Trauma, Derita dan Kebebasan

Donatas Abrutis

Oleh Reza A.A Wattimena

Setiap orang pasti punya pengalaman jelek di masa lalunya. Bentuknya beragam, mulai dari hal-hal kecil, seperti bertengkar dengan teman, sampai dengan hal-hal yang amat menyakitkan, seperti menjadi korban kekerasan seksual. Peristiwa itu mungkin sudah lama berlalu. Namun, bekasnya tetap terasa menyakitkan di saat ini.

Hal ini juga diteliti di dalam European Journal of Psychotraumatology. Data yang terkumpul menunjukkan, bahwa lebih dari 1,5 milyar orang mengalami perang dan konflik besar dari 1989 sampai 2015. 350 juta orang diantaranya mengalami trauma dan depresi berat. Mayoritas diantaranya tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk melampaui trauma dan depresi yang mereka alami. Lanjutkan membaca Trauma, Derita dan Kebebasan

Emosi Demokrasi

Richard Davis

Oleh Reza A.A Wattimena

Minggu-minggu terakhir September 2019, banyak mahasiswa kerap bertanya. Bagaimana pandangan bapak soal demonstrasi mahasiswa di berbagai kota belakangan ini? Komentar saya sederhana.

Isu yang diperjuangkan kali ini sangat berbobot. Mahasiswa harus punya pengalaman berdemo, dan kali ini, kalian harus aktif terlibat. Namun, hati-hati, karena banyak pihak busuk yang menunggangi demo, mulai dari preman pesanan, sampai dengan kepentingan asing berbau radikalisme agama. Lanjutkan membaca Emosi Demokrasi

Perselingkuhan

Rene Magritte’s Lovers.

Oleh Reza A.A Wattimena

Perselingkuhan itu bagaikan petir di siang bolong. Ia mengguncang dan mengagetkan. Perselingkuhan merupakan tindak mematahkan janji untuk tetap setia terhadap pasangan intim. Ia menciptakan kegembiraan sesaat dengan jutaan sakit hati serta masalah yang nantinya datang mengikuti.

Bagi banyak orang, ini adalah tema yang amat sensitif. Tak sedikit orang yang terluka karenanya. Berbagai lagu dan film berkembang dari tema ini. Berbagai tragedi berdarah juga terjadi di atasnya. Lanjutkan membaca Perselingkuhan

Politik, Demokrasi dan Keadilan di Indonesia

Abdel Hadi el-Gazzar

Oleh Reza A.A Wattimena

“Tugas menyedihkan dari politik”, demikian tulis Niebuhr, pemikir asal Amerika Serikat, “Adalah untuk mewujudkan keadilan di tengah dunia yang penuh dengan dosa.” Itulah pergulatan Indonesia di pertengahan September 2019, ketika persoalan Komisi Pemberantasan Korupsi mengundang kontroversi besar di masyarakat. Banyak pihak yang merasa, bahwa ketidakadilan besar telah terjadi. Masa depan pemberantasan korupsi di Indonesia pun kini dipertaruhkan.

Di abad click bait ini, dimana berita-berita sensasional dijual begitu cepat dan laku, media pun menggoreng isu tersebut besar-besaran. Semua sudut dianalisis. Semua tema sensitif diangkat ke permukaan. Semua dilakukan secara terus menerus demi memperpanas keadaan, dan memperoleh keuntungan finansial. Lanjutkan membaca Politik, Demokrasi dan Keadilan di Indonesia

Agama, Religiositas dan Spiritualitas

CHRISTOPHER MORPHIS

Oleh Reza A.A Wattimena

Sejak kecil, saya sudah suka pada hal-hal spiritual. Saya aktif terlibat di dalam agama yang diberikan oleh orang tua saya. Saya juga belajar ajaran berbagai agama. Namun, ketika melihat ajaran berbagai agama, dan melihat perilaku nyata orang-orang beragama, saya suka bingung. Mengapa berbeda sekali?

Ada agama yang mengajarkan damai dan kerukunan. Tapi, perilaku umatnya sangat agresif (penuh kekerasan), sombong dan menindas hak-hak asasi manusia. Ada agama yang mengajarkan kesederhanaan dan cinta. Namun, perilaku umatnya suka pamer kekayaan, dan manipulatif. Saya bingung. Lanjutkan membaca Agama, Religiositas dan Spiritualitas

Buku Terbaru: Protopia Philosophia, Berfilsafat Secara Kontekstual

Oleh Reza A.A Wattimena

Mari kita mulai dengan judul buku ini. Protopia adalah kemajuan secara bertahap. Kata ini dibedakan dari Utopia, yang berarti tanpa-tempat. Utopia menghendaki perubahan besar dalam waktu singkat untuk mewujudkan sebuah visi yang besar dan luhur. Protopia adalah proses bertekun dalam kompleksitas hidup, dan berusaha melampaui berbagai tantangan secara perlahan, namun pasti.

Philosophia adalah filsafat. Ia terdiri dari dua kata, yakni philo yang berarti pecinta, dan sophia yang berarti kebijaksanaan. Maka, filsafat, secara harafiah, dapat diartikan sebagai pecinta kebijaksanaan. Yang menjadi ciri unik filsafat adalah penggunaan akal budi secara murni, tanpa mengacu pada iman atau agama dalam bentuk apapun. Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Protopia Philosophia, Berfilsafat Secara Kontekstual

Antipluralisme di Abad 21

Stefano Ilad

Oleh Reza A.A Wattimena

Ada hal menarik di abad 21 terkait dengan para pembunuh massal. Mereka menulis sebuah manifesto.

Di masa lalu, pembunuh massal, dan pembunuh berseri, bertindak, karena mereka menderita trauma. Mereka tidak sehat secara mental.

Di abad 21, terutama belakangan ini, pembunuh massal bertindak, karena ideologi. Mereka memiliki pandangan sempit tertentu tentang kenyataan, dan ingin menyebarkan ketakutan, guna mewujudkan pandangan itu.

Rasisme Esensialis

Seperti dicatat oleh David Brooks, pelaku pembunuhan massal di New Zealand dan Amerika Serikat menulis sebuah manifesto. Mereka memuji keberagaman budaya dan ras di dunia, serta tidak ingin itu semua bercampur baur. (Brooks, 2019) Lanjutkan membaca Antipluralisme di Abad 21

Buku Terbitan Terbaru: Memahami Hubungan Internasional Kontemporer

Oleh Reza A.A Wattimena dan Anak Agung Banyu Perwita

Seorang tokoh politik sekaligus mantan Ibu Negara Amerika Serikat, Eleanor Roosevelt, pernah berkata. “Tidaklah cukup berbicara tentang perdamaian. Orang harus mempercayainya. Dan percaya pun tidak cukup. Orang harus bekerja mewujudkannya.” Pandangan ini kiranya sejalan dengan isi, maupun alasan ditulisnya buku ini.

Memang, perdamaian adalah sebuah proses panjang. Ia tidak terjadi di dalam satu waktu, namun bergerak di dalam lintasan perubahan sejarah. Ia juga adalah hasil dari sebuah usaha berkelanjutan. Buku ini dapat ditempatkan sebagai sebuah upaya kecil untuk terlibat di dalam usaha mewujudkan perdamaian tersebut. Lanjutkan membaca Buku Terbitan Terbaru: Memahami Hubungan Internasional Kontemporer

Pikiran dan Pembebasan

Alessandro Tognin

Oleh Reza A.A Wattimena

Pikiran itu amat perkasa. Ia bisa membuat surga terasa seperti neraka, dan neraka terasa seperti surga. Begitulah kata John Milton. Pikiran bisa membuat rumah nyaman terasa seperti penyiksaan. Ia bisa membuat gubuk sederhana terasa seperti istana yang membahagiakan.

Para pemikir sepanjang sejarah sudah lama sadar, bahwa pikiran manusia yang membentuk dunia. Warna dan bentuk tidak ada di dalam kenyataan. Keduanya adalah ciptaan dari pikiran manusia. Jika anda mengira, bahwa apa yang anda lihat adalah nyata, maka anda sudah tertipu oleh pikiran anda sendiri. Lanjutkan membaca Pikiran dan Pembebasan

Planetaritas, Biophilia dan Pendidikan Kita

The Rustic Woman

Oleh Reza A.A Wattimena

Kemerdekaan RI ke 74. Sebuah perayaan. Tema yang diangkat adalah menciptakan Indonesia sebagai bangsa unggul. Muncul beberapa hal di kepala saya, ketika mendengar ini.

Sudah lama saya tak percaya dengan slogan. Hal-hal yang terdengar indah di telinga, namun kosong di dalam kenyataan. Namun, kali ini, saya tak mau pesimis. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Lanjutkan membaca Planetaritas, Biophilia dan Pendidikan Kita

Budaya Mafia di dalam Politik Indonesia

Project Proton

Oleh Reza A.A Wattimena

Tulisan ini bermula dari percakapan dengan seorang sahabat. Seperti banyak orang lainnya, dia amat prihatin dengan keadaan politik Indonesia. Korupsi, kolusi dan nepotisme tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Tiga lembaga utama demokrasi, yakni pemerintah, parlemen dan lembaga hukum, banyak mengalami masalah kinerja, sekaligus juga tak bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme.

Orang-orang berlomba untuk menjadi politisi bukan untuk membangun negara, tetapi untuk memperkaya diri. Politik uang (money politics) bertebaran di berbagai penjuru. Sebuah kebijakan keluar bukan untuk kebaikan rakyat sebagai keseluruhan, tetapi untuk keuntungan segelintir kelompok semata. Agama pun dimainkan untuk politik kerakusan, sehingga justru menghancurkan wibawa dan nilai agama itu sendiri. Lanjutkan membaca Budaya Mafia di dalam Politik Indonesia

Dan Setelahnya…

Mobil Art School

Oleh Reza A.A Wattimena

Jakarta, 4 Agustus 2019, rumah kami mengalami mati lampu selama kurang lebih 11 jam. Tidak hanya lampu, jaringan telepon selular pun mati. Alhasil, selama 11 jam, saya memiliki waktu hening, dan berada bersama keluarga maupun tetangga sekitar. Mungkin itu salah satu titik terangnya.

Ketika tercabut dari semua teknologi, saya teringat percakapan dengan seorang sahabat. “Coba donk menulis soal move on,” begitu katanya. Itu ide yang menarik untuk saya. Bagaimana kita bisa tetap hidup dalam kejernihan, setelah mengalami peristiwa traumatis, seperti kematian anggota keluarga, putus hubungan ataupun kegagalan-kegagalan lainnya dalam hidup? Lanjutkan membaca Dan Setelahnya…

Sampai Seribu Tahun Lamanya

The Zen Habits Book

Oleh Reza A.A Wattimena

Hidup yang utuh dan penuh. Hidup yang bermakna dan berbahagia. Ah, semua orang menginginkannya. Semua cara ditempuh untuk mencapainya.

Kata orang, uang akan membawa kebahagiaan. Punya uang berarti mendapat kehormatan. Orang bisa membeli apapun, termasuk pengabdian dan kesetiaan orang lain. Namun, setelah diperoleh, hidup yang utuh dan penuh tak kunjung tiba. Yang berkunjung justru kecemasan dan kerakusan. Lanjutkan membaca Sampai Seribu Tahun Lamanya

Tritunggal Anti-Politik

San Minn

Oleh Reza A.A Wattimena

Kekuasaan. Ia memang sangat menggoda. Orang memimpikannya, dan kerap melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Yang telah memilikinya sulit untuk melepasnya, ketika waktunya tiba.

Di tangan orang bermoral busuk, kekuasaan menjadi bencana. Daya rusaknya menjadi sedemikian besar, bahkan dirasakan lintas generasi. Namun, di tangan seorang ksatria, kekuasaan menjadi berkah. Ia membawa kebaikan bersama, tidak hanya untuk manusia, tetapi untuk seluruh kehidupan. Lanjutkan membaca Tritunggal Anti-Politik

Publikasi Terbaru: Agama dan Kekuasaan, Tinjauan Transkeilmuan dan Kritik Ideologi

Oleh Reza A.A Wattimena

Agama adalah salah satu ajaran pengikat manusia. Orang-orang dengan berbagai latar belakang, cara berpikir dan pola perilaku bisa hidup di bawah payung ajaran yang sama, berkat adanya agama. Agama menawarkan tata nilai yang bisa membawa orang pada kehidupan yang paripurna. Agama juga menawarkan harapan, ketika penderitaan hidup dan kematian akan datang berkunjung. Di tengah hidup yang semakin tidak pasti, akibat keadaan politik dan ekonomi dunia yang terus bergejolak, agama menjadi pegangan banyak orang.

Di satu sisi, agama juga adalah sebentuk kekuasaan. Ia mengatur hidup banyak orang di dalam payung ajarannya. Di sisi lain, terutama di abad 21, agama menjadi alat kekuasaan untuk mengumpulkan massa. Ajaran-ajaran agama dipelintir sedemikian rupa, sehingga ia membenarkan aliran politik tertentu. Bahkan, korupsi dan penipuan masyarakat pun seringkali mencari pembenaran dari agama, supaya ia tidak ditinggalkan masyarakat luas. Lanjutkan membaca Publikasi Terbaru: Agama dan Kekuasaan, Tinjauan Transkeilmuan dan Kritik Ideologi

“Hantu”: Demistifikasi, Proyeksi dan Anomali

Jeremy Ian Harvey

Oleh Reza A.A Wattimena

Artikel untuk Diskusi Rabuan, Rabu 17 Juli 2019

Lebih dari dua ratus tahun lalu, Karl Marx, salah satu pemikir politik terbesar sepanjang sejarah, menulis, „Ada hantu bergentayangan di Eropa. Hantu itu bernama komunisme.“ Marx menggambarkan perubahan besar pada abad 18 dan 19 yang menerjang Eropa. Kerajaan-kerajaan absolut tumbang oleh revolusi berdarah. Sistem sosial, dan bahkan budaya Eropa sebagai keseluruhan, mengalami perubahan mendasar yang mencengangkan.

Kata „hantu“ yang digunakan Marx amat menarik untuk saya. Kata itu melambangkan hadirnya sesuatu yang mengerikan. Ada sesuatu yang tak terjelaskan mengancam cara hidup Eropa pada masanya. Lanjutkan membaca “Hantu”: Demistifikasi, Proyeksi dan Anomali

Tentang Kesalahan-Kesalahan dalam Hidup

Tara Minshull

Oleh Reza A.Awattimena

Apakah ada kesalahan dalam hidup? Kita sering mengira, bahwa kita telah salah memilih. Kita tidak sungguh mempertimbangkan semua unsur di dalam keputusan kita. Ketika merasa rugi, kita lalu menyesal.

Penyesalan adalah salah satu sumber utama penderitaan. Banyak orang tersiksa batinnya, karena penyesalan menggerogoti pikirannya. Sejuta pelarian pun dicarinya, mulai dari narkoba sampai bunuh diri. Bagaimana kita memahami kesalahan-kesalahan di dalam hidup? Lanjutkan membaca Tentang Kesalahan-Kesalahan dalam Hidup

Ketika Duka Berkunjung…

Fiveprime

Oleh Reza A.A Wattimena

Ketika kehilangan sesuatu, manusia berduka. Kematian dan perpisahan dengan orang yang dicintai memicu rasa duka di dalam batin manusia. Duka pun berujung pada rasa kesedihan yang mendalam, sekaligus kesepian. Rasa duka tidak hanya dipicu, ketika kematian ataupun perpisahan semata, tetapi juga oleh lenyapnya pekerjaan, kegagalan dari sebuah ambisi, sakit yang parah sampai dengan perpindahan tempat tinggal.

Rasa duka itu unik. Setiap orang mengalami dan menjalaninya secara berbeda. Namun, ia tak perlu ditolak. Jika ditolak atau ditekan, ia akan semakin membesar. Rasa duka perlu dipahami. Lanjutkan membaca Ketika Duka Berkunjung…

Sang Diktator

Oleh Reza A.A Wattimena

Hidup kita banyak diisi oleh para diktator. Tak jarang pula, kita juga telah menjadi diktator. Seorang diktator memaksakan kehendaknya terhadap kehidupan. Jika perlu, ia akan menggunakan kekerasan, guna mencapai tujuannya.

Diktator dalam Politik

Para pemikir politik memahami diktator sebagai orang yang memusatkan semua kekuasaan politik ke dalam tangannya. Tentunya, ini bukan sepenuhnya hal buruk. Di masa Kekaisaran Romawi Kuno, ketika krisis politik terjadi, para senator memilih satu pemimpin utama yang memegang kekuasaan secara mutlak. Ini berlaku sampai krisis berakhir. Lanjutkan membaca Sang Diktator

Sains, Spiritualitas dan Politik di Abad 21

Phys.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita hidup di masa yang menakjubkan. Teknologi berkembang begitu pesat. Kehidupan manusia berubah secara mendasar dan menyeluruh. Banyak hal baru ditemukan yang mengubah pemahaman kita tentang kehidupan.

Memang, hal-hal jelek tetap ada. Kesenjangan ekonomi dan kerusakan lingkungan menjadi masalah besar saat ini. Namun, kita tetap berpaling pada teknologi dan ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan masalah itu. Di berbagai belahan dunia, investasi besar dilakukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada. Lanjutkan membaca Sains, Spiritualitas dan Politik di Abad 21