Filsafat Menegur

http://www.clker.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Kata orang, sahabat yang paling baik adalah sahabat yang berani menegur kita dengan keras, ketika kita berbuat salah. Akan tetapi, anda mungkin sadar, betapa sulitnya melakukan itu. Yang banyak terjadi adalah, ketika kita menegur sahabat kita, maka persahabatan itu akan terancam rusak. Benar kan?

Padahal, secara umum, salah satu sebab mengapa banyak hal-hal buruk terus terjadi di masyarakat kita adalah, karena tidak ada orang yang menegur, ketika orang lain berbuat salah. Ketika orang melanggar lalu lintas, tak ada orang yang menegur. Jangan-jangan, ketika ada orang yang membunuh orang lain, kita juga tak menegurnya. Ketika ada orang korupsi, kita tidak berani menegur, bahkan ikut-ikutan korupsi. Seram ya?

Pertanyaan yang perlu diajukan kemudian adalah, apa yang diperlukan untuk menegur orang lain? Menurut saya, ada lima hal, yakni keberanian, kehendak baik, cara yang baik, epistemologi yang tepat, dan sikap beradab. Saya menyebutnya sebagai “Filsafat Menegur”. Saya akan jelaskan lebih jauh.

Keberanian

Di era sekarang ini, keberanian tetap diperlukan. Bukan keberanian untuk bertengkar di jalan dengan orang lain, tetapi keberanian untuk menegur, ketika ada yang salah. Kita perlu untuk berani menegur, ketika terjadi kesalahan, baik besar ataupun kecil, di depan mata kita. Setuju?

Saya pernah naik mobil dengan teman saya. Ia orang yang, menurut saya, amat berani dan cerdas. Suatu waktu, kita hendak belok ke satu gang yang hanya berjalan satu arah. Tiba-tiba, ada mobil menyerobot melawan arah, dan berhadapan dengan kami. Teman saya marah. Dia turun dari mobil, dan datang langsung ke mobil yang melawan arah tersebut. Seru ya..

Ia terlibat pertengkaran mulut dengan pengemudi mobil tersebut. Teman saya, karena yakin benar, ngotot, supaya pengemudi itu berbalik arah. Akhirnya, pengemudi itu mengalah, dan berbalik arah. Wah, saya amat bangga dengan dia. Dia tidak hanya cerdas, tetapi berani untuk mempertahankan dirinya, ketika ia, secara obyektif, benar. Apakah anda punya pengalaman serupa?

Kehendak Baik

Immanuel Kant, salah seorang filsuf Jerman terbesar, pernah menyatakan, bahwa kebaikan paling murni dan paling tinggi di dunia adalah kehendak baik itu sendiri. Itulah dasar dari semua sikap baik yang kita lakukan. Sebelum menegur orang yang berbuat salah, kita harus sungguh-sungguh yakin, bahwa kehendak kita itu baik. Setuju?

Sebagai dosen, saya seringkali harus menegur mahasiswa maupun kolega yang, menurut saya, bertindak kurang tepat. Dilemanya adalah, jika kita menegur orang yang berbuat salah, hubungan kita dengan orang itu akan merenggang, bahkan rusak. Saya, dan mungkin anda, amat sadar dengan ini. Ya kan?

Beberapa kali saya harus “konflik” dengan kolega, karena saya menegurnya. Namun, niat saya baik, dan sama sekali tidak ada niat untuk menyakiti, atau menyinggung perasaan. Pada akhirnya, karena waktu dan refleksi, saya bisa menjalin relasi yang bahkan lebih akrab dengan mahasiswa maupun kolega yang pernah saya tegur. Apakah anda punya pengalaman serupa?

Soal Cara

Walaupun kehendak sudah baik, dan keberanian sudah ada, kita tetap harus memperhatikan “cara” kita menegur. Yang pasti, kita harus menegur dengan cara yang sopan. Kita harus menggunakan bahasa yang halus, sopan, namun tegas, dan jelas. Kita juga tidak boleh menegur orang di depan umum, karena itu akan melukai harga dirinya. Setuju?

Ketika saya menegur orang, bahasa saya langsung berubah formal. Saya menyapa tidak dengan “kamu”, tetapi dengan “anda”. Kosa kata saya pun berubah menjadi formal, dan tidak lagi familiar. Niat saya adalah, supaya teguran saya tetap terasa sopan, bersahabat, tetapi juga jelas dan tegas. Bagaimana menurut anda?

Beberapa orang bilang, saya berubah menjadi menakutkan, jika sedang menegur. Padahal, maksud saya tidak seperti itu. Saya merasa tidak mungkin menegur dengan menggunakan bahasa sehari-hari, atau bahasa yang familiar. Karena jika menegur dengan bahasa familiar, saya nanti dianggap bercanda. Serba salah ya?

Epistemologi

Epistemologi adalah cabang filsafat yang merefleksikan hakekat sekaligus batas-batas pengetahuan manusia. Praktisnya, kita perlu untuk memiliki pengetahuan yang mantap terlebih dahulu, bahwa kita benar, sebelum kita menegur orang lain yang kita anggap berbuat salah. Kita perlu memiliki data dan informasi yang akurat terlebih dahulu, sebelum menegur orang lain yang, kita anggap, salah. Setuju?

Saya punya pengalaman memalukan baru-baru ini. Saya menegur seorang kolega, tanpa melakukan penelitian terlebih dahulu. Pendasaran epistemologis saya tidak tepat. Saya terburu berkata-kata formal dan tegas, sebelum mengecek semua data dan informasi yang ada, dan ternyata saya salah. Malu jadinya…

Mulai hari itu, saya belajar untuk meneliti terlebih dahulu pendasaran epistemologis itu. Saya, dan juga anda, perlu untuk benar-benar yakni, bahwa posisi anda benar, sebelum anda menegur orang lain. Namun, ketika kesalahan tak terelakkan, kita perlu minta maaf dengan tulus. Ketulusan adalah kunci terdalam di dalam menegur, dan menjalani hidup. Bagaimana menurut anda?

Sikap Beradab

Pada akhirnya, kita amat perlu untuk menjadi orang yang beradab. Orang beradab siap menjalin kontak yang positif dengan orang lain yang telah ia tegur, bahkan tegur dengan keras. Orang yang beradab juga siap untuk ditegur, ketika ia berbuat salah, dan menerima teguran itu dengan kritis (dicek dulu) dan tulus. Setuju?

Jujur saja, saya cukup sensitif, jika ditegur. Reaksi otomatis saya adalah melawan balik. Saya punya pengalaman ini, yakni marah dan tersinggung, ketika ditegur, walaupun saya tahu, bahwa saya salah. Jangan ditiru ya…

Namun, seperti saya tulis di atas, ketika ditegur, kita harus mengecek dulu, apakah kita sungguh salah, atau tidak. Ini yang saya sebut sebagai sikap kritis, ketika ditegur. Kalau terbukti salah, yah kita harus mau mengakui, dan minta maaf dengan tulus. Itu namanya sikap fair. Setuju?

Saya juga punya pengalaman menegur salah seorang kolega dengan cukup keras. Suasana di antara kami menjadi tidak enak. Namun, ketika jam istirahat siang, saya mengajaknya makan siang bersama. Sekarang, hubungan kami lebih baik dari sebelumnya. Apakah anda punya pengalaman yang mirip?

Budaya Menegur

Kita perlu membangun budaya saling menegur, jika salah seorang dari kita berbuat salah. Teguran amat penting, supaya kesalahan tidak berlanjut, dan merusak lebih dalam serta lebih luas. Prinsip yang perlu diperhatikan adalah, kita perlu menegur dengan kritis, tegas, dan sekaligus beradab. Bagaimana menurut anda?

Tindak menegur juga merupakan hal yang amat penting di dalam kepemimpinan. Seorang pemimpin harus berani menegur dan ditegur. Ini tidak dapat dibantah lagi. Yang penting, ia tetap beradab dan fair, ketika menegur, ataupun menerima teguran. Setuju?

Jadi, sudah saatnya, kita saling menegur satu sama lain. Yang perlu diperhatikan di dalam menegur adalah adanya keberanian (1), kehendak baik (2), cara yang beradab (3), informasi yang akurat (4), dan sikap beradab sebagai manusia (5). Harapan saya, dengan saling menegur, hidup bersama kita akan lebih nyaman dan membahagiakan. Bukankah itu harapan kita semua?

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

6 tanggapan untuk “Filsafat Menegur”

  1. teguran, selalu bisa menjadi pisau bermata dua. di satu sisi ia menunjukkan kesalahan seseorang, untuk, semoga, diperbaiki. Di lain pihak teguran yang kita ucapkan kiranya menjadi pengingat untuk diri sendiri, akan apa yang tepat, dan yang seharusnya dipertahankan. Selamat Pagi, Ja.. :p

    Suka

  2. Hehehehe….bagus dan aplikatif!

    Ini yang sebenarnya perlu dipahami banyak orang. Sesungguhnya kejujuran haruslah seimbang dengan penghargaan pada sesama manusia. Itulah mengapa kita perlu belajar menegur, karena saat menegur itulah kemampuan kita menyampaikan hal yang acap kali tak enak didengar dengan tetap menghargai satu sama lain.

    Aku pikir, jikalau ini dikuasai dengan baik, banyak hal (bukan semua) yang kerap jadi masalah bisa diselesaikan :-).

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s