Pendidikan, Belajar dan Meneliti

Michael Alfano - Figurative and surrealistic sculptures - Tutt'Art@  (31)
Michael Alfano

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang penelitian di München, Jerman

Banyak universitas di Indonesia sekarang ini berusaha menjadi universitas riset (research university). Mereka menggelontorkan dana besar untuk penelitian, terutama di bidang-bidang yang populer di masyarakat dan menghasilkan uang. Mereka melakukan studi banding untuk meniru pola penelitian di berbagai universitas di luar negeri. Menurut saya, ini salah kaprah.

Universitas bukanlah lembaga penelitian. Universitas adalah lembaga pendidikan. Alasan adanya universitas adalah untuk mendidik. Kegiatan penelitian dilakukan bukan sebagai penelitian itu sendiri, melainkan untuk menunjang pendidikan.

Kualitas pendidikan adalah acuan utama pengembangan universitas. Ini adalah tujuan utama. Pengembangan ini dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah meningkatkan kualitas maupun jumlah penelitian, sehingga bisa membantu mengembangkan pendidikan di universitas. Kita tidak boleh bingung, yang mana alat, dan yang mana tujuan.

Pendidikan

Sebelum berbicara mengenai pengembangan universitas sebagai lembaga pendidikan, kita perlu terlebih dahulu paham sepenuhnya, apa arti pendidikan. Dari sejarah pemikiran manusia, saya setidaknya menyimpulkan dua esensi utama pendidikan. Yang pertama adalah pendidikan sebagai proses pemanusiaan. Dalam arti ini, pendidikan mengembangkan seluruh aspek diri manusiawi, sehingga ia berkembang menjadi manusia yang beradab dan berbudaya seutuhnya.

Yang kedua adalah pendidikan sebagai proses penyadaran (konsientisasi). Penyadaran ini terjadi di dua bidang. Yang pertama adalah penyadaran akan gerak batin di dalam diri, termasuk hal-hal apa yang mempengaruhi emosi maupun perasaan pribadi di dalam diri. Yang kedua adalah penyadaran sosial politik, yakni penyadaran akan keadaan sosial di sekitar kita, termasuk segala masalah-masalah sosial yang ada.

Universitas dan sekolah sebagai lembaga pendidikan harus sungguh-sungguh memahami dua makna pendidikan ini. Guru dan dosen di lembaga pendidikan tersebut haruslah sungguh menjadikan dua paham ini sebagai paham pribadi hidup mereka. Kegiatan penelitian dan pembelajaran juga harus ditempatkan di dalam konteks pemanusiaan dan penyadaran yang merupakan isi utama dari pendidikan.

Belajar dan Meneliti

Salah satu bagian terpenting dari pendidikan adalah pembelajaran. Namun, apa arti belajar? Setiap saat, manusia belajar. Kita menyerap informasi tentang berbagai hal. Bahkan, dari permainan pun kita belajar untuk menambah informasi di dalam diri kita.

Namun, belajar tidak hanya menyerap informasi. Pikiran kita pun aktif menerima dan mengolah informasi tersebut. Informasi yang diolah tersebut lalu berubah menjadi pengetahuan. Dari pengetahuan, kita lalu belajar untuk bertindak dan membuat keputusan di dalam hidup sehari-hari.

Belajar juga berarti meningkatkan ketrampilan. Dari informasi yang diperoleh, kita lalu bisa memiliki suatu kemampuan tertentu. Dengan kemampuan itu, kita lalu bisa bekerja, guna menunjang hidup, dan mengembangkan diri kita. Belajar dalam arti menerima dan mengolah informasi, sehingga berbuah menjadi perbuatan dan keahlian, adalah bagian penting dari kehidupan.

Unsur penting dari belajar adalah informasi dan pengetahuan yang bisa dipercaya. Pengetahuan yang bisa dipercaya ini lahir dari kegiatan penelitian yang juga bisa dipercaya. Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan penelitian? Secara singkat, penelitian adalah kegiatan menjawab satu pertanyaan yang ada di dalam dunia dengan menggunakan metode dan paradigma tertentu.

Dalam arti ini, penelitian bisa dilakukan di berbagai bidang. Tolok ukurnya pun berbeda-beda. Penelitian budaya tidak bisa disamakan tolok ukur metode dan keberhasilannya dengan penelitian mikrobiologi di dalam laboratorium. Penelitian di bidang filsafat tidak bisa disamakan dengan penelitian di bidang hukum. Dari kesemuanya, ada satu yang mengikat, yakni keberanian untuk menjawab pertanyaan dengan menggunakan metode dan paradigma tertentu.

Mentalitas dan Budaya

Apa yang menunjang pengembangan penelitian dan pembelajaran di dalam universitas sebagai lembaga pendidikan? Sarana tentu penting. Uang juga penting. Penghargaan dari masyarakat dan pemerintah juga memainkan peranan besar. Namun, itu semua bukanlah yang terpenting.

Yang terpenting adalah mentalitas perorangan dan budaya universitas (university culture). Saya melihat empat hal yang penting sebagai dasar kultural dari pendidikan yang berpijak pada pembelajaran dan penelitian yang bermutu. Yang pertama adalah budaya egaliter, atau kesetaraan. Artinya sederhana.

Professor yang sudah senior dengan mahasiswa semester pertama memiliki kedudukan yang setara. Keduanya sama-sama manusia yang bisa menemukan kebenaran, dan juga bisa salah. Tidak ada perbedaan antara dosen tua dan dosen muda. Keduanya bekerja sama sebagai manusia yang setara untuk belajar dan meneliti bersama.

Kedua adalah mental berani bertanya. Di dalam organisasi yang feodal, pertanyaan adalah sesuatu yang berbahaya. Pertanyaan dianggap menganggu struktur kekuasaan yang ada. Maka, ia ditabukan.

Universitas sebagai lembaga pendidikan tidak boleh berubah menjadi organisasi feodal. Professor tidak boleh gila hormat, misalnya harus dipanggil dengan gelar “Prof”. Mahasiswa tidak boleh malu dan ragu untuk bertanya. Di dalam organisasi yang memiliki budaya egaliter dan keberanian untuk bertanya, penelitian dan pembelajaran akan berkembang pesat. Kualitas pendidikan sebagai keseluruhan pun akan meningkat.

Mentalitas ketiga adalah keberanian untuk menantang pandangan-pandangan lama yang mengental menjadi dogma di berbagai bidang. Ilmu pengetahuan berkembang melalui kritik. Pandangan baru menantang dan membongkar pandangan lama di berbagai bidang. Inilah yang disebut sebagai revolusi ilmiah yang menunjang seluruh proses pendidikan di universitas.

Mentalitas keempat adalah sikap rajin dan jujur. Belajar dan meneliti membutuhkan ketekunan luar bisa, supaya bisa sampai pada pengetahuan baru dan pengembangan diri. Ini tidak bisa dilakukan, ketika organisasi (misalnya universitas) cenderung kerja santai-santai, dan tidak patuh pada tanggung jawab kerja yang ada. Kejujuran dalam mengakui, bahwa dirinya bisa salah, juga merupakan bagian penting dari pengembangan dunia pendidikan. Kejujuran dalam soal keuangan dan tata kelola juga amatlah penting.

Pengembangan Pendidikan

Yang harus terus diingat adalah, bahwa penelitian bukanlah tujuan pada dirinya sendiri. Ia bukanlah tujuan tertinggi. Di dalam universitas, tujuan tertinggi adalah pengembangan pendidikan. Penelitian dan pembelajaran dikembangkan sebagai bagian dari proses yang lebih luas, yakni proses pendidikan.

Penelitian dan pembelajaran hanya bisa berkembang, jika universitas-universitas di Indonesia sudah mempunya budaya dan mentalitas tertentu. Uang dan sarana fisik yang diciptakan memang membantu proses pengembangan. Namun, itu semua percuma, tanpa pengembangan mentalitas dan budaya universitas yang egaliter, kritis, revolusioner, rajin dan jujur. Studi banding ke universitas-universitas luar negeri juga akan menjadi sia-sia, jika mentalitas dan budaya ini tidak diperhatikan.

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

5 tanggapan untuk “Pendidikan, Belajar dan Meneliti”

  1. Salam kenal pak..entah komen saya ini connect langsung dengan artikel bp kali ini atau tidak,membaca posting bp saya jadi teringat banyaknya kasus plagiarisme pada beberapa riset (tugas akhir) di perguruan tinggi..riset yang seharusnya menjadi penunjang pengetahuan menjadi kehilangan fungsinya..untuk mengembalikan hal tersebut perlu adanya jiwa yang tercerahkan..dimana jiwa yang tercerahkan baru bisa diperoleh lewat pendidikan..pendidikan yang mencerdaskan emosi..namun saya pribadi,melihat pendidikan di sini lebih terfokus untuk mencerdaskan intelektual dan apalagi tuntutan zaman yang kini sangat matrealistik..sepertinya sebuah pekerjaan rumah yang sangat besar untuk menjadi pribadi yang tercerahkan di kondisi seperti saat ini :)..thanks pak, untuk tulisannya..

    Suka

    1. saya sepakat. Plagiarisme pada dirinya sendiri tidaklah salah. Banyak orang melakukannya, karena tidak tahu. Yang harus diperhatikan adalah pikiran orang yang melakukannya. Ini harus sungguh dipahami. Saya sepakat pada argumen anda soal kritik pendidikan.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s