“Belum Tentu”

eco20-20.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita hidup dengan pengandaian-pengandaian yang dipercaya begitu saja. Misalnya bahwa orang yang beragama itu diandaikan pasti baik. Atau orang yang kaya secara ekonomi itu diandaikan pasti pintar. Namun seringkali pengandaian itu belum tentu benar. Sebelum mempercayai suatu pengandaian, ada baiknya kita menguji dulu pengandaian tersebut. Di tahun 2012 ini, kita perlu menggunakan paradigma “belum tentu”, sebelum salah sangka, atau malah tertipu.

Kekayaan

Orang kaya belum tentu pintar. Banyak juga orang kaya, karena mendapat warisan. Bisa juga ia menang lotere, menang judi, menipu, atau korupsi, lalu menjadi kaya. Tidak ada hubungan yang pasti antara kekayaan dan kecerdasan.

Di Indonesia orang kaya seringkali dianggap orang cerdas. Pendapat-pendapat mereka didengarkan, bukan karena pendapat itu benar, melainkan karena yang berbicara adalah orang kaya. Bahkan orang kaya dengan mudah dicalonkan menjadi anggota DPR/DPRD bukan karena ia layak, melainkan semata karena ia kaya. Padahal seperti saya bilang sebelumnya, banyak orang kaya mendapatkan kekayaannya dari warisan, atau dari sumber-sumber lain yang tak menuntut kecerdasan.

Maka kita perlu menerapkan paradigma “belum tentu” di dalam melihat orang kaya. Kita perlu berhenti mendewakan orang kaya, karena mereka belum tentu benar, dan pendapat mereka belum tentu berisi. Orang kaya adalah manusia, dan manusia bisa salah, maka orang kaya pun bisa salah. Kita tidak boleh tertipu.

Orang kaya belum tentu berhati baik. Di balik sumbangan yang diberikan, ia seringkali punya motif-motif tersembunyi yang tak selalu luhur. Ia seringkali punya agenda politik ataupun bisnis yang menipu. Tidak ada hubungan pasti antara kekayaan dan kebaikan hati.

Di Indonesia orang kaya, terutama ketika menyumbang, langsung dianggap orang baik. Berbagai cap positif ditempelkan ke mereka secara naif, apalagi jika yang memuji terciprat harta dari si kaya. Uang yang berlimpah menutupi sikap kritis. Orang lalu buta terhadap si kaya, ketika ia dilumuri oleh harta berlimpah. “Maju tak gentar membela yang bayar”, begitu kata orang.

Kita perlu menerapkan paradigma “belum tentu” di dalam menghubungkan antara kekayaan dan kebaikan. Orang kaya belum tentu baik, walaupun ia tampaknya baik dengan menyumbang banyak orang. Kita tidak boleh tertipu, walaupun diiming-imingi harta berlimpah.

Beragama dan Bergelar

Orang beragama juga belum tentu baik. Bisa juga kedok agama digunakan untuk menutupi kejahatan yang telah ia lakukan. Ia ingin tampil suci untuk menutupi aksi jahat yang telah dilakukan atau sedang direncanakan. Tidak ada hubungan pasti antara orang yang beragama dengan orang yang baik.

Di Indonesia orang beragama dianggap pasti bermoral baik. Makanya orang takut untuk tidak beragama. Institusi-institusi tertentu sering menggunakan nama agama tertentu, walaupun isinya jauh dari hal-hal baik. Agama disamakan begitu saja dengan kebaikan, tanpa pernah secara kritis dipertimbangkan.

Kita juga harus menerapkan paradigma “belum tentu” di dalam menghubungkan antara status beragama dengan sifat baik. Jelas sekali bahwa orang beragama, serajin apapun dia beribadah, belum tentu adalah orang baik. Kita tidak boleh tertipu dengan slogan-slogan religius, jubah-jubah yang tampak suci, gelar-gelar religius, dan keahlian mengutip kitab-kitab, melainkan berani belajar untuk melihat apa yang ada di baliknya.

Orang bergelar akademik panjang, seperti professor doktor, belum tentu orang cerdas. Seringkali mereka adalah orang-orang yang bekerja sebagai dosen puluhan tahun, tetapi tidak menghasilkan karya-karya bermutu yang mencerahkan masyarakat di bidang keahliannya. Dengan kata lain gelar akademik seringkali adalah gelar formalitas yang tak selalu mencerminkan kecerdasan orang-orang yang memakainya.

Di Indonesia gelar adalah segalanya. Semakin banyak gelarnya maka ia akan semakin dianggap jenius oleh lingkungannya. Omongannya tetap didengarkan dengan penuh kagum, walaupun mungkin tak ada isinya. Gelar dipampang di forum-forum publik, seolah tak percaya diri dengan nama yang telah diberikan orang tuanya.

Orang bergelar panjang “belum tentu” cerdas dan bermoral baik. Paradigma “belum tentu” pun perlu kita terapkan di dalam memandang orang-orang bergelar panjang. Kita tidak boleh tertipu oleh kedok gelar yang dikenakan seseorang, dan perlu untuk sungguh belajar melihat apa yang sungguh ada di baliknya.

Etiket

Orang sopan juga belum tentu baik. Seringkali ia menutupi maksud jahat dengan tata krama yang tampak baik. Kata-kata lembut dikeluarkan untuk memberi kedok bagi maksud jahat yang tetap tersembunyi di balik kata-kata. Sikap sopan hanyalah topeng dari sesuatu yang tak jelas dibaliknya.

Di Indonesia orang tergila-gila dengan tata krama. Sikap sopan langsung diangap sebagai tanda kebaikan. Kata-kata lembut dianggap amat penting, tak peduli maksud tersembunyi apa yang ada di baliknya. Penampilan dan tata krama adalah ukuran bagi kebaikan seseorang.

Paradigma “belum tentu” perlu diterapkan untuk melihat kesopanan. Yang jelas orang sopan belum tentu baik. Jangan sampai kita tertipu, karena hanya terpaku melihat etiket serta tata krama, namun buta pada karakter asli yang seringkali tersembunyi di baliknya.

Litani “Belum Tentu”

Ada banyak lagi litani “belum tentu” dalam hidup kita. Orang miskin belum tentu bodoh. Orang miskin belum tentu tak bahagia. Bisa saja ia miskin, karena ditipu orang, atau karena hidup mempermainkannya tanpa tujuan. Bisa saja ia miskin, karena ia bahagia dengan kesederhanaan hidup, dan tak mau menjadi budak materi. Ada banyak kemungkinan.

Orang tua belum tentu bijaksana, karena bisa saja ia jarang menimba pelajaran dari pengalaman hidupnya. Orang muda belum tentu tidak tahu apa-apa, karena bisa saja ia amat reflektif di dalam menggali pelajaran dari pengalaman hidupnya. Ada banyak kemungkinan.

Orang yang berperilaku tidak lazim belum tentu sakit, atau gila. Bisa saja karena ia adalah orang yang amat kreatif, yang mampu melihat dunia dari sudut yang unik, yang tak dimiliki oleh orang-orang lainnya. Begitu pula sebaliknya; orang waras belum tentu sehat. Bisa saja ia menutupi kegilaannya dengan perilaku normal. Mayoritas pembunuh dan pemerkosa berantai adalah orang-orang yang sehari-harinya tampak normal.

Institusi ternama belum tentu bermutu. Sekolah terkenal belum tentu kualitas pendidikannya bagus. Universitas besar belum tentu mampu mendidik secara tepat. Perusahaan besar belum tentu memberikan kepuasan dan kebahagiaan pada pegawai maupun konsumennya. Ada banyak kemungkinan lain yang harus kita pertimbangkan lebih jauh.

Orang berjenggot, bersorban, dan tampak ganas belum tentu teroris. Begitu pula orang berpenampilan rapih belum tentu orang baik. Orang Batak (maaf) belum tentu jadi pengacara. Orang Tionghoa (maaf) belum tentu jadi pedagang. Ada banyak kemungkinan lain yang harus kita perhatikan.

Orang berijazah belum tentu mampu mampu bekerja dan punya karakter bagus. Dan sebaliknya juga benar, orang yang tak punya ijazah belum tentu tak mampu bekerja dan berkarakter jelek. Hasil ujian belum tentu mencerminkan kualitas diri peserta didik. Hasil psikotes belum tentu mencerminkan karakter, kepribadian, ataupun potensi diri si peserta tes. Ada banyak kemungkinan lain.

Terbuka

Di tahun 2012 ini, kita perlu lebih berpikir terbuka. Kita perlu untuk lebih menggunakan paradigma “belum tentu” di dalam hidup sehari-hari kita. Semakin banyak orang tidak bisa lagi digolongkan di dalam satu kategori pengandaian (beragama maka baik, atau sopan maka bermoral). Dunia kita semakin banyak diisi oleh hal-hal yang “belum tentu”.

Jangan sampai kita tertipu, atau salah membuat tindakan, karena kita masih berpegang pada pengandaian-pengandaian naif yang tak terbuktikan. Ada banyak kemungkinan lain di balik pengandaian-pengandaian tersebut, yang justru merupakan peluang untuk bertindak kreatif dan menghasilkan hal-hal bermutu. Tahun 2012 adalah tahun baru, namun “belum tentu” kita semua bisa berpikir secara baru. Semoga yang terakhir ini tidak benar. “Belum tentu”…..***

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018) dan berbagai karya lainnya.

15 tanggapan untuk ““Belum Tentu””

  1. Terima kasih mas atas pencerahannya,,
    Saya sebenarnya sudah lama mengikuti blog anda ini, tapi jarang sekali untuk komen (bukan berarti pelit komen loh mas,,)
    Benar dan saya setuju dengan opini anda, kita harus berpikiran terbuka, terhadap apa saja, bahkan terhadap keyakinan yang sudah kita pegang erat-erat dari kecil, kita harus berani terus-menerus untuk mempertanyakan keyakinan kita dan mengujinya dengan kenyataan yang kita hadapi, apakah keyakinan yang saya pegang ini masih tahan uji, ataukah lapuk dan disfungsi, dengan pertumbuhan wawasan dan pengalaman kita.
    Dan kalaupun mesin yang biasa kita gunakan tidak lagi bisa kita pakai untuk menyelesaikan masalah yang ada, harus ada keberanian dalam diri kita untuk mencari penggantinya yang lebih baik. Jangan sampai kita berkubang pada status quo dan stagnasi.
    Pertanyaan saya, dengan filosofi ‘belum tentu’ ini, bagaimana saya bisa mengambil keputusan untuk hal-hal tertentu, misal ada orang kaya, sopan, alim, saya merujuk pada filosofi ‘belum tentu’, maka saya akan berfikir, belum tentu cerdas, belum tentu baik. Mungkin saya akan verifikasi dulu, sebelum ambil keputusan, misalnya dengan mengecek latar belakang orang tersebut, track recordnya,dsb. Seandainya saya tidak ada cukup waktu untuk memverifikasi data orang tsb, sahihkah saya mengambil keputusan bahwa orang tersebut adalah cerdas dan baik (secara umum orang akan mengambil keputusan ini). Ataukah saya tetap dalam kondisi ‘waspada’ terhadap orang ini, dalam arti saya tidak mengambil keputusan final dan memberi keyakinan pada diri sendiri bahwa orang ini baik dan cerdas (keputusan mengambang)?
    Pilihan mana yang mungkin lebih bisa dipertanggungjwabkan?
    Terima kasih,
    HAPPY NEW YEAR,,,

    Suka

  2. Terima kasih atas tanggapannya. Prinsip verifikasi memang harus diterapkan. Artinya kita harus menguji apakah pengandaian kita (tentang orang baik dan pintar) sesuai dengan realitas. Keputusan baru dapat diambil, setelah proses verifikasi dilakukan, dan bukti-bukti bisa diperoleh untuk mengambil keputusan. Intinya jangan terpengaruh pandangan umum, atau pengandaian-pengandaian yang telah kita pegang sebelumnya.

    Suka

  3. he he kata “BELUM TENTU” itu tipekel aq — orang yang selalu nuntut dan minta di verifikasi kebenarannya — manusia tipe saya — gaya Thomas — buktikan bahwa tanganMu ada lubang paku dan aq harus memasukan jariku dulu baru aku percaya. Tapi Pak gaya verifikasi model begitu ada lho kelemahannya — aq jadi orang benar-2 pragmatis kolot, Kadang kala aq merasa “goblok” ternyata ada “TRUTH” yang aq coba kenali dengan only logikaku doang. Kemarin aq ke Irian Jaya, aq ingat dulu hanya orang tertentu saja yang punya keyakinan teguh — katanya imanku teguh seperti biji sesawit yang bisa memindahkan gunung beranjak pada tempatnya dan dia katanya bisa merubah batu jadi roti — aq tertawai aja sama orang gila itu — he he — tapi aq goblok benar nih, ternyata sungguh terjadi — itu lihat gunung di Irian dr Satelit tampak lubang bogang — itu batu calcopyrite disana sudah jadi barang primadona banjaan beruang asing — jadi “ROTI” lho — ah sekarang aq jadi ganti profesi aja TUKANG MASAK yang mampu merubah batu jadi “ROTI” he he

    Suka

  4. Pak saya tambahkan komen ya, sambil berbaring karena lagi sakit nih. Aq bingung gimana ya meng verifikasi THE TRUTH — sehingga really truth — baik itu terhadap orang lain maupun yg tak tampak bagi saya? Gimana ya meng verifikasi katanya orang Theis (ber agama) — mereka ‘kan yakin ada SURGA dan NERAKA, lha apa mereka sudah pernah meng verifikasi katakanlah pernah ke SURGA dan NERAKA — sehinga aq bisa berkesimpulan REALLY TRUTH? SURGA dan NERAKA itu di PLANET mana ya? Aq sering kali bengong kaya David Hume — aq ragu atas semua yang aq yakini dan apa perlu aq yakin tanpa aq merasa yakin? Aq ini MURTAB kata orang, tapi kenapa ya aq ber pikir? Kalau aq berpikir apa itu dosa ya? Dunia sekitarku tampak banyak PROPOSISI, bagi aq hidup tampak semangkin KONTRADIKSI pada dirinya sendiri. Aq senang baca itu Epistemologi — semangkin aq baca kacaulah pikiranku ini he he wau wau katanya dan katanya dan katanya. Aq rasanya ingin meeting dengan semua almahum yang mempengaruhi dunia, mulai Pak To, Teles sampai orang jaman post modern ini, supaya ngak kacau kali he he — Am I TRUTH SEEKER?????

    Suka

  5. Kebenaran yang sebenar2nya tidak bisa diketahui manusia. Kita ini mahluk terbatas yang hanya bisa melihat sebagian. Puas saja dengan itu, dan pelan2 belajar untuk semakin bijaksana dalam hidup. Itu pendapat saya.

    Suka

  6. kurang satu topik yang dibahas pak, yaitu : orang yang banyak omong “belum tentu juga pintar”, pertama kali saya masuk kelas, saya langsung melihat teman-teman sekelas saya bagaimana, awalnya saya berpikir, wah mereka ini pintar ngomong semua dan kelihatannya pintar, tetapi ternyata>>>>>mereka cuma ngomong doang! beberapa kakak tingkatan datang ke ruang SAC di WM bukan untuk mengerjakan tugas structure dan vocabulary, tetapi untuk ngerumpi sama temen, dan cerita malam minggu ngapain sama pacarnya, bangga dikasih coklat sama pacarnya waktu valentine, oh my god! dan itu mengganggu sekali. seharusnya tugas itu dikerjakan sendiri-sendiri ternyata mereka ngobrol bersama untuk diskusi jawabannya apa, atau yang lebih parah lagi, mereka foto jawaban temannya di BB kemudian mereka mengerjakan tugasnya dengan melihat jawaban itu tanpa pake otaknya! lantas saya berpikir, kalau calon gurunya saja kayak begini, gimana mau ngajar muridnya?????gimana nanti kalau sudah jadi guru??? terjawablah sudah pertanyaan saya selama ini, mengapa lulusan S1 di Indonesia diragukan kredibilitasnya karena mereka cuma bisa menjadi komentator yang baik. kalau saya boleh saran pak, buat tulisan tentang “banyak ngomong belum tentu pintar” hehehhe

    Suka

  7. Bung Reja…artikel Anda benar-benar mencerahkan saya. Filsafat “belum tentu” itu sedang saya pegang hingga hari ini. tetapi orang kemudian mempertanyaakan saya. orang menuduh saya sebagai seorang yang tidak punya pendirian, juga tidak pede. dan sebagain lagi menuduh saya sebagai relativis….bagaimana tanggapan Anda ?

    Suka

  8. Pendirian anda, sejauh saya lihat, adalah sikap kritis itu sendiri. Artinya, anda tidak begitu percaya pada apa yang tampak, tetapi ingin membuktikan sendiri apa yang sebenarnya ada. Itu adalah suatu pendirian yang, menurut saya, amat bagus.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.