Dahaga akan Sensasi

Art People Gallery

Oleh Reza A.A Wattimena

Pada dasarnya, kita adalah mahluk yang merindukan sensasi. Ada semacam kehausan akan sensasi bercokol di kodrat kita sebagai manusia. Sayangnya, ia cenderung tak dikenali, dan diabaikan. Dampaknya pun beragam, mulai dari kenikmatan sesaat sampai dengan tindakan yang merusak.

Drama terkait Ratna Sarumpaet dan Tim Koalisi Prabowo-Sandi juga adalah ujung yang tampak dari dahaga akan sensasi. Orang mencari popularitas dengan menyebarkan kebohongan yang menggemparkan. Padahal, ada masalah lain yang jauh lebih menuntut perhatian, yakni bencana yang menimpa saudari-saudara kita di Lombok dan Sulawesi Tengah. Dahaga akan sensasi berujung tidak hanya pada pengalihan fokus masyarakat, tetapi juga ancaman kekalahan telak salah satu calon Presiden dan Wakil Presiden Indonesia.

Sensasi

Apa itu sensasi? Ia adalah kenikmatan sesaat. Ia muncul, menghibur dan pergi dalam sekejap mata. Ia dicari dan dirindukan, namun sayang justru kerap berakhir dengan kehampaan.

Orang mencari sensasi, juga karena ia takut akan rasa bosan. Bosan membuat hidup terasa hampa dan sepi. Ini bahkan lebih menyakitkan, daripada rasa sakit dan penderitaan itu sendiri. Tak heran, orang bersedia melakukan hal-hal berbahaya, guna menghindari rasa bosan.

Dahaga yang sama yang membuat orang kalap berbelanja. Orang membeli dan menumpuk hal-hal yang ia tak perlukan, dengan uang yang tak ia punya, karena hatinya hampa. Industri kapitalis global mengenali hal ini. Jasa kartu kredit persis untuk mengisi kebutuhan yang tak masuk akal ini.

Dahaga akan sensasi juga mendorong orang memakai narkoba dalam segala bentuknya. Orang merasa, hidup ini begitu dangkal dan tak bermakna. Akibatnya, untuk menciptakan pengalihan dari perasaan semacam itu, narkoba pun terlihat sebagai jalan keluar. Dahaga akan sensasi pun berubah wujud menjadi dahaga akan zat adiktif.

Pada dasarnya, korupsi juga merupakan perwujudan dari dahaga akan sensasi. Orang merasa tak puas dengan apa yang ada, lalu mencuri, guna memperoleh lebih. Segala cara ditempuh, termasuk mencuri, memfitnah dan bahkan membunuh. Dahaga akan sensasi pun berubah menjadi kekejaman tanpa ampun.

Sampai batas tertentu, pertengkaran antar manusia juga terjadi, karena dahaga akan sensasi. Dua orang jenuh dengan keseharian. Pertengkaran pun menjadi semacam tarian yang, sekalipun terlihat brutal, menyembunyikan cinta yang dalam. Dalam hal ini, pertengkaran adalah wujud dari dahaga akan sensasi.

Mengenali Sensasi

Dahaga akan sensasi pula yang mendorong terjadinya perang dan krisis di berbagai belahan dunia. Seperti kata Herakleitos, seorang pemikir Yunani, perang membuat manusia waspada dan kuat. Perang juga menjadi warna dari keseharian yang seringkali terasa begitu hampa. Dahaga akan sensasi, sayangnya, bisa menjelma menjadi dahaga untuk saling memusnahkan.

Tersembunyi di dalamnya adalah dahaga akan masalah. Hidup tanpa masalah, seperti kata Jean-Paul Sartre, seorang pemikir Prancis, bagaikan minum anggur tanpa rasa. Masalah membuat hidup menjadi berarti dan warna warni. Tentu saja, dahaga akan sensasi, bergandengan dengan dahaga akan masalah, akan berbuah kerusakan-kerusakan yang tak perlu.

Kerinduan akan hoaks (apusan) juga berada di jalur yang sama. Orang tahu, bahwa ia mendengar hoaks. Namun, ia tetap memakannya, bahkan menyebarkannya. Dahaga akan sensasi, dibalut pada kerinduan untuk dibohongi, membuat orang yang cerdas pun memakan hoaks, tanpa rasa ragu.

Sensasi tak perlu diikuti. Ia juga tak perlu ditekan. Sensasi hanya perlu dikenali dan disadari. Dengan begitu, kita tak lagi diperbudak olehnya.

 

 

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018) dan berbagai karya lainnya.

12 tanggapan untuk “Dahaga akan Sensasi”

  1. lieber reza, ich bin ganz deiner meinung, mir fehlen einfach die worte zum ausdruck und gleichzeitigt bin ich tiefst erschüttert und sehr bewegt. die realität im leben ist nackt und sehr hart.
    jedoch bin ich sehr dankbar, deine denkweise zu verstehen und gleichzeitig trotz allem die welt umarmen zu können.
    wir wissen ganz genau, wir sind mitten im leben und wir sind nicht alleine. wir sind mit der umwelt ganz eng verbunden. und das fühlen zu können, ist schon eine art von kostbarkeit, die man nicht erkaufen kann. möge mit unserem mitgefühl und engagement, dass alle wesen glücklich sein können.
    alles andere ist nur leere worte !!
    herzliche grüsse aus der ferne !!
    banya salam !!

    Suka

  2. ich möchte nachträglich noch dazu schreiben.
    zu allem überdruss kommt schleichend “eine bewegung”, eine lebensart alles auf minimum zu reduzieren. vielleicht verstehen wir als “loslassen”.
    wie wir wissen, wir leben in einer wegwerfsgesellschaft , wo armut direkt neben uns ist. kommt noch hinzu der begriff “die verrohung der gesellschaft”.
    diese ganzen umstände bringen unser leben in durcheinander, bis wir nicht mehr in und aus wissen.
    und trotz allem haben wir noch hoffnung etwas zu ändern und korrigieren in unserem leben.
    banya salam !!

    Suka

  3. Apa boleh saya dapatkan nomor WA dan email. Saya butuh banyak catatan kritis dari Kaka sebagai peneliti, ilmuwan untuk setiap tulisan saya yang saya posting di Media Online. Terima kasih

    Suka

  4. Ein minimales Leben zu führen ist natürlich der beste Weg. Es schafft Gelassenheit und Klarheit, die sehr wichtig für das Leben sind. Es gibt immer Hoffnung und anderen Weg zu nehmen, solange wir unser leben verbessern möchten.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.