Kejahatan Orang-orang Saleh

Ilustrasi karya Jason Ranti

Oleh Reza A.A Wattimena

Bajunya religius. Senyumnya lebar. Ia ingin menampilkan diri sebagai manusia saleh. Doa rajin, apalagi ketika banyak orang menonton. Puasa pun kuat, asal juga disaksikan oleh banyak orang.

Tampilan religius dibalut juga dengan kekayaan yang gilang gemilang. Sayang, hobinya mencuri, alias korupsi. Ia memandang rendah orang-orang miskin, dan orang-orang yang berbeda identitas dengannya. Jika mungkin, ia mempersulit, dan bahkan menindas mereka. Baca lebih lanjut

Rekonstruksi Kesalehan

zcache.co.uk

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

Pembantaian dan pembakaran di Sampang, Madura baru-baru ini sebenarnya bukan masalah baru. Untuk kesekian kalinya, masyarakat kita terjebak pada satu penyakit sosial yang akut, yakni tidak mampu hidup bersama di dalam keberagaman. Namun, sikap biadab itu tidaklah melulu berakar pada kejahatan manusia, melainkan pada niatnya untuk menjadi saleh. Orang-orang yang menyiksa, membunuh, dan membakar atas nama agama justru adalah orang-orang yang bercita-cita untuk menjadi orang saleh.

Paradoks Kesalehan

Dari kecil, kita diajarkan untuk menjadi orang-orang yang saleh. Kata saleh sendiri, di Indonesia, disamakan dengan kesalehan agama-agama. Setiap agama memiliki versi kesalehannya sendiri, yang seringkali tidak cocok dengan agama lainnya. Pada titik inilah masalahnya muncul; orang-orang saleh religius dikutuk untuk tidak bisa hidup bersama, karena mereka terperangkap dalam versi kesalehannya masing-masing.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata saleh diartikan sebagai beriman dan rajin beribadah. Kata beriman dan rajin beribadah mengandaikan ikatan pada tradisi religius tertentu. Dan setiap tradisi religius, agama, memiliki sikap tertutupnya masing-masing, terutama untuk mempertahankan keunikan ciri identitasnya. Pada titik ini, kita juga menemukan paradoks; semakin orang saleh dalam satu agama, semakin ia sulit untuk hidup bersama dengan orang-orang yang berbeda, maka semakin ia tidak saleh. Baca lebih lanjut