Akar dari Segala Kejahatan

cllctr.com
cllctr.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di Jerman

Tahun 2015, Eropa kembali diancam oleh perang besar. Pasukan Russia terus merapatkan barisan di perbatasan Ukraina. Ukraina, dalam aliansi dengan NATO dan Uni Eropa, juga mempersiapkan pasukannya di perbatasan. Jika konflik terjadi, maka yang perang akan melebar ke seluruh negara Uni Eropa, bahkan ke berbagai negara di benua lainnya. Perang dunia ketiga kini di depan mata kita.

Kelompok bersenjata Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) juga terus melakukan teror di Timur Tengah. Negara-negara sekitarnya, seperti Yordania, Arab Saudi dan Turki, sudah mempersiapkan pasukan untuk menyerbu kelompok ini. Konflik bersenjata dalam skala besar nyaris tak dapat lagi dihindari. Semakin banyak orang akan masuk ke dalam penderitaan, akibat perang dan konflik bersenjata lainnya.

Pada skala yang lebih kecil, beragam jenis kejahatan juga menciptakan penderitaan bagi begitu banyak orang. Pengedar narkoba beserta pengaruh politis maupun ekonomis dari kartel narkoba mengancam kehidupan banyak negara. Anak muda dipaksa masuk untuk bergabung dalam gang bersenjata. Berbagai kebijakan pro rakyat kandas di depan mata, karena pengaruh lobi dari beragam kartel narkoba di dalam kebijakan politik.

Sebagai akibatnya, banyak orang terjebak di dalam rantai kemiskinan. Akar dari kemiskinan ini bukanlah kemalasan atau ketidakmampuan pribadi, melainkan kemiskinan sistemik sebagai dampak dari bobroknya sistem sosial yang ada. Di dalam jeratan kemiskinan, banyak gadis muda yang terjebak ke dalam pelacuran dan perdagangan manusia. Inilah bentuk perbudakan modern di awal abad 21 yang masih tertutup dari mata banyak orang.

Orang yang paham akan hal ini merasa tak berdaya untuk memperbaiki keadaan. Banyak dari antara mereka memutuskan untuk bersikap tidak peduli. Caranya adalah dengan hidup di dalam rantai konsumsi. Mereka sibuk bekerja, mengumpulkan uang dan membeli barang lebih dan lebih lagi, guna mengobati ketidakberdayaan mereka di dalam kehidupan. Konsumtivisme menjadi candu baru.

Mengapa ini semua terjadi? Mengapa manusia melakukan kejahatan kepada manusia lainnya? Mengapa manusia menciptakan penderitaan bagi manusia lainnya, dan juga bagi banyak mahluk hidup lainnya? Jawabannya hanya satu, yakni delusi, atau kesalahan berpikir mendasar tentang kehidupan.

Kekosongan Batin

Hampir setiap orang yang lahir di awal abad 21 ini merasakan sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Mereka merasa, bahwa mereka tidak dapat hidup, jika tidak mendapat pengakuan dari masyarakat. Mereka merasa, bahwa mereka tidak bisa bahagia, jika tidak memiliki uang banyak untuk membeli barang-barang. Perasaan kurang semacam ini menghantui begitu banyak orang, hampir sepanjang hidupnya.

Orang menyebutnya dengan berbagai kata. Ada yang bilang, mereka mencari kebahagiaan. Ada yang bilang, mereka mencari makna di dalam hidupnya. Ada pula yang bilang, mereka mengalami krisis tujuan hidup. Semua menunjuk pada satu keadaan, yakni rasa kurang yang bercokol di dalam batin.

Mereka lalu mencari cara, guna mengisi kekosongan batin tersebut. Mereka pun melihat ke luar dirinya. Narkoba, seks, agama, mistik dan konsumtivisme menjadi alternatif. Namun, semuanya tetap tak bisa mengisi kekosongan batin yang ada. Penderitaan pun berlanjut.

Di dalam proses pencarian, ketika keadaan telah menjadi sedemikian rumit, mereka tak segan menyakiti orang lain. Untuk mempertahankan gaya hidup konsumtif, sebagai pelarian dari kekosongan batin yang dirasakan, orang bersedia korupsi. Bahkan, orang bersedia membunuh orang lain, supaya ia bisa merasakan kepuasan sementara. Dunia pun dipenuhi dengan orang-orang yang menderita secara batiniah, dan kemudian saling menyakiti satu sama lain.

Inilah yang sekarang ini terjadi di dunia. Russia mengira, bahwa mereka akan menjadi bangsa besar, ketika mereka menguasai Ukraina, atau bahkan menguasai berbagai negara satelit bekas Uni Soviet di masa lalu. ISIS mengira, bahwa mereka bisa mendirikan kerajaan model abad pertengahan, jika mereka terus menyiksa dan membunuh orang-orang yang tak bersalah. Semuanya hidup dalam kesalahpahaman mendasar, bahwa mereka bisa mendapatkan kepenuhan hidup dengan mencari kepuasaan dari benda-benda di luar dirinya.

Aku yang Terpisah

Cara berpikir ini juga didorong oleh delusi lainnya, yakni delusi keterpisahan manusia. Salah satu racun paling mematikan dari filsafat barat adalah pandangan, bahwa manusia adalah mahluk individualistik yang terpisah dari manusia lainnya, dan juga terpisah dari alam. Pandangan ini menyebar begitu luas ke berbagai negara di dunia melalui proses kolonisasi/penjajahan di masa lalu, dan proses globalisasi di masa sekarang. Media cetak dan elektronik (terutama internet) berperan besar di dalam menyebarkan pandangan ini.

Delusi keterpisahan manusia ini juga menjadi akar dari segala bentuk diskriminasi. Bangsa-bangsa tertentu merasa terpisah dari bangsa-bangsa lainnya. Mereka merasa lebih tinggi derajatnya daripada bangsa-bangsa lainnya. Ini lalu mendorong penjajahan politik dan ekonomi dari beberapa negara atas negara-negara lainnya. Ini juga menjadi akar dari perbudakan, rasisme, fasisme dan penjajahan atas minoritas di berbagai negara.

Namun, kekosongan batin tetap ada. Orang bisa menjajah dan menguasai orang lainnya. Namun, ia tetap akan merasa menderita di dalam hatinya. Delusi keterpisahan manusia mendorong orang masuk ke dalam kesepian dan kekosongan batin yang lebih dalam, walaupun ia memiliki uang, kekuasaan, nama besar dan beragam barang mewah lainnya.

Untuk mengisi kekosongan batinnya, orang juga menghancurkan alam. Hutan dibabat untuk membangun perumahan mewah. Gunung diratakan untuk memperoleh emas. Manusia juga lalu melihat dirinya sebagai sesuatu yang terpisah sekaligus lebih tinggi dari alam dan semua mahluk hidup lainnya. Ia merasa punya hak untuk menguasai dan menghancurkan semuanya, guna memenuhi keinginan dan kerakusannya.

Ketika alam rusak, maka seluruh kehidupan terancam. Hewan punah. Hutan dan berbagai sistem ekologi alamiah lainnya juga hancur, akibat ulah manusia. Di dalam keadaan semacam ini, manusia justru semakin dalam terjebak dalam rasa takut, kesepian dan penderitaan.

Mencari Ke Dalam

Jadi, akar dari segala kejahatan adalah dua delusi mendasar. Yang pertama adalah delusi, bahwa orang bisa mencapai kebahagiaan dengan mencari serta mengumpulkan hal-hal dari luar dirinya, seperti nama baik, kehormatan, uang, harta dan sebagainya. Yang kedua adalah delusi, bahwa manusia adalah mahluk individual yang terpisah dengan manusia-manusia lainnya, dan juga terpisah dari alam. Dua delusi ini menciptakan penderitaan batin yang amat dalam bagi manusia, baik dalam lingkup hidup pribadinya, maupun dalam hubungan-hubungan sosialnya.

Jalan keluar dari dua delusi ini sebenarnya sederhana, yakni kita harus mulai melihat ke dalam diri kita sendiri, dan mencoba menemukan kepenuhan hidup disana. Kita harus berhenti mencoba mengisi kekosongan batin kita dengan hal-hal eksternal, seperti uang, nama besar, barang-barang dan lainnya. Ketika kita menengok ke dalam, kita akan menyadari, siapa diri kita sebenarnya. Di dalam proses menyadari diri kita yang sejati, kita pun lalu akan sampai pada kesadaran, bahwa segala hal di alam semesta ini adalah kesatuan dari jaringan yang tak terpisahkan.

Kita dan orang lain adalah satu. Kita dan alam adalah satu. Penderitaan mereka adalah penderitaan kita sendiri. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan kita sendiri.

Pemahaman ini tidak boleh hanya menjadi pemahaman intelektual semata. Ia harus sungguh menjadi bagian dari kesadaran kita sehari-hari. Ketika kita bertindak dari kesadaran mendasar, bahwa apa yang kita cari sudah selalu tertanam di dalam diri kita sendiri, dan bahwa segala hal di dunia ini adalah satu kesatuan dan saling terhubung satu sama lain, maka segala yang kita alami dan lakukan akan selalu bisa membantu diri kita sendiri dan orang lain. Di dalam kesenangan, tindakan kita akan membantu diri kita, orang lain, semua mahluk hidup dan alam sebagai keseluruhan. Bahkan di dalam penderitaan dan kesedihan berat, tindakan kita juga bisa membantu mereka semua.

Tidak ada perbedaan antara kita dan mahluk hidup lainnya. Tidak ada perbedaan antara kita dan alam. Semua perbedaan yang tampak hanya muncul dari panca indera dan pikiran kita yang rapuh. Perbedaan tersebut lahir dari delusi, yakni dari kesalahan berpikir yang mendasar tentang kehidupan.

Delusi hanya menciptakan penderitaan di dalam hati kita. Ketika hati kita menderita, kita pun lalu dengan mudah menyakiti orang lain. Kita juga dengan mudah menghancurkan kehidupan lain dan alam ini, demi memuaskan delusi kita. Delusi inilah akar dari segala kejahatan. Mau sampai kapan kita hidup seperti ini?

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

10 tanggapan untuk “Akar dari Segala Kejahatan”

  1. Saya kira teori yang dapat menjelaskan kenapa semua kesedihan ini terjadi bukanlah apa-apa tetapi manusia itu sendiri. Jauh sebelum abad ke 21 manusia sudah memperbudak orang lain. Menyakiti orang lain. Mengkhianati orang lain. Bukan hanya kemarin semua ini terjadi, sejak awal mula kita semua ada, kejahatan pun ada. Begitu juga, dimana ada kita, disana ada kejahatan itu sendiri. Yang perlu ditemukan setiap pribadi adalah sesuatu yang dapat mengurangi kecendrungan kita untuk berbuat jahat. Apapun itu bentuknya, jika bisa menghalangi kita dr perbuatan yg sedemikian rupa, saya rasa tidak apa. Selalu ada dorongan dari dalam untuk berbuat yang tidak biasany. Kita selalu memiliki arus putar yang membuat kita melangkahi kebiasaan, dan sering kali hal itu buruk. Jika “yang didalam” pun terkadang tak mampu meredam kejahatan2 itu, maka pilihan apa lagi selain merujuk kepada “Yang Tertinggi”

    Suka

  2. Saya sangat berterima kasih jika bapak mau meluangkan waktu melatih saya ber-filsafat dengan memberi ruang kepada saya untuk berdiskusi bersama bapak di tempat ini.

    “Historia semper repetitur”. Kemerosotan manusia (yang membawa manusia sampai ke titik penderitaan) karena kecenderungannya untuk mengarah ke hal (pemikiran) negatif bukan tidak pernah diberi tanda awas oleh para pemikir terkemuka. Lao Tsu dulu pernah menawarkan cara agar manusia bisa lepas dari penderitaan. Manusia hendaknya kembali ke “jalan alam”. Manusia hanyalah setitik air dalam samudera luas; makanya tidak boleh mengambil peran destruktif. Dalam sistim filsafat India orthodox – Nyaya – juga sudah digaungkan bahwa pengetahuan yang salah (false knowlege) bisa membawa manusia pada kehidupan yang penuh penderitaan. Delusi adalah penyakit abadi yang merongrong manusia dalam keseluruhan peradabannya (bdk. Cerita Kitab Suci: Penderitaan manusia pertama karena delusi mereka). Delusi menjadi sel kanker yang merusak keseluruhan sistem kehidupan manusia dan masyarakat. Sungguh sebuah “penyakit” yang hampir tak disadari eksistensinya. Hasil akhir dari perjalanan panjang sejarah penyakit adalah kehancuran dan kematian. Jika delusi tak “diakali” maka hasil akhir peradaban manusia nanti sudah bisa kita ketahui. Kita tidak usah menunggu selesainya perang atau selesainya konflik untuk mengetahuinya. Sungguh, masa depan manusia bisa diproyeksi hari ini. Menyembuhkan penyakit ini bukanlah hal yang mustahil meskipun masa-masa “treatment” panjang menjadi keharusan. Pendidikan dan keseluruhan sistemnya adalah satu-satunya (adakah yang lain?) “tool” yang kiranya mempunyai efek besar yang bisa digunakan untuk mencegah potensial itu. Pendidikan (dalam konteks sistem pendidikan-nya) di Indonesia hari ini mulai mengarah ke trend positif dalam upaya untuk membangun kerangka berpikir tepat sebagai basis berperilaku. Kurikulum 2013 yang ber-roh pendidikan karakter adalah harapan baru. Namun, salah kaprah tentang pendidikan karakter mengaburkan tujuan pokok model pendidikan baru itu. Apa mungkin karakter yang baik atau keutamaan-keutamaan menjadi bagian dari kehidupan individu peserta didik jika tidak ada habituasi? Delusi yang bisa dipatahkan dengan (salah satunya) pendidikan yang tepat bisa saja tidak berhasil. Jika demikian, dapatkah kita membuat ekspektasi waktu penuntasan delusi-delusi yang terus merongrong manusia dan kelompok manusia? Pihak manakah yang paling harus mengerjakan proyek rehabilitasi ini?

    Suka

    1. Analisis anda tajam dan benar. Saya sepakat. Delusi kolektif di dalam semua bidang di Indonesia harus dihancurkan. Kita bisa berperan sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Terima kasih atas pendapatnya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s