Dengarkanlah: Pandangan Hidup Timur, Zen dan Jalan Pembebasan

Buku, “Dengarkanlah” karya Reza A.A Wattimena

WA: 0813 1531 5699

Menyelamatkan Pengetahuan

Rules of Knowledge by the-surreal-arts

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Manusia adalah mahluk yang ingin tahu. Di dalam hatinya, ada dorongan untuk memahami segala yang ada, dari gosip terbaru sampai dengan struktur alam semesta. Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah buah dari berkembangnya rasa ingin tahu tersebut.

Sayangnya, pengetahuan sekarang ini telah mengalami penyempitan. Ia dilihat bukan lagi sebagai ekspresi dari sisi terdalam manusia, melainkan sekedar sebagai alat untuk mengabdi pada penguasa. Dengan kata lain, pengetahuan telah menjadi budak bagi kekuasaan, baik kekuasaan politik maupun bisnis. Lanjutkan membaca Menyelamatkan Pengetahuan

Yang di BANDUNG, Mari Merapat

Perilaku Konsumtif, Akar dan Kutukannya

Tony Futura

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Ribuan orang mengepung mall-mall besar Jakarta setiap minggunya. Ada yang sekedar menikmati udara dingin AC mall. Sebagian besar sibuk berbelanja dan makan. Mereka membeli, dan dari proses membeli tersebut, mereka memperoleh kenikmatan sesaat.

Perilaku konsumtif adalah gejala umum di kalangan masyarakat sekarang ini. Orang membeli barang yang tak sungguh ia butuhkan, melainkan karena sekedar ikut trend, atau untuk memperoleh pengakuan sosial yang sifatnya sementara dan rapuh. Kepercayaan dirinya pun diukur dari sejauh mana ia mampu membeli barang-barang yang ada. Aku membeli, maka aku ada, begitulah semboyan mereka. Lanjutkan membaca Perilaku Konsumtif, Akar dan Kutukannya

Yang di SURABAYA: Mari Merapat

Pencerahan Final di dalam Zen

Creators – Vice

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Salah satu tujuan orang belajar filsafat dan Zen adalah mendapatkan pencerahan. Di dalam filsafat Eropa, pencerahan dipahami sebagai bangunnya manusia dari ketidakdewasaan yang diciptakannya sendiri. Pemahaman ini diperoleh dari filsafat Immanuel Kant. Artinya, manusia berani untuk mulai berpikir mandiri, lepas dari segala bentuk tradisi yang selama ini memenjarakannya.

Di dalam tradisi Zen, yang berkembang dari India, Jepang, Cina dan Korea, pencerahan memiliki isi yang berbeda. Pencerahan adalah pengalaman kesatuan, dimana diri melebur dengan segala yang ada, dan menjadi satu dengannya. Tidak ada lagi subyek dan obyek, atau diri yang merasa terpisah dari lingkungannya. Tidak ada lagi penderitaan dan kesalahan berpikir yang selama ini menghantui. Lanjutkan membaca Pencerahan Final di dalam Zen

Dalam Cengkraman Kemiskinan

Art Ranked Discovery Engine

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Kereta arah Bandara Soekarno Hatta Jakarta dari Sudirman memang sangat canggih dan nyaman. Ini prestasi besar bagi bangsa Indonesia, walaupun sudah seharusnya dari dulu diciptakan. Namun, karena politik yang lamban dan korup, ia akhirnya baru tercipta sekarang. Kereta ini merupakan jalan keluar efektif untuk kemacetan dan kekacauan perjalanan dari dan ke arah Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.

Tempat duduknya sangat nyaman. Peraturan juga ditegakkan dengan baik. Suasana juga amat bersih dan aman. Dalam banyak hal, kereta ini bahkan lebih nyaman, daripada kereta yang biasa saya tumpangi di negara-negara dengan tingkat ekonomi maju. Lanjutkan membaca Dalam Cengkraman Kemiskinan

Aku Membingungkan, Maka Aku Seksi

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Inilah suasana di sebuah konferensi ilmiah. Seorang pembicara menyampaikan hasil penelitiannya. Gelarnya tinggi, dari universitas ternama di dunia. Berbagai kata dan konsep rumit disampaikan. Peserta mendengarkan dengan seksama.

Setelah itu, tanya jawab pun dimulai. Sama seperti presentasi sebelumnya, pertanyaan pun diikuti dengan konsep dan kata yang rumit pula. Hal yang sama berulang sampai tiga kali. Pembicara berikutnya maju ke depan, dan pola yang sama berulang kembali. Lanjutkan membaca Aku Membingungkan, Maka Aku Seksi

Peluncuran Buku: Zen

Terbitan Ilmiah Terbaru: Melampaui Terorisme, Pendekatan Komprehensif untuk Memahami dan Menangkal Terorisme

Oleh 

Reza A.A Wattimena

Bustanul Arifin

Diterbitkan dalam MANDALA: Jurnal Ilmu Hubungan Internasional

Vol 1 no.1 Januari-Juni 2018

Prodi Ilmu Hubungan Internasional FISIP UPN”Veteran” Jakarta

Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan langkah dan strategi yang harus dilakukan, guna menghadapi permasalahan terorisme yang semakin berkembang pesat di awal abad 21 ini. Riset ini akan menganalisa penyebab dan alasan mendasar lahirnya terorisme yang kemudian menjadi tantangan serius bagi masyarakat internasional, khususnya Indonesia. Adapun yang menjadi latar belakang penelitian ini adalah berkembangnya terorisme yang semakin pesat dan subur yang mengancam kestabilan dan keutuhan sebuah negara. Mengapa terorisme bisa berkembang semakin subur? Adakah yang salah dengan upaya dan strategi yang telah digunakan selama ini? Dan, perlukah pendekatan dan cara baru untuk melawan terorisme ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi landasan bagi penulis untuk mengekplorasi lebih mendalam tentang dinamika terorisme ini dengan contoh negara seperti Indonesia. Pemikiran yang sempit dari individu dan kelompok, serta kurangnya pemikiran yang kritis terhadap informasi ataupun perkembangan kehidupan yang dilihat, dan kegagalan cinta, telah mendorong terjadinya pemahaman radikal yang mendorong menjadi teroris. Maka, dalam penelitian ini, transendensi mampu menjadi sebuah cara mendasar dalam merubah akar permasalahan yang mendorong individu atau kelompok menjadi radikal. Transendensi tersebut harus diikuti dengan pendekatan komprehensif dari pemerintah, masyarakat dan perubahan keadaan sosial, khususnya ekonomi dan pendidikan.

Kata Kunci: Terorisme, Transendensi, Radikalisme, Penanggulangan Teroris, Indonesia, dan Demokrasi

Bisa diperoleh di:  Melampaui Terorisme

Undangan Diskusi: Jantung Hati Filsafat dan Teori Sosial Jerman

Mari Merapat

Tuna Nalar Global

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Tiga negara, yakni Amerika Serikat, Prancis dan Inggris, menyerang Suriah minggu ini. Alasannya: diduga Suriah menggunakan senjata kimia di dalam konflik dalam negeri mereka. Donald Trump, Presiden AS, langsung memerintahkan serangan militer terhadap Suriah dengan dukungan sekutunya, yakni Inggris dan Prancis. Hanya karena dugaan, serangan militer yang menghancurkan kehidupan Suriah, bahkan ketika mereka sedang mengalami konflik internal, dilakukan. Nalar apa yang bekerja disini?

Di dalam hukum internasional, dugaan selalu menuntut penyelidikan, bukan serangan militer. AS punya reputasi buruk soal ini. Perang Korea, Perang Vietnam dan Perang Irak kedua pada 2003 lalu dilakukan atas dugaan yang justru nantinya terbukti salah. Masalahnya, perang semacam ini memakan banyak sekali korban jiwa, harta-benda serta menciptakan penderitaan yang amat besar bagi mereka yang selamat. Ini tentunya tidak bisa dibenarkan. Lanjutkan membaca Tuna Nalar Global

Terbitan Buku Terbaru: Dengarkanlah, Zen, Pandangan Hidup Timur dan Jalan Pembebasan

Oleh Reza A.A Wattimena 

Pemesanan bisa di 
Penerbit Karaniya
JL.Mangga I Blok F 15
Duri Kepa, Kebon Jeruk
Jakarta Barat 11510
Telepon: +6221 568 7957
WhatsApp: +62 813 1531 5699

Atau di Toko Buku Terdekat

Buku ini lahir dari penderitaan yang saya alami. Selama bertahun-tahun, saya hidup dalam depresi. Secara singkat, depresi dapat dipahami sebagai kesedihan yang berkelanjutan, kerap kali tanpa alasan yang jelas, dan membuat orang tidak bisa menjalani kesehariannya dengan damai dan bahagia. Depresi ini mempengaruhi banyak unsur dalam hidup saya, mulai dari soal hubungan pribadi, sampai dengan hubungan profesional.

Saya kerap kali bertanya, apakah hidup memang seperti ini? Ketika keadaan tidak sesuai keinginan, penderitaan dan kekecewaan muncul. Saya juga menyaksikan, begitu banyak keluarga dan teman-teman saya terjebak pada soal yang sama. Mereka mencoba menemukan jalan keluar melalui agama ataupun konsultasi dengan profesional. Namun, jawaban atas permasalahan mereka tak kunjung tiba. Lanjutkan membaca Terbitan Buku Terbaru: Dengarkanlah, Zen, Pandangan Hidup Timur dan Jalan Pembebasan

Terbitan Terbaru: How to Be a Nationalist in The Cosmopolitan Era? A Historical and Scientific Reflection

Oleh Reza A.A Wattimena

Dalam Terbitan

THE ARY SUTA CENTER SERIES ON STRATEGIC MANAGEMENT

April 2018, Volume 41

Bisa didapatkan di

Ary Suta Center
Contact person:
Priska (081370170585)
Nurul (085362026629)
Email: arysutacenter@arysutacenter.com

Abstract

Nationalism provides foundation for the love of one’s nation. This feeling is based on the shared history and mutual purpose for the future, which stand on solidarity and feeling of unity in a certain group. However, nationalism can often be used as justification for national fanaticism that sacrifice the interests of other groups or other nations. A new interpretation of nationalism in the cosmopolitan era is needed, where interdependence between nations and groups become a concrete and factual reality, and at the same time, the consciousness that human as an integral part of universal order is increasing. This article is an effort to place nationalism in the cosmopolitan framework, which puts highest importance on struggle to create tolerance, solidarity and social equality.

Key Words: Nationalism, Cosmopolitanism, Tolerance, Solidarity Lanjutkan membaca Terbitan Terbaru: How to Be a Nationalist in The Cosmopolitan Era? A Historical and Scientific Reflection

Buku Terbaru: To Infinity and Beyond, Cosmopolitanism in International Relations

Penulis

Reza A.A Wattimena

Anak Agung Banyu Perwita

Penerbit: Ary Suta Center

Bisa didapatkan di

Ary Suta Center
Contact person:
Priska (081370170585)
Nurul (085362026629)
Email: arysutacenter@arysutacenter.com

Forewords 

Ary Suta Center stands for three things, namely building competencies, value creation and increasing competitiveness in Indonesia. Central to these things is the cooperation in scientific researchs and programs with so called people with fair minds and executive intelligence. From this cooperation, the higher level of competitiveness and value creation can be created in order to enhance the innovative capabilities of Indonesian based on good leadership, strategy and critical thinking in various areas of life, namely social-cultural, politics, economics, human relations and education. Lanjutkan membaca Buku Terbaru: To Infinity and Beyond, Cosmopolitanism in International Relations

Trilogi Filsafat Jerman dan Demitologisasi Kehidupan

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Sudah sejak awal, filsafat berusaha memahami dunia dengan segala isinya. Salah satu jalannya adalah dengan membongkar beragam kesalahan berpikir yang bercokol di kepala manusia. Harapannya, dengan pemahaman yang tepat tentang dunia, kita lalu bisa menjalani hidup yang bermutu sebagai manusia. Kita tidak lagi tertipu oleh beragam pengetahuan palsu, maupun terjebak pada kesalahan yang berpikir yang tak perlu terjadi.

Di dalam filsafat Eropa, ada dua aliran besar yang amat berpengaruh. Mereka adalah filsafat Yunani kuno dan Idealisme Jerman. Walaupun relatif singkat, namun dunia modern tidak akan terbentuk seperti sekarang ini, tanpa pengaruh dari kedua aliran filsafat tersebut. Lanjutkan membaca Trilogi Filsafat Jerman dan Demitologisasi Kehidupan

Empat Langkah Zen untuk Patah Hati

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Dua minggu terakhir, beberapa orang datang pada saya. Mereka menceritakan kegagalan yang membawa mereka ke penderitaan. Ada yang menderita soal pekerjaan. Ada yang menderita soal hubungan percintaan. Ada yang menderita, karena tak punya uang. Ada yang menderita, karena bingung kebanyakan uang (mau invest apa?)

Sebagai jalan keluar cepat, ada yang mengundang untuk mabok bersama. Ada juga yang ngajak “kawin”, seolah kawin itu melenyapkan semua penderitaan. Ada yang mengajak traveling keliling Asia (tentu dengan biaya masing-masing). Lanjutkan membaca Empat Langkah Zen untuk Patah Hati

Tentang Ego yang Tak (Pernah) Ada

Peter Gric, “Dissolution of Ego IV”

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Ada dua misteri semesta yang masih menjadi pergulatan para ilmuwan. Yang pertama adalah hakekat dari alam semesta, termasuk seberapa besar dan unsur-unsur apa saja yang menyusunnya. Yang kedua adalah hakekat dari diri, atau ego, termasuk eksistensi dan unsur-unsur pembentuknya. Yang kedua ini lebih menarik untuk diperhatikan.

Sejarah “Ego”

Penyelidikan tentang ego sudah lama berlangsung di dalam sejarah pemikiran manusia. Pemikiran Jawa kuno, misalnya, membedakan antara ego kecil dan ego besar. Ego kecil adalah bentukan sosial, yakni hasil dari hubungan dengan keluarga dan masyarakat secara luas. Ego besar adalah energi semesta yang sudah selalu ada, dan menjadi sumber dari kebijaksanaan hidup yang tertinggi. Lanjutkan membaca Tentang Ego yang Tak (Pernah) Ada

Politik, Bisnis dan Spiritualitas

Mystic Sea – The Sea Empress, Daniel Arrhakis

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Ketiga kata ini, yakni politik, bisnis dan spiritualitas, hampir tak pernah dihubungkan. Ketiganya menempati dunia yang berbeda. Politik dan bisnis memang cukup sering disandingkan. Namun, kata spiritualitas amatlah asing bagi kedua dunia tersebut.

Politik dan Bisnis

Politik kerap dipahami sebagai perebutan kekuasaan. Politik disempitkan ke dalam pengertian yang dirumuskan oleh Thomas Hobbes di dalam bukunya Leviathan, yakni perang semua melawan semua (bellum omnia contra omnes). Di dalam politik, manusia adalah serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Kepentingan dan bahkan nyawa orang lain dikorbankan, demi mempertahankan dan memperbesar kekuasaan politik. Lanjutkan membaca Politik, Bisnis dan Spiritualitas

Heidegger, “Ada” dan Utopia

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Ilmu pengetahuan modern lahir dari rahim filsafat. Filsafat sendiri dapat dilihat sebagai upaya manusia untuk memahami segala yang ada secara kritis, rasional dan sistematik. Buah dari filsafat adalah pengetahuan tentang kehidupan. Walaupun begitu, menurut Martin Heidegger, filsafat haruslah bergerak lebih dalam dengan mempertanyakan dasar dari keberadaan segala sesuatu itu sendiri, atau yang disebutnya sebagai “Ada” (Sein).

Filsafat berkembang melalui pertanyaan tentang alam. Inilah yang disebut sebagai kosmosentrisme. Alam menjadi obyek utama berbagai diskusi dan refleksi filosofis. Inilah akar dari ilmu fisika modern, sebagaimana dipahami sekarang ini. Walaupun begitu, alam adalah bagian dari Ada, dan bukan merupakan Ada itu sendiri. Lanjutkan membaca Heidegger, “Ada” dan Utopia