Tuhan dan “Arlojinya”

Ilustrasi Karya Jason Ranti

Oleh Reza A.A Wattimena

Perjalanan peradaban adalah perjalanan untuk mencari Tuhan. Kiranya, ungkapan ini tak berlebihan. Seluruh produk budaya, mulai dari seni, filsafat, dan ilmu pengetahuan, adalah upaya manusia untuk memahami, sekaligus menyatakan kekagumannya pada segala yang ada. Segala yang ada adalah ciptaan (creation). Pertanyaan kecil pun menyelip, siapa yang menjadi pencipta (creator) dari segala ciptaan?

Hubungan antara sang pencipta dan ciptaan adalah hubungan cinta. Yang satu dapat dikenali, karena ada yang lain. Tanpa alam ciptaan, yakni segala yang ada, kita tak akan mencoba untuk memahami sang pencipta. Di sisi lain, tanpa pencipta, segala ciptaan tak akan mungkin ada. Bagaimana memahami sang pencipta ini? Baca lebih lanjut

Aku dan Waktu

frontiergroup.info

frontiergroup.info

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di Jerman

Banyak orang yang hidupnya dikejar oleh waktu. Mereka membuat rencana yang detil pada hidupnya. Pada usia tertentu, misalnya, mereka sudah harus selesai kuliah. Pada usia yang lainnya, mereka sudah harus punya pacar, dan sebagainya.

Ketika rencana tidak sejalan dengan kenyataan, mereka lalu kecewa. Mereka mulai membandingkan keadaan yang mereka alami dan keadaan yang mereka rencanakan. Dari perbandingan lalu muncul kesedihan. Kesedihan menjadi akar dari depresi, stress dan berbagai penderitaan batin lainnya.

Hal ini khususnya dialami oleh banyak perempuan. Mereka membuat rencana yang detil dalam hidupya. Pada usia tertentu, mereka merasa harus sudah punya pasangan. Dan beberapa tahun berikutnya, mereka berencana untuk segera menikah.

Setelah menikah, mereka juga segera langsung berencana punya anak. Semua sudah terpeta dan terencana. Namun, sayangnya, hidup selalu berkelit dari rencana. Ketika rencana dan kenyataan tak berjalan seiring, kekecewaan dan kesedihan pun datang melanda.

Semua rencana ini biasanya lahir dari tuntutan sosial. Orang tua dan masyarakat sekitar menginginkan kita untuk hidup sesuai dengan nilai dan pola yang telah mereka buat. Kita pun kemudian melihat nilai dan pola itu sebagai bagian dari diri dan identitas kita sebagai manusia. Ketika hidup kita tidak sejalan dengan nilai dan pola yang ditetapkan masyarakat, kita lalu dianggap sebagai orang yang aneh, bahkan kriminal. Baca lebih lanjut