Demokrasi dan Rasa Jijik

blenderss.com
blenderss.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya

Semua teori tentang demokrasi berpijak pada satu prinsip yang sama, yakni kesetaraan antar manusia. Setiap orang memiliki harkat dan martabat yang sama. Setiap orang berhak untuk mendapatkan perlindungan hukum yang setara. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara orang kaya atau orang miskin, lelaki atau perempuan, dan agama minoritas atau mayoritas.

Dari kesetaraan ini lahirlah lalu nilai kedua, yakni keterbukaan. Demokrasi, kata Karl Popper, filsuf kelahiran Austria, di dalam bukunya yang berjudul Open Societies and Its Enemies, adalah masyarakat terbuka. Ia menentang segala bentuk pemaksaan, baik menggunakan suap ataupun todongan senjata. Ia memberikan ruang kehidupan untuk semua orang, apapun latar belakangnya.

Namun, di dalam masyarakat demokratis seperti Indonesia, dua prinsip ini terus berada dalam ancaman. Orang dibeda-bedakan seturut agama, ras, dan bahkan jenis kelaminnya. Yang satu lebih tinggi daripada yang lain. Orang-orang dengan latar belakang tertentu juga tidak bisa terlibat di dalam pemerintahan, semata karena ras, agama ataupun keyakinan politiknya yang berbeda. Lanjutkan membaca Demokrasi dan Rasa Jijik

Pretensi

blogspot.com
blogspot.com

atau…. Simulo ergo sum; Aku Berpura-pura, Maka Aku Ada

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Di dalam bukunya yang berjudul Masse und Macht, Elias Canetti, penulis dan pemikir asal Bulgaria, mencoba mengamati berbagai bentuk perilaku manusia, dan mengaitkannya dengan perilaku hewan. Salah satu perilaku yang menonjol adalah pretensi, atau berpura-pura. Perilaku semacam ini tampak di dalam perilaku bunglon. Ketika latar belakang berubah, maka si bunglon akan mengubah warna tubuhnya, guna menyesuaikan dengan latar belakangnya.

Manusia pun memiliki perilaku yang sama. Kita berpura-pura di hadapan orang lain, guna mencapai tujuan kita. Orang menyebutnya sebagai kemampuan beradaptasi, atau kemampuan untuk menyesuaikan diri. Namun, di balik itu, kita tahu, bahwa kita berusaha memoles tampilan luar kita, agar sesuai dengan keadaan di luar diri kita. Bahkan, kita menipu diri kita sendiri, demi supaya bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar kita.

Pretensi di Sekitar Kita

Politikus tampil terlihat kuat dan dapat dipercaya, supaya ia bisa memperoleh dukungan politik dari rakyat. Ia berpura-pura kuat dan kredibel, walaupun niat hatinya tetap tak dapat ditebak. Nyatanya, begitu banyak politikus, tidak hanya di Indonesia, menjadi koruptor di kemudian hari. Pretensi adalah suatu bentuk kebohongan, yang mengaburkan kenyataan dan bayangan. Lanjutkan membaca Pretensi

Logos dan “Apa yang Terpenting”

principlesforlifeministries.com
principlesforlifeministries.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Orang beragama menyebutnya sebagai “Tuhan”. Para seniman menyebutnya sebagai “Keindahan” yang bisa diekspresikan melalui berbagai karya. Para ilmuwan menyebutnya sebagai “Kebenaran” yang bisa didekati dengan berbagai metode. Para filsuf Yunani Kuno melihatnya sebagai “Logos“. Kata ini memiliki beberapa arti, yakni bahasa, roh atau akal budi.

Ada berbagai kata untuk hal ini. Saya menyebutnya sebagai “apa yang terpenting.” Ia terungkap dan bisa didekati dengan berbagai cara dan dari berbagai bidang. Ia menjadi pusat dari apa yang sesungguhnya kita cari dalam hidup. Namun, seringkali kita lupa akan hal ini.

“Apa yang terpenting” ini tertanam di berbagai bidang. Ia juga terungkap di berbagai media. Sebuah karya, apapun bentuknya, entah itu sebuah lukisan, musik, bangunan, atau tulisan, jika berhasil menangkap satu bagian kecil dari “apa yang terpenting”, maka akan menciptakan rasa getar dan kagum dari orang yang melihatnya. Tremendum et Fascinosum, kata Rudolf Otto. Lanjutkan membaca Logos dan “Apa yang Terpenting”

Membangun Budaya Mawas Diri

maurilioamorim.com
maurilioamorim.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Seringkali, kita sibuk untuk mengubah orang lain dan dunia di sekitar kita, supaya sesuai dengan keinginan kita. Namun, kerap kali pula, kita gagal. Lalu, kita pun kecewa, bersedih dan bahkan marah. Bagaimanapun diusahakan, dunia di luar kita, termasuk orang-orang di sekitar kita, tidak akan pernah sejalan dengan keinginan kita.

Inilah akar dari segala penderitaan di dunia, yakni ketika kita memaksa dunia luar sejalan dengan keinginan kita, lalu gagal. Jika seperti itu, kita patut mengajukan pertanyaan sederhana berikut. Apakah keinginan yang ada di dalam diri kita itu baik untuk diwujudkan? Jangan-jangan, keinginan kita itulah yang salah, sehingga ia tidak akan pernah menjadi kenyataan?

Mawas Diri

Dengan dua pertanyaan ini, kita lalu bisa melakukan refleksi diri. Dan refleksi diri adalah inti utama dari mawas diri. Mawas diri berarti kita mengawasi diri kita sendiri, terutama emosi dan pikiran-pikiran yang muncul di dalam diri. Ketika kita marah, sedih, cemas, ataupun gembira, kita lalu mengawasi perasaan-perasaan tersebut sebagai sesuatu yang sementara, bahkan ilusi. Lanjutkan membaca Membangun Budaya Mawas Diri

Pendidikan, Belajar dan Meneliti

Michael Alfano - Figurative and surrealistic sculptures - Tutt'Art@  (31)
Michael Alfano

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang penelitian di München, Jerman

Banyak universitas di Indonesia sekarang ini berusaha menjadi universitas riset (research university). Mereka menggelontorkan dana besar untuk penelitian, terutama di bidang-bidang yang populer di masyarakat dan menghasilkan uang. Mereka melakukan studi banding untuk meniru pola penelitian di berbagai universitas di luar negeri. Menurut saya, ini salah kaprah.

Universitas bukanlah lembaga penelitian. Universitas adalah lembaga pendidikan. Alasan adanya universitas adalah untuk mendidik. Kegiatan penelitian dilakukan bukan sebagai penelitian itu sendiri, melainkan untuk menunjang pendidikan.

Kualitas pendidikan adalah acuan utama pengembangan universitas. Ini adalah tujuan utama. Pengembangan ini dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah meningkatkan kualitas maupun jumlah penelitian, sehingga bisa membantu mengembangkan pendidikan di universitas. Kita tidak boleh bingung, yang mana alat, dan yang mana tujuan. Lanjutkan membaca Pendidikan, Belajar dan Meneliti

“Lemak-lemak” Kehidupan

huffpost.com
huffpost.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang Penelitian di München, Jerman

Hidup kita dipenuhi dengan “lemak-lemak”. Dalam arti ini, lemak adalah “sesuatu yang lebih”. Banyak orang mengejar dan menumpuknya, walaupun ia tidak membutuhkannya. Justru, “lemak-lemak kehidupan” inilah yang seringkali menghambat hidup kita.

Lemak di dalam tubuh fisik, sejatinya, memang memiliki fungsi ganda. Di satu sisi, manusia membutuhkannya untuk berbagai tujuan, seperti daya tahan tubuh, melawan dingin, dan sebagainya. Namun, tumpukan lemak dalam tubuh pula yang menciptakan berbagai penyakit, seperti jantung, kolesterol, dan sebagainya. Sebagai manusia, kita membutuhkan lemak dalam jumlah yang tepat, tidak lebih dan tidak kurang.

“Lemak-lemak” Pribadi

“Lemak-lemak kehidupan” tidak hanya ada di dalam tubuh, tetapi juga di semua bidang kehidupan. Hidup pribadi maupun hidup bersama kita sebagai masyarakat di Indonesia juga dipenuhi dengan lemak. Kehadiran lemak ini menutupi apa yang sungguh penting. Kita pun lalu sibuk dan membuang tenaga untuk hal-hal yang tidak penting. Lanjutkan membaca “Lemak-lemak” Kehidupan

Jembatan Antar Generasi

wadafinearts.com
wadafinearts.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Sedang Penelitian di München, Jerman

Di berbagai organisasi, kita sering menemukan tegangan antara generasi tua dan generasi muda. Generasi tua merasa lebih punya pengalaman dan kebijaksanaan, sehingga merasa berhak untuk memimpin atau memberikan nasihat-nasihat. Sementara, generasi muda merasa, bahwa mereka tidak dimengerti. Pandangan-pandangan dari generasi tua dianggapnya ketinggalan jaman, dan tidak lagi pas untuk keadaan jaman sekarang.

Saya punya pengalaman nyata soal ini. Alumni SMA saya mengadakan rapat. Kami hendak mengorganisir kembali lembaga-lembaga alumni, lalu membuat koordinasi yang lebih dekat dan kompak. Namun, sepanjang rapat, angkatan tua sungguh mendominasi. Mereka berbicara panjang, padahal intinya sama saja.

Mereka mengulang-ngulang hal yang sama. Sementara, generasi yang lebih muda diam saja, pasif mendengar, karena tidak diberi kesempatan untuk berbicara. Ketika rapat selesai, banyak dari generasi muda yang tidak lagi mau ikut rapat bersama. Mereka merasa, suara mereka tidak didengar, dan hanya diminta untuk menelan semua kata-kata dari generasi tua. Lanjutkan membaca Jembatan Antar Generasi

Kita dan Rekonsiliasi

blogspot.com
blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, Sedang Penelitian di München, Jerman

Sulit untuk menghindari konflik dalam hidup. Kita bisa konflik dengan orang di sekitar kita, seperti keluarga, teman atau rekan kerja. Kita juga bisa berkonflik dengan diri kita sendiri, misalnya ketika merasa bersalah, atau harus berpikir keras, guna membuat keputusan penting. Konflik pula yang menjadi akar dari semua permasalahan psikologis yang kita alami, mulai dari depresi, stress, sampai dengan trauma.

Konflik adalah gejala permukaan dari satu fakta mendasar dalam hidup, bahwa semua hal berubah. Perubahan adalah kepastian di dalam hidup, sama pastinya dengan kematian. Bahkan, kematian sendiri adalah bagian dari perubahan. Perubahan memungkinkan yang lama untuk mundur, dan yang baru untuk tampil ke depan. Konflik adalah salah satu pintu menuju perubahan.

Perubahan dan Rekonsiliasi

Hegel, filsuf Jerman, melihat gerak sejarah dunia sebagai gerak dialektika (dialektische Bewegung). Artinya, satu hal akan melahirkan lawannya sendiri. Keduanya lalu berhubungan dan bergesekan, sehingga menghasilkan hal baru yang merupakan “gabungan yang lebih baik” (Aufhebung) dari keduanya. Inilah yang disebut Hegel sebagai sintesis. Gerak dialektika ini terjadi di alam, masyarakat maupun di dalam hidup pribadi. Lanjutkan membaca Kita dan Rekonsiliasi

Siap Menang, Siap Kalah: Tentang Kebebasan Hati

blogspot.com
blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

Manusia hidup dengan tujuan di dalam hatinya. Tujuan itu memacunya untuk bangun pagi, dan kemudian bekerja. Tanpa tujuan, hidupnya terasa hampa. Tujuan yang mengental kuat kerap menjadi ambisi.

Ia lalu berusaha untuk mencapai ambisi tersebut. Segala daya upaya dilakukan, supaya ambisi itu menjadi kenyataan. Di dalam pertarungan politik dan bisnis, cara-cara yang jahat pun kerap digunakan. Tujuan dan ambisi hidup sering mengaburkan tata nilai dalam hidup kita.

Ambisi membuat kita hidup dalam tegangan. Kecemasan dan kegelisahan hidup membayangi hidup orang yang berambisi. Satu hal yang pasti disini, usaha bisa dilakukan, tetapi hasil tidak ada yang bisa memastikan. Ketidakpastian ini membuat tegangan di dalam diri menjadi semakin besar. Lanjutkan membaca Siap Menang, Siap Kalah: Tentang Kebebasan Hati

Politik “Menutup Diri”

thepartybazaar.com
thepartybazaar.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Para ahli politik dan ekonomi menyatakan, bahwa globalisasi telah membuka dunia lebar-lebar. Tidak ada jalan kembali. Semua negara harus membuka pintunya lebar-lebar, jika ingin mengembangkan ekonomi maupun politiknya. Perdagangan bebas antar negara dan keterbukaan politik adalah satu-satunya jalan menuju kemajuan. Apakah iya?

Apakah membuka pintu perdagangan lebar-lebar adalah jalan ekonomi terbaik untuk Indonesia saat ini? Apakah membiarkan setiap perusahaan asing menanamkan investasi di Indonesia adalah jalan terbaik sekarang ini? Apakah keterbukaan politik terhadap hubungan dengan negara lain adalah jalan terbaik untuk politik Indonesia sekarang ini? Perlukah kita meninjau ulang semua kebijakan kita terkait dengan keterbukaan ekonomi dan politik tanpa batas?

Sebuah strategi ekonomi atau politik membutuhkan pertimbangan kritis. Slogan keterbukaan ekonomi dan politik haruslah juga dipikirkan ulang secara kritis. Kita juga perlu untuk mempelajari beberapa pengalaman negara-negara lain terkait soal ini. Yang paling jelas adalah pengalaman Jepang. Lanjutkan membaca Politik “Menutup Diri”

Kopi, Ubah dan Gabungkan!

smartnetzone.com
smartnetzone.com

Tentang Kreativitas

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Apakah ada yang baru di atas muka bumi ini? Pertanyaan ini tentu tidak berlebihan, jika kita hidup dalam suatu tata dunia, dimana kreativitas dan inovasi mendorong perkembangan ekonomi, yang berarti juga terkait dengan kualitas hidup banyak orang. Tanpa inovasi dan kreativitas, ekonomi tidak akan berkembang. Itu artinya, semakin banyak orang hidup terjebak di bawah garis kemiskinan.

Ide Baru Kreativitas

Di dalam presentasi singkatnya dengan judul Embrace The Mix pada 2012 lalu, Kirby Ferguson mencoba merumuskan pandangan baru tentang arti dari kreativitas. Ia mengambil contoh dari dunia musik, terutama terkait dengan penyanyi AS terkenal, Bob Dylan. Menurutnya, yang terjadi sekarang adalah, “bagaimana hal baru diciptakan dari hal lama. Tekniknya ada tiga: kopi, ubah, dan gabungkan.”

Inilah yang disebut sebagai teknik Remix (menggabungkan ulang). Jika anda membuat lagu, gampang caranya. Pertama, anda kopi dari lagu yang sudah ada. Lalu, ada belah dan ubah susunan dari lagu itu. Setelah itu, anda gabungkan lagi potongan-potongan lagu itu sesuai dengan selera anda. Anda pun memiliki lagu baru! Namun, lagu baru tersebut tidaklah datang langit sebagai inspirasi murni, melainkan berpijak pada lagu lama yang sudah ada sebelumnya. Lanjutkan membaca Kopi, Ubah dan Gabungkan!

Kaum Intelektual dan In-“telek”-tual

amazonaws.com
amazonaws.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Sedang Penelitian di München, Jerman

Di dalam sejarah Indonesia, kaum intelektual memiliki peranan yang amat besar. Mereka mendorong revolusi kemerdekaan. Mereka juga terlibat aktif dalam pembangunan setelah kemerdekaan. Mereka adalah kaum terpelajar yang telah mendapat pendidikan tinggi, lalu membagikan pengetahuan mereka untuk kebaikan bersama. Tokoh-tokoh besar, seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir, Pramoedya Ananta Toer, adalah kaum intelektual Indonesia.

Namun, kaum ini sering disusupi oleh kaum lainnya, yakni kaum in-“telek”-tual. Telek berasal dari bahasa Jawa, yang berarti kotoran atau “tai”. Mereka berpakaian dan bersikap seperti kaum intelektual. Namun, mereka justru meracuni masyarakat dengan ide-ide jahat, dan justru memecah belah serta menciptakan pertikaian. Pikiran dan isi tulisan maupun kata-kata mereka bagaikan kotoran bagi kehidupan bersama.

Kita seringkali sulit membedakan kaum intelektual dan kaum in-“telek”-tual. Apa ciri-ciri dari kaum in-“telek”-tual ini? Bagaimana kita membedakan mereka? Bagaimana supaya kita tidak tertipu oleh kaum in-“telek”-tual ini? Lanjutkan membaca Kaum Intelektual dan In-“telek”-tual

Paradoks Kepemimpinan dan Pemilu Kita di 2014

creativeintelligenceinc.com
creativeintelligenceinc.com

Oleh B. Herry Priyono

Musim gempita membandingkan dua calon presiden/wakil-presiden hampir usai. Negeri ini akan segera memasuki pucuk waktu. Kita hendak berdiri beberapa menit di bilik pemungutan suara untuk menerobos momen genting yang akan memberi nama hari esok Indonesia.

Apa yang berubah sesudah kedua kubu menjajakan rumusan visi dan misi, program, dan mematut-matut diri dalam debat di televisi? Tidak banyak, kecuali emosi politik yang terbelah ke dalam pertarungan abadi antara “memilih dari keputusasaan” dan “memilih bagi harapan”. Setelah berbagai timbangan nalar dikerahkan, yang tersisa adalah tindakan memilih yang digerakkan dua daya itu. Mungkin kita bahkan tidak menyadarinya.

Namun dengan itu dua kubu juga kian membatu. Masih tersisa beberapa hari bagi kita untuk menimbang pilihan dengan akal-sehat. Barangkali tiga pokok berikut dapat dipakai menambah aneka kriteria yang telah banyak diajukan. Lanjutkan membaca Paradoks Kepemimpinan dan Pemilu Kita di 2014

Mencapai Kebebasan Batin

flickr.com
flickr.com

Sebuah Refleksi Filosofis

oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya, sedang penelitian di Jerman

Ketika Sukarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesian 1945 yang lalu, ada dua hal yang ada di dalam pikiran mereka, yakni kebebasan dan kemakmuran. Keduanya menjadi mimpi besar, tidak hanya untuk mereka berdua, tetapi juga untuk para bapak bangsa lainnya, seperti Sutan Sjahrir, Muhammad Yamin, dan sebagainya. Dengan kebebasan di tangan, bangsa Indonesia lalu mulai bisa membangun dirinya ke arah keadilan dan kemakmuran bagi semua warganya. Kebebasan dianggap sebagai jembatan emas menuju masyarakat yang paripurna. (Latif, 2011)

Sebagai pribadi, kita tentu juga ingin bebas. Kita ingin bisa menentukan hidup kita sesuai dengan keinginan kita. Kita juga ingin hidup aman, bebas dari rasa takut dan cemas atas hal-hal di luar diri kita. Keinginan untuk bebas tertanam secara alamiah di dalam jiwa manusia.

Penelitian yang dilakukan Institut für Gesellschaftspolitik di Jerman menunjukkan satu hal, bahwa kebebasan (Freiheit) merupakan nilai tertinggi di dalam masyarakat Jerman sekarang ini. (Reder, et.al, 2014) Hidup tak ada artinya, jika tidak ada kebebasan. Seluruh sistem politik dan ekonomi Jerman memang dirancang untuk bisa menampung cita-cita kebebasan semacam ini. Tentu, tidak ada sistem yang sempurna yang tidak lagi membutuhkan refleksi ulang. Lanjutkan membaca Mencapai Kebebasan Batin

Machiavelli dan Kecerdikan Politis

deviantart.net
deviantart.net

Oleh Reza A.A Wattimena

Jika anda ingin menjadi politikus, maka ada satu buku yang wajib anda baca. Judulnya adalah Il Principe, atau Sang Pangeran yang ditulis oleh Niccolo Machiavelli (1469-1527). Buku ini bisa menuntun anda untuk menjadi penguasa politik yang sejati, dan bukan yang murahan. Bahkan, dapat dibilang, buku ini adalah salah satu buku yang paling banyak mengundang tafsir dan debat sampai sekarang di kalangan para ahli ilmu politik, filsuf politik dan politikus itu sendiri.

Niccolo Machiavelli menulis buku itu pada 1532.1 pada waktu itu, ia adalah diplomat sekaligus pegawai pemerintahan di Florence (sekarang bagian dari Italia). Dalam karir politiknya, ia banyak berhubungan dengan Raja Perancis dan Raja Jerman (waktu itu Kekaisaran Romawi Suci). Karena suatu masalah politik, ia akhirnya dikejar dan kemudian dibunuh.

Machiavelli menulis tentang banyak tema, mulai dari etika, sejarah filsafat, puisi, politik, bahkan komedi. Namun, banyak orang mengenal nama Machiavelli hanya dari karya politiknya, Il Principe. Juga berkat buku itu, dan tafsiran atasnya, nama Machiavelli memiliki reputasi yang jelek. Ia lalu dikaitkan dengan ajaran tentang berbagai penipuan dan tindakan-tindakan jelek lainnya di dalam politik, demi meraih dan mempertahankan kekuasaan. Namun, König, sumber yang saya acu, menolak tafsiran jelek semacam itu. Lanjutkan membaca Machiavelli dan Kecerdikan Politis

Filsafat tentang Kesehatan

inquisitr.com
inquisitr.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Ketika merayakan hari lahir, banyak orang mendoakan, supaya kita selalu sehat. Kita pun mendoakan hal yang sama, ketika orang lain merayakan hari lahirnya. Di titik ini, kita bisa melihat, bagaimana kesehatan menjadi nilai yang penting dalam hidup manusia. Hal ini bisa diamati di berbagai peradaban, tidak hanya di Indonesia.

Kesehatan lalu disamakan dengan kebahagiaan. Orang tidak bisa bahagia, jika ia tidak sehat. Untuk menjadi sehat, orang juga perlu untuk menata pikiran dan pola hidupnya dengan pikiran-pikiran yang baik, yakni dengan kebahagiaan. Ada kaitan yang bersifat timbal balik dan amat erat antara kesehatan dan kebahagiaan.

Dipersempit

Namun, kita juga hidup di dalam masyarakat yang mempersempit arti kesehatan. Sadar atau tidak, kita hanya melihat kesehatan dalam arti kesehatan fisik semata. Banyak orang sibuk berolah raga dan makan makanan yang bergizi, supaya sehat. Yang banyak terjadi kemudian adalah, orang bisa berpenampilan ganteng, bertubuh indah, dan kelihatan keren, walaupun hidupnya sedih dan merana. Ini sebenarnya sama sekali tidak sehat. Lanjutkan membaca Filsafat tentang Kesehatan

Thomas Aquinas dan Summa Theologiae

deviantart.net
deviantart.net

Oleh Reza A.A Wattimena

Salah satu tema yang menjadi perhatian banyak orang di dunia sekarang ini adalah kaitan antara iman dan nalar. Iman kerap kali dipandang sebagai kepercayaan buta. Sementara, nalar dianggap sebagai bagian dari diri manusia yang sama sekali tak terkait dengan iman. Pemisahan semacam ini tidak hanya salah dalam level pikiran dan pengetahuan, tetapi juga bisa membawa petaka besar, seperti konflik dan perang.

Ketika dua hal itu dipisahkan, lalu kita seolah mendapat dua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan manusiawi yang selalu muncul di kepala kita, seperti darimana asal kita, kemana kita akan pergi, setelah kita mati, dan sebagainya. Jawaban yang mana yang benar? Ini tentu menciptakan banyak kebingungan. Tentang ini, saya rasa, kita perlu belajar dari Thomas Aquinas, terutama di dalam bukunya yang berjudul Summa theologica, atau Kumpulan dari Teologi.

Buku tersebut adalah salah satu buku terpenting di dalam Filsafat Abad Pertengahan Eropa yang ditulis sekitar tahun 1266-1273.1 Thomas Aquinas, penulisnya, hidup dari 1224 sampai dengan 1274. Masa ini dianggap sebagai masa keemasan dari Filsafat Skolastik Abad Pertengahan yang amat kuat mengakar di dalam tradisi Kristiani. Lanjutkan membaca Thomas Aquinas dan Summa Theologiae

Boethius: Antara Kebahagiaan, Kedamaian dan Kebebasan

blogspot.com
blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Nelson Mandela, almarhum, adalah Presiden Pertama Afrika Selatan yang terpilih secara demokratis. Sebelumnya, ia adalah tahanan politik selama 27 tahun, karena menentang sistem yang bersifat diskriminatif di Afrika Selatan, yang banyak juga dikenal sebagai Apartheid. Setelah menjadi presiden, ia tidak pernah terdorong untuk membalas dendam, namun justru mendorong proses perdamaian dan pengampunan, guna membangun masyarakat Afrika Selatan yang baru. Mengapa ia bisa melakukan itu?

Yesus, tokoh terpenting di dalam Agama Kristiani (bahkan mereka meyakininya sebagai Tuhan), dihukum mati dengan penyaliban. Ini adalah hukuman yang amat sadis dan menghina. Sebelum kematiannya, konon ia berkata, “Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu, apa yang mereka lakukan.” Bagaimana mungkin? Mengapa ia mau mengampuni para pembunuhnya?

Ada semacam kekuatan batin yang mendorong mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak mungkin. Pengampunan setelah pengalaman ketidakadilan adalah tindakan yang luar biasa mulia, namun amat sulit untuk dilakukan. Orang harus memiliki kekuatan batin dan kedamaian hati yang mendalam, supaya bisa melakukan itu. Untuk menerangkan ini, saya rasa, kita perlu untuk belajar dari Boethius, filsuf Eropa yang hidup pada masa kekaisaran Romawi. Lanjutkan membaca Boethius: Antara Kebahagiaan, Kedamaian dan Kebebasan

Seneca dan Kebebasan Batin

miro - seneca
blogspot.com

Seneca di dalam De vita Beata

Oleh Reza A.A Wattimena

Hidup adalah perjalanan yang penuh dengan bunga dan duri. Ini tidak dapat disangkal. Setiap orang mengalami masa-masa gelap dalam hidupnya. Namun, disela-sela masa-masa itu, mereka pun menemukan kebahagiaan.

Banyak orang yang lelah dengan perjalanan ini. Bagaimana mungkin saya bisa merasa bahagia, ketika saya tahu, ini semua hanya sementara, dan besok atau mungkin nanti sore, musibah lain akan datang menimpa saya? Orang-orang seperti ini lalu mencari cara untuk melampaui jatuh bangunnya kehidupan. Ada beragam cara, mulai dari menggunakan narkoba (ganja, heroin, ampfetamin), belanja gila-gilaan (konsumtivisme?), menjadi pengguna jasa pelacuran tetap (sex sampai mati untuk menutupi kesedihan?), menumpuk kekayaan (kalau perlu dengan korupsi?), pencarian segala bentuk kenikmatan lainnya (pesta setiap malam atau makan tanpa henti?), sampai dengan bunuh diri.

Pertanyaan penting disini adalah, apakah harus seperti itu? Apakah hidup itu harus selalu jatuh bangun dan naik turun? Apakah ada cara hidup yang lain? Untuk menjawab ini, kita perlu untuk menengok pemikiran Seneca. Lanjutkan membaca Seneca dan Kebebasan Batin

Filsafat Tentang Kesepian

wheresthedrama.com
wheresthedrama.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Ada lebih dari 6 milyar manusia di atas muka bumi sekarang ini. Akan tetapi, banyak orang masih hidup dalam kesepian yang menggerogoti jiwa. Inilah salah satu keanehan terbesar masyarakat manusia di awal abad 21 ini. Seperti lantunan lagu yang dinyanyikan Once dari Band Dewa, “di dalam keramaian, aku masih merasa sepi..”

Beragam penelitian dari berbagai bidang ilmu sampai pada satu kesimpulan, bahwa kesepian itu berbahaya. Ia mendorong orang untuk berpikir salah. Akibatnya, ia merasa kesal, dan bahkan mengalami depresi. Dari keadaan yang jelek ini, banyak orang lalu memutuskan untuk melakukan bunuh diri. (Solomon, 2002) Apakah kesepian selalu menggiring manusia ke arah kegelapan semacam ini?

Akar-akar Kesepian

Saya melihat, ada dua akar mendasar dari kesepian. Pertama adalah akar sistemik. Kita hidup di dalam masyarakat pembunuh. Ada dua ciri mendasar dari masyarakat pembunuh, yakni ketakutan pada segala bentuk perbedaan (cara berpikir yang berbeda, cara hidup yang berbeda, bahkan warna kulit yang berbeda) dan kecenderungan untuk melihat sistem, aturan serta kebijakan lebih penting dari hidup manusia. Lanjutkan membaca Filsafat Tentang Kesepian