Menari di atas Organisasi

lets_dance_with_surrealism_by_emo_ghoul_graphics-d53ae9uOleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di Jerman

Kita hidup di antara beragam bentuk organisasi. Keluarga pun juga dapat dilihat sebagai organisasi. Pada tingkat terluas, kita bisa melihat beragam bentuk organisasi internasional, seperti PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) dan WHO (World Health Organization), yang memiliki lingkup kerja seluas dunia itu sendiri. Kita hampir tak bisa membayangkan hidup, tanpa adanya organisasi.

Setiap bentuk organisasi selalu memiliki dua hal, yakni tata dan tujuan. Tata berarti pola yang tetap dalam bentuk aturan maupun kebiasaan. Tujuan berarti adanya hal yang ingin dicapai, yang saat ini belum ada. Dalam arti ini, organisasi bisa berarti sekelompok orang yang memiliki tata dan tujuan, maupun seorang pribadi yang menata dirinya untuk mencapai tujuan tertentu.

Organisasi Diri

Pada tingkatnya yang paling kecil, organisasi adalah pribadi. Hidup kita adalah sebentuk organisasi. Ia memiliki tata tertentu yang membuatnya tetap ada, misalnya kita makan dan istirahat, guna memperbaiki sel-sel tubuh kita yang rusak. Kita juga mempunyai tujuan tertentu, yakni cita-cita yang ingin kita capai di masa depan.

Seorang atlit basket akan mengorganisir dirinya dengan baik. Ia akan bangun pagi, berolah raga, dan makan makanan yang bergizi. Ia akan berlatih secara rutin, tanpa merusak kesehatannya. Inilah yang dimaksud organisasi diri.

Maka dari itu, kita setidaknya mengenal dua kata, yakni organisasi dalam arti kelompok, dan organisasi dalam arti organisasi diri. Di dalam perkembangan sejarah manusia, keduanya ada untuk mengabdi satu tujuan, yakni keberlangsungan hidup. Organisasi ada untuk menjamin, bahwa manusia tetap ada dan berkembang di dalam dunia ini. Ada dua hal yang kiranya perlu diperhatikan disini.

Yang pertama, apakah orang-orang yang berada di dalam organisasi itu memiliki tujuan yang sama? Jika tidak, maka organisasi itu akan sulit berkembang, dan justru menciptakan banyak masalah baru yang sebelumnya tak ada. Yang kedua adalah mentalitas yang sama. Dalam arti ini, mentalitas adalah sikap hidup dalam bentuk kebiasaan dan pola perilaku yang sama. Orang yang malas dan rajin akan mengalami kesulitan untuk bekerja sama dalam satu organisasi.

Penyakit Organisasi

Namun, organisasi bisa jatuh ke dalam tiga kelemahan berikut. Yang pertama adalah organisasi yang berubah menjadi birokrasi. Ketika ini terjadi, organisasi akan bekerja dengan sangat lambat, dan lebih sibuk dengan urusan-urusan administratif, daripada mencoba mencapai tujuan dasar dari organisasi itu sendiri.

Organisasi semacam itu juga akan mudah sekali jatuh ke dalam korupsi. Birokrasi akan membuat sulit banyak orang. Akhirnya, mereka mencari cara untuk bergerak melampaui birokrasi tersebut, jika perlu dengan cara-cara curang. Inilah akar dari segala bentuk korupsi di dalam organisasi, yakni ketika ia menjadi sekedar mesin birokrasi tanpa jiwa, dan kehilangan arah tujuan dasarnya sendiri.

Di banyak kota di Indonesia, banyak organisasi pemerintahan telah berubah menjadi birokrasi yang korup. Untuk membuat KTP, orang harus menunggu lama. Ketika orang itu tidak sabar, ia lalu menyuap untuk mempercepat proses. Birokrasi yang absolut adalah tanah yang subur untuk korupsi.

Tanpa jiwa, organisasi akan menjadi sebentuk penjajahan atas manusia. Orang dipaksa untuk patuh, tanpa tahu, mengapa ia harus patuh. Ia dipaksa untuk berpikir dan bertindak seperti orang-orang lainnya di dalam organisasi. Inilah salah satu bahaya organisasi.

Contoh dari organisasi semacam ini adalah agama. Fundamentalisme kini menjadi penyakit akut dari banyak agama di dunia. Orang diancam dengan hukum dosa dan neraka, supaya mereka patuh pada perintah agama yang dibuat oleh orang-orang yang berniat jahat. Akhirnya, agama kehilangan dimensi spiritualnya, dan menjadi penjajah jiwa.

Namun, sekali lagi perlu ditekankan, bahwa organisasi selalu berarti dua hal, yakni organisasi kelompok dan organisasi diri. Keduanya tidak boleh dipisahkan. Ketika organisasi kelompok lebih kuat, maka peluang korupsi dan konformitas ekstrem akan semakin besar. Organisasi diri mengandaikan satu hal yang amat penting, yakni kebebasan diri untuk berpikir dan membuat keputusan.

Dengan kebebasan ini, orang tidak akan pernah terpenjara di dalam organisasi. Ia akan bisa membangun hubungan yang sehat antara diri pribadinya dengan organisasinya. Ia bisa bekerja sama, tanpa menjadi patuh buta. Ia bisa berpikir kritis dan mengajukan pertanyaan, tanpa menjadi perusak kebersamaan.

Pendek kata, ia bisa menari di atas organisasi.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

4 tanggapan untuk “Menari di atas Organisasi”

  1. Menarik! Perlu kiranya bagi mahasiswa muda seperti saya ini bisa belajar banyak dari organisasi. Dalam tingkatan yang sederhana, self organizing juga penting banget. Lanjutkan pak Profesor! Filosofi yang menginspirasi! :’)

    Suka

  2. Sangat bermanfaat kaka. (y)
    Kaka saya mau bertanya
    *. Apakah dalam suatu organisasi ideologi itu perlu sebagai motivasi untuk mengikat anggotanya….?
    *. Jika kita dalam berorganisasi hubungan timbal-balik itu perlu ka..? maksudnya kita sebagai anggota mempertimbangkan apa yang kita dapatkan ketika kita mengabdi di dalam suatu organisasi.

    Maaf kaka jika pertanyaan-nya di luar Konteks…

    Terimakasih Sebelumnya kaka. 🙂

    Suka

    1. Organisasi perlu arah yang jelas. Ideologi seringkali jadi fanatisme yang membahayakan. Jika arah jelas, kita lalu bisa mempertimbangkan baik buruknya untuk hidup kita pribadi. Namun sebelumnya, arah hidup pribadi kita pun harus jelas, yakni menolong orang lain sesuai dengan kemampuan kita. Terima kasih juga atas pertanyaannya. Salam hangat

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s