Tentang Kelekatan

Haruskah Tunduk pada Tekanan Sosial?

3155607-HSC00002-7Oleh Reza A.A Wattimena

Berkendara di Jakarta memang serba salah. Ketika lampu lalu lintas berwarna merah, saya berhenti. Namun, banyak kendaraan di belakang saya terus membunyikan klakson, supaya saya berjalan. Jalanan memang lagi sepi.

Saya tetap berhenti, karena saya tidak mau ambil resiko melanggar lampu lalu lintas. Saya juga tak mau membahayakan diri saya dan orang lain. Namun, tekanan sosial lewat klakson dari belakang terus berbunyi, supaya saya melaju, dan melanggar lampu merah yang sedang menyala. Pernahkah anda mengalami hal serupa? Lanjutkan membaca Haruskah Tunduk pada Tekanan Sosial?

Jangan Takut Pada Awan

this is photo compilation
this is photo compilation

Oleh Reza A.A Wattimena

31 Desember 2022, jam 12 malam. Suara petasan melingkupi ruang dan waktu. Saya sedang berada di Ameth, Nusalaut. Pulau kecil di Ambon, sekitar 2,5 jam dengan Speedboat dari Kota Ambon, atau 6 jam dengan menggunakan kapal Feri.

Dada terasa sesak. Ada emosi kuat muncul di dada. Saya tak menamainya. Saya hanya menyadari dan mengamati emosi kuat tersebut. Lanjutkan membaca Jangan Takut Pada Awan

Filosofi Sederhana Tahun 2023

surreal-hope-peace-love-nature-young-girl-pets-whale-scene-humpback-animal-floats-air-deep-dark-woods-108198271Oleh Dhimas Anugrah, Ketua Circles Indonesia (Komunitas Pembelajar Budaya, Filsafat, dan Sains)

Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno penah mengatakan, bangsa Indonesia setiap hari digembleng oleh keadaan. “Digembleng, hampir hancur lebur, bangun kembali. Digembleng, hampir hancur lebur, bangun kembali,” ujarnya dengan lantang. Seperti pidato di atas, di tahun 2022 ini kita mungkin juga sudah babak belur dihantam krisis. Anda dan saya bisa saja hampir hancur lebur. Tapi, kini saatnya kita bangkit.

Tidak sedikit sahabat saya berkeluh kesah karena merasa penat menjalani 2022 yang berselimut tantangan. Dalam beberapa momen di tahun ini, kita seperti digembleng dalam cobaan yang tidak dapat dipastikan kapan berakhir. Namun, mengacu pada pidato Bung Karno tadi, kita disadarkan untuk menjadi individu yang tidak boleh kalah oleh keadaan di luar kendali kita. Situasi yang sulit itu justru menjadi kesempatan bagi Anda untuk bangkit. Sebab menurut Sang Penyambung Lidah Rakyat, hanya dengan jalan demikianlah kita bisa menjadi manusia yang benar-benar “berotot kawat balung wesi” (tulang besi). Lanjutkan membaca Filosofi Sederhana Tahun 2023

Filsafat dan Dunia Digital

Cara Tercepat (dan Termudah?) Memajukan Indonesia

1000_F_89002249_Z645Kky0Z3JhhTbwMEqdSOfvY3Gc0HPQOleh Reza A.A Wattimena

Saya tertarik menanggapi tulisan seorang teman: ini linknya. Di Rumah Filsafat, ia menulis soal cara tercepat dan termudah untuk menghancurkan negara. Bentuk dan sebarkan kehadiran lembaga-lembaga intoleran yang ekstrem dan siap melakukan kekerasan. Negara tersebut akan hancur dari dalam.

Saya ingin membalik pertanyaannya, bagaimana cara tercepat (dan mungkin termudah?) untuk membangun negara, terutama Indonesia? Ada enam jalan yang bisa ditempuh. Saya sebut termudah, karena jika ini tidak dilakukan, Indonesia bisa pecah. Perang saudara akan menghapus Indonesia dari peta dunia. Lanjutkan membaca Cara Tercepat (dan Termudah?) Memajukan Indonesia

Keterlibatan sebagai Jalan Pembebasan

Adnams, Marion Elizabeth, 1898-1995; L'infante egaree
Adnams, Marion Elizabeth; L’infante egaree; Manchester Art Gallery; 

Oleh Reza A.A Wattimena

Seperti biasa, saya menyapu di pagi hari. Saya bangga, bahwa saya membersihkan rumah saya sendiri. Setiap hari, saya melakukannya. Kecuali, banyak pekerjaan yang harus dilakukan, dan saya harus beristirahat.

Tanpa sadar, pikiran saya melantur. Saya ingat beberapa peristiwa di masa lalu. Padahal, tangan saya sedang menyapu. Saya sadar, pikiran saya bergerak menjauh dari apa yang sedang saya kerjakan. Ini terjadi lumayan sering. Lanjutkan membaca Keterlibatan sebagai Jalan Pembebasan

Tentang Pesona dari Kedunguan

52222641b9983210bda305c130bb8093

Oleh Reza A.A Wattimena

Siang itu, saya berjalan di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Ada antrian panjang di sebuah restoran. Saya pun penasaran, dan mulai mencari info. Ternyata, itu adalah toko roti yang berasal dari negara lain, dan baru saja membuka toko di pusat perbelanjaan yang saya kunjungi.

Apakah roti tersebut sungguh enak, sehingga layak ditunggu dalam antrian yang lama, panjang dan menyiksa? Bagaimana dengan protokol kesehatan? Apakah itu masih berlaku? Setelah beberapa bulan, dan antrian sudah berhenti, saya mencoba roti tersebut. Lanjutkan membaca Tentang Pesona dari Kedunguan

Tentang Filsafat Perselingkuhan

Manusia Tiga Rangkap

eb760c93317108af36b4476bdbc36dbcOleh Dhimas Anugrah

Masalah utama jiwa manusia menurut Soren Aabye Kierkegaard adalah kebosanan, kecemasan, dan keputusasaan ( boredom, anxiety, and despair). Filsuf Denmark itu menghabiskan sebagian besar tulisannya untuk mendiagnosis ketiga penyakit ini. Anda pernah bosan? Saya pernah.

Ya, memang orang bisa bosan ketika tidak distimulus hal-hal yang menarik perhatiannya. Lanjutkan membaca Manusia Tiga Rangkap

Tolong, Ini Bukan Saya yang Asli…

shane-wheatcroft-2Oleh Reza A.A Wattimena

“Akhirnya, terlihatnya sifatnya yang asli,” begitu kata seorang teman. “Dia marah, dan membanting barang, lalu memaki-maki saya! Dia tidak bisa lagi berpura-pura. Terlihat sudah karakternya yang asli.” Teman saya bercerita, bagaimana ia bertengkar hebat dengan mantan istrinya.

Saya mengerti, ia berada dalam keadaan marah. Emosinya mengaburkan kejernihan batin dan pikirannya. Saya hanya mendengar, sampai ia berhenti bercerita. Lalu, saya bertanya, “Kamu yakin, itu karakternya yang asli?” Lanjutkan membaca Tolong, Ini Bukan Saya yang Asli…

MENGENANG CHIUNE SUGIHARA 杉原 千畝

ChiuneSugiharaProfileBW (1)Oleh Dhimas Anugrah

Pada Perang Dunia II, ribuan orang Yahudi dari Lithuania dan Polandia berlomba keluar dari Eropa Timur.

Waktu itu perang sedang memanas. Adolf Hitler makin menggila. Tanpa visa, perjalanan ke luar negeri bisa sangat berbahaya.

Apa lagi, pada Juni 1940 Italia ikut terlibat dalam perang dan rute laut Mediterania ditutup.

Para pengungsi terpaksa mencari jalan keluar baru untuk mencari selamat: melintasi Eropa Timur dan Asia (melalui kereta api trans-Siberia) ke Vladivostok, kemudian ke Jepang. Lanjutkan membaca MENGENANG CHIUNE SUGIHARA 杉原 千畝

Trias Sapientia untuk Indonesia

vector-hand-drawn-surreal-illustration-portrait-modern-abstract-style-symbol-philosophy-astrology-magic-boho-esoteric-su-vector-139365496Oleh Reza A.A Wattimena

Beberapa waktu lalu, saya diminta memberikan materi di sebuah diskusi daring. Temanya langsung menyentuh tiga bidang kegemaran saya, yakni filsafat, sains dan agama. Apa yang bisa dibicarakan dengan tiga bidang besar itu? Diskusi daring mengalir, dan saya keluar dengan konsep ini: trias sapientia, atau tiga kebijaksanaan.

Ketiga bidang itu memiliki hubungan yang rumit. Terkadang, ada kebencian di antara mereka. Konflik, diskriminasi, intoleransi dan bahkan perang tak dapat dihindarkan. Namun tak jarang juga, ada hubungan cinta yang saling menguatkan dan membangun di antara ketiganya. Lanjutkan membaca Trias Sapientia untuk Indonesia

Relung-relung Batin Kupu-kupu Malam

Revolusi Spiritual

7028873-HSC00001-7Oleh Dhimas Anugrah, Pendiri dan Ketua Lingkar Filsafat (Circles) Indonesia, komunitas pembelajar budaya, filsafat, dan sains.

“Mental manusia Indonesia itu tidak suka berpikir logis, tidak suka berusaha dengan gigih dan tekun, suka meremehkan mutu, suka menerabas, tidak percaya diri, tidak disiplin, dan suka mengabaikan tanggungjawab,” ujar Prof. Koentjaraningrat.

Anda marah atas simpulan itu?

Tunggu dulu. Coba tilik amatan Mochtar Lubis yang tiba pada konklusi bahwa “Manusia Indonesia pada umumnya bermental munafik, enggan bertanggung-jawab, berjiwa feodal, percaya takhyul, berwatak lemah, boros, bukan pekerja keras, suka mengeluh, mudah dengki, arogan, dan tukang tiru. Lanjutkan membaca Revolusi Spiritual

Beragama dengan Akal Sehat

Gempa Zen

surrealist-art-tile-800x533Oleh Reza A.A Wattimena

21 November 2022, gempa terjadi di Cianjur, Jawa Barat. Ratusan orang menjadi korban. Belum hitungan harta benda dan infrastruktur yang hancur berantakan. Kesedihan yang ditinggalkan pun tak terperikan.

Ketika mendengar berita tentangnya secara detil, saya sedang di dokter gigi. Reaksi kaget saya juga mengejutkan sang dokter gigi. Tapi mengapa saya kaget? Bukankah kerapuhan hidup manusia sudah saya ketahui sejak dulu? Lanjutkan membaca Gempa Zen

Berpikir Radikal untuk Melawan Radikalisme Berpikir

malangatana.untitled.tate_-825x510Oleh Reza A.A Wattimena

Sudah lama kami tak berjumpa. Setiap perjumpaan selalu mencerahkan. Ada ide baru yang keluar. Ada kesegaran batin dan intelektual yang ditawarkan.

Pak F. Budi Hardiman, guru saya di bidang filsafat, kini mengajar sebagai guru besar di Universitas Pelita Harapan. Setelah berbicara tentang berbagai hal, kami menyentuh soal radikalisme. Satu argumen yang tajam lahir dari pembicaraan kami. Berpikir radikal, terutama melalui filsafat murni, bisa meluluhkan kencenderungan radikalisme berpikir, yakni berpikir dengan kekerasan ide, kekerasan fisik serta pemaksaan. Lanjutkan membaca Berpikir Radikal untuk Melawan Radikalisme Berpikir

“Religiosus Corruptus”

5a53444157cb01d54c8e75b677ebaee9Oleh Reza A.A Wattimena

Jam 7 pagi, Jakarta Timur, saya pergi mencari sarapan. Terdengar suara keras sekali di rumah ibadah terdekat. Ada orang bernyanyi-nyanyi dengan keras dalam bahasa asing. Suaranya sumbang, dan sangat menganggu lingkungan sekitar.

Kejadian ini sudah berulang. Warga sudah mengeluh, dan melapor ke pemerintah. Namun, laporan diabaikan. Pelanggaran peraturan dan gangguan ketenangan masyarakat tetap terjadi. Lanjutkan membaca “Religiosus Corruptus”

Jalan Zen untuk Dilema Landak

6ad37cfd51b06361c62563b78852d768Oleh Reza A.A Wattimena

Kisah ini ditulis oleh Arthur Schopenhauer. Ia adalah seorang pemikir Jerman di abad 18. Baginya, dunia ini bukanlah tempat yang masuk akal. Ia menolak pandangan para pemikir besar, seperti Plato dan Aristoteles, yang melihat dunia sebagai tempat yang rasional.

Bagi Schopenhauer, dunia berisi konflik yang tiada akhir. Tidak ada makna kehidupan di dalam dunia. Maka dari itu, kita mesti membatasi keinginan dan keterlibatan kita di dalam dunia. Dengan mengembangkan kesadaran moral dan estetik di dalam diri, manusia bisa mencapai kesadaran yang tenang, dan melampaui rasa kecewa dunia. Lanjutkan membaca Jalan Zen untuk Dilema Landak