Kepemimpinan, Ilusi Kompetisi, dan Paradoks Berdiam Diri

http://www.sia-hq.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Dari kecil kita selalu diajar untuk berkompetisi. Ada beragam kompetisi mulai lomba baca, berenang, olah raga, sampai lomba menari. Di dalam berkompetisi kita pun diajarkan untuk menjadi yang terbaik di antara semua pesaing yang ada. Namun ada satu pengandaian yang sesat, yang ada di balik semua cara berpikir ini.          

Ilusi Kompetisi

Michael Porter, ahli manajemen dari Universitas Harvard, AS, berpendapat, bahwa logika kompetisi untuk menjadi yang terbaik adalah logika yang amat salah. (Margretta, Stop Competing to be The Best, 2011) Justru jika anda memimpin dengan logika semacam ini, yakni ingin berkompetisi untuk menjadi yang terbaik, hasilnya malah terbalik, yakni anda justru akan mendapatkan hasil yang minimal. Yang harus disadari adalah, bahwa “yang terbaik” itu sebenarnya tidak ada, apapun bidangnya.

Misalnya masakan apa yang paling enak di dunia? Masakah apa yang terbaik di dunia? Bisakah anda menjawabnya? Saya yakin tidak karena setiap orang memiliki seleranya masing-masing, dan setiap jenis makanan memiliki ciri khasnya masing-masing yang sesuai dengan konteks kultural masyarakat yang melahirkan makanan tersebut. Beberapa orang bilang bahwa makanan terbaik adalah makanan yang pedas. Beberapa suka yang gurih. Tak ada yang terbaik.

Atau mall mana yang terbaik? Pasti anda kesulitan menjawabnya. Mall yang baik untuk satu orang tentu berbeda dengan selera orang lainnya. Ada yang suka mall yang memiliki area outdoor, namun ada yang tidak. Tidak ada mall terbaik. Tidak ada makanan terbaik. Begitulah argumen Michael Porter, sebagaimana dijelaskan oleh Margretta.

Anda pasti kaget dengan ide ini. Ini bisa dimaklumi karena di dalam keseharian, banyak manager, dan bahkan kepala sekolah, hendak mendorong organisasi yang dipimpinnya untuk menjadi yang terbaik, untuk mengalahkan semua kompetitornya. Di dalam pidato-pidato ataupun rapat-rapatnya, mereka bahkan menggunakan analogi peperangan, bahwa bisnis adalah perang, dan bahwa pendidikan adalah perang. Ada efek dramatis dari pidato-pidato semacam ini. Namun sayangnya cara berpikir semacam ini salah.

Menurut Margretta di dalam perang, hanya ada satu pemenang. Namun di dalam kehidupan pada umumnya, terutama di dalam bisnis, masalahnya tidak sesederhana itu. Di satu gang yang sama, Restoran Padang dan Restoran Cina bisa sama-sama menjadi pemenang, karena keduanya memiliki jenis pelanggan yang berbeda. Kampung Arab yang banyak berjualan kambing dan Kampung Cina yang banyak berjualan babi di Surabaya sama-sama bisa bertahan, dan mendapatkan keuntungan untuk mengembangkan bisnis mereka. Tidak ada yang terbaik.

Ketika kita ingin menjadi yang terbaik, dan mengira hanya ada satu cara untuk menjadi yang terbaik, kita akan jatuh dalam konflik yang destruktif dengan pihak-pihak yang kita anggap sebagai kompetitor, dan pada akhirnya, tidak ada pemenang. Tidak ada pihak yang mencoba berpikir alternatif, karena semuanya terpaku pada satu hal yang sama, yakni menjadi yang terbaik, karena yang terbaik hanya satu, dan yang lainnya adalah pencundang. Kualitas produk akhirnya stagnan, dan pada akhirnya, pemasukan perusahaan pun menurun.

Namun Porter –sebagaimana dicatat oleh Margretta- justru menganjurkan, agar kita menjauhi pola berpikir kompetitif semacam itu. Tentu saja bukan berarti kompetisi lalu dihilangkan sama sekali. Kompetisi perlu ada namun dengan bentuk yang berbeda, yakni berkompetisi untuk menjadi unik. (Margretta, 2011) Apa maksudnya?

Alih-alih berkompetisi untuk menjadi yang terbaik di bidang yang sama untuk mengalahkan kompetitor-kompetitor terkait, sebuah organisasi justru harus melihat ke dalam diri mereka sendiri, dan fokus untuk menciptakan produk-produk yang memberikan makna lebih untuk pelanggan mereka berdasarkan keunikan yang ada, bukan dengan meniru produk kompetitor terdekat. Fokus untuk melihat ke dalam organisasi itu sendiri, ciptakan produk-produk yang bermakna dengan harga yang terbaik seturut dengan keunikan yang dimiliki, maka anda akan memiliki pelanggan setia, dan bisnis akan berjalan dengan lancar.

Untuk itu sebagaimana dicatat oleh Margretta, sebuah organisasi harus menyadari dan menerima batas-batas mereka sendiri. Artinya mereka tidak mungkin memberikan semua bentuk pelayanan yang sempurna pada pelanggan. Tidak ada organisasi yang sempurna. Organisasi hanya perlu menawarkan produk terbaik yang mereka milliki, sesuai dengan keunikan organisasi itu sendiri. “Tidak ada yang lebih absurd”, demikian tulis Margretta, “..dari kepercayaan bahwa anda bisa melakukan apapun yang semua orang lakukan, dan berakhir dengan hasil yang lebih baik.” (Margretta, 2011)

Bisnis itu lebih dekat dengan seni, bukan dengan perang. Hakekat dari bisnis adalah seni, dan bukan strategi perang. Di dalam seni musik, grup band Padi dan Dewa sama-sama terbaik di mata fans mereka sendiri-sendiri. Ruth Sahanaya dan Krisdayanti sama-sama penyanyi terbaik di mata fans mereka masing-masing. Semakin banyak penyanyi dan grup band terbaik, maka seni musik akan terus berkembang di Indonesia. Semakin banyak pengusaha yang unik dan bermutu, maka dunia bisnis akan mengembangkan peradaban Indonesia menjadi peradaban yang agung. Semua berkompetisi untuk menjadi unik dan terbaik dengan cara mereka masing-masing.

Paradoks Berdiam Diri

Setelah beragam usaha untuk menjadi unik dilakukan, dan beragam usaha untuk memberikan yang terbaik untuk pelanggan anda telah dijalani, namun usaha belum berhasil, apa yang harus dilakukan? Bregman –seorang ahli manajemen stratejik dan kepemimpinan- menyarankan, anda perlu untuk berdiam diri. (Bregman, When Nothing Works, 2011) Berdiam diri berbeda dengan pasrah atau menyerah. Berdiam diri berarti dengan sabar dan teliti menunggu dampak dari langkah-langkah yang telah dilakukan. Inilah paradoks berdiam diri, yakni berdiam, namun sebenarnya melakukan banyak hal.

Bagi Bregman di dalam hidup kita, seringkali solusi terbaik adalah dengan berdiam diri, dan melihat bagaimana proses gerak realitas terjadi. Ketika anda sudah melakukan semua hal yang ada secara sungguh-sungguh, dan sudah berusaha mencari bantuan ke orang lain, namun tidak ada perubahan apa-apa, maka anda perlu berhenti dan berdiam diri. Ketika anda berdiam dengan sabar dan teliti, perubahan yang diinginkan akan mulai tampak.

“Terkadang”, demikian tulis Bregman, “tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki justru merupakan langkah terbaik untuk memperbaiki sesuatu itu.” (Bregman, 2011) Mengapa ini sulit sekali dilakukan? Karena dari kecil kita dididik untuk menjadi orang yang aktif, menjadi proaktif. Ketika ada masalah kita secara otomatis langsung berniat untuk menghantam dan menghancurkan masalah itu. Yang harus diingat adalah, ada beberapa permasalahan di dalam hidup yang tidak bisa diselesaikan dengan usaha aktif, namun justru dengan berdiam diri, sabar, dan menunggu dengan teliti.

Bregman memberikan data berikut. Pada 2009 lalu pemerintah AS menghabiskan dana sebesar 3,6 Milyar Dollar AS untuk melawan penyakit flu, batuk, dan penyakit-penyakit tenggorokan lainnya. Namun setelah diteliti lebih lanjut, dana tersebut terbuang percuma, karena obat yang dihasilkan tidak memberikan dampak apa-apa. Bahkan beberapa obat yang dikembangkan memiliki efek samping yang merugikan.

Dengan mengutip ini Bregman ingin menegaskan pada kita, bahwa seringkali, solusi terbaik adalah dengan membiarkan gejala tampil, lalu menunggu serta mengamati dengan cermat. Untuk menangani penyakit flu, cara terbaik dengan menunggu, beristirahat, sampai semua gejala berlalu. Pola berpikir ini juga berlaku untuk hal-hal lain dalam hidup, terutama di dalam bisnis. Apakah tambahan uang dari pemerintah bisa melahirkan bisnis-bisnis baru yang mampu memperluas lapangan kerja?

Saya tidak punya data yang detil tentang Indonesia. Namun di AS sebagaimana dicatat Bregman dengan berpijak pada data Sensus AS 2007 lalu, jumlah lahirnya bisnis baru dari 1977-2005 hanya naik sekitar 3-6%. Artinya semua usaha pemerintah untuk memberikan tambahan uang pada warganya, serta banyak pengurangan pajak diberikan pada pelaku bisnis baru, tidak memiliki dampak besar bagi situasi ekonomi masyarakat. Dari data ini kita bisa belajar, jangan-jangan cara terbaik untuk merangsang bisnis dan ekonomi adalah dengan berdiam diri. Bagaimana menurut anda?

Tentu saja ada beberapa hal yang harus secara proaktif dilakukan. Tapi tetap ada beberapa hal dalam hidup, di mana kita hanya bisa menunggu, mengamati, dan berdiam diri, sambil melihat realitas bergerak. Ada beberapa kelemahan manusiawi dalam hidup manusia yang tak bisa diubah, tetapi hanya bisa disadari, dan diterima begitu saja. Kita membutuhkan kebijaksanaan untuk membedakan keduanya. Namun Bregman memberikan satu tips yang berguna.

Prinsipnya begini; jika ada banyak solusi untuk satu masalah, dan masalah itu tidak selesai, maka kemungkinan besar, tidak ada solusi untuk masalah itu. Artinya kita perlu berdiam diri, dan mengamati dengan teliti. Dengan kata lain jika anda telah mencoba empat sampai lima solusi untuk menyelesaikan suatu masalah, maka mungkin cara terbaik adalah berhenti mencoba, dan berdiam diri.

Seorang pemimpin perlu untuk mengenali organisasi yang ia pimpin, mencintai keunikan-keunikan yang ada di dalam organiasi itu, dan mengembangkannya menjadi produk bermutu yang bisa ditawarkan kepada masyarakat luas. Seorang pemimpin juga perlu untuk tahu, kapan ia perlu bertindak aktif menyelesaikan masalah, dan kapan ia perlu berdiam diri, serta melihat realitas bergerak apa adanya. Inilah dua butir kebijaksanaan yang bisa saya tawarkan.***

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s