertindak layaknya raja kecil di jalan raya, dan menindas hak pengguna jalan lainnya, apakah kita masih memerlukan negara? Lanjutkan membaca Apakah Kita Memerlukan Negara?

Jean-Jacques Rousseau

stephenhicks.org

Oleh Reza A.A Wattimena,

Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala, Surabaya

Rousseau lahir dia Geneva pada 28 Juni 1712.[1] Ia adalah anak kedua dari Isaac Rousseau. Ibu Rousseau adalah seorang perempuan kaya bernama Suzanne. Pada 4 Juli 1712, Rousseau dibabtis sebagai seorang pengikut Kalvinisme. Namun, sayangnya, dua hari kemudian, ibunya meninggal. Pada waktu itu, ibunya masih berumur 40 tahun. Menurut Dent, salah satu komentator Rousseau, peristiwa ini amat mempengaruhi hidup Rousseau. Gaya reflektif dan pemahamannya soal hubungan antar manusia amat diwarnai oleh peristiwa ini.[2] Ayah Rousseau adalah seorang tokoh ternama di Geneva. Sebagaimana dicatat oleh Dent, pada masa itu, Geneva memiliki tiga jenis penduduk. Ayah Rousseau adalah warga kota penuh. Maka, ia memiliki hak untuk aktif di dalam politik. Penting juga untuk dicatat, bahwa jumlah warga negara penuh di Geneva pada masa itu kurang dari sepuluh persen dari jumlah total penduduk.

Sebagai seorang filsuf, Rousseau bertumbuh dalam suasana akademik yang baik. Ayahnya adalah orang yang berpendidikan tinggi. Di satu sisi, ia adalah seorang pembuat jam. Di sisi lain, ia adalah orang yang memiliki minat membaca amat tinggi. Dari ayahnyalah, Rousseau tertarik membaca tulisan-tulisan klasik, seperti karya Plutarch, seorang sejarahwan Yunani ternama. Bahkan, di dalam buku autobiografinya yang berjudul The Confessions, Rousseau menyatakan, bahwa karena membaca Plutarch, ia sering melihat dirinya sendiri sebagai orang Yunani, atau orang Romawi. Namun, dalam perjalanan waktu, kekayaan ayahnya mulai berkurang. Mereka pun terpaksa pindah pada 1722. Rousseau kemudian tinggal bersama pama dan sepupunya yang bernama Abraham. Seperti ditulis di The Confession, sebagaimana dicatat oleh Dent, Rousseau mengingat masa-masa itu dengan penuh kebahagiaan, sekaligus kepahitan.[3] Namun, dalam perjalanan waktu, ia akhirnya berpisah jalan dengan Abraham, sepupunya. Lanjutkan membaca Jean-Jacques Rousseau