Antipluralisme di Abad 21

Stefano Ilad

Oleh Reza A.A Wattimena

Ada hal menarik di abad 21 terkait dengan para pembunuh massal. Mereka menulis sebuah manifesto.

Di masa lalu, pembunuh massal, dan pembunuh berseri, bertindak, karena mereka menderita trauma. Mereka tidak sehat secara mental.

Di abad 21, terutama belakangan ini, pembunuh massal bertindak, karena ideologi. Mereka memiliki pandangan sempit tertentu tentang kenyataan, dan ingin menyebarkan ketakutan, guna mewujudkan pandangan itu.

Rasisme Esensialis

Seperti dicatat oleh David Brooks, pelaku pembunuhan massal di New Zealand dan Amerika Serikat menulis sebuah manifesto. Mereka memuji keberagaman budaya dan ras di dunia, serta tidak ingin itu semua bercampur baur. (Brooks, 2019) Lanjutkan membaca Antipluralisme di Abad 21

Apakah Kita Sungguh Berbeda? Diskursus tentang Rasisme

futurity.org
futurity.org

Oleh Reza A.A Wattimena

sedang belajar di Bonn, Jerman

9 Januari 2013, Farhat Abbas, pengacara, menulis kalimat yang mencengangkan di akun Twitternya. Ia menyatakan ketidaksetujuannya atas satu peristiwa yang belum tentu benar (perihal plat nomor), dan mengungkapkan kekecewaannya dengan menghina ras Wakil Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, alias Ahok. Ini memang kejadian kecil. Namun, kejadian kecil ini menandakan satu hal yang cukup menyeramkan, bahwa rasisme masih begitu kuat tertanam di dalam kesadaran masyarakat kita.

Lebih dari 50 tahun yang lalu, Adolf Hitler di Jerman melakukan pembunuhan sistematis terhadap ras-ras non Aria (Jerman), terutama kaum Yahudi, dan kelompok orang-orang cacat maupun terbelakang di Jerman. Peristiwa menyeramkan ini terus terngiang di dalam batin masyarakat Jerman, sampai sekarang ini, dan seolah menjadi duri bagi nurani mereka, ketika hendak bersikap terhadap persoalan Israel dan Palestina dewasa ini. Rasisme bagaikan iblis dari masa lalu yang terus menghantui bangsa Jerman.

1998, Jakarta, Indonesia, saya menyaksikan sendiri, bagaimana toko-toko salah satu etnis di Indonesia dibakar dan dimusnahkan. Begitu banyak orang dibunuh. Mei 1998 bagaikan hari gelap bagi seluruh bangsa Indonesia, dimana rasisme dan kebencian menjadi raja, menggantikan toleransi antar kelompok yang telah lama diperjuangkan. Tak hanya bangsa Jerman, masa lalu bangsa Indonesia juga memiliki hantu rasisme yang tak juga lenyap di era reformasi ini.

Februari 2001, Sampit, Indonesia, pecah konflik antara etnis antara Suku Dayak asli dan penduduk pendatang dari Madura. Lebih dari 500 orang meninggal dengan cara mengenaskan, dan 100.000 warga Madura kehilangan rumah dan mata pencaharian mereka. Konflik berdarah pecah, akibat kebencian rasistik yang terpendam, dan meledak keluar, sehingga menghancurkan semuanya. Sekali lagi, sejarah Indonesia, sama seperti Jerman, dihantui terus menerus oleh rasisme. Lanjutkan membaca Apakah Kita Sungguh Berbeda? Diskursus tentang Rasisme