Jika Kamu Mencintai Aku, Jangan Ciptakan “Aku”

Ilustrasi karya Jason Ranti

Oleh Reza A.A Wattimena

Jika kamu mencintai aku, jangan ciptakan “aku”. Begitulah kata Ajahn Amaro, seorang Bikkhu Buddhis, ketika diminta berbicara soal cinta. Saya langsung menampilkan kutipan itu di beberapa media sosial pribadi. Beberapa teman langsung bertanya, apa artinya? Saya tergelitik untuk memberikan jawaban.

Ini adalah soal cinta. Tema abadi dalam hidup manusia yang menjadi inspirasi untuk sejuta lagu, film, buku maupun puisi. Siapa yang tak suka, ketika cinta datang berkunjung? Hati berbunga, dan hari terasa seperti bernyanyi, tanpa ujung.

Namun, tak jarang cinta berujung pada duka. Hati yang bernyanyi patah disiksa rasa kecewa. Beberapa melanjutkan hidup dalam nestapa. Tak sedikit pula yang putus harapan, dan memilih kematian sebagai teman.

Mekanisme Jatuh Cinta

Mengapa ini terjadi? Ini terjadi, karena ketika jatuh cinta, kita jatuh cinta pada sebuah gambaran. Kita jatuh cinta pada konsep tentang orang lain. Kita menciptakan “dia” di dalam kepala kita. Padahal, “ia” yang nyata pasti berbeda dengan “ia” yang kita bayangkan.

Kita jatuh cinta pada seorang “pribadi”. “Pribadi” adalah kumpulan cerita. Ia bukanlah kenyataan. Pribadi adalah ciptaan kita yang sedang melihat dan memikirkannya.

“Pribadi” adalah ilusi. “Dia” juga adalah ilusi. Ketika kita jatuh cinta pada pribadinya, maka kita jatuh cinta pada isi kepala kita sendiri. Tak heran, kita terjerumus dalam derita dan nestapa.

Realita

Segala hal berubah. Tidak ada yang tetap. Orang yang kita kenal dan sayangi pun juga berubah. Sifat dan bentuk fisik mereka pun terus berubah, seperti sungai yang tak berhenti mengalir.

Karena segalanya berubah, maka tak ada inti yang bisa dipahami. Tak ada inti yang bisa digenggam dengan erat. Tidak ada ciri pribadi yang bisa dibaca. Tidak ada sifat ataupun karakter yang tak berubah.

Karena segalanya berubah, dan tak ada inti, maka tak ada yang pasti. Upaya untuk memperoleh kepastian akan berakhir dengan kekerasan. Inilah penyakit para radikalis agama, maupun radikalis ideologi (Marxisme, Liberalisme, Fasisme dan sebagainya). Upaya untuk memastikan dan mengontrol kehidupan akan berakhir dengan kekerasan dan penderitaan.

Lalu Bagaimana?

Maka, kita perlu melihat dan memahami kenyataan sebagaimana adanya. Kita perlu hidup dengan kehidupan, bukan dengan pikiran-pikiran kita semata. Pikiran dan emosi lalu digunakan seperlunya, tidak secara berlebihan. Inilah kebijaksanaan tertinggi yang bisa diraih manusia.

Ketika cinta tiba, jangan membuat cerita tentangnya. Jangan menebak karakter orang yang kita berikan cinta. Jangan membuat asumsi apapun. Jangan membuat “dia” di dalam kepalamu.

Maka, cinta pun akan tumbuh dengan alami. Tidak ada gangguan pikiran dan emosi yang tak berguna. Yang tercinta akan selalu dilihat di dalam kenyataan disini dan saat ini. Cinta semacam ini telah menyentuh keabadian.

Keheningan dan Kreativitas

Ketika kita berhenti membuat cerita tentang kehidupan, kita akan menemukan keheningan. Bahkan, ketika sekitar kita gaduh, batin kita tetap hening dan damai. Kiranya rumus yang sama bisa diucapkan. “Jika kamu ingin kehidupan yang bahagia, jangan membuat cerita apapun tentang kehidupan.”

Di dalam keheningan, ide berkembang. Kebijaksanaan dan welas asih bertumbuh. Tak ada buku yang perlu dibaca, dan tak ada sekolah yang harus ditempuh. Inilah kebijaksanaan alami yang sejalan dengan hukum-hukum alam (Dharma).

Kreativitas pun mengalir deras. Dorongan untuk mencipta tampil ke depan. Kepedulian pada kehidupan tumbuh dengan sendirinya. Kita lalu menjadi hidup sepenuhnya, dengan segala api dan damai yang ada di dalamnya.

Ajahn Amaro kiranya tepat. Saya sudah mencobanya. Ketika saya tak membuat cerita tentang apapun, segalanya menjadi jelas dan jernih dengan sendirinya. Tak ada kenikmatan yang lebih tinggi daripadanya. Anda tertarik mencoba?

 

 

 

 

 

 

 

Penulis: Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020) dan berbagai karya lainnya.

8 tanggapan untuk “Jika Kamu Mencintai Aku, Jangan Ciptakan “Aku””

  1. membaca thema diatas, teringat dlm buku thic nhat hanh, inti nya : “memeluk suka duka dlm hidup”.
    dgn usaha tsb kita menerima apa adanya, hidup dari saat ke saat.
    “achir nya(??)” kita balik kejiwa pemula , yg sangat menyejukkan kehidupan sehari2 dgn senyum
    authentik !! bak ombak dan gelombang laut yg dibutuhkan seorang surfer utk meluncur !!
    terima kasih dan banya salam.

    Suka

  2. Kren tulisannya apakah ada rekomendasi buku2 filsafat yang terbaru yang bisa saya jadikan referensi terkait dengan proses penulisan saya Deng topik permasalahan pengaruh pendidikan gaya bank dan sarana prasarana terhadap mutu sekolah

    Suka

  3. Cinta oh cinta selalu menarik untuk diperdalam, saya kadang merefleksikan pada konsep cinta di Coleridge dan Kant. Coleridge sendiri,mengutip ungkapan Kant, (The Metaphysics of Costumes) . yang terkandung dalam teks-teks Coleridge lain, sebuah penjelasan tentang perbedaan dengan Kant, di mana pemikiran Coleridge mengidentifikasi identifikasi etika Kantian dengan etika tabah, dalam oposisi. etika Kristen.Tujuan dari halaman-halaman ini, yang sekarang memanifestasikan dirinya dalam bentuknya yang mungkin lebih kompleks, terdiri dari upaya untuk membandingkan beberapa aspek pemikiran Kant dan Coleridge tentang konsep cinta, yang sekarang mempertimbangkan beberapa bagian, di mana Kant mengungkapkan idenya tentang itu.
    Kant dalam karya-karyanya mencerminkan beberapa kali pada konsep cinta, tetapi khususnya kita akan mempertimbangkan deskripsi cinta yang terkandung dalam beberapa bagian dari karya-karya Kant,Dalam Lessons of Ethics , diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1924 oleh Paul Menzer, dan mungkin berasal dari pelajaran yang diadakan antara 1775 dan 17780-81, Kant mengatakan bahwa ” cinta adalah cinta karena kecenderungan; tetapi mungkin juga ada kebajikan yang dibangun berdasarkan prinsip . Dengan demikian, ia mengidentifikasi dua bentuk cinta, yang satu terkait dengan kecenderungan, yang lain terkait dengan asas dan terkait dengan tugas dan kemauan. Untuk menegaskan posisinya.Cinta oh cinta berjuta indahnya

    Tabya pun

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.