Jika Kamu Mencintai Aku, Jangan Ciptakan “Aku”

Ilustrasi karya Jason Ranti

Oleh Reza A.A Wattimena

Jika kamu mencintai aku, jangan ciptakan “aku”. Begitulah kata Ajahn Amaro, seorang Bikkhu Buddhis, ketika diminta berbicara soal cinta. Saya langsung menampilkan kutipan itu di beberapa media sosial pribadi. Beberapa teman langsung bertanya, apa artinya? Saya tergelitik untuk memberikan jawaban.

Ini adalah soal cinta. Tema abadi dalam hidup manusia yang menjadi inspirasi untuk sejuta lagu, film, buku maupun puisi. Siapa yang tak suka, ketika cinta datang berkunjung? Hati berbunga, dan hari terasa seperti bernyanyi, tanpa ujung. Lanjutkan membaca Jika Kamu Mencintai Aku, Jangan Ciptakan “Aku”

Kejahatan Orang-orang Saleh

Ilustrasi karya Jason Ranti

Oleh Reza A.A Wattimena

Bajunya religius. Senyumnya lebar. Ia ingin menampilkan diri sebagai manusia saleh. Doa rajin, apalagi ketika banyak orang menonton. Puasa pun kuat, asal juga disaksikan oleh banyak orang.

Tampilan religius dibalut juga dengan kekayaan yang gilang gemilang. Sayang, hobinya mencuri, alias korupsi. Ia memandang rendah orang-orang miskin, dan orang-orang yang berbeda identitas dengannya. Jika mungkin, ia mempersulit, dan bahkan menindas mereka. Lanjutkan membaca Kejahatan Orang-orang Saleh

Hidup Hanya Numpang Ketawa

Ilustrasi dari Ucil Prastya Leonard

Oleh Reza A.A Wattimena

Sekilas Info, begitu judul dari lagu karya Jason Ranti. Satu lirik yang terus terngiang di kepala saya: heii.. hidup hanya numpang ketawa. Kutertawa maka ku apa….Nadanya mengayun, dan begitu mudah menempel di telinga.

Apakah benar, bahwa hidup hanya numpang tertawa? Jason Ranti tampaknya berpikir begitu. Rupanya, ia tidak sendirian. Ribuan Zen Master di dalam sejarah berpikiran serupa. Lanjutkan membaca Hidup Hanya Numpang Ketawa

Kotoran Dibalut Saus

Ilustrasi dari Jason Ranti

Oleh Reza A.A Wattimena

Tumpukan kertas adalah pemandangan sehari-hari di berbagai kantor di Jakarta. Ratusan, bahkan ribuan, laporan berserakan. Tak ada yang sungguh membacanya. Namun, ratusan orang digaji tinggi sekedar untuk menulisnya.

Jenis laporannya beragam. Ada laporan tebal dan rumit tentang “consumer satisfaction” (kepuasan konsumen). Ada laporan tebal dan tampak ilmiah tentang “voters redistribution” (redistribusi pemilih – apapun artinya itu). Dibutuhkan usaha besar dan waktu yang lama untuk menghasilkan laporan semacam itu. Namun, kegunaannya tak sungguh jelas. Lanjutkan membaca Kotoran Dibalut Saus

Menyentuh Keabadian

Ilustrasi Karya Jason Ranti

Oleh Reza A.A Wattimena

Alkisah, tiga praktisi Zen sedang duduk di taman. Mereka melihat daun-daun pohon bergerak diterpa angin. Muncul pertanyaan di kepala mereka. Apakah angin yang bergerak, atau pohon yang bergerak?

Diskusi berubah menjadi perdebatan. Keadaan pun memanas. Karena tak menemukan jawaban, salah satu praktisi Zen memutuskan untuk berbicara kepada master Zen. Menyimak perdebatan yang terjadi, sang master Zen berkata, „Yang bergerak bukanlah angin ataupun daun pohon, melainkan pikiranmu,…  dan juga mulutmu.“ Lanjutkan membaca Menyentuh Keabadian

Publikasi Terbaru: Sumber Daya Alam: Berkah atau Kutuk? Sebuah Pertimbangan Kritis-Stratejik

Oleh Dr. der Phil. Reza A.A Wattimena

PUBLISHED IN ARY SUTA CENTER SERIES ON STRATEGIC
MANAGEMENT JANUARY 2020 VOLUME 48

Abstrak

Tulisan ini merupakan analisis terhadap kaitan antara keberadaan sumber daya alam, konflik dan perdamaian. Di satu sisi, sumber daya alam adalah berkah alam untuk manusia, supaya ia bisa mempertahankan keberadaannya, dan mengembangkan kebudayaannya. Sumber daya alam yang diolah dengan baik bisa membantu terciptanya kemakmuran dan perdamaian yang lestari di suatu masyarakat. Di sisi lain, terutama sejak akhir abad 20, sumber daya alam justru menjadi sumber konflik bersenjata yang melahirkan korban jiwa maupun harta benda yang besar di berbagai belahan dunia. Beberapa unsur yang memicu konflik, sekaligus mendorong perdamaian, terkait dengan sumber daya alam yang ada, akan dibahas di dalam tulisan ini. Tulisan ini mengacu pada penelitian yang dibuat oleh Michael Beevers, sekaligus penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh penulis.

Kata-kata Kunci: Sumber Daya Alam, Kutukan Sumber Daya Alam, Keamanan Lingkungan, Konflik, Perdamaian   Lanjutkan membaca Publikasi Terbaru: Sumber Daya Alam: Berkah atau Kutuk? Sebuah Pertimbangan Kritis-Stratejik

Tuhan dan “Arlojinya”

Ilustrasi Karya Jason Ranti

Oleh Reza A.A Wattimena

Perjalanan peradaban adalah perjalanan untuk mencari Tuhan. Kiranya, ungkapan ini tak berlebihan. Seluruh produk budaya, mulai dari seni, filsafat, dan ilmu pengetahuan, adalah upaya manusia untuk memahami, sekaligus menyatakan kekagumannya pada segala yang ada. Segala yang ada adalah ciptaan (creation). Pertanyaan kecil pun menyelip, siapa yang menjadi pencipta (creator) dari segala ciptaan?

Hubungan antara sang pencipta dan ciptaan adalah hubungan cinta. Yang satu dapat dikenali, karena ada yang lain. Tanpa alam ciptaan, yakni segala yang ada, kita tak akan mencoba untuk memahami sang pencipta. Di sisi lain, tanpa pencipta, segala ciptaan tak akan mungkin ada. Bagaimana memahami sang pencipta ini? Lanjutkan membaca Tuhan dan “Arlojinya”

Bandar Sabu VS Bandar Zen: Mencari Sensasi Tanpa Adiksi

Ilustrasi Karya Jason Ranti

Oleh Reza A.A Wattimena

2020 sudah menyentuh hidup kita semua. Sejatinya, tahun memang ilusi. Ia tak sungguh ada. Matahari, planet, bulan dan bintang tak mengenal waktu, apalagi tahun.

Namun, bagi manusia, waktu sungguh nyata. Detik dan menit bisa menjadi beda antara hidup dan mati. Waktu adalah ilusi yang menjadi nyata, persis karena pikiran manusia. Dan di tahun 2020 ini, kita hidup di masa yang menarik. Lanjutkan membaca Bandar Sabu VS Bandar Zen: Mencari Sensasi Tanpa Adiksi

Bahaya Laten Pendidikan Agama

Ilustrasi Karya Jason Ranti

Oleh Reza A.A Wattimena

Anak kecil itu tampak sakit kepala. Dahinya menekuk. Matanya tampak lelah. Ia sedang menghafal berbagai bentuk ajaran agama, ya,… agama yang dipilihkan orang tuanya kepadanya.

Di usia semuda itu, ia stress. Begitu banyak hal tak berguna yang harus dipelajari. Perubahan menteri pendidikan tidak banyak memberikan dampak. Di Indonesia, terutama soal pendidikan agama, pola terbelakang dan menyiksa peserta didik sama sekali tak berubah. Lanjutkan membaca Bahaya Laten Pendidikan Agama

Zen di dalam Drama Keluarga

WhatsApp Image 2019-12-23 at 09.53.38
Ilustrasi Karya Jason Ranti

Oleh Reza A.A Wattimena

Jika anda sudah merasa tercerahkan, cobalah hidup bersama keluarga anda. Begitulah kata-kata seorang Zen master terhadap muridnya, setelah ia mendapat pencerahan. Hidup di dalam keluarga tak selalu seperti di dalam surga. Salah kata dan salah sikap bisa memicu konflik panjang yang menyesakkan jiwa.

Kita semua lahir di dalam keluarga. Keluarga bisa menjadi sumber kebahagiaan yang besar. Namun, ia juga bisa menciptakan derita tiada tara. Bahkan, menurut data yang dikumpulkan oleh UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime) pada 2017, dari seluruh perempuan yang menjadi korban pembunuhan, 58% diantaranya terbunuh oleh anggota keluarganya sendiri. Lanjutkan membaca Zen di dalam Drama Keluarga

Mengakhiri Kemiskinan Selamanya

Ilustrasi Karya Jason Ranti

Oleh Reza A.A Wattimena

Kota kecil itu bernama Dauphin, di Kanada. 1974-1979, sebuah eksperimen sosial yang radikal dilakukan. Seluruh penduduk kota itu mendapatkan pendapatan bulanan dari pemerintah. Tujuannya sederhana, supaya kemiskinan lenyap seluruhnya di kota itu.

Tak ada perkecualian. Semua orang mendapatkan gaji bulanan dari negara. Inilah yang disebut sebagai “mincome”, atau minimal income. Ini bukanlah hadiah atau tunjangan tidak mampu, melainkan hak sebagai manusia. Lanjutkan membaca Mengakhiri Kemiskinan Selamanya

Orang Gila Dilarang Miskin: Tentang Joker (2019)

Ilustrasi Karya Jason Ranti

Oleh Reza A.A Wattimena

            Tak banyak film yang saya tonton berulang. Sebagian besar hanya menjadi hiburan yang segera berlalu, segera setelah film usai. Namun, film Joker (2019) adalah sebuah perkecualian. Ia menghibur, dan meninggalkan bekas rasa yang sulit untuk dilepas.

            Hiburan dari film Joker tidak sama dengan hiburan dari beragam film lainnya. Ia menghibur melalui rasa sedih dan kecewa. Ada kepahitan yang berjalan bergandengan dengan rasa ceria. Ada kemarahan yang bergandengan dengan tawa yang renyah. Lanjutkan membaca Orang Gila Dilarang Miskin: Tentang Joker (2019)

Indonesia dalam Terkaman Kapitalisme Turbo

Image result for greed surrealism"
Lawrence Paul Yuxweluptun

Oleh Reza A.A Wattimena

Tema percakapan kami terus berulang. Sudah beberapa kali saya dan beberapa sahabat cemas dengan perkembangan yang terjadi di Indonesia. Dengan mudah, di kota-kota besar, ketimpangan sosial antara yang kaya dan yang miskin bisa dilihat. Anda cukup mengendarai kereta api di ibu kota, dan seluruh ketimpangan sosial akan segera tampak di depan mata.

Tak jauh dari ibu kota, tepatnya di Jawa Barat, begitu banyak desa tertinggal dalam kekumuhan. Sarana air bersih dan pengolahan sampah sangat lemah, bahkan nyaris tak ada. Di abad 21 yang serba canggih dan kompleks, masih banyak orang yang buang air besar di kali tempatnya mencuci piring. Tak peduli siapa presiden ataupun partainya, hal ini tak berubah dari tahun ke tahun. Lanjutkan membaca Indonesia dalam Terkaman Kapitalisme Turbo

Paradoks Zen

Image result for zen surrealism"

Oleh Reza A.A Wattimena

Sejak kecil, saya suka sekali belajar. Saya suka menemukan hal-hal baru. Saya suka mengetahui segala hal tentang kehidupan, termasuk sejarah dan kompleksitasnya. Belajar menjadi semacam petualangan yang membahagiakan untuk hidup saya.

Secara umum, belajar berarti mengumpulkan informasi. Kita membaca atau mendengar hal-hal baru yang menambah pengetahuan di dalam diri kita. Belajar ilmu pengetahuan terjadi dengan proses ini. Sekolah formal, mulai dari SD sampai perguruan tinggi, juga terjadi melalui proses yang sama. Lanjutkan membaca Paradoks Zen

Mengalami Tanpa Kata

Image result for observer surrealism"

Oleh Reza A.A Wattimena

Sebagai seorang praktisi Zen, saya banyak mengalami pencerahan-pencerahan kecil dalam hidup. Dalam arti ini, pencerahan kecil adalah saat, dimana saya hidup sepenuhnya disini dan saat ini dengan penuh kejernihan. Saat-saat semacam ini muncul tak terduga. Semakin saya mendalami Zen, semakin sering saat-saat semacam ini muncul dalam hidup.

Salah satu yang paling berkesan adalah, ketika saya berada di kereta menuju Jakarta dari Yogyakarta pada akhir Oktober 2019 lalu. Saya pulang dengan kereta malam. Mungkin karena pesan tiketnya telat, saya dapat tempat duduk paling depan. Di tempat duduk ini, saya tidak bisa meluruskan kaki, karena langsung berhadapan dengan tembok depan gerbang kereta. Lanjutkan membaca Mengalami Tanpa Kata

Abad Kepalsuan

Image result for fake surrealism"
“Fake Faces” berk ozturk

Oleh Reza A.A Wattimena

Di abad 21 ini, kita hidup di dunia yang penuh kepalsuan. Apa yang tampak tak sesuai dengan apa yang di dalamnya. Orang-orang memakai topeng berlapis untuk menutupi jati dirinya. Padahal, di balik topeng-topeng yang berlapis itu, mereka hidup penuh penderitaan dan kemunafikan.

Manusia-manusia palsu tersebut bermulut manis, namun hatinya penuh dengki. Tampilannya cantik dan ganteng, namun pikirannya jahat dan penuh ambisi yang merusak. Mereka terlihat suka menolong dan baik hati. Namun, semua itu dilakukan untuk meningkatkan pamor “politik” belaka. Tak ada ketulusan di dalamnya. Lanjutkan membaca Abad Kepalsuan

Demokrasi Pseudo-Komedi

Image result for comedy surrealism"
High on Films

Oleh Reza A.A Wattimena

Minggu lalu, seorang mahasiswa bertanya kepada saya. “Apa pendapat bapak soal susunan kabinet pemerintahan yang baru ini (2019-2024)?” Saya menjawab singkat, “Inilah tanda dari demokrasi dagelan, yakni demokrasi yang berbalut komedi, namun komedi yang tidak lucu.”

Memang, politik di Indonesia adalah politik yang unik. Banyak hal lucu yang terjadi. Namun, kelucuan itu berbarengan dengan rasa kecewa. Inilah demokrasi yang berbalut psedo-komedi. Lanjutkan membaca Demokrasi Pseudo-Komedi

Zen dan Seni Bersih-bersih Rumah

Image result for cleaning

Oleh Reza A.A Wattimena

Saya harus mengakui, pendidikan masa kecil saya tidak bagus. Di rumah, kami punya dua pembantu. Padahal, kami hanya dua bersaudara. Alhasil, kami hidup seperti layaknya putri dan pangeran.

Semua hal dilayani. Rumah dibersihkan. Makan dimasak pembantu. Bahkan, sampai akhir sekolah dasar, saya masih dimandikan pembantu. Memalukan. Lanjutkan membaca Zen dan Seni Bersih-bersih Rumah

Publikasi Terbaru: Malaikat Kematian atau Ratu Perdamaian? Agama di dalam Politik Global Abad 21

Diterbitkan di ARY SUTA CENTER SERIES ON STRATEGIC MANAGEMENT OKTOBER 2019 VOLUME 47

Oleh Reza A.A Wattimena

Malaikat kematian atau ratu perdamaian? Dua kata ini memang terhubung dengan agama di abad 21 ini. Di satu sisi, ajaran agama dianggap sebagai sumber diskriminasi dan kekerasan. Begitu banyak terorisme dan kekerasan yang berpijak pada ajaran agama terjadi dewasa ini. Indonesia pun sudah kenyang dengan pengalaman semacam ini.

Di sisi lain, begitu banyak karya kebaikan yang diluncurkan atas nama agama. Gerakan-gerakan kemanusiaan dilakukan oleh organisasi yang berpijak pada agama. Gerakan perdamaian di daerah konflik juga dilakukan dengan menggunakan ajaran agama. Agama pun memberikan arah dan makna bagi hidup banyak orang. Lanjutkan membaca Publikasi Terbaru: Malaikat Kematian atau Ratu Perdamaian? Agama di dalam Politik Global Abad 21

Feodemokrasi dan Teknokratisme Dangkal di Indonesia

Oleh Reza A.A Wattimena

Sebagai sistem politik yang diakui seluruh dunia sekarang ini, demokrasi amatlah unik. Ia memiliki pola serupa sekaligus tak sama di berbagai tempat. Ia menampung perbedaan corak budaya ke dalamnya. Akibatnya, dua negara bisa memiliki demokrasi sebagai tata politiknya, namun berbeda di dalam bentuk maupun penerapannya.

Demokrasi menikah dengan budaya setempat. Beberapa negara masih menganut sistem kerajaan, namun dengan balutan konstitusi demokratis di dalamnya. Beberapa negara menganut demokrasi murni dengan menghapus sama sekali sisa-sisa pola kerajaan dari masa lalu. Uniknya, Indonesia menjauh dari dua pola umum tersebut. Lanjutkan membaca Feodemokrasi dan Teknokratisme Dangkal di Indonesia