Dan Setelahnya…

Mobil Art School

Oleh Reza A.A Wattimena

Jakarta, 4 Agustus 2019, rumah kami mengalami mati lampu selama kurang lebih 11 jam. Tidak hanya lampu, jaringan telepon selular pun mati. Alhasil, selama 11 jam, saya memiliki waktu hening, dan berada bersama keluarga maupun tetangga sekitar. Mungkin itu salah satu titik terangnya.

Ketika tercabut dari semua teknologi, saya teringat percakapan dengan seorang sahabat. “Coba donk menulis soal move on,” begitu katanya. Itu ide yang menarik untuk saya. Bagaimana kita bisa tetap hidup dalam kejernihan, setelah mengalami peristiwa traumatis, seperti kematian anggota keluarga, putus hubungan ataupun kegagalan-kegagalan lainnya dalam hidup?

Move on.. saya tak punya terjemahan yang tepat untuk kata itu. Maju terus? Ah, itu terasa sama sekali tak pas. Lalu, saya menggunakan terjemahan yang tidak harafiah, yakni “dan setelahnya”. Apa yang ada, setelah peristiwa menyedihkan dan mengecewakan menimpa hidup kita?

“Dan Setelahnya”

Biasanya, kata itu digunakan untuk menggambarkan orang yang masih merindukan kekasih hatinya, walaupun mereka sudah berpisah. Memang, di abad 21 ini, hubungan antar manusia amat rapuh. Kebohongan dan perselingkuhan terjadi begitu banyak dan mudah. Tak heran, banyak orang mengalami penderitaan besar justru dari hubungan-hubungan romantis semacam ini.

Namun ,“dan setelahnya” kiranya berlaku tidak hanya untuk berakhirnya hubungan romantis. Dalam politik, hal itu pun kiranya diperlukan. Setelah pemilihan umum, pihak-pihak yang “bertempur” untuk menjadi pemimpin politik kiranya perlu juga untuk move on.  Jika tidak, perpecahan akan menimbulkan banyak masalah bagi keutuhan bangsa.

Ini dilakukan dengan satu kesadaran, bahwa politik mafia adalah permainan belaka. Kawan bisa menjadi musuh tak lama di masa depan. Lawan bisa menjadi sekutu tak lama kemudian. Hal ini dengan mudah dilihat di politik Indonesia pasca pemilihan umum 2019 lalu.

Kata “dan setelahnya” juga bisa diterapkan oleh orang-orang yang merasa gagal dalam pekerjaannya. Setelah bisnis gagal, apa yang ada setelahnya? Setelah dipecat dari perusahaan lama, apa yang ada setelahnya? Kemampuan untuk bertanya seperti ini sebenarnya merupakan tanda, bahwa orang sudah siap untuk memasuki tahap hidup berikutnya. Pertanyaannya, apakah ia mampu?

Dendam dan Trauma

Kemampuan untuk berpikir “dan setelahnya”, atau move on, juga penting untuk melampaui dendam. Ketika orang menyakiti kita, rasa marah dan kecewa akan muncul. Sakit yang dalam, dibalut dengan marah dan kecewa, akan melahirkan dendam. Kita lalu berencana untuk menyakiti orang tersebut, sebagaimana ia telah menyakiti kita.

Hal yang sama terjadi terkait trauma. Trauma adalah peristiwa menyakitkan yang terjadi di masa lalu, namun ia mengulang dirinya sendiri di dalam ingatan kita. Pengulangan ini membuat luka yang dahulu ada lestari hingga saat ini. Orang pun tak mampu hidup secara jernih dan damai di sini dan saat ini.

Trauma dan dendam membuat pola pikir “dan setelahnya” menjadi sulit. Orang terjebak di masa lalu. Ini sebenarnya yang disebut sebagai neraka. Orang kehilangan hidupnya yang sebenarnya selalu terjadi disini dan saat ini.

Orang yang mampu berpikir “dan setelahnya” (move on) berarti siap untuk hidup disini dan saat ini. Masa lalu telah berlalu, dan tersisa sebagai ingatan. Rasa sakit, akibat peristiwa menyakitkan di masa lalu, mungkin tetap ada. Namun, ia terasa jauh dari apa yang terjadi disini dan saat ini.

Arti Penting “Dan Setelahnya”

Mengapa ini semua penting? Ada empat hal yang kiranya penting diperhatikan. Pertama, hidup yang terjebak pada dendam dan trauma adalah hidup yang penuh beban. Orang menjalani hari-harinya tidak dengan gembira dan ringan, tetapi dengan beban berat ingatan yang bahkan sampai terasa sakitnya di dada dan punggung. Hidup semacam ini amat tidak sehat.

Dua, dalam jangka panjang, hidup di masa lalu akan akan bermuara pada depresi. Ada banyak arti dari depresi. Yang paling sering muncul adalah kesedihan mendalam yang terjadi tanpa alasan yang jelas untuk jangka waktu lebih dari tiga bulan. Jika tak diolah dengan baik, depresi akan mendorong orang untuk menyakiti dirinya sendiri.

Tiga, hidup di masa lalu, sehingga tak mampu mengambil langkah “dan setelahnya”, akan membuat orang tak mampu melihat keadaan secara jernih. Pikirannya kacau. Emosinya gundah. Banyak peluang di saat ini pun akan terabaikan.

Empat, hidup di masa lalu berarti hidup di dalam mimpi. Walaupun indah, mimpi tetaplah mimpi. Ia membuat kita terlena, dan ketika bangun tiba-tiba, rasa kaget dan kecewa pun muncul. Walaupun menyakitkan, namun kenyataan akan membuatmu bebas.

Maka, move on, atau berpikir “dan setelahnya” amatlah penting. Hidup yang indah akan berlalu, jika kita terjebak di masa lalu. Ah, berkata memang mudah. Namun, bagaimana caranya, supaya kita bisa melakukannya?

Beberapa Langkah

Ada lima hal yang kiranya penting untuk diperhatikan. Pertama, kita harus menjaga jarak dari ingatan kita. Ingatan adalah hasil ciptaan dari pikiran, dan pikiran kerap menipu kita. Seringkali, yang sebenarnya terjadi benar-benar berbeda dari pikiran maupun ingatan yang kita miliki. Maka, berhati-hatilah dengan pikiran.

Dua, untuk bisa menjaga jarak dari ingatan, kita perlu untuk kembali ke saat ini. Sejatinya, kita selalu hidup disini dan saat ini. Namun, ketika kita terjebak pada ingatan dan pikiran, kita melepaskan saat ini, dan hidup dalam mimpi. Ada banyak cara untuk kembali ke saat ini, misalnya dengan mengamati nafas, merasakan sensasi-sensasi pada kulit, mendengar suara sekitar dan sebagainya. Meditasi dan yoga amat membantu dalam hal ini.

Tiga, hubungan dengan orang lain juga penting untuk diperhatikan. Jika kita memang berbuat salah, kita perlu meminta maaf terhadap orang yang kita lukai. Jika kita disakiti, kita perlu mengampuni orang yang telah menyakiti kita. Kesadaran untuk hidup di saat ini amat penting di dalam melakukan proses ini. Ini tidak mudah, namun amat penting untuk dilakukan.

Empat, ini mungkin yang terpenting, yakni kita perlu memahami jati diri kita yang sebenarnya. Jati diri kita yang asli terletak sebelum pikiran dan emosi. Ia jernih dan cerah. Ia mampu menggendong semua emosi dan pikiran, tanpa tercampur olehnya.

Inilah yang disebut sebagai “pikiran cermin”. Ia memantulkan, tanpa terkotori oleh benda apapun. Ia kerap kali disebut juga sebagai kesadaran murni. Dengan mengenali kesadaran di dalam diri kita, kita akan lebih mudah untuk berpikir “dan setelahnya” (move on).

Semua ini adalah proses. Ia tidak langsung jadi. Kita perlu berlatih. Jika gagal, kita perlu untuk terus mencoba. Kita bisa memilih metode yang paling tepat untuk kita. Atau kita bisa merumuskan metode kita sendiri.

Jangan Padam

Sampai 5 Agustus 2019 ini, masih banyak berita, bahwa pemadaman listrik akan terus berlangsung. Keluarga kami sempat mengalami “trauma”, karena kekurangan air tadi malam. Muncul juga perasaan marah di dalam diri saya terhadap para pimpinan dan pekerja PLN (Perusahaan Listrik Negara). Ayolah, anda perlu bekerja lebih profesional.

Saya teringat tadi malam. Di tengah gelap gulita ibu kota, saya terdiam. Sekeliling saya tetap ramai. Beberapa tetangga berkumpul untuk berbincang-bincang.

Saya sendiri perlu untuk menjalani “dan setelahnya” (move on) dari berbagai peristiwa yang menghantam hidup saya beberapa tahun ini. Saya memahami metodenya. Saya juga pernah menerapkannya. Tapi, kali ini, apakah saya mampu? Kita lihat saja, apa yang terjadi setelahnya…

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018) dan berbagai karya lainnya.

24 tanggapan untuk “Dan Setelahnya…”

  1. thema yg sangat menarik, menginspirasi untuk mencerminkan,
    bagaimana dgn diri sendiri menanggulani beban2 dimasa lalu dan dewasa ini ?
    saya tersenyum, betapa ringan nya, misal nya kita mampu melepaskan beban ingatan dimasa lalu. itu hanya version bayangan kita, sering2 jauh dari kenyataan nya. kalau kita mampu sedikit melihat sekeliling kita dalam kehidupan sehari2, kita belajar begitu banya. bahkan kita belajar dari sekeliling kita, yg sebetulnya sangat menyakitkan hati dan membuat hidup kita bermasalah.
    listrik padam utk jangka lama membuat kita berpikir dan kembali ke kenyataan. tertulis diatas, tetangga mulai berkomunikasi.
    apa saja yg terjadi, ada baik nya dan bisa di pergunakan utk diri kita sendiri.
    seandai nya saya boss/petinggi pln, apakah saya mampu menghindari listrik padam ???
    fazit : thema diatas adalah titik tolak utk belajar mengenal diri kita, mencari jati hati dan nurani.
    tanpa listrik, alami hah ha ha !!!
    siapa tahu kita mengalami ketenangan dan kedamaian. masalah2 di kepala padam dgn sendirinya !!!
    salam hangat !!

    Suka

  2. Bapak Reza A Wattimena, Bisakah saya mendapatkan buku-buku yang telah Bapak tulis, al.:Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018) dan berbagai karya lainnya.  Terima kasih atas kebaikan Bapak Hormat saya,Made AntaraDenpasar, Bali, Indonesia

    Suka

  3. (hahaha… terima kasih sudah berbagi. Mungkin padamnya listrik juga bisa memadamkan pikiran-pikiran monyet di kepala kita. Salam hangat selalu)
    Mas Reza ,saya tertawa juga pada saat membaca frasa di atas dengan *pikiran monyetnya*
    Buat saya pikiran monyet itu satu Arketipe ini berlaku untuk masyarakat patriarkal di seluruh dunia, dan mungkin memang demikian sejak Homo habilis masih kecil. Walaupun konsisten di berbagai budaya, arketipe ini telah dibagi lagi dalam banyak cara, telah melahirkan banyak nama yang berbeda, dan sikap mereka terhadap satu sama lain bervariasi (sedikit) dari zaman ke zaman. Tetapi dinamika esensial masyarakat tidak pernah berubah. Bahkan setelah pergolakan yang luar biasa dan perubahan yang tidak dapat dibatalkan, pola yang sama secara historis menegaskan kembali dirinya dari waktu ke waktu, sama seperti gravitasi menemukan keseimbangan.
    Ada 4 jenis model pikiran monyet ini
    Idiot, Zelot, Elit, dan Patriot
    Keempat arketipe sosial ini tak terhindarkan saling terkait, dan tujuan mereka sepenuhnya dapat dipertemukan.Meskipun perilaku mereka berbeda, perbedaan mereka bersatu menjadi satu kesatuan yang disfungsional, yang terdiri dari hubungan kolektif masyarakat terhadap informasi, dan memang, kebenarannya sendiri. Untuk memperluas definisi yang ditawarkan di atas,
    °Idiot menghindari semua informasi terkait baru untuk mempertahankan perspektif mereka, tidak pernah mempertanyakan status quo.
    ° Orang-orang Zelot mengajukan pertanyaan tertentu tentang informasi tertentu, mengabaikan informasi yang tidak selaras untuk mempertahankan perspektif mereka, mendukung status quo dengan cara apa pun.
    °Elitis mempertanyakan informasi untuk memanipulasi dan menuai keuntungan dari mereka yang tidak tahu, mendapat manfaat dari status quo.
    °Patriots mempertanyakan informasi untuk mendidik diri mereka sendiri dan membagikannya kepada orang lain, agar kita dapat maju melampaui status quo.
    Terlepas dari perubahan dramatis dalam lanskap geopolitik dunia, dan beberapa fluktuasi individu dari satu kelompok / peran ke yang lain seiring waktu, dinamika di antara kelompok-kelompok ini secara historis tetap sama.
    Apa yang telah berubah di era teknologi adalah kita memiliki lebih banyak cara dan cara untuk menggunakan, menyalahgunakan, menyangkal, dan menolak informasi.
    Hari ini, sama seperti sebelumnya,
    Idiot menghindari semua informasi terkait baru dalam upaya mempertahankan perspektif yang terbatas dan nyaman.
    Orang-orang Zelot percaya bahwa mereka memiliki “jawabannya”. Mereka mengajukan pertanyaan tertentu dari informasi tertentu, tetapi mengabaikan dan memisahkan dari informasi yang tidak selaras dengan perspektif yang telah ditentukan sebelumnya.
    Elit mempertanyakan informasi untuk memanipulasi mereka yang tidak memiliki informasi itu, untuk keuntungan mereka sendiri.
    Patriot – patriot sejati – mempertanyakan informasi untuk mendidik diri mereka sendiri dan membagikannya kepada orang lain agar semua dapat maju.
    Arketipe ini mungkin tampak seperti generalisasi.Mereka juga kuno dan universal dalam masyarakat terstruktur. Bagaimana orang berinteraksi dengan informasi baru adalah hasil dari respon primer dan pemrograman pengalaman, sehingga memahami arketipe ini dapat mengungkapkan banyak hal tentang orang dan karakter mereka.
    Dalam pengalaman saya sebagai pencari kebenaran dan aktivis – seorang patriot – ini adalah satu-satunya model pemikiran atau asumsi yang benar-benar dapat membantu kita memahami bagaimana orang-orang berhubungan dengan informasi, dan oleh karena itu bagaimana kita bisa menghubungkan informasi dengan mereka dengan yang tiga arketipe lainnya

    Tabya pun

    Suka

  4. Tema yg sangat menarik dan sangat membantu. Terimakasih Prof. atas tulisan ini. Tulisan Bapak telah membantuku untuk berfilsafat.
    Rui dari Timor Leste.

    Suka

  5. Mereka2 yang bersih hatinya akan terlepas dari jeratan ilusi. Baik itu ilusi masa lalu (yang mengakibatkan kesedihan, trauma) ataupun Ilusi masa depan (kekuatiran, kecemasan, ketakutan).
    Masa lalu tidak bisa diubah, maka kita harus merelakannya (ridho), begitu juga masa depan masih tersedia banyak kemungkinan (selalu masa depan menyediakan sukses dan gagal). Fokus dengan masa sekarang melepaskan kita dari ilusi masa lalu maupun ilusi masa depan.

    Suka

  6. Melupakan suatu pengalaman entah pengalaaman sukacita ataupun dukacita bukanlah hal mudah. Kekuatan impresi yang merasuk jiwa dan badan akan berefek pada memori. Dengan demikian satu2nya respon positif yg bisa dilakukan adalah mengelola pengalaman itu saat terngiang atau muncul dalam ingatan.

    Suka

  7. “pikiran monyet” yg di tulis diatas menurut hemat saya tidak lain “intellekt, ego-bewusstsein, hidup kita yg penuh pengaruh”.
    pikiran monyet selalu memberi komentar , apa saja.
    ia menyebabkan kita seperti monyet disengat kalajengking, lompat dari pohon ke pohon tidak ada ketenangan.
    salam hangat !

    Suka

  8. sama sama mas Reza saya hanya menjelaskan 4 tipe arketif itu saat harus menafsir novel *1984 , dan animal farm* karya goerge orwellian 4nya itu adalah 4 arketif yang saya posting di atas
    Retorika orwellian sekarang menjadi distopia orwellian dalam pergerakan NWO dan USA

    Suka

  9. sama sama mas Reza saya hanya menjelaskan 4 tipe arketif itu saat harus menafsir novel *1984 , dan animal farm* karya goerge orwellian 4nya itu adalah 4 arketif yang saya posting di atas
    Retorika orwellian sekarang menjadi distopia orwellian dalam pergerakan NWO dan USA

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.