Pretensi

blogspot.com
blogspot.com

atau…. Simulo ergo sum; Aku Berpura-pura, Maka Aku Ada

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Di dalam bukunya yang berjudul Masse und Macht, Elias Canetti, penulis dan pemikir asal Bulgaria, mencoba mengamati berbagai bentuk perilaku manusia, dan mengaitkannya dengan perilaku hewan. Salah satu perilaku yang menonjol adalah pretensi, atau berpura-pura. Perilaku semacam ini tampak di dalam perilaku bunglon. Ketika latar belakang berubah, maka si bunglon akan mengubah warna tubuhnya, guna menyesuaikan dengan latar belakangnya.

Manusia pun memiliki perilaku yang sama. Kita berpura-pura di hadapan orang lain, guna mencapai tujuan kita. Orang menyebutnya sebagai kemampuan beradaptasi, atau kemampuan untuk menyesuaikan diri. Namun, di balik itu, kita tahu, bahwa kita berusaha memoles tampilan luar kita, agar sesuai dengan keadaan di luar diri kita. Bahkan, kita menipu diri kita sendiri, demi supaya bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar kita.

Pretensi di Sekitar Kita

Politikus tampil terlihat kuat dan dapat dipercaya, supaya ia bisa memperoleh dukungan politik dari rakyat. Ia berpura-pura kuat dan kredibel, walaupun niat hatinya tetap tak dapat ditebak. Nyatanya, begitu banyak politikus, tidak hanya di Indonesia, menjadi koruptor di kemudian hari. Pretensi adalah suatu bentuk kebohongan, yang mengaburkan kenyataan dan bayangan.

Dalam berdagang, banyak orang juga berpura-pura. Sales berdandan rapi dan wangi, sehingga bisa memperoleh kepercayaan pembeli. Kerap kali, penjelasan yang ia berikan bersifat berlebihan, sehingga tidak mewakili kenyataan yang sesungguhnya dari barang atau jasa yang ia tawarkan. Pretensi adalah salah satu kunci utama dari pemasaran.

Di dalam pergaulan sehari-hari, kita pun menemukan banyak pretensi semacam ini. Kita berusaha tampil ramah dan bersahabat, walaupun hati kita tak nyaman. Kita berusaha tersenyum, walaupun mungkin hati dibakar amarah dan rasa benci. Pretensi semacam ini menghiasi kegiatan banyak orang di berbagai belahan dunia.

Di dalam permainan poker, ada kata yang pas sekali untuk hal ini, yakni poker face, atau wajah poker. Istilah ini menggambarkan orang yang mampu menyembunyikan emosinya dari orang lain. Ia tampak tenang, walaupun ia sedang mempersiapkan strategi untuk memenangkan permainan. Mungkin inilah pretensi dalam bentuknya yang paling halus, sehingga amat sulit untuk ditembus.

Alasan Pretensi

Pertanyaan pentingnya adalah, mengapa orang berpura-pura, atau berpretensi? Saya melihat ada tiga penjelasan dasar. Pertama adalah rasa takut. Orang berpura-pura, supaya ia bisa melindungi dirinya dari masalah yang akan datang, jika ia menampilkan jati diri aslinya.

Politikus yang menampilkan wajah korupnya tentu tidak akan dipilih di dalam pemilu. Pedagang yang mengungkap cacat dari barang yang ia jual tentu tidak akan dapat menjual barangnya. Rasa takut ini terkait dengan alasan kedua, yakni kebutuhan untuk bertahan hidup. Dengan berpura-pura, orang berharap bisa menyelamatkan dirinya dari berbagai ancaman yang ada.

Alasan ketiga adalah kebutuhan akan pengakuan. Orang melebih-lebihkan dirinya. Ia tertawa berlebihan. Ia berbicara berlebihan. Alasan sebenarnya hanyalah satu, yakni untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain, bahwa ia adalah orang yang hebat, berharga dan, mungkin saja, bahagia.

Di dalam bukunya yang berjudul Der Kampf um Anerkennung, Axel Honneth, filsuf asal Jerman, melihat berbagai gerakan sosial di masyarakat sekarang ini sebagai gerak untuk memperoleh pengakuan akan identitasnya masing-masing. Pretensi bisa dilihat sebagai salah satu alat untuk mencapai pengakuan semacam ini. Menurut Honneth, pengakuan adalah salah satu kebutuhan mendasar manusia. Orang bisa saja, secara sadar ataupun tidak, melakukan berbagai cara untuk memperoleh pengakuan.

Alasan keempat adalah pretensi sebagai cara untuk mencapai tujuan tertentu dengan jalan-jalan yang lebih mudah. Hal-hal yang berharga di dunia ini kerap sulit untuk dicapai. Ada orang yang lebih memilih untuk mencapai hal-hal tersebut dengan cara-cara yang gampang. Ia menipu orang lain, guna mendapatkan tujuannya.

Pretensi adalah salah satu cara terbaik untuk ini. Orang berpura-pura baik dan jujur, walaupun ia korup dan suka menipu. Jika orang lain tahu jati dirinya yang asli, maka tujuannya tidak akan tercapai. Maka, ia lalu bersembunyi di balik kedok perannya. Ia berpura-pura.

Alasan kelima adalah pretensi sebagai upaya untuk memotivasi diri. Orang seringkali merasa tidak percaya diri di hadapan tugas yang berat. Ia juga kerap kali gundah, jika harus berhadapan dengan orang-orang yang memiliki prestasi besar. Pretensi, dalam hal ini, diperlukan sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi diri, guna menghadapi tantangan di depan mata.

Alasan keenam adalah pretensi sebagai tindakan harapan. Orang berpura-pura rajin, walaupun ia malas. Alasannya, supaya ia bisa mengubah kebiasaannya yang malas, lalu menjadi orang yang rajin. Pretensi dibalut dengan harapan atas perubahan diri secara mendasar menjadi orang yang, menurut tolok ukur tertentu, lebih baik dari sebelumnya.

Alasan ketujuh masih terkait dengan alasan keenam, yakni pretensi sebagai tindakan harapan. Dengan pretensi, orang lalu berharap bisa mengembangkan dirinya. Ada dua dorongan dasar dari setiap kehidupan di muka bumi ini, yakni untuk mempertahankan diri dan untuk mengembangkan dirinya. Pretensi adalah salah satu cara yang paling efektif untuk mencapai keduanya.

Alasan kedelapan adalah pretensi sebagai bagian dari kebiasaan dan pengkondisian dari masyarakat. Di dalam beberapa masyarakat, pretensi adalah suatu keharusan. Ia adalah tindakan yang dianggap berharga dan wajib dijalankan oleh seluruh anggota masyarakat. Ketika pretensi sudah menjadi bagian dari pengkondisian masyarakat dan kebiasaan hidup, maka orang melakukannya secara otomatis.

Tegangan

Jauh di dalam hatinya, setiap orang adalah unik. Ia memiliki kemampuan yang unik pula. Ia juga memiliki cara pandang yang unik atas dunia. Ia adalah pribadi yang memiliki nurani yang tak dapat dibandingkan dengan manusia lainnya.

Orang yang rajin mendengarkan nuraninya yang unik akan menjadi pribadi yang otentik, yakni yang asli. Sikap berpura-pura, atau pretensi, jelas bertentangan dengan pribadi otentik semacam ini. Yang satu meniadakan, atau mengurangi, kehadiran yang lain. Kita dengan mudah menemukan dua tipe manusia ini di dalam berbagai pergaulan kita sehari-hari.

Namun, ada bahaya yang mengintai. Ketika orang terus menerus berpura-pura, sikap pura-pura ini lalu akan menjadi bagian tetap dari pribadinya. Ia lalu kehilangan jati dirinya yang asli dan unik, lalu hidup dengan pretensi terus-menerus. Orang lalu tidak mengenali siapa dirinya.

Ia pun tidak tahu, apa yang sungguh diinginkannya dalam hidup. Ia terombang ambing dalam kebimbangan batin dan ketidakpastian pilihan hidup. Inilah keadaan batin manusia yang disebut sebagai keterasingan. Dari luar, ia terlihat bahagia dan penuh semangat. Namun, di dalam hatinya, ia hampa.

Keterasingan lalu menggiring orang ke dalam kehampaan hidup. Orang hidup tanpa nilai, kecuali kenikmatan sesaat. Segala kenikmatan dicoba, kalau perlu dengan merugikan orang lain, atau masyarakat luas. Pretensi menciptakan keterasingan, dan keterasingan lalu melahirkan kehampaan. Pada titik yang tertinggi, pretensi meledak, dan jalan keluar satu-satunya yang tampak adalah bunuh diri.

Inilah gejala masyarakat dunia di awal abad 21 ini. Setiap orang digiring dan dicetak untuk menjadi tipe pribadi tertentu, yang kerap kali berbeda dengan jati dirinya yang asali. Otak kita digempur dengan iklan dan wejangan moral soal kesucian semu serta kesuksesan material. Semua ini dilakukan, tanpa kepedulian pada panggilan hati kita yang paling sejati sebagai manusia.

Pretensi lalu menjadi cara hidup. Aku berpura-pura, maka aku ada. Simulo Ergo Sum. Orang tak lagi melihat cara hidup yang lain, selain cara hidup yang berpura-pura. Ia mencoba merumuskan berbagai pandangan, guna membenarkan cara hidupnya ini.

Tentu, ini adalah pandangan yang harus ditanggapi secara kritis. Dalam beberapa hal, haruslah diakui, bahwa kita harus berpura-pura. Ada berbagai alasan untuk ini, dan beberapa diantaranya cukup masuk akal, sehingga bisa diterima. Namun, pretensi tidak boleh menjadi cara hidup yang mutlak.

Ia harus terus disadari sebagai sesuatu yang sementara, dan harus segera dilepas, ketika keadaan memungkinkan. Dengan kesadaran akan kecenderungan batin yang terus berpura-pura, orang akan memiliki kemampuan untuk mengendalikannya. Pretensi lalu tidak lagi menjadi tuan atas dirinya…

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

6 thoughts on “Pretensi”

  1. Mantap, Pak Dosen!

    Pada umumnya, seseorang berpura-pura (pretensi), adalah untuk Klkeselamatan dirinya di medan sosial.

    Ketika corak komunitas sosialnya berbeda dengan karakter pribadi seseorang, mau tidak mau, ia harus berkamuflase sesuai dengan ”warna” dalam komunitas sosialnya. Supaya ia, diakui dalam lingkungan tersebut. Tentu banyak manfaatnya, semisal mudah mendapat teman dan mempermudah kepentingan-kepentingannya di dalam lingkungan sosialnya tsb.

    Namun, apapun motifnya, yg namanya berpura-pura, tentu menyiksa diri.
    Karena setiap yang diucapkan maupun diperbuat, bukanlah dirinya sendiri apa adanya.
    Bukan dunianya sendiri. Melainkan, dunia eksternal dari dirinya.
    Akibatnya, orang yg berpura-pura akn teralienasi dari dirinya sendiri.

    Titip link:
    Kabar Panas DotCom

    Suka

  2. Konon memang orang sekarang, tidak perlu kaya, yang penting keliharan kaya; tidak perlu pintar, yang penting kelihatan pintar; tidak perlu beli blackberry, yang penting punya yang mirip dengan blackberry dsb.

    Suka

  3. seni menyesuaikan diri secara sosial. 🙂 kenyataan bahwa bangunan sosial dibangun diatas pretensi, mungkin juga karena asumsi bhwa hidup tak dapat dilihat secara mutlak hitam-putih, pretensi bertumpu pada kepentingan, mungkin 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s