Agama, Religiositas dan Spiritualitas

CHRISTOPHER MORPHIS

Oleh Reza A.A Wattimena

Sejak kecil, saya sudah suka pada hal-hal spiritual. Saya aktif terlibat di dalam agama yang diberikan oleh orang tua saya. Saya juga belajar ajaran berbagai agama. Namun, ketika melihat ajaran berbagai agama, dan melihat perilaku nyata orang-orang beragama, saya suka bingung. Mengapa berbeda sekali?

Ada agama yang mengajarkan damai dan kerukunan. Tapi, perilaku umatnya sangat agresif (penuh kekerasan), sombong dan menindas hak-hak asasi manusia. Ada agama yang mengajarkan kesederhanaan dan cinta. Namun, perilaku umatnya suka pamer kekayaan, dan manipulatif. Saya bingung.

Dalam perjalanan, saya menemukan. Agama ternyata berbeda dengan religiositas, dan dengan spiritualitas. Inilah akar kemunafikan yang saya temukan dalam hidup sehari-hari. Apa perbedaan antara agama, religiositas dan spiritualitas?

Agama, Religiositas dan Spiritualitas

Pertama, agama adalah organisasi. Sebagaimana semua organisasi, pertarungan untuk memperebutkan kekuasaan pun terjadi. Ada uang bermain di dalamnya. Manipulasi dan intimidasi juga kerap terjadi.

Di Indonesia, kita sudah kenyang dengan pengalaman semacam ini. Agama digunakan oleh para mafia untuk menciptakan perpecahan. Agama juga dikendarai oleh partai politik busuk untuk merebut kekuasaan secara tidak jujur. Pilkada Jakarta 2017 lalu, pemenjaraan Ahok serta beberapa kasus lainnya masih menyisakan trauma tentang bagaimana agama ditunggangi para mafia.

Kedua, religiositas adalah jantung hati agama. Ini menyangkut pengetahuan dan penghayatan seseorang pada agama tertentu. Orang yang religius berarti menghayati betul ajaran agamanya, dan menerapkannya secara sungguh di dalam hidup sehari-hari. Namun, ada masalah disini.

Orang yang religius masih terbatas pada ajaran agama tertentu. Ia masih menjadi manusia partikular. Pandangannya masih sempit, karena terpukau pada ajaran agama tertentu. Ia masih sektarian.

Ketiga, bentuk berikutnya adalah spiritualitas. Ia adalah pemahaman orang akan jati dirinya sejatinya, sebelum semua identitas sosial muncul. Menjadi manusia spiritual berarti menjadi manusia universal. Ajaran berbagai agama dipelajari, namun orang tidak terjebak di dalam salah satunya.

Manusia spiritual adalah manusia semesta. Ia melihat dirinya sebagai warga semesta yang melintasi semua batas-batas buatan manusia (seperti negara, etnis, ras, dan agama). Moralitasnya bukan sekumpulan hukum yang tak lagi cocok dengan jaman, melainkan nurani. Baik dan buruk selalu menyesuaikan dengan keadaan disini dan saat ini.

Manusia spiritual juga melihat alam sebagai bagian dari dirinya. Ia tak akan melakukan hal-hal yang merusak alam. Moralitas hijau (yang berpihak pada kelestarian biodiversitas kehidupan) selalu menjadi bagian dari nurani alamiahnya.

Identitas Seluas Semesta

Hidup seseorang amat tergantung pada cara pandangnya. Cara pandang seseorang amat tergantung pada identitasnya. Jika identitasnya sempit, maka cara pandangnya juga sempit. Hidupnya pun juga sempit.

Sebaliknya, manusia spiritual adalah manusia semesta. Identitasnya seluas semesta. Cara pandangnya seluas semesta. Hidupnya pun, dengan demikian, seluas semesta.

Kemunafikan terjadi, ketika orang hanya menjadi orang beragama. Ia tak paham dan tak menghayati ajaran agamanya. Hidupnya sempit dan korup. Ia hanya mengabdi kekuasaan buta, dan menggunakan agama untuk mencapai itu.

Di Indonesia, menjadi manusia religius sebenarnya cukup. Orang sungguh menghayati ajaran agamanya dalam hidup sehari-hari. Namun, orang semacam ini belum menyentuh dimensi terdalam kehidupan. Spiritualitas sudah mengetuk, namun pintu belum dibuka olehnya.

Di abad 21 ini, kita butuh manusia-manusia spiritual. Mereka harus menjadi pemimpin politik sekaligus ekonomi. Mereka harus menjadi tokoh masyarakat. Hanya dengan begitu, perdamaian di dunia yang semakin majemuk dan kompleks ini mungkin terwujud.

 

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018) dan berbagai karya lainnya.

10 tanggapan untuk “Agama, Religiositas dan Spiritualitas”

  1. membaca paparan mas Reza ini saya jadi teringat ungkapan seorang Søren Kierkegaard yang mengatakan
    ada dua cara untuk dibodohi. Pertama adalah percaya apa yang tidak benar; yang lain adalah menolak untuk percaya apa yang benar. ~

    Suka

  2. begitu pula yg saya alami sehari2.
    karya diatas adalah parameter cara hidup saya. untuk menyentuh / menemukan arah tsb diperlukan waktu lama, utk mengalami kehidupan tsb perlu waktu seumur hidup.
    kias nya seperti mau makan enak, perlu persiapan dan waktu memasak gulai yg lama dan kesabaran, kita benar2 menikmati makanan tsb.
    spiritualitas bagi saya tidak lain /identik dengan filosofie dapur. lain2 tidak ada.
    banyak terima kasih , penerangan begitu sederhana , tidak bertele2, jitu !!
    salam hangat !!

    Suka

  3. Terima kasih Bapak Dr. Reza A.A Wattimena atas email tulisan-tulisan BapakSaya senang dan merasa mendapaat pencerahan dari membaca tulisan-tulisan Bapak.Selamat berkarya terus, Tuhan selalu  memberkati Bapak dengan kesehatan dan kebahagiaan. Hormat saya,Made Antara

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.