Ilmu Pengetahuan dan Tantangan Global

ilibrarian.net
ilibrarian.net

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita hidup di dunia yang penuh tantangan. Di satu sisi, berbagai masalah sosial, seperti kemiskinan, perang dan kesenjangan sosial di berbagai negara, tetap ada, dan bahkan menyebar. Di sisi lain, krisis lingkungan hidup memicu berbagai bencana alam di berbagai tempat. Kita membutuhkan cara berpikir serta metode yang tepat, guna menghadapi dua tantangan tersebut.

Ilmu pengetahuan mencoba melakukan berbagai penelitian untuk memahami akar masalah, dan menawarkan jalan keluar. Beragam kajian dibuat. Beragam teori dirumuskan. Akan tetapi, seringkali semua itu hanya menjadi tumpukan kertas belaka yang tidak membawa perubahan nyata.

Bahkan, kini penelitian sedang dilakukan untuk memahami beragam penelitian yang ada. Jadi, “penelitian atas penelitian”. Dilihat dari kaca mata ilmu pengetahuan, kegiatan ini memang perlu dan menarik. Namun, dilihat dari sudut akal sehat sederhana, ini merupakan tanda, bahwa telah ada begitu banyak kajian dan teori yang lahir dari penelitian dengan nilai milyaran dollar, sementara hasilnya masih dipertanyakan.

Banjir Teori

Kondisi ini saya sebut sebagai “banjir teori” dan “banjir kajian”. Kajian dibuat demi kajian itu sendiri. Teori dirumuskan demi teori itu sendiri. Ini merupakan kesalahan berpikir mendasar di dalam dunia akademik sekarang ini. Lanjutkan membaca Ilmu Pengetahuan dan Tantangan Global

Tetralema

modny73.com
modny73.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, Peneliti PhD di Munich, Jerman

Ilmu pengetahuan modern telah berulang kali membuktikan kepada kita, bahwa apa yang kita anggap sebagai nyata dan benar ternyata salah. Berulang kali, kelima indera kita memberikan informasi yang tidak tepat tentang dunia. Akhirnya, kita sulit membedakan antara kenyataan dan ilusi. Banyak dari kita justru hidup dalam ilusi.

Kita mengira apa yang tidak ada sebagai ada. Sebaliknya, kita tidak tahu, apa sesungguhnya yang ada. Kita buta, akibat pikiran-pikiran yang bermunculan di kepala kita. Dalam arti ini, pikiran tidak mengantarkan kita pada kebenaran, melainkan justru menjadi penghalang terbesar kita untuk mencapai kebenaran.

Steve Hagen menulis tentang tetralema, yakni kebingungan kita, ketika kita hendak memahami hakekat dari materi. Ia mendasarkan dirinya pada pemikiran Nagarjuna, filsuf India yang hidup sekitar 2300 tahun yang lalu. Tetralema adalah jalan bagi pikiran kita, guna memahami materi yang ada di depan mata kita, misalnya komputer, layar televisi, meja, kursi dan sebagainya. Tetralema menggiring kita untuk meragukan keberadaan materi yang sebelumnya tampak begitu jelas kepada kita.

Tetralema

Tetralema berisi empat argumen tentang hakekat dari materi. Ini adalah empat jalan yang mungkin bagi pikiran manusia, guna mengetahui materi yang ada di depan matanya. Hagen dan Nagarjuna akan menunjukkan, bahwa semua argumen di dalam tetralema tidaklah meyakinkan.

Argumen pertama; suatu benda didefinisikan pada dirinya sendiri. Artinya, ia tidak membutuhkan benda-benda lainnya. Meja adalah meja, kursi adalah kursi. Mereka absolut pada dirinya sendiri. Titik. Lanjutkan membaca Tetralema

Buku Baru: Matamatika, Taktik Menemukan Karakter dalam Matematika

Cover matamatikaOleh : Falentinus Nango, Fransiskus Slamet Harjaya, Reza A.A. Wattimena 

Buku MATAMATIKA ini mengulas tentang berbagai persoalan bahwa matematika memiliki nilai lebih daripada sekadar ilmu hitung-menghitung angka dan rumus-rumus. Persoalan matematika itu mengasyikkan jika dikerjakan dengan cara–cara yang cerdas, singkat, jelas, apalagi ditambah refleksi mendalam. Setiap bab mengulas taktik bagaimana matematika itu bisa diajarkan dan memberikan nilai-nilai kehidupan yang dapat diambil dan dapat digunakan dalam kehidupan, serta melatih untuk berpikir logis, analitik, sistematis, dan kreatif. Misalnya saat membahas tentang persamaan matematika, siswa diajak untuk melihat dan menggali bahwa di situ ada nilai kesamaan, keadilan, kejujuran dan kesetaraan. Kemudian nilai itu dicoba untuk diperluas dalam kehidupan sehari-hari yang dialami siswa.

Contoh lain yaitu penggunaan tanda kurung ( ) yang memiliki peran sangat penting dalam bidang matematika, apalagi dalam persamaan-persamaan matematis. Hal tersebut seringkali dilupakan oleh banyak pihak karena dianggap tidak penting. Namun, ketika kita menggunakan tanda kurung pada suatu persamaan matematika, kita bisa mendapati jawaban yang berbeda dengan soal yang “sekilas” sama. Small but important. Hal-hal seperti itulah yang digali untuk bisa menanamkan nilai karakter pada siswa agar tidak menyepelekan perkara-perkara kecil yang sebenarnya punya peran yang sangat penting. Ada tiga hal yang difokuskan dalam proses refleksi dalam membaca buku ini, pertama dilihat dari ilmu matematikanya, kedua nilai–nilai apa yang didapat, dan ketiga apa yang dirasakan setelah membaca setiap bab. Dengan membaca buku ini, para guru, orang tua, peserta didik, pecinta dan “simpatisan” matematika bisa menemukan dan menanamkan nilai karakter melalui pembelajaran matematika. Selamat membaca, mencoba, dan merefleksikannya.

ISBN 978-979-21-4250-1

Silahkan hubungi penerbit Kanisius di link berikut untuk mendapatkan buku ini:

http://www.kanisiusmedia.com/product/detail/002018/Matamatika-Taktik-Menemukan-Karakter-dalam-Matematika

Memegang dan Melepas

timedotcom
timedotcom

Oleh Reza A.A Wattimena

Peristiwa jatuhnya salah satu pesawat Germanwings menggetarkan hati banyak orang. Pesawat tersebut telah diperiksa sebelumnya. Tidak ada masalah. Kru yang bekerja menerbangkan pesawat tersebut pun adalah kru profesional yang memiliki reputasi baik.

Namun, tiba-tiba, pesawat menukik ke bawah, dan menghantam tanah. Ratusan orang dari berbagai negara meninggal dalam sekejap mata. Banyak penjelasan dijabarkan, mengapa peristiwa ini terjadi. Namun, semua penjelasan tampak percuma di hadapan anggota keluarga dari korban yang meninggal dunia.

Musibah semacam ini juga tidak asing bagi kita yang tinggal di Asia. Beberapa waktu yang lalu, pesawat Malaysian Airlines dan Air Asia juga mengalami musibah yang sama. Ratusan orang meninggal dunia dalam sekejap mata. Bagaimana kita harus bersikap di dalam menanggapi tragedi yang nyaris tanpa makna ini?

Mengatur Alam

Tragedi adalah bagian dari hidup manusia. Ia disebut sebagai tragedi, karena peristiwa ini menciptakan penderitaan dan kesedihan yang amat dalam bagi banyak orang. Peristiwa ini juga menyadarkan kita, bahwa hidup kita ini pendek dan rapuh. Namun, peristiwa ini juga bisa menjadi saat yang baik untuk belajar, sehingga tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.

Manusia memiliki akal budi. Dengan akal budinya, ia bisa mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, guna mengatur alam untuk memenuhi kebutuhannya. Ia bisa menciptakan peradaban dengan pencapaian-pencapaian yang luar biasa, seperti perkembangan pertanian, kedokteran, sastra, seni, politik dan sebagainya. Dengan akal budinya pula, ia berusaha memahami dirinya sendiri dalam hubungannya dengan alam. Lanjutkan membaca Memegang dan Melepas

Kisah Tujuh Paradoks

b-i.forbesimg.com
b-i.forbesimg.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Hidup manusia modern ditandai dengan satu ciri, yakni ketakutan. Di satu sisi, mereka hidup dengan menata masa depan. Mereka takut, jika masa depan mereka kacau, dan hidup mereka pun kacau. Di sisi lain, mereka takut akan masa lalu, karena telah melakukan sesuatu yang mereka sesali.

Rasa takut membuat pikiran kacau. Pertimbangan menjadi kacau. Banyak keputusan pun dibuat dengan kekacauan pikiran. Akhirnya, keputusan-keputusan itu justru menciptakan masalah yang lebih besar.

Pada tingkat politik, dampak keputusan yang salah amatlah merugikan. Banyak orang menderita, karena kesalahan kebijakan yang dibuat pemerintah. Sayangnya, banyak kebijakan tersebut dibuat atas dasar rasa takut akan masa depan. Rasa takut mengaburkan kejernihan berpikir, dan memperbesar masalah yang sudah ada sebelumnya.

Rasa takut juga menciptakan penderitaan batin yang besar. Banyak orang terjebak di dalam depresi, karena rasa takut yang berlebihan. Banyak orang jatuh ke dalam ketergantungan narkoba, karena penderitaan batin dan rasa takut di dalam hati mereka. Orang yang menderita cenderung kejam tidak hanya pada dirinya sendiri, tetapi juga pada orang lain. Lanjutkan membaca Kisah Tujuh Paradoks

Anatomi Rasa Takut

nigeltomm.org
nigeltomm.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di Jerman

“Dibalik segala kekerasan dan kejahatan, ada rasa takut bersembunyi…”

Awal Maret 2015, Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, berpidato di depan Konggres Amerika Serikat di Washington. Ia berbicara soal bahaya dari negara Iran yang kemungkinan akan memiliki senjata nuklir dalam waktu dekat. Netanyahu ingin menebar rasa takut di kalangan Konggres Amerika Serikat, supaya AS turun tangan langsung untuk berperang melawan Iran. Ia ingin menyuntikkan rasa takut ke dalam politik luar negeri AS.

Sebagai sebuah negara, AS memang didirikan dari rasa takut terhadap tirani Kerajaan Inggris. Hampir sepanjang sejarahnya, AS hidup sebagai sebuah negara yang dipenuhi kegelisahan dan rasa takut atas musuh dari luar. Pada masa perang dunia kedua, Hitler dan Jerman menjadi musuh. Pada masa perang dingin dan di awal abad 21, Uni Soviet dan kelompok teroris Islam ekstrimis menjadi musuh. Karena rasa takut ini, AS sering terlibat di dalam berbagai perang yang sia-sia.

Politik yang didorong oleh rasa takut juga bukan hal baru di Indonesia. Sejak awal, Indonesia takut akan kembalinya pasukan kolonial Belanda dan Inggris. Seluruh politik Sukarno juga diarahkan untuk menumpas segala bentuk neokolonialisme yang dibawah oleh negara-negara Barat. Pada masa Orde Baru, politik Indonesia didorong oleh rasa takut terhadap komunisme. Jejak-jejaknya masih terasa sampai saat ini.

Kita pun seringkali diselimuti rasa takut. Kita takut akan ketidakpastian masa depan dan keluarga kita. Apakah kita akan sukses di kemudian hari? Apakah kita akan hidup sehat sampai usia tua? Pertanyaan-pertanyaan ini menciptakan harapan sekaligus rasa takut di dalam hidup kita. Lanjutkan membaca Anatomi Rasa Takut

Membangun Opini Cerdas

lindiewesselshistory
lindiewesselshistory

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di Jerman

Dunia kita adalah persepsi kita. Dunia adalah dunia sebagaimana kita mempersepsinya. Itulah argumen yang diajukan oleh George Berkeley lebih dari dua ratus tahun silam. Sikap kita terhadap orang lain dan dunia sebagai keseluruhan amat tergantung dari persepsi yang bercokol di kepala kita.

Seringkali, persepsi yang ada di kepala kita tidak cocok dengan kenyataan yang sebenarnya. Persepsi yang salah inilah yang melahirkan konflik dan berbagai ketegangan di dalam hidup manusia, baik pada tingkat pribadi maupun sosial. Orang yang merasa, bahwa persepsinya adalah kebenaran mutlak dan sesuai 100 persen dengan kenyataan, adalah orang yang hidup dalam delusi. Teori-teori Marxis menyebutnya sebagai ideologi, yakni kesadaran palsu tentang dunia.

Orang yang hidup dalam ideologi berarti hidup dalam kepompong kebohongan. Semua pendapat dan pikirannya lahir dari ideologi sesat yang bercokol di kepalanya. Tak heran, semua analisis dan pendapatnya begitu dangkal, karena hanya mengikuti saja kesesatan berpikir sehari-hari yang ada di dalam masyarakat luas. Hidup orang ini dipenuhi prasangka dan kesesatan berpikir di dalam melihat orang lain dan masyarakat sebagai keseluruhan.

Anatomi Persepsi

Bagaimana persepsi manusia terbentuk? Darimana asal persepsi yang bercokol di kepala kita? Salah satu jawaban lugas atas pertanyaan ini di dalam masyarakat jaringan sosial sekarang ini adalah media massa. Kita melihat dunia kita dari kaca mata media yang kita baca sehari-hari. Tak berlebihan jika dikatakan, kita adalah apa yang kita baca. Lanjutkan membaca Membangun Opini Cerdas

“Racun” di dalam Pikiran

firstaidwithcare.com/
firstaidwithcare.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di Jerman

Racun korupsi masih menjalari tubuh politik kita di Indonesia. Penyebabnya bersifat sistemik dalam bentuk kegagalan penegakan hukum, sekaligus bersifat personal dalam bentuk lemahnya integritas kepribadian para penjabat publik kita. Dalam hal ini, pemberantasan korupsi masih menjadi pekerjaan rumah yang besar dan berat bagi kita sebagai bangsa. Dukungan dari seluruh rakyat amatlah dibutuhkan.

Menjalarnya korupsi di berbagai bidang juga dapat dilihat sebagai kegagalan demokrasi. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi di berbagai benua. Demokrasi sebagai bentuk pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat yang mendorong menuju keadilan sosial dan kemakmuran bersama semakin menjadi mimpi yang jauh dari jangkauan. Yang banyak tercipta adalah oligarki, yakni pemerintahan oleh sekelompok orang kaya yang hendak menghancurkan kepentingan umum, demi keuntungan pribadi mereka.

Keadaan ini menciptakan ketidakadilan sosial di tingkat global yang lalu menciptakan kemiskinan dan penderitaan yang begitu besar bagi banyak orang. Dari kemiskinan dan penderitaan lahirlah terorisme. Terorisme bermuara pada perang antar kelompok dan bahkan antar negara. Ini semua seperti lingkaran kekerasan yang justru membawa kemiskinan dan penderitaan yang lebih besar lagi.

Di bagian dunia lain, orang hidup dalam kelimpahan yang luar biasa. Ratusan tahun penaklukan dan perampokan atas negara lain memberikan kemakmuran yang luar biasa bagi mereka. Mereka adalah negara-negara di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Ketika bagian dunia lain berjuang melawan kemiskinan dan korupsi, negara-negara ini berpesta pora dan menghabiskan sumber daya alam untuk menopang gaya hidup mewah mereka. Lanjutkan membaca “Racun” di dalam Pikiran

Akar dari Segala Kejahatan

cllctr.com
cllctr.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di Jerman

Tahun 2015, Eropa kembali diancam oleh perang besar. Pasukan Russia terus merapatkan barisan di perbatasan Ukraina. Ukraina, dalam aliansi dengan NATO dan Uni Eropa, juga mempersiapkan pasukannya di perbatasan. Jika konflik terjadi, maka yang perang akan melebar ke seluruh negara Uni Eropa, bahkan ke berbagai negara di benua lainnya. Perang dunia ketiga kini di depan mata kita.

Kelompok bersenjata Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) juga terus melakukan teror di Timur Tengah. Negara-negara sekitarnya, seperti Yordania, Arab Saudi dan Turki, sudah mempersiapkan pasukan untuk menyerbu kelompok ini. Konflik bersenjata dalam skala besar nyaris tak dapat lagi dihindari. Semakin banyak orang akan masuk ke dalam penderitaan, akibat perang dan konflik bersenjata lainnya.

Pada skala yang lebih kecil, beragam jenis kejahatan juga menciptakan penderitaan bagi begitu banyak orang. Pengedar narkoba beserta pengaruh politis maupun ekonomis dari kartel narkoba mengancam kehidupan banyak negara. Anak muda dipaksa masuk untuk bergabung dalam gang bersenjata. Berbagai kebijakan pro rakyat kandas di depan mata, karena pengaruh lobi dari beragam kartel narkoba di dalam kebijakan politik.

Sebagai akibatnya, banyak orang terjebak di dalam rantai kemiskinan. Akar dari kemiskinan ini bukanlah kemalasan atau ketidakmampuan pribadi, melainkan kemiskinan sistemik sebagai dampak dari bobroknya sistem sosial yang ada. Di dalam jeratan kemiskinan, banyak gadis muda yang terjebak ke dalam pelacuran dan perdagangan manusia. Inilah bentuk perbudakan modern di awal abad 21 yang masih tertutup dari mata banyak orang. Lanjutkan membaca Akar dari Segala Kejahatan

Jerman, Mobil dan Mobilitas

automobile.de
automobile.de

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Unika Widya Mandala Surabaya, Sedang belajar di Jerman

Siapa yang tidak kenal BMW? Atau VW, Volkswagen? Siapa juga yang tidak pernah mendengar merk mobil Audi? Ini adalah merk-merk mobil Jerman yang sudah memiliki reputasi internasional.

Mobil-mobil Jerman memang terkenal karena tiga hal, yakni kualitas, prestise dan harganya yang mahal. Perusahaan-perusahaan mobil di Jerman, mulai dari tingkat perakitan struktur kaki mobil sampai dengan direktur utama, memang amat menekankan ketepatan, guna menghasilkan mobil bermutu tinggi. Namun, mereka juga tidak kebal terhadap iklim persaingan ekonomi global, terutama dari AS, Jepang dan Cina. Dalam banyak hal, perusahaan-perusahaan mobil Jerman pun harus melakukan kompromi, bahkan seringkali menurunkan kualitas, supaya bisa menjual dengan harga yang lebih murah.

Jerman dan Mobilnya

Ekonomi Jerman hancur total setelah perang dunia kedua. Pada 1945, politik Jerman juga lumpuh total. Orang-orang Jerman bisa hidup, karena semata menerima bantuan dari tentara Sekutu (Inggris, AS, Prancis dan Uni Soviet). Kebangkitan ekonomi Jerman ditandai dengan berkembangya Volkswagen sebagai salah satu produsen mobil bermutu di dunia. Jenis mobil yang paling terkenal pada dekade 1950-an di dunia adalah VW Kodok (Volkswagen Käffer).

Mobil ini telah menyelamatkan Jerman dari keterpurukan ekonomi berkelanjutan. Tidak hanya itu, mobil VW kodok juga telah menjadi ciri khas Jerman setelah perang dunia kedua. Ia menawarkan fungsi sekaligus prestise bagi penggunanya. Tentu saja, kualitasnya juga tidak perlu dipertanyakan.

Kebangkitan ekonomi Jerman juga diikuti dengan kebangkitan berbagai perusahaan mobil lainnya, seperti Audi dan BMW. Pabrik-pabrik mobil di Jerman, dan berbagai industri pendukungnya, seperti industri ban, shock breaker dan sebagainya, menyediakan lapangan kerja bagi jutaan penduduk Jerman. Banyak tenaga ahli pun didatangkan dari luar negeri, guna mengembangkan teknologi di dalam pabrik-pabrik ini. Pajak yang ditarik dari perusahaan-perusahaan mobil Jerman juga amat besar. Lanjutkan membaca Jerman, Mobil dan Mobilitas

Sebelum Pertanyaan

designingsound.org
designingsound.org

Oleh Reza A.A Wattimena,

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang di Jerman

Kita sering bertanya dalam hati, darimana kita berasal? Apakah Tuhan yang menciptakan kita? Ataukah, sebelumnya kita tinggal di suatu tempat, lalu kemudian masuk ke rahim ibu kita, dan kemudian lahir di dunia ini? Setiap orang, minimal sekali dalam hidupnya, pasti pernah mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini.

Kita juga sering bertanya, apa tujuan hidup ini? Apa makna dari segala apa yang saya alami dan lakukan setiap harinya? Adakah makna sesungguhnya? Di tengah kesibukan kita bekerja dan belajar setiap harinya, pertanyaan-pertanyaan ini merindu untuk dijawab di dalam batin kita.

Kita juga seringkali mengalami masalah dan tantangan di dalam hidup kita. Di dalam batin, kita ingin keluar dari masalah tersebut. Kita ingin hidup bahagia. Akan tetapi, bagaimana caranya? Mungkinkah kita mencapai kebahagiaan?

Masalah dan tantangan tersebut juga seringkali membuat kita cemas. Kita lalu berpikir, jika keadaan begini terus, lalu bagaimana dengan masa depan? Masalah dan tantangan juga sering membuat kita cemas atas masa depan orang-orang yang kita sayangi. Kecemasan tersebut lalu juga sering menghantui pikiran kita, sehingga kita merasa lelah, baik secara fisik maupun batin.

Kita juga banyak melihat orang-orang sekitar kita sakit. Kita pun mungkin juga sedang sakit saat ini. Ketika sakit itu semakin berat, wajar jika kita bertanya, apa yang terjadi ya, setelah kematian? Adakah surga, atau neraka, atau sesuatu, setelah kita mati?

Semua pertanyaan ini menggiring kita pada satu pertanyaan mendasar, adakah tuhan yang menjadi tuan atas hidup kita? Apakah semua ini sudah ada yang mengatur? Apakah kita berasal dan akan kembali kepada tuhan nantinya? Ataukah, seperti di dalam tradisi Hindu, ada banyak Dewa yang akan mempengaruhi kehidupan dan kematian kita? Apakah ada sesuatu yang lebih besar dari kita, yang menata semuanya? Lanjutkan membaca Sebelum Pertanyaan

Moralitas itu Berbahaya

Danger-Sign-292916Oleh Reza A.A Wattimena

Ada satu pola menarik di dalam sejarah. Para pelaku kejahatan terbesar justru adalah orang-orang yang hidup dalam bayang-bayang moralitas. Para penguasa Persia di masa lalu merasa bermoral tinggi, dan melakukan penaklukan ke berbagai penjuru Timur Tengah. Para penguasa Mesir di masa lalu merasa bermoral tinggi, dan memperbudak penduduknya sendiri untuk membangun Piramid.

Orang-orang Yahudi mengaku bangsa bermoral dan bertuhan. Namun, mereka yang menyalibkan Yesus, tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Kekaisaran Ottoman Turki mengaku bermoral dan bertuhan. Namun, mereka melakukan penaklukan berdarah ke berbagai penjuru negara Timur Tengah.

Eropa mengaku sebagai benua yang beradab dan bertuhan. Namun, mereka memperbudak dan menjajah begitu banyak bangsa selama kurang lebih 500 tahun. Hitler hidup dalam panduan moral yang tinggi. Ia menjadi otak sekaligus pelaksana pembantaian orang-orang Yahudi di masa perang dunia kedua.

Amerika Serikat mengaku bangsa yang bermoral dan bertuhan. Namun, mereka menjadi otak dari begitu banyak pembantaian massal di berbagai penjuru dunia di abad 20. Kini, para teroris dengan pandangan Islam ekstrimisnya menjadi pelaku kekerasan di berbagai penjuru dunia. Mereka juga mengaku bermoral dan bertuhan. Lanjutkan membaca Moralitas itu Berbahaya

Menuju “Saat Ini”

mshcdn.com
mshcdn.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang di Jerman.

Eckhart Tolle menulis buku berjudul Jetzt, die Kraft der Gegenwart pada 2010 lalu. Tolle mengajak kita untuk kembali ke “saat ini”, yakni sepenuhnya berada pada momen, dimana kita ada sekarang. Di dalam “saat ini”, kita akan menemukan kebahagiaan, kebenaran, cinta, kedamaian, Tuhan, kebebasan. Di “saat ini”, kita akan menemukan semua tujuan hidup kita. Ketika orang meninggalkan “saat ini”, maka ia masuk kembali ke dalam lingkaran penderitaan, kecemasan dan ketakutan dalam hidupnya.

Jika kita berpikir secara jernih, kita akan sadar, bahwa yang ada hanyalah saat ini. Tidak ada masa lalu dan tidak ada masa depan. Masa lalu hanya merupakan kenangan. Masa depan hanya merupakan harapan. Keduanya tidak nyata.

Masa lalu memberikan identitas pada diri kita. Masa depan memberikan janji tentang hidup yang lebih baik. Namun, jika dipikirkan secara jernih dan mendalam, keduanya tidak ada. Keduanya adalah ilusi.

Banyak orang mengira, bahwa waktu adalah uang. Mereka juga mengira, bahwa waktu adalah hal yang amat berharga. Namun, sejatinya, waktu adalah ilusi. Ia tidak memiliki nilai pada dirinya sendiri. Lanjutkan membaca Menuju “Saat Ini”

Tidak Tahu

deathandtaxesmag.com
deathandtaxesmag.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di Jerman

Sokrates dikenal sebagai bapak dari filsafat barat. Ia hidup sekitar 470 tahun sebelum Masehi. Ia memiliki cara berfilsafat yang unik. Ia tidak berfilsafat di kelas atau ruang-ruang tertutup lainnya, melainkan di pasar di kota Athena.

Ia berjalan berkeliling di pasar. Ia pun berteriak kepada banyak orang, “Kamu harus mengenal dirimu sendiri! Kamu sungguh harus mengenal dirimu sendiri!” Ketika ada orang bertanya kepadanya, “Hai Sokrates, apakah kamu mengenal dirimu sendiri?” Sokrates hanya menjawab, “Saya tidak tahu, namun saya tahu, bahwa saya tidak tahu!”

Bodhidharma dikenal sebagai orang yang membawa Zen Buddhisme dari India ke Cina. Di India sendiri, Buddhisme sudah berkembang dari sekitar tahun 680 sebelum Masehi. Di Cina, Buddhisme sudah ada mulai dari sekitar tahun 200 setelah Masehi. Kehadiran Bodhidharma mengundang takut sekaligus kagum dari para biksu Buddhis yang sudah ada Cina pada masa itu.

Suatu hari, Bodhidharma diundang oleh penguasa setempat untuk makan bersama. Sang penguasa bertanya, “Saya sudah membangun banyak biara Buddhis. Apa yang akan saya dapatkan?” Bodhidharma menjawab, “Tidak ada.” Sang penguasa pun marah mendengar jawaban itu. Ia berkata, “Kurang ajar! Siapa kamu?” Jawab Bodhidharma, “Saya tidak tahu.”

Tidak Tahu

Apa yang sama dari jawaban Sokrates dan Bodhidharma? Keduanya sama-sama mengatakan, bahwa mereka tidak tahu. Apa maksud dari jawaban ini? Apakah ini sungguh ketidaktahuan, ataukah ada maksud lain yang ingin mereka sampaikan? Lanjutkan membaca Tidak Tahu

Pendidikan Filsafat untuk Anak?

philosophierenmitkindern.de
philosophierenmitkindern.de

Pendasaran, Penerapan dan Refleksi Kritis untuk Konteks Indonesia

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di Jerman

Mungkinkah filsafat diajarkan untuk anak1 pada tingkat sekolah dasar? Tulisan ini akan menjawab pertanyaan tersebut dengan nada positif. Awalnya akan dijelaskan terlebih dahulu dasar teoritis dari program filsafat untuk anak yang telah dijalankan di berbagai negara di Eropa dan Amerika Serikat (1). Lalu akan dijelaskan juga argumen filsafat sebagai pendidikan nilai untuk anak-anak (2). Untuk memperjelas argumen ini juga akan akan dipaparkan program filsafat untuk anak-anak yang telah diterapkan di beberapa negara bagian di Jerman (3). Setelah itu akan dipaparkan beberapa kemungkinan penerapan untuk konteks Indonesia (4). Beberapa catatan kritis atas program filsafat untuk anak juga akan diberikan (5). Tulisan ini akan ditutup dengan kesimpulan (6). Saya mengacu pada penelitian yang dibuat oleh Gregory,2 Höffling,3 Zeitler4 dan Brüning5 sebagai pendasaran teoritis sekaligus pemaparan penerapan program filsafat untuk anak di Jerman.

  1. Pendasaran Teoritis

Mengapa filsafat itu penting untuk anak-anak? Anak-anak, pada dasarnya, adalah filsuf alamiah.6 Artinya, mereka selalu menjadi seorang filsuf yang mempertanyakan segala sesuatu, termasuk hal-hal yang sudah jelas bagi orang dewasa. Seringkali, anak-anak menanyakan pertanyaan yang mengandung unsur politis, metafisis bahkan etis. Jawaban atas pertanyaan tersebut membutuhkan pemahaman tentang sejarah, politik dan metafisika yang cukup dalam. Anak-anak sudah memiliki semacam intuisi filosofis yang sudah ada secara alamiah di dalam dirinya. Berbagai penelitian, seperti dikutip oleh Maughn Gregory, menyatakan, bahwa pemahaman dan gaya berpikir filsafat yang diberikan sejak usia dini dapat meningkatkan kemampuan berbahasa (linguistik), kemampuan berhubungan dengan orang lain (sosial), kemampuan untuk berhadapan dengan kegagalan (psikologis), dan kemampuan untuk berpikir terbuka anak (ilmiah), sehingga ia bisa menerima pelajaran dari luar dengan lebih cepat dan mendalam. Dengan keempat kemampuan ini, anak pun bisa mengungkapkan perasaan dan pikirannya kepada orang lain dengan lancar. Di Jerman, program “anak-anak berfilsafat” (Kinder Philosophieren) sudah dimulai sejak dekade 1960-an. Metode yang digunakan sebenarnya cukup sederhana, yakni perumusan pertanyaan yang dibuat bersama-sama dengan anak (1), berdiskusi bersama anak, guna menjawab pertanyaan ini (2), melihat beberapa kemungkinan jawaban yang bersifat terbuka (3) dan mencoba menggali pertanyaan lebih jauh dari jawaban yang telah ada (4). Lanjutkan membaca Pendidikan Filsafat untuk Anak?

Lupa

hopeofglory.typepad.com
hopeofglory.typepad.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang di Jerman

Ada satu band yang cukup menarik dari Indonesia. Nama bandnya adalah Kuburan. Mereka punya satu lagu yang cukup terkenal di Indonesia. Judulnya “Lupa”.

Syairnya menarik perhatian saya. Begini bunyinya: “lupa..lupa..lupa… lupa lagi syairnya. Ingat… ingat.. ingat cuma kuncinya.” Bagaimana mungkin seorang musisi menyanyi lagu ciptaannya sendiri, tetapi lupa syairnya? Mungkin, ini mirip seperti keadaan kita sekarang ini. Kita manusia, tetapi lupa, apa artinya menjadi manusia.

Kita bekerja. Kita belajar. Kita bercinta. Kita berkeluarga. Namun, semuanya itu terjadi secara begitu saja, seringkali tanpa kesadaran, karena kita hanya mengikuti apa yang diinginkan oleh masyarakat dan keluarga kita. Kita lebih mirip robot, dan kehilangan kesadaran kita sebagai manusia.

Kelupaan Kita

Martin Heidegger, filsuf Jerman di awal abad 20, menyebut keadaan ini sebagai “kelupaan akan ada” (Seinsvergessenheit). Orang sibuk mencari dan melakukan apa yang tidak penting, dan pada waktu yang sama, mereka lupa akan inti yang terpenting dari segala sesuatu. Di dalam tradisi Buddhisme, ini juga disebut sebagai keadaan “tidak melihat” (avidya). Orang hidup dengan segala kesibukannya, tetapi tidak melihat apa yang sungguh penting, dan juga melupakan inti dari segala sesuatu.

Di dalam tradisi filsafat Yunani Kuno, Plato juga melihat keadaan yang sama. Ketika manusia lahir, ia melupakan segala pengetahuan yang ia punya, lalu harus mulai belajar segalanya dari awal lagi. Pendidikan, bagi Plato, adalah proses mengingat kembali (anamnesis) apa yang sudah diketahui sebelumnya, namun terlupakan. Sumber dari pengetahuan itu adalah Dunia Ide, tempat model dan eseni dari segala sesuatu berada. Lanjutkan membaca Lupa

Buku Filsafat Terbaru: Filsafat sebagai Revolusi Hidup

Filsafat revolusi hidup

Apa makna revolusi?

Revolusi adalah perubahan yang cepat, mendasar dan menyeluruh. Ia bisa terjadi di level sosial dan politik, tetapi juga bisa terjadi di level pribadi. Kita bisa menderet berbagai contoh revolusi sosial politik di dalam sejarah manusia, mulai dari revolusi Prancis di abad 18 sampai dengan revolusi kemerdekaan Indonesia di awal sampai dengan pertengahan abad 20. Buku ini saya tujukan bukan hanya pada para peminat filsafat, tetapi juga pada semua orang yang merasa, bahwa Indonesia, dan juga dunia ini, butuh perubahan yang cepat dan mendasar; revolusi.

Lihat website:

http://www.kanisiusmedia.com/product/detail/001001/Filsafat-Sebagai-Revolusi-Hidup

Bisa didapatkan di:
Kantor Pusat:
Jl. Cempaka 9, Deresan
Yogyakarta 55281
INDONESIA
Telp. (0274) 588783, (0274) 565996
Fax. (0274) 563349
E-mail: office@kanisiusmedia.com

Menari di atas Organisasi

lets_dance_with_surrealism_by_emo_ghoul_graphics-d53ae9uOleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di Jerman

Kita hidup di antara beragam bentuk organisasi. Keluarga pun juga dapat dilihat sebagai organisasi. Pada tingkat terluas, kita bisa melihat beragam bentuk organisasi internasional, seperti PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) dan WHO (World Health Organization), yang memiliki lingkup kerja seluas dunia itu sendiri. Kita hampir tak bisa membayangkan hidup, tanpa adanya organisasi.

Setiap bentuk organisasi selalu memiliki dua hal, yakni tata dan tujuan. Tata berarti pola yang tetap dalam bentuk aturan maupun kebiasaan. Tujuan berarti adanya hal yang ingin dicapai, yang saat ini belum ada. Dalam arti ini, organisasi bisa berarti sekelompok orang yang memiliki tata dan tujuan, maupun seorang pribadi yang menata dirinya untuk mencapai tujuan tertentu.

Organisasi Diri

Pada tingkatnya yang paling kecil, organisasi adalah pribadi. Hidup kita adalah sebentuk organisasi. Ia memiliki tata tertentu yang membuatnya tetap ada, misalnya kita makan dan istirahat, guna memperbaiki sel-sel tubuh kita yang rusak. Kita juga mempunyai tujuan tertentu, yakni cita-cita yang ingin kita capai di masa depan.

Seorang atlit basket akan mengorganisir dirinya dengan baik. Ia akan bangun pagi, berolah raga, dan makan makanan yang bergizi. Ia akan berlatih secara rutin, tanpa merusak kesehatannya. Inilah yang dimaksud organisasi diri.

Maka dari itu, kita setidaknya mengenal dua kata, yakni organisasi dalam arti kelompok, dan organisasi dalam arti organisasi diri. Di dalam perkembangan sejarah manusia, keduanya ada untuk mengabdi satu tujuan, yakni keberlangsungan hidup. Organisasi ada untuk menjamin, bahwa manusia tetap ada dan berkembang di dalam dunia ini. Ada dua hal yang kiranya perlu diperhatikan disini. Lanjutkan membaca Menari di atas Organisasi

Spiritualitas tanpa “Spiritualitas”

Zen-circle-symbolSpiritualitas sebagai Dialektika Transrasionalitas Zen Buddhisme dari Sudut Pandang Tiga Master Zen: Ma-Tsu, Lin-Chi dan Ikkyu

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, Sedang di Jerman

Kita hidup di era krisis spiritualitas. Teknologi dan ekonomi berkembang maju, tetapi jiwa dan pikiran manusia justru semakin menderita. Mereka hidup terpisah dengan alam, dan akhirnya terasing dari alam itu sendiri, dan bahkan menghancurkan alam. Orang hidup dalam kelimpahan harta dan uang, namun hatinya penuh penderitaan, rasa takut dan rasa benci.1 Tak heran, tingkat bunuh diri, stress, depresi dan beragam penderitaan batin lainnya semakin meningkat. Banyak keluarga hancur di tengah jalan, karena rasa benci dan rasa takut yang menutupi pikiran. Pengguna narkoba pun semakin meningkat dan usianya semakin muda, persis untuk mengalihkan manusia dari penderitaan batin yang dirasakannya. Agama, yang dilihat sebagai dasar dari spiritualitas menuju hidup yang bermakna, pun kini terjebak pada fundamentalisme. Mereka mendewakan tradisi, ritual dan aturan, serta bersedia mengorbankan manusia. Bahkan, agama sering digunakan untuk pembenaran bagi tindakan-tindakan bejat dan kepentingan politik yang menutupi sejuta kemunafikan. Yang dibutuhkan oleh banyak orang sekarang ini adalah jenis spiritualitas yang baru, yang bisa memberikan makna bagi hidupnya, dan mengurangi penderitaan batinnya, guna menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Di dalam tulisan ini, saya akan menawarkan bentuk spiritualitas yang baru. Ia berpijak pada tradisi Zen Buddhisme yang berkembang di India, Cina dan Jepang. Saya akan belajar langsung dari riwayat hidup dan pemikiran-pemikiran tiga guru Zen yang amat berpengaruh di dalam tradisi perkembangan Zen, yakni Ma-tsu, Lin-chi dan Ikkyu. Sebagai acuan, saya memilih menggunakan buku Thomas Hoover dan Alan Watts.2 Keduanya adalah penulis dari Amerika Serikat. Mereka membaca dan menafsirkan Zen untuk orang-orang yang terbiasa dengan pola pendidikan Barat. Tulisan-tulisan asli para guru Zen seringkali begitu tenggelam pada konteks budaya mereka masing-masing, sehingga kurang bisa dimengerti oleh orang-orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Pada akhirnya, spiritualitas Zen adalah sebuah praksis hidup. Ia bukan cuma teori untuk menjelaskan dunia dan manusia. Ia adalah praksis hidup yang harus dijalankan, supaya manfaatnya sungguh terasa. Lanjutkan membaca Spiritualitas tanpa “Spiritualitas”

ANTARA AKU DAN DUNIA

wikipedia
wikipedia

URAIAN DAN TANGGAPAN ATAS FILSAFAT PENDIDIKAN WILHELM VON HUMBOLDT DI DALAM THEORIE DER BILDUNG DES MENSCHEN

Reza A.A Wattimena, Faculty of Philosophy Widya Mandala Catholic University Surabaya, Indonesia

Wilhelm von Humboldt has put the foundation of Germany’s educational system. He emphasizes the importance of integrity in term of individual personality. Through education, one can develop one’s integrity and personality. The basis of this integrity is human freedom, that is, the freedom to decide one’s own worldview according to one’s choices in life. With this freedom, human is fashioned through the process of education to develop his/her intellectual knowledge, conscience and skills to work in life. One then can contribute genuinely to the development of one’s neighbourhood and society. However, Humboldt’s theory of education needs some critical remarks as well. Without bold conscience the concept of integrity and personality might be twisted into a justification of selfimportance. Germany had its own criticism concerning this arrogance during the World War II. Apart from that, when interpreted and applied critically, Humboldt’s ideas of education may contribute a great deal to the development of educational system as well as philosophy of education in Indonesia.

Upaya untuk menemukan filsafat dan sistem pendidikan untuk Indonesia perlu terus menerus dilakukan. Dunia terus berubah. Banyak hal baru ditemukan. Hubungan antarmanusia dan antarbangsa pun berubah. Teknologi maju begitu pesat. Hal-hal lama ditinggalkan, namun sekaligus hal-hal baru belum sepenuhnya terpahami. Manusia hidup terus menerus dalam situasi persimpangan. Stabilitas pun menjadi sesuatu yang nyaris tak tercapai. Untuk bisa bertahan dan berkembang sebagai bangsa, Indonesia perlu meningkatkan sumber daya manusianya. Dalam hal ini, pengembangan pendidikan adalah kunci utama yang tak bisa diabaikan. Setidak-tidaknya ada dua jalan yang bisa ditempuh. Pertama, mengamati dengan teliti sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia, dan menafsirkan kembali ide-ide dasar para tokoh pendidikan di Indonesia. Kedua, belajar dari pengalaman bangsa lain. Lanjutkan membaca ANTARA AKU DAN DUNIA