Menyelamatkan Pengetahuan

Rules of Knowledge by the-surreal-arts

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Manusia adalah mahluk yang ingin tahu. Di dalam hatinya, ada dorongan untuk memahami segala yang ada, dari gosip terbaru sampai dengan struktur alam semesta. Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah buah dari berkembangnya rasa ingin tahu tersebut.

Sayangnya, pengetahuan sekarang ini telah mengalami penyempitan. Ia dilihat bukan lagi sebagai ekspresi dari sisi terdalam manusia, melainkan sekedar sebagai alat untuk mengabdi pada penguasa. Dengan kata lain, pengetahuan telah menjadi budak bagi kekuasaan, baik kekuasaan politik maupun bisnis.

Di abad neoliberal ini, pengetahuan disempitkan hanya sebagai upaya untuk mencari uang. Pengetahuan menjadi kerdil dan bahkan merusak. Ia dilacurkan untuk menciptakan berbagai senjata destruktif, dari senjata atom sampai senjata biologis, dan juga untuk menciptakan sistem finansial yang melahirkan ketidakadilan global.

Ini jelas berbahaya. Pengetahuan perlu dikembalikan ke tujuan asalinya, yakni membebaskan manusia dari kebodohan yang menghancurkan hidupnya, termasuk dari kemiskinan dan kekerasan. Untuk itu diperlukan suatu pandangan baru di dalam melihat pengetahuan, termasuk dunia pendidikan yang menjadi ranah penghasil utama pengetahuan.

Pedagogi Kritis

Pedagogi kritis, sebagaimana dirumuskan oleh Henry Giroux, seorang pemikir Kanada, kiranya bisa menjadi kemungkinan jalan keluar. Baginya, pendidikan haruslah mengajak peserta didik untuk memahami hubungan-hubungan kekuasaan yang membentuk masyarakat. Inilah yang disebutnya sebagai pengetahuan kritis yang membebaskan manusia dari kebodohan dan penindasan.

Untuk itu, pedagogi kritis memberikan ruang yang amat besar untuk kreativitas. Peserta didik didorong untuk aktif terlibat penuh di dalam proses pembelajaran. Ruang untuk bertanya dan berbeda pendapat dibuka sebesar mungkin, guna melatih pola berpikir kritis dan kreatif.

Proses ini akan membuka wawasan peserta didik tentang keadaan dunia. Keluasan wawasan ini membuat mereka mampu menanggapi secara tepat perubahan dunia yang tak terduga. Mereka juga terbiasa untuk melihat suatu masalah dari beragam sudut, sehingga amat kreatif di dalam proses pemecahan masalah dan pembuatan keputusan.

Keluasan wawasan juga membantu peserta didik untuk berpikir reflektif. Dalam arti ini, berpikir reflektif berarti melihat ke diri sendiri, guna menemukan hal yang mesti diperbaiki. Berpikir reflektif adalah kunci untuk pengembangan diri.

Dari proses reflektif semacam ini lahirlah kepekaan moral. Peserta didik terasah kepekaan baik dan buruknya, ketika melihat keadaan dunia di sekitarnya. Ia keluar dari sikap masa bodoh yang begitu luas tersebar di kalangan generasi muda sekarang ini.

Pedagogi kritis mendorong para peserta didik untuk terlibat di dalam perubahan sosial. Ruang kelas hanya merupakan alat untuk merencanakan gerakan sosial. Sisanya, melalui minat dan kepedulian masing-masing, setiap peserta didik terlibat langsung di dalam perubahan sosial di masyarakatnya.

Demokrasi

Pedagogi kritis juga amat cocok untuk masyarakat demokratis, seperti Indonesia. Demokrasi membutuhkan warga negara yang peduli, berwawasan luas, memiliki pemahaman tentang hubungan-hubungan kekuasaan di dalam masyarakat, serta kepekaan moral di dalam melihat masalah. Tanpa ini semua, demokrasi dengan mudah terpeselet ke dalam politik uang dan korupsi, seperti yang sekarang ini banyak terjadi di Indonesia.

Dunia pendidikan Indonesia perlu untuk memeluk pedagogi kritis di dalam proses menyelamatkan pengetahuan dari cengkraman kekuasaan politik dan bisnis yang rakus. Pengetahuan haruslah ditempatkan kembali sebagai alat untuk menyelamatkan manusia dari kebodohan, penindasan dan kemiskinan. Untuk itu, pengetahuan perlu diselamatkan terlebih dahulu melalui penerapan pedagogi kritis di dalam dunia pendidikan.

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

11 tanggapan untuk “Menyelamatkan Pengetahuan”

  1. sepakat dengan isi tulisan. problem terbesar untuk mencapai pendidikan yg baik , adalah burokrasi yang rasanya seperti “eine riesenkrake”, dgn kaki tangan yg ikut campur di segala bidang, bergerak gitu lamban.
    mana lagi problem2 lain di pihak intern, seperti nya main sok, kuasa dsb dsb dsb.
    thema ini begitu komplex.
    ada baik nya , kita memulai dari diri kita sendiri (mikrokosmos), tanpa hilang semangat dan harapan…setapak demi setapak.
    banya salam !!

    Suka

  2. Pak reza, Sampai hari ini saya terus terang bingung kenapa saya kuliah ? Saya merasa hanya duduk mendengar, lalu mengerjakan tugas-tugas yang mencekik tanpa tau essensi tugas yang diberikan tersebut, berulang-ulang tiap hari seperti itu, saya seperti orang mabuk yang tidak sadar..
    Saya kadang kok bingung ya pak ?

    Suka

    1. saudara ilham prasetya yudha, pengalaman / kebingungan anda dapat saya pahami. keadaan dewasa ini adalah pintu gerbang dan undangan untuk mencari “jati diri”(nalar sehat dan hati nurani), jangan putus asa. saya memerlukan 30 tahun untuk sedikit mengerti , dan masi saja belum selesai dengan “latihan”nya.( kalangan “subud” memakai kata”latihan” international)
      banya salam !

      Suka

  3. Sepakat pak Reza pendidikan sekarang salah jalan. Kpan pendidikan kita berjalan dijalan yg benar? Metode HOTS (berpikir tingkat tinggi) yg paling diutamakan dalam mengerjakan soal USBN, smtra pelaksanaannya hafalan yg pling sering dipakai dlam setiap pembelajaran. Mau di bawah kemana ini pendidikan?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s