Bangsa kita merindukan integritas, baik integritas batin pribadi, maupun integritas organisasi-organisasi yang menopang kehidupan publik. Dalam arti ini integritas dapat dipahami sebagai kesatuan antara kata dan tindakan, serta kekokohan prinsip di tengah pelbagai situasi yang terus berubah, dan menggoda untuk melepaskan prinsip. Bagaimana dengan anda sendiri? Apakah anda sudah mampu membangun dan merawat integritas dalam diri anda?
Pada hemat saya, ada 6 langkah yang bisa diambil, jika kita sungguh ingin membangun dan merawat integritas di sekitar kita. 6 langkah ini saya dapatkan dari refleksi pribadi saya, sekaligus dari presentasi publik yang dilakukan oleh B.S Mardiatmaja pada bulan Januari 2012 di UNIKA Widya Mandala Surabaya. Tertarik? Saya akan jelaskan lebih jauh. Lanjutkan membaca Membangun dan Merawat Integritas
Membedah Hasrat Kuasa, Pemburuan Kenikmatan, dan Sisi Hewani Manusia di balik Korupsi
(Terbit akhir tahun ini)
Oleh Reza A.A Wattimena
Buku ini ingin mengupas akar-akar korupsi dari sudut pandang filsafat dengan tujuan untuk mencegah dan melenyapkannya. Akar dari korupsi ada bermacam-macam. Wacana tentang korupsi pun bertebaran di berbagai bidang keilmuan, mulai dari filsafat, teologi, hukum, sampai dengan ekonomi.[1] Pada ranah moral korupsi dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang merusak moral, atau yang mencerminkan kerusakan moral. Tindakan korup adalah tindakan yang menjauh dari yang baik, dari yang ideal. Di dalam wacana ekonomi dan hukum, korupsi adalah pembayaran atau pengeluaran yang mengangkangi aturan hukum yang berlaku. Ada beragam sebutan untuk tindakan ini, mulai dari menyuap, main belakang, sampai sebutan unik di daerah Timur Tengah, yakni bakseesh. Secara etimologis kata korupsi berasal dari kata Latin, yakni corruptus. Artinya adalah tindakan yang merusak, atau menghancurkan. Ketika digunakan sebagai kata benda, korupsi berarti sesuatu yang sudah hancur, sudah patah.
Bentuk korupsi pertama adalah korupsi politik. Artinya adalah penyalahgunaan kekuasaan publik (politik) untuk memperoleh keuntungan pribadi. Misalnya anda dipercaya mengelola anggaran DPR, namun anda menggunakan sebagian anggaran itu untuk memperkaya diri anda sendiri, atau untuk kepentingan pribadi lainnya. Penggunaan kekuasaan sebagai pejabat negara yang tidak sesuai dengan aturan hukum yang berlaku juga dapat disebut sebagai korupsi. Pada level yang paling parah, korupsi sudah menjadi penyakit sistemik, sehingga sudah dianggap biasa, dan orang sudah tak lagi punya harapan untuk memberantasnya. Biasanya korupsi amat luas tersebar dan tertanam amat dalam di sistem politik dan ekonomi negara-negara berkembang. Ini terjadi karena sistem pembagian kekuasaan antara eksekutif (pelaksana kebijakan), legislatif (pembuat kebijakan), dan yudikatif (pemantau kebijakan) tidak berjalan dengan lancar. Akhirnya sistem hukum tak memiliki kekuatan dan kemandirian yang cukup untuk menjamin bersihnya pemerintahan dari korupsi. Lanjutkan membaca Manusia-manusia Korup
Apa yang anda perhatikan, ketika anda bernegosiasi? Ketika bernegosiasi mayoritas orang hanya memikirkan kepentingannya sendiri, atau kepentingan kelompok yang ia wakili. Ketika diminta memberikan suara pada pertemuan Uni Eropa di Brussels, Belgia, lalu, David Cameron, Perdana Menteri Inggris, berkata begini, “Yang ada di dalam tawaran tidak sesuai dengan kepentingan Inggris, maka saya tidak setuju dengannya.” (Arvanitis, 2011) Jadi, ia hanya setuju, jika kepentingan kelompoknya dapat terpenuhi. Apakah anda juga seperti Cameron?
Tujuan dari negosiasi adalah mencapai kesepakatan bersama yang bisa memberikan keadilan bagi semua pihak. Untuk itu, menurut saya, kita perlu memperhatikan tiga hal mendasar, yakni prinsip diskursus yang dirumuskan Habermas, prinsip kebaikan universal yang dirumuskan Immanuel Kant, dan prinsip keadilan yang dirumuskan oleh John Rawls. Saya menyebutnya sebagai Filsafat Negosiasi. Ingin tahu lebih jauh? Saya akan jelaskan lebih dalam. Lanjutkan membaca Filsafat Negosiasi
Guru yang baik adalah seorang pemimpin yang baik. Dengan kata lain, untuk menjadi pemimpin yang baik, orang perlu belajar untuk menjadi guru yang baik. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara menjadi guru yang baik? Menurut Richard Leblanc, pengajar di York University, Ontario, Kanada, ada 10 hal yang mesti diperhatikan, supaya kita bisa menjadi guru yang baik. (Leblanc, 1998) Artinya, ada 10 hal juga yang mesti ada, supaya kita bisa menjadi pemimpin yang baik. Mau tahu? Saya akan jelaskan lebih jauh.
Cinta
Leblanc berpendapat, bahwa inti dari pengajaran dan pendidikan adalah cinta. Dalam hal ini, bisa juga dikatakan, bahwa cinta, dalam soal pendidikan, itu lebih penting daripada penalaran rasional semata. Di dalam cinta, ada niat untuk mendorong orang untuk belajar, untuk membantu mereka menemukan sendiri pola belajar yang pas, untuk menemukan diri mereka sendiri. Setuju? Lanjutkan membaca Guru dan Kepemimpinan
Kata orang, sahabat yang paling baik adalah sahabat yang berani menegur kita dengan keras, ketika kita berbuat salah. Akan tetapi, anda mungkin sadar, betapa sulitnya melakukan itu. Yang banyak terjadi adalah, ketika kita menegur sahabat kita, maka persahabatan itu akan terancam rusak. Benar kan?
Padahal, secara umum, salah satu sebab mengapa banyak hal-hal buruk terus terjadi di masyarakat kita adalah, karena tidak ada orang yang menegur, ketika orang lain berbuat salah. Ketika orang melanggar lalu lintas, tak ada orang yang menegur. Jangan-jangan, ketika ada orang yang membunuh orang lain, kita juga tak menegurnya. Ketika ada orang korupsi, kita tidak berani menegur, bahkan ikut-ikutan korupsi. Seram ya? Lanjutkan membaca Filsafat Menegur
Beberapa hari yang lalu, saya memberikan ujian lisan pada salah satu mahasiswa saya. Ini adalah ujian mata kuliah Filsafat Ilmu dan Logika. Dari judulnya sudah terlihat jelas, yakni “filsafat”, “ilmu”, dan “logika”. Apa yang sama dari ketiga kata ini? Coba tebak.
Yang sama adalah ketiganya mengutamakan akal budi manusia, atau daya nalar manusia. Awalnya, saya menduga akan terlibat diskusi panjang dan dalam dengan mahasiswa saya. Harapan saya ternyata salah. Yang keluar adalah nasihat-nasihat normatif yang mengatasnamakan Tuhan. Kacau…. Lanjutkan membaca Panca Dharma Agama di Indonesia, Apa itu?
Mau tahu apa yang anda perlukan, supaya berhasil dalam bisnis di abad 21 ini? Jawabannya mungkin tak terduga, yakni kemampuan berpikir kritis. Itulah pendapat John Baldoni di dalam artikelnya di Harvard Business Review. Bahkan ia lebih jauh menekankan, bahwa yang diperlukan oleh para pemimpin bisnis sekarang ini adalah kemampuan untuk mendekati suatu masalah dengan sudut pandang multikultural. Maka seorang pemimpin bisnis harus memahami filsafat, sejarah, budaya, dan bahkan sastra. Bingung? Saya akan coba jelaskan lebih jauh.
Sikap Kritis
Kemampuan berpikir kritis adalah sesuatu yang amat dibanggakan di dalam filsafat maupun teori-teori tentang kepemimpinan. Namun sebagaimana dicatat Baldoni, sekolah-sekolah bisnis di dunia, dan juga di Indonesia, sekarang ini lebih giat mengajarkan kemampuan berpikir kuantitatif dengan menggunakan perhitungan matematis dan statistik. Dengan proses itu kemampuan berpikir kritis pun terhambat, atau bahkan hilang sama sekali. Apakah anda juga mengalami ini? Lanjutkan membaca Bisnis dan Sikap Kritis, Apa Hubungannya?
Grüße dich. Mein Name ist Reza Alexander Antonius Wattimena. Ich wohne in Keputih, Surabaya, Indonesien. Ich komme aus Duren Sawit, Jakarta, Indonesien. Ich bin Philosophie Lehrer / Professor. Ich bin achtundzwanzig Jahre alt. Ich liebe Lesebuch, lehre, Musik hören, folgende Diskussion, und Basketball spielen. Ich möchte weiterhin dem Studium der Philosophie in Deutschland. Sie verstehen mich? Ich hoffe so (Banyak salah grammatiknya, biarin aja, masih belajar soalnya)
Sudah seminggu ini, saya belajar bahasa Jerman. Setiap hari Senin sampai Jumat, pukul 7.30 sampai jam 12.00 siang, saya berkutat dengan kata-kata asing, dan aturan-aturan bahasa yang tak pernah saya tahu sebelumnya. Memusingkan, tetapi juga menyenangkan. Apakah anda juga pernah belajar bahasa baru sebelumnya? Bagaimana perasaan anda? Lanjutkan membaca Belajar Bahasa itu sama Seperti Memimpin. Kok Bisa?
Setiap orang pasti pernah pacaran, setidaknya sekali dalam hidupnya. Setiap suami pasti pacaran dulu dengan calon istrinya. Setelah mantap, baru mereka menikah. Kalo tidak mantap, yah putus, dan cari pacar lagi. Saya juga yakin, anda pasti pernah pacaran sebelumnya. Ya kan?
Setiap orang juga tahu, bahwa komponen terpenting dari pacaran adalah cinta. Ya, cinta! Namun, banyak orang kesulitan, ketika diminta menjelaskan, apa itu cinta? Ratusan pemikir dan ilmuwan mencoba mendefinisikan arti kata itu. Namun, tak ada yang sungguh bisa menjelaskannya. Atau, jangan-jangan cinta itu hanya bisa dirasa, tapi tak bisa dijelaskan dengan kata-kata? Bagaimana menurut anda? Lanjutkan membaca Filsafat Cinta
Lepas dari data-data bagus yang diterbitkan di koran-koran nasional, situasi ekonomi Indonesia tetap memprihatinkan. Kesenjangan antara yang kaya dan miskin semakin besar. Putaran uang hanya terfokus di kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Sementara mayoritas penduduk tidak mendapatkan akses terhadap putaran uang raksasa tersebut.
Para pengusaha kecil kesulitan bersaing dengan para pemilik modal besar. Mereka juga kesulitan bersaing dengan produk-produk asing yang membanjiri pasar Indonesia. Lulusan perguruan tinggi diminta untuk berwiraswasta di dalam situasi yang mencekik mereka. Padahal slogan pendidikan kewirausahaan seringkali hanya menjadi topeng untuk menutupi ketidakmampuan pemerintah memberikan lapangan kerja yang memadai untuk rakyatnya. Lanjutkan membaca Kepemimpinan, Kebahagiaan, dan Keberlanjutan Organisasi
Kita hidup dengan pengandaian-pengandaian yang dipercaya begitu saja. Misalnya bahwa orang yang beragama itu diandaikan pasti baik. Atau orang yang kaya secara ekonomi itu diandaikan pasti pintar. Namun seringkali pengandaian itu belum tentu benar. Sebelum mempercayai suatu pengandaian, ada baiknya kita menguji dulu pengandaian tersebut. Di tahun 2012 ini, kita perlu menggunakan paradigma “belum tentu”, sebelum salah sangka, atau malah tertipu.
Kekayaan
Orang kaya belum tentu pintar. Banyak juga orang kaya, karena mendapat warisan. Bisa juga ia menang lotere, menang judi, menipu, atau korupsi, lalu menjadi kaya. Tidak ada hubungan yang pasti antara kekayaan dan kecerdasan.
Di Indonesia orang kaya seringkali dianggap orang cerdas. Pendapat-pendapat mereka didengarkan, bukan karena pendapat itu benar, melainkan karena yang berbicara adalah orang kaya. Bahkan orang kaya dengan mudah dicalonkan menjadi anggota DPR/DPRD bukan karena ia layak, melainkan semata karena ia kaya. Padahal seperti saya bilang sebelumnya, banyak orang kaya mendapatkan kekayaannya dari warisan, atau dari sumber-sumber lain yang tak menuntut kecerdasan. Lanjutkan membaca “Belum Tentu”
Para pelaku kejahatan tidaklah harus orang-orang jahat berhati kejam penuh dendam. Orang-orang biasa pun bisa melakukan kejahatan besar, ketika ia tidak memiliki imajinasi untuk membayangkan posisi orang lain, dan tidak berpikir kritis di dalam melihat keadaan secara lebih luas. Di dalam tulisan ini, dengan berpijak pada pemikiran Hannah Arendt, saya akan mencoba menjelaskan argumen tersebut, dan menggunakannya untuk memahami situasi Indonesia. Awalnya saya akan memperkenalkan secara singkat sosok Hannah Arendt (1), menjabarkan pemikirannya tentang banalitas kejahatan yang tertulis di dalam bukunya yang berjudul Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil (2), dan menunjukkan relevansi pemikiran Arendt untuk memahami situasi di Indonesia (3). Saya banyak terbantu dari tulisan Seyla Benhabib tentang Arendt. Lanjutkan membaca Hannah Arendt, Banalitas Kejahatan, dan Situasi Indonesia
Dosen di Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya
Hannah Arendt adalah seorang filsuf politik ternama di abad keduapuluh. Ia lahir pada 1906 di Hanover, Jerman, dan meninggal di New York pada 1975.[1] Pada 1924 ia belajar di Universitas Marburg, Jerman, dan berjumpa dengan Martin Heidegger. Pada masa itu Heidegger sudah dikenal sebagai salah satu filsuf besar di dalam Sejarah Filsafat. Pemikirannya tentang fenomenologi ada (phenomenology of being) memicu diskusi filosofis di berbagai universitas di Eropa dan Amerika. Walaupun sebentar perjumpaan Arendt dengan Heidegger amat mempengaruhi pemikiran filsafat Arendt. Kisah cinta mereka pun menjadi legendaris di kalangan para filsuf, sampai sekarang ini. Ia belajar di Marburg selama setahun, lalu pindah ke Freiburg. Di Freiburg Arendt belajar di bawah Edmund Husserl. Pada 1926 ia pindah ke Universitas Heidelberg untuk belajar di bawah Karl Jaspers, seorang filsuf Jerman ternama. Arendt dan Jaspers menjalin persahabatan yang amat dekat dan panjang. Pada 1933 karena Hitler memperoleh kekuasaan politik tertinggi di Jerman, Arendt terpaksa meninggalkan Jerman, lalu pergi ke Polandia, Swiss, dan kemudian Paris, Prancis. Di sana ia tinggal selama 6 tahun, dan bekerja sebagai pendamping para pengungsi. Lanjutkan membaca Hannah Arendt dan Banalitas Kejahatan
Penafsiran Ulang atas Pemikiran Friedrich Nietzsche
Oleh Reza A.A Wattimena
Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya
Dunia politik di Indonesia diwarnai kemunafikan. Para politisi mengumbar janji pada masa pemilu, guna mendapatkan suara dari rakyat. Namun setelah menduduki kursi kekuasaan, mereka lupa, dan menelantarkan rakyatnya. Tak hanya itu ketika menjabat, mereka melakukan korupsi atas uang rakyat, demi memperkaya diri mereka sendiri, atau menutup pengeluaran mereka, ketika pemilu. Seringkali uang hasil korupsi dibagi ke teman-teman dekat, bahkan ke institusi agama, untuk mencuci tangan. Jika sudah begitu mereka lalu mendapatkan dukungan moral dan politik dari teman-teman yang “kecipratan” uang, dan bahkan dukungan moral-religius dari institusi agama. Bukan rahasia lagi inilah pemandangan sehari-hari situasi politik di Indonesia. Kekuasaan diselubungi kemunafikan yang bermuara pada penghancuran kehidupan rakyat jelata. Lanjutkan membaca Kekuasaan, Kemunafikan, dan Kehidupan
Dosen Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya
Apa peran kaum intelektual bagi perkembangan politik Indonesia? Bisakah kaum intelektual diharapkan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa masa depan? Apakah seorang pemimpin –apapun bidang kepemimpinannya- harus memiliki kualitas-kualitas seorang intelektual? Mengapa?
Itulah pertanyaan-pertanyaan yang, pada hemat saya, amat relevan diajukan sekarang ini. Di berbagai aspek kehidupan, bangsa kita mengalami krisis kepemimpinan. Sulit menemukan sosok yang patut menjadi teladan, mampu mengarahkan visi organisasi secara tepat, dan menjalankan fungsi kontrol serta tata kelola sehari-hari dengan baik. Dan karena krisis kepemimpinan, banyak organisasi tidak menjalankan fungsinya secara memadai. Lanjutkan membaca Kaum Intelektual dan Kepemimpinan
Dosen di Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya
Konsep kehendak untuk berkuasa (the will to power) adalah salah satu konsep yang paling banyak menarik perhatian dari pemikiran Nietzsche.[1] Dengan konsep ini ia bisa dikategorikan sebagai seorang pemikir naturalistik (naturalistic thinker), yakni yang melihat manusia tidak lebih dari sekedar insting-insting alamiahnya (natural instincts) yang mirip dengan hewan, maupun mahluk hidup lainnya. Nietzsche dengan jelas menyatakan penolakannya pada berbagai konsep filsafat tradisional, seperti kehendak bebas (free will), substansi (substance), kesatuan, jiwa, dan sebagainya. Ia mengajak kita memandang diri kita sendiri sebagai manusia dengan cara-cara baru. Sebagaimana dicatat oleh Porter, ada tiga konsep dasar yang mewarnai seluruh pemikiran Nietzsche, yakni penerimaan total pada kontradiksi hidup (1), proses transendensi insting-insting alamiah manusia (2), dan cara memandang realitas yang menyeluruh (wholism) (3).[2] Pemikiran tentang kehendak untuk berkuasa terselip serta tersebar di dalam tulisan-tulisannya sebagai fragmen-fragmen yang terpecah, dan seolah tak punya hubungan yang cukup jelas. Dari semua fragmen tersebut, menurut Porter, setidaknya ada tiga pengertian dasar tentang kehendak untuk berkuasa, yakni kehendak untuk berkuasa sebagai abstraksi dari realitas (1), sebagai aspek terdalam sekaligus tertinggi dari realitas (the nature of reality) (2), dan sebagai realitas itu sendiri apa adanya (reality as such) (3). Lanjutkan membaca Manusia dan Kehendak untuk Berkuasa
Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya
Saya perlu menjelaskan sesuatu. Saya beragama Katolik Roma, dan seorang peminat filsafat politik.
Saya mendalami pemikiran-pemikiran filsafat politik yang berkembang di dalam sejarah manusia. Sampai saat ini saya berusaha mencari titik hubung antara keimanan saya dan pemikiran saya. Jalan yang sulit dan panjang.
Namun semuanya itu terjawab, setelah saya mencoba mendalami Ajaran Sosial Gereja Katolik Roma (selanjutnya saya singkat menjadi ASG). Apa yang geluti dan dalami di dalam filsafat politik tercakup dengan amat indah di dalam ASG. Lanjutkan membaca Agama dan Filsafat di Dunia yang Terus Berubah
Tujuan diterbitkan dan dipublikasikannya buku ini adalah untuk membantu para peneliti dan ilmuwan, supaya bisa mendapatkan cara berpikir yang lebih tepat di dalam memilih dan mengolah metode yang paling pas untuk melakukan penelitian mereka. Dengan kata lain buku ini ingin menawarkan alternatif cara berpikir di dalam melakukan penelitian ilmiah, baik dalam konteks ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial. Pada hemat saya belum ada buku di Indonesia yang mencoba untuk melakukan hal ini secara fokus. Inilah yang saya anggap sebagai nilai “kebaruan” dari buku ini untuk masyarakat Indonesia.
Secara khusus buku ini ditujukan bagi para peneliti dan ilmuwan di berbagai bidang ilmu di Indonesia. Secara umum buku ini ditujukan untuk para mahasiswa yang akan menjadi calon peneliti dan ilmuwan masa depan, maupun pada masyarakat luas yang memiliki minat pada perkembangan penelitian dan ilmu pengetahuan di Indonesia. Harapan saya sederhana supaya kegiatan penelitian di Indonesia bisa sungguh relevan untuk mencerahkan dan memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat secara umum, dan bukan hanya sekedar “onani” intelektual belaka. Lanjutkan membaca Buku Filsafat Terbaru: Penelitian Ilmiah dan Martabat Manusia
Dosen Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya
Dari kecil kita selalu diajar untuk berkompetisi. Ada beragam kompetisi mulai lomba baca, berenang, olah raga, sampai lomba menari. Di dalam berkompetisi kita pun diajarkan untuk menjadi yang terbaik di antara semua pesaing yang ada. Namun ada satu pengandaian yang sesat, yang ada di balik semua cara berpikir ini. Lanjutkan membaca Kepemimpinan, Ilusi Kompetisi, dan Paradoks Berdiam Diri
Dosen Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya
Ada satu fenomena menarik yang terjadi di berbagai kota-kota besar di Indonesia, yakni balapan motor di malam hari. Di Jakarta setiap malam, terutama di daerah Kemayoran, sekumpulan anak muda berkumpul, membawa kendaran bermotor mereka, dan mulai balapan. Motifnya beragam mulai dari mencari tambahan uang (yang biasanya juga untuk mempercanggih motor mereka), sampai dengan sekedar iseng menghabiskan waktu semata. Yang menarik adalah setiap malam pasti ada korban jiwa dari balapan tersebut. Lanjutkan membaca Filsafat Kenikmatan Menurut Marquis de Sade