ANTARA AKU DAN DUNIA

wikipedia
wikipedia

URAIAN DAN TANGGAPAN ATAS FILSAFAT PENDIDIKAN WILHELM VON HUMBOLDT DI DALAM THEORIE DER BILDUNG DES MENSCHEN

Reza A.A Wattimena, Faculty of Philosophy Widya Mandala Catholic University Surabaya, Indonesia

Wilhelm von Humboldt has put the foundation of Germany’s educational system. He emphasizes the importance of integrity in term of individual personality. Through education, one can develop one’s integrity and personality. The basis of this integrity is human freedom, that is, the freedom to decide one’s own worldview according to one’s choices in life. With this freedom, human is fashioned through the process of education to develop his/her intellectual knowledge, conscience and skills to work in life. One then can contribute genuinely to the development of one’s neighbourhood and society. However, Humboldt’s theory of education needs some critical remarks as well. Without bold conscience the concept of integrity and personality might be twisted into a justification of selfimportance. Germany had its own criticism concerning this arrogance during the World War II. Apart from that, when interpreted and applied critically, Humboldt’s ideas of education may contribute a great deal to the development of educational system as well as philosophy of education in Indonesia.

Upaya untuk menemukan filsafat dan sistem pendidikan untuk Indonesia perlu terus menerus dilakukan. Dunia terus berubah. Banyak hal baru ditemukan. Hubungan antarmanusia dan antarbangsa pun berubah. Teknologi maju begitu pesat. Hal-hal lama ditinggalkan, namun sekaligus hal-hal baru belum sepenuhnya terpahami. Manusia hidup terus menerus dalam situasi persimpangan. Stabilitas pun menjadi sesuatu yang nyaris tak tercapai. Untuk bisa bertahan dan berkembang sebagai bangsa, Indonesia perlu meningkatkan sumber daya manusianya. Dalam hal ini, pengembangan pendidikan adalah kunci utama yang tak bisa diabaikan. Setidak-tidaknya ada dua jalan yang bisa ditempuh. Pertama, mengamati dengan teliti sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia, dan menafsirkan kembali ide-ide dasar para tokoh pendidikan di Indonesia. Kedua, belajar dari pengalaman bangsa lain.

Dalam konteks tulisan ini, saya mencoba berdialog dengan pemikiran Wilhelm von Humboldt, Bapak Pendidikan Jerman, tentang pendidikan. Ia menuangkan pemikirannya dalam sebuah tulisan pendek berjudul Theorie der Bildung des Menschen. Saat ini, dengan birokrasi pendidikan yang relatif bersih dan tradisi intelektual yang panjang, Jerman menjadi negara tujuan belajar dari seluruh dunia.1 Pemikiran Humboldt tentang pendidikan menjadi dasar sekaligus roh dari seluruh sistem pendidikan di Jerman sekarang ini. Untuk menjelaskan dan menanggapi pemikiran Humboldt tentang pendidikan, tulisan ini akan dibagi ke dalam empat bagian. Awalnya, (1) saya akan menjelaskan inti utama dari filsafat pendidikan Humboldt di dalam Theorie der Bildung des Menschen, lalu (2) saya akan mencoba melihat relevansi pemikiran Humboldt tersebut untuk perkembangan pendidikan di Indonesia; setelah itu, (3) saya juga akan memberikan catatan kritis untuk pemikiran Humboldt; dan akhirnya (4) tulisan ini akan ditutup dengan simpulan.

Filsafat Pendidikan Humboldt

Nama lengkapnya adalah Friedrich Wilhelm Christian Karl Ferdinan Freiherr von Humboldt.2 Ia dilahirkan pada 22 Juni 1767 di Postdam, dan meninggal pada 8 April 1835 di Tegel, dekat Berlin. Ayahnya adalah seorang guru privat yang memiliki akar kuat pada tradisi Filsafat Pencerahan. Humboldt kemudian belajar ilmu-ilmu alam, bahasa Yunani, Latin dan Prancis. Ia juga pernah belajar pada Immanuel Kant dan kemudian berteman dengan Friedrich Heinrich Jacobi, Goethe dan Schiller. Pada 1790, ia bekerja sebagai pegawai pemerintah Prussia. Pada 1797, ia pindah ke Paris, namun ia tetap mempertahankan hubungan baik dengan kalangan intelektual dan politikus Prussia.

Pada 1803 sampai 1808, ia bekerja di Vatikan sebagai perwakilan dari pemerintah Prussia untuk Tahta Suci kepausan. Di sana, ia banyak berhubungan dengan kalangan intelektual dan seniman Italia. Ia pun mulai mengenal berbagai kebudayaan di luar Eropa, misalnya, kebudayaan suku Indian dari Amerika Utara. Ketika pemerintahan Prussia runtuh, Humboldt kembali ke sana. Prussia berubah menjadi Jerman. Ia menjabat Menteri untuk Kebudayaan dan Pendidikan. Pada masa ini, ia membangun sekaligus mengembangkan sistem pendidikan Jerman, mulai dari sekolah dasar sampai dengan pendidikan tinggi di universitas. Bisa dibilang, Humboldt adalah bapak pendidikan di Jerman. Pandangan-pandangannya meresap begitu dalam di paradigma pendidikan Jerman sekarang ini. Namun, di akhir hidupnya ia lebih banyak mengembangkan penelitian di bidang bahasa.

Baca lebih lanjut di:

02 Reza Wattimena – Pendidikan Humboldt

atau

http://journal.unpar.ac.id/index.php/melintas/article/view/1287

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s