Demokrasi dan Rasa Jijik

blenderss.com
blenderss.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya

Semua teori tentang demokrasi berpijak pada satu prinsip yang sama, yakni kesetaraan antar manusia. Setiap orang memiliki harkat dan martabat yang sama. Setiap orang berhak untuk mendapatkan perlindungan hukum yang setara. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara orang kaya atau orang miskin, lelaki atau perempuan, dan agama minoritas atau mayoritas.

Dari kesetaraan ini lahirlah lalu nilai kedua, yakni keterbukaan. Demokrasi, kata Karl Popper, filsuf kelahiran Austria, di dalam bukunya yang berjudul Open Societies and Its Enemies, adalah masyarakat terbuka. Ia menentang segala bentuk pemaksaan, baik menggunakan suap ataupun todongan senjata. Ia memberikan ruang kehidupan untuk semua orang, apapun latar belakangnya.

Namun, di dalam masyarakat demokratis seperti Indonesia, dua prinsip ini terus berada dalam ancaman. Orang dibeda-bedakan seturut agama, ras, dan bahkan jenis kelaminnya. Yang satu lebih tinggi daripada yang lain. Orang-orang dengan latar belakang tertentu juga tidak bisa terlibat di dalam pemerintahan, semata karena ras, agama ataupun keyakinan politiknya yang berbeda.

Basuki Tjahya Purnama, alias Ahok, didemo oleh FPI, karena ia berasal dari etnis dan agama minoritas. Orang keturunan Cina nyaris tak mungkin untuk terlibat di dalam politik, guna mempengaruhi pembuatan keputusan politik. Orang beragama minoritas juga nyaris tak mungkin terlibat di dalam politik. Diskriminasi adalah udara sehari-hari yang dihirup oleh jutaan kelompok minoritas di Indonesia, mulai dari ras minoritas, agama minoritas sampai dengan kaum perempuan.

Rasa Jijik

Di dalam bukunya yang berjudul Not for Profit, Why Democracy Needs the Humanities, Martha Nussbaum menulis, bahwa akar dari semua bentuk diskriminasi di dalam masyarakat demokratis adalah rasa jijik. Ia menjadi latar belakang yang melahirkan segala bentuk diskriminasi. Sedikit sekali pandangan tentang demokrasi yang berusaha memahami rasa jijik di balik rasisme. Pertanyaan yang penting untuk dijawab adalah, apa hakekat dari rasa jijik ini?

Nussbaum menegaskan, bahwa rasa jijik memiliki dua akar, yakni animalitas dan kontaminasi. Animalitas berarti, kita melihat orang lain sebagai hewan yang harkatnya lebih rendah dari pada kita. Kontaminasi berarti, kita melihat orang lain sebagai kotoran yang menodai kemurnian masyarakat kita. Dua pola pikir ini menjadi dasar dari rasa jijik kita sebagai manusia, baik disadari atau tidak.

Dua prinsip ini berakar lagi pada ketakutan yang lebih dalam, yakni ketakutan, bahwa saya akan menjadi seperti orang yang saya benci. Kita membenci kelompok minoritas, karena kita takut, kita akan menjadi seperti mereka, baik dalam hal cara berpikir ataupun bertindak. Lalu, kita pun melihat mereka sebagai sejenis “hewan” yang harkatnya lebih rendah daripada kita. Kita menganggap mereka sebagai kelompok yang mengotori kemurnian masyarakat kita.

Padahal, sejatinya, tidak pernah ada masyarakat yang murni. Tidak ada agama yang murni. Semuanya berangkat dari percampuran, baik percampuran dengan budaya yang sudah sebelumnya ada, seperti Kristiani dan budaya Yunani, maupun percampuran dengan budaya dari tempat lain, seperti Islam yang erat bercampur dengan Jawa. Melihat dunia dengan kaca mata murni dan tidak murni adalah salah satu kesesatan berpikir terbesar yang pernah ada.

Target Rasa Jijik

Ada tiga kelompok yang menjadi target dari rasa jijik sosial semacam ini, yakni kelompok minoritas, orang gila, dan perempuan. Tiga kelompok ini menjadi sasaran kebencian dan rasa jijik di berbagai negara, mulai dari Eropa Barat sampai dengan pendalaman hutan di Papua. Die Eropa Barat, kelompok minoritas Islam dan orang-orang dari Eropa Timur terus mengalami diskriminasi di berbagai bidang. Kaum perempuan di negara-negara Timur Tengah harus rela ditutup seluruh tubuhnya, supaya tidak mengundang nafsu kaum pria.

Di semua negara tersebut, orang gila ditangkap, lalu dikurung di dalam penjara, supaya ia tidak mencemari kebersihan masyarakat. Tindak rasis dan diskriminatif semacam itu berakar pada dua hal sebelumnya, yakni animalitas dan kontaminasi. Dalam arti ini, musuh terbesar demokrasi adalah rasa jijik sosial (social disgust). Selama ia masih tersebar dan tertanam di dalam masyarakat, bahkan seringkali tanpa disadari, prinsip-prinsip demokrasi tidak akan pernah terwujud di dalam kenyataan. Selama rasa jijik tetap bercokol di kepala kolektif masyarakat kita, selama itu kesetaraan dan keterbukaan hanya menjadi slogan belaka, tanpa pelaksanaan.

Apakah ini yang kita inginkan?

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

2 tanggapan untuk “Demokrasi dan Rasa Jijik”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s