Menyentuh Keabadian

Ilustrasi Karya Jason Ranti

Oleh Reza A.A Wattimena

Alkisah, tiga praktisi Zen sedang duduk di taman. Mereka melihat daun-daun pohon bergerak diterpa angin. Muncul pertanyaan di kepala mereka. Apakah angin yang bergerak, atau pohon yang bergerak?

Diskusi berubah menjadi perdebatan. Keadaan pun memanas. Karena tak menemukan jawaban, salah satu praktisi Zen memutuskan untuk berbicara kepada master Zen. Menyimak perdebatan yang terjadi, sang master Zen berkata, „Yang bergerak bukanlah angin ataupun daun pohon, melainkan pikiranmu,…  dan juga mulutmu.“

Batin yang Bergerak

Batin yang bergerak adalah asal muasal dari segalanya. Batin yang bergerak akan menciptakan pikiran. Pikiran terbentuk, karena analisis terhadap sebuah keadaan. Artinya, orang tidak bisa melihat keadaan sebagaimana adanya, dan melakukan analisis terhadapnya.

Hasilnya adalah penolakan, atau kesetujuan. Keduanya merupakan penjara. Orang menolak apa yang tak ia suka. Ia pun ketagihan pada apa yang ia suka.

Inilah jantung hati dari tegangan maupun penderitaan hidup manusia. Di dalam tradisi Zen, inilah yang disebut sebagai lingkaran hidup dan mati. Masalahnya, orang kerap kali tak bisa memilih keadaan yang terjadi atasnya. Jika ia menolak apa yang ia benci, dan melekat pada apa yang ia cintai, maka seluruh hidupnya akan berubah menjadi kereta naik turun yang menghasilkan derita.

Konflik batin adalah akar dari konflik dengan orang lain. Ketika batin tak menemukan damai, maka orang akan terus merasa cemas. Hanya tinggal selangkah, sampai ia menyerang orang lain. Seluruh konflik politik di tataran global terjadi, persis karena para pemimpin bangsa gagal menemukan kedamaian di dalam diri mereka.

Semua dimulai dengan batin yang bergerak untuk membuat analisis. Ketika itu terjadi, kita kehilangan keadaan alamiah kita. Kita kehilangan kejernihan, dan terjebak pada penilaian suka ataupun tidak suka tentang dunia. Kita menciptakan neraka melalui pikiran kita sendiri.

Batin yang Tak Bergerak

Salah satu teks yang paling menarik di dalam tradisi Zen adalah Unfettered Mind yang ditulis oleh Takuan Soho. Ia adalah seorang master Zen yang hidup, ketika Shogun dan Samurai masih menjadi penguasa di dalam politik Jepang abad 16. Inti pandangannya adalah batin yang tak bergerak di hadapan segala keadaan. Ini menjadi amat penting bagi para Samurai yang akan bertarung mempertaruhkan nyawa di medan perang.

Batin yang tak bergerak tak membuat analisis apapun. Segala hal terjadi di depan matanya. Ia berada sebagai pengamat yang tak berpihak. Karena tak ada analisis, maka tak ada juga penolakan, ataupun kesetujuan. Yang tersisa: keadaan sebagaimana adanya.

Tak ada distraksi. Tak ada penderitaan. Tak ada pula penilaian. Batin lalu menjadi luas, siap menampung apapun yang terjadi. Inilah akhir dari penderitaan. Inilah keadaan batin Zen (Zen mind).

Keadaan batin ini berada sebelum waktu dan ruang. Ia berada sebelum bahasa dan juga sebelum konsep. Tak ada derita, dan tak ada bahagia. Di dalam filsafat Asia, ia disebut juga sebagai Nirwana, yakni lenyapnya semua kecenderungan batin.

Di titik inilah orang menyentuh keabadian. Orang menyentuh sepenuhnya saat ini. Waktu lenyap. Hidup menjadi saat demi saat.

Ada waktunya, gerak batin muncul. Ini terjadi, karena kebiasaan, atau keperluan. Tak masalah. Orang hanya perlu menyentuh kembali batin yang tak bergerak, yang merupakan dirinya yang asli. Ini adalah latihan seumur hidup, tanpa henti.

Tak Seperti yang Kita Pikirkan

Menyentuh keabadian berarti menyentuh kenyataan. Ini juga berarti, orang menyentuh kehidupan. Inilah inti dari semua ajaran spiritual di dunia. Ia berciri pribadi, namun memiliki dampak besar di dalam hidup sehari-hari.

Spiritualitas yang sejati berada sebelum konsep. Ia berbeda dari agama. Ia tak terkait dengan ritual. Ia juga melepaskan diri dari kepatuhan buta pada tradisi yang tak sesuai lagi dengan perubahan hidup.

Ia menghentikan semua analisis tentang kenyataan yang melahirkan tegangan dan derita. Ia mengajak orang untuk menyentuh keabadian.Pikiran lalu digunakan seperlunya. Analisis juga dilakukan sesuai tuntutan keadaan.

Tak lebih. Tak kurang. Inilah keadaan batin Zen. Inilah batin yang mampu menyentuh keabadian.

 

 

6 thoughts on “Menyentuh Keabadian

  1. jitu !! sepakat sekali.
    kehidupan sehari2 sangat baik utk mempraktek kan zen.
    dimulai dgn langkah2 sewaktu kita jalan, hidup dalam kesadaran dari saat ke saat.
    kehidupan sederhana yg tampak nya membosankan, bila kita jalankan dgn penuh kesadaran dari saat ke saat,
    menjadi kehidupan sepenuhnya, bahkan “sempurna”, semua nya sd “ada”, tersedia !!
    selamat berlatih !!
    salam hangat !

    Suka

  2. Artikel kali sangat rapi sekali…, cover ya juga unik dan tak terduga 🙂

    Tetap semangat berkarya mas reza.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.