Tuhan dan “Arlojinya”

Ilustrasi Karya Jason Ranti

Oleh Reza A.A Wattimena

Perjalanan peradaban adalah perjalanan untuk mencari Tuhan. Kiranya, ungkapan ini tak berlebihan. Seluruh produk budaya, mulai dari seni, filsafat, dan ilmu pengetahuan, adalah upaya manusia untuk memahami, sekaligus menyatakan kekagumannya pada segala yang ada. Segala yang ada adalah ciptaan (creation). Pertanyaan kecil pun menyelip, siapa yang menjadi pencipta (creator) dari segala ciptaan?

Hubungan antara sang pencipta dan ciptaan adalah hubungan cinta. Yang satu dapat dikenali, karena ada yang lain. Tanpa alam ciptaan, yakni segala yang ada, kita tak akan mencoba untuk memahami sang pencipta. Di sisi lain, tanpa pencipta, segala ciptaan tak akan mungkin ada. Bagaimana memahami sang pencipta ini?

Memahami Tuhan

Dalam bahasa Indonesia, kita biasa menyebutnya sebagai Tuhan. Kata ini menarik. Ia berasal dari kata Melayu, yakni “tuan”. Ini berarti sang penguasa, atau pemilik. Maka di alam pikir Indonesia, Tuhan adalah penguasa, pemilik sekaligus pencipta segala sesuatu.

Saya juga tertarik membandingkan kata Tuhan dengan kata To Hen di dalam bahasa Yunani kuno. Kata ini berarti “yang satu”, atau kesatuan dari segala sesuatu. To Hen adalah prinsip universal yang melahirkan segala sesuatu. Kata ini sangat banyak digunakan di dalam tradisi Neoplatonisme Filsafat Yunani Kuno.

Di dalam alam pikir modern, Tuhan dipahami setidaknya dengan empat cara. Pertama, teisme melihat Tuhan sebagai sosok pencipta yang ikut campur di dalam hidup manusia. Maka dari itu, manusia perlu untuk berdoa untuk memohon bantuan-Nya. Agama-agama di dunia sebagian besar menganut pandangan ini.

Dua, deisme melihat Tuhan sebagai sosok pencipta yang kemudian tak lagi terlibat di dalam dunia. Tuhan menciptakan segala sesuatu, beserta hukum-hukum alam yang ada, dan melepasnya begitu saja. Hukum alam itu sudah sempurna. Maka, berdoa tak lagi memiliki daya, karena Tuhan sudah tidak campur tangan di dalam gerak dunia.

Tiga, panteisme melihat Tuhan sebagai alam semesta. Tidak ada pemisahan antara pencipta dan ciptaan. Keduanya satu dan sama. Pandangan ini semakin banyak digeluti, karena mendorong perkembangan kesadaran ekologis.

Empat, panenteisme merupakan pengembangan dari panteisme. Di sini, Tuhan adalah alam, namun Tuhan lebih besar dari alam itu sendiri. Ada kaitan erat antara sang pencipta dan ciptaan. Namun, sang pencipta lebih besar dari ciptaan itu sendiri.

Tempatnya Waktu

Pertanyaan kecil yang menyelinap lainnya adalah, apakah Tuhan berada di dalam waktu? Jika Tuhan adalah sebuah entitas, maka ia menempati ruang dan waktu tertentu. Ini merupakan hukum alam yang bersifat mutlak. Bagaimana kiranya hubungan antara Tuhan dan waktu?

Fisika klasik, terutama di dalam pemikiran Aristoteles, melihat waktu sebagai sesuatu yang tetap. Ia adalah satuan universal yang berlaku dimanapun, kapanpun untuk untuk siapapun. Newton adalah salah satu tokohnya. Sampai detik ini, fisika Newtonian masih digunakan untuk perkembangan teknologi di dalam konteks-konteks tertentu.

Fisika kontemporer memiliki sudut pandang yang berbeda. Waktu tak bisa dipisahkan dari ruang. Maka dari itu, terutama di dalam pandangan Einstein, waktu selalu disebut sebagai ruang-waktu (Raum-Zeit), karena keduanya adalah satu dan sama. Yang juga menarik dari fisika kontemporer adalah, bahwa ruang-waktu juga bersifat relatif pada pengamat. Disinilah misteri sesungguhnya dimulai.

Secara umum, waktu dipahami sebagai perubahan. Biasanya, gerak bumi ataupun gerak bulan menjadi patokan. Kembali lagi, gerak bumi dan bulan dalam kaitannya dengan matahari juga menggunakan konsep ruang. Keberadaan ruang-waktu memungkinkan keberadaan seluruh alam semesta itu sendiri.

Di dalam teori relativitas umum, ruang-waktu, beserta seluruh alam semesta, terbentuk melalui proses dentuman besar (Big Bang). Sebelum itu, semua entitas material berada dalam satu titik yang amat sangat kecil. Dari titik inilah nantinya lahir semua galaksi, bintang, planet dan segala yang ada di dalam semesta. Dari semua benda semesta itu, kita bisa melihat jejak-jejak dentuman besar jauh di masa lalu, sebelum ruang-waktu tercipta.

Kari Enqvist, ahlis Kosmologi asal Finlandia, berpendapat, bahwa waktu terkait juga dengan gerak. Waktu diukur dalam gerak. Waktu juga menjadi nyata di dalam gerak. Penemuan terbaru melihat, bahwa alam semesta terus merentang keluar, memperluas gerak, ruang dan waktu. Ini semua terjadi dengan kecepatan yang luar biasa tinggi.

Tuhan dan Waktu

Di dalam filsafat, kajian Tuhan dan Waktu sudah terjadi sejak lama. Salah satu pandangan yang paling berpengaruh adalah konsep divine timelessness. Di dalam pandangan ini, Tuhan dan waktu memiliki hubungan yang bersifat paradoksal. Artinya, Tuhan memiliki satu kaki di dalam waktu, dan kaki lainnya di luar waktu.

Di dalam waktu, Tuhan terlibat di dalam penciptaan. Apakah ia terlibat untuk proses selanjutnya? Sulit untuk memberikan jawaban pasti. Di luar waktu, Tuhan menjadi entitas yang cukup pada dirinya sendiri. Karena berada di luar ruang-waktu, maka ia juga tak bisa dipikirkan.

Yang perlu dihindari adalah bias antroposentrik di dalam memahami Tuhan. Tanpa sadar, kita mencoba menerapkan konsep-konsep dan sifat-sifat manusia di dalam memahami Tuhan. Padahal, sebagai pencipta, ia jelas berada di luar pemahaman ciptaannya. Disinilah akal budi menemukan batasnya. Barangkali, Tuhan tidak bisa melulu dipahami dalam konsep, melainkan harus dialami secara langsung.

Peran Kesadaran

Dalam terang perkembangan pesat neurosains, kita kiranya perlu mengajukan satu konsep lagi, yakni kesadaran (Consciousness). Fisika kontemporer sudah menegaskan, bahwa ruang-waktu bergerak relatif dalam kaitan dengan pengamat. Pengamat disini adalah manusia yang memiliki kesadaran. Maka, ada tiga pertimbangan yang kiranya bisa diajukan.

Pertama, ruang-waktu, Tuhan, alam semesta, gerak dan sebagainya adalah konsep ciptaan pikiran manusia. Konsep adalah abstraksi dari apa yang dicerap oleh panca indera. Abstraksi merupakan proses berpikir. Bahasa juga merupakan hasil abstraksi. Sekali lagi, semuanya diciptakan oleh manusia yang memiliki kesadaran.

Dua, beragam penelitian neurosains sudah membuktikan, bahwa kenyataan merupakan ciptaan dari kesadaran. Dunia luar merupakan rekayasa kesadaran manusia, dan sepenuhnya terjadi di dalam kesadaran. Mata tidak sungguh melihat, dan telinga tidak sungguh mendengar. Semuanya adalah bagian dari gerak kesadaran itu sendiri.

Ketiga, di dalam terang berbagai penelitian ilmiah semacam ini, maka pencarian akan Tuhan tidak lagi diarahkan ke luar diri, melainkan ke dalam kesadaran manusia itu sendiri. Bahkan, tak berlebihan jika dikatakan, kesadaran adalah pencipta segala sesuatu. Segalanya menjadi ada di dalam terang kesadaran manusia. Tanpa kesadaran yang mengamati dan menyadari, seluruh alam semesta adalah ruang hampa belaka yang tak bernama.

Kesadaran sebagai Tuhan

Ini sebenarnya bukan hal baru. Filsafat Asia sudah lama menyadari hal ini. Pencarian Tuhan haruslah diarahkan ke dalam kesadaran manusia, dan bukan keluar. Dengan cara ini, pengetahuan bisa berubah menjadi pengalaman nyata, karena orang langsung menyetuh Tuhan di dalam dirinya sendiri.

Pepatah lama kiranya tepat: ketika orang mengenali dirinya sendiri yang sejati, ia mengenali Tuhannya. Disini, filsafat membawa orang ke tingkat pencerahan dan kebijaksanaan, bukan hanya kepintaran mengutip teori belaka. Ini bisa juga dilihat sebagai puncak perkembangan peradaban. Kesadaran adalah Tuhan, dan seluruh dunia menengok ke dalam dirinya masing-masing.

Disinilah perubahan sesungguhnya terjadi. Maka, Trump tidak akan terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Jakarta akan dikelola oleh pemimpin sejati, bukan oleh para pesolek miskin kinerja. Berbagai konflik dan kebodohan di tingkat global maupun nasional bisa dihindari. Nalar jernih dan empati akan menjadi keutamaan utama, bukan fanatisme buta terhadap agama ataupun aliran berpikir tertentu.

Sudah saatnya.

 

8 thoughts on “Tuhan dan “Arlojinya”

  1. sewaktu membaca pertama kali thema diatas, saya tidak mengerti sama sekali apa yg di maksud.
    setelah dgn tenang2 saya membaca dgn lamban , barulah saya mengerti apa yg di maksud penulis.
    dari permulaan membaca saya hanya mampu menangkap bagian achir (fazit).
    penulis mengarahkan tujuan mencari nalar sehat, hati nurani dan jati hati.
    achir kata : sepakat sekali dgn makna diatas. hanya mesti membaca dgn cermat dan terbuka.
    haha haha…
    salam hangat !!

    Suka

  2. Perjalanan peradaban adalah perjalanan untuk mencari Tuhan.kalimat ini saya sangat menyukai dan sangat setju karena dalam ajaran islam sama dengan kita memperkuat ketauhidan kepada allah swt allah yang esa tiada beranak dan tiada diperanakan seperti yang tercantum dalam Quran surat al ikhlas ayat 1 sampai 4 dan kisah nabi ibrahim a.s ketika ia berusha memperkuat tauhidnya kepada allah swt.

    Suka

  3. Di belahan alam semesta lain, tuhan tidak ada dalam imajinasi manusia (dalam memahami kehidupan).

    Suka

  4. tuhan telah menciptakan alam dari ketiadaan dan tuhan itu sungguh tidak ada akan tetapi dia realita terpenting di dunia, maka dari itu ciptaan yang semua dimuka bumi ini hanya allah yang menciptakan

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.