Kisah Tujuh Paradoks

b-i.forbesimg.com
b-i.forbesimg.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Hidup manusia modern ditandai dengan satu ciri, yakni ketakutan. Di satu sisi, mereka hidup dengan menata masa depan. Mereka takut, jika masa depan mereka kacau, dan hidup mereka pun kacau. Di sisi lain, mereka takut akan masa lalu, karena telah melakukan sesuatu yang mereka sesali.

Rasa takut membuat pikiran kacau. Pertimbangan menjadi kacau. Banyak keputusan pun dibuat dengan kekacauan pikiran. Akhirnya, keputusan-keputusan itu justru menciptakan masalah yang lebih besar.

Pada tingkat politik, dampak keputusan yang salah amatlah merugikan. Banyak orang menderita, karena kesalahan kebijakan yang dibuat pemerintah. Sayangnya, banyak kebijakan tersebut dibuat atas dasar rasa takut akan masa depan. Rasa takut mengaburkan kejernihan berpikir, dan memperbesar masalah yang sudah ada sebelumnya.

Rasa takut juga menciptakan penderitaan batin yang besar. Banyak orang terjebak di dalam depresi, karena rasa takut yang berlebihan. Banyak orang jatuh ke dalam ketergantungan narkoba, karena penderitaan batin dan rasa takut di dalam hati mereka. Orang yang menderita cenderung kejam tidak hanya pada dirinya sendiri, tetapi juga pada orang lain.

Ketakutan dan Kehidupan

Darimana akar ketakutan semacam ini? Saya melihat, akar ketakutan terletak pada kegagalan memahami arti hidup sesungguhnya. Artinya, ketakutan lahir, ketika orang gagal memahami kenyataan apa adanya. Ia melihat dunia hanya semata dengan pikiran dan perasaannya, yang seringkali jauh dari kebenaran.

Apa arti dari hidup sesungguhnya? Apa hukum-hukum yang menggerakan segala yang ada? Saya menyebutnya sebagai hukum paradoks, karena sejatinya, kenyataan ini adalah paradoks. Segala kebenaran yang ada di muka bumi ini selalu mengambil bentuk paradoks.

Paradoks adalah dua hal yang berbeda, tetapi benar dalam keutuhannya. Ia menolak untuk membagi dunia ke dalam kelompok-kelompok. Paradoks memberi ruang untuk ketidakmasukakalan. Ia melihat segala yang bertentangan sebagai sama dan utuh di dalam kebenarannya. Inilah hukum yang mengendalikan seluruh kenyataan yang ada.

Tujuh Paradoks

Dampak dari paradoks semacam ini amat nyata di dalam kehidupan manusia. Saya merumuskan tujuh bentuk paradoks. Pandangan ini tersebar begitu luas di dalam pemikiran Barat maupun Timur. Ia telah berkembang dan diwariskan melalui berbagai cara, namun kini seolah terpinggirkan oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang mendewakan akal budi.

Paradoks pertama adalah paradoks rasa sakit. Banyak orang menghindari rasa sakit. Mereka takut akan rasa sakit. Berbagai cara dilakukan, mulai dari yang masuk akal sampai dengan yang mistik, untuk menghindari rasa sakit.

Padahal, rasa takut akan rasa sakit adalah rasa sakit itu sendiri. Usaha untuk menghindari rasa sakit akan menghasilkan rasa sakit itu sendiri. Ketika orang berusaha untuk menghindari rasa sakit, maka rasa sakit itu akan bertambah. Inilah paradoks pertama dari kehidupan, yakni paradoks rasa sakit.

Paradoks kedua adalah paradoks kedamaian. Banyak orang berusaha mencari kedamaian dalam hidupnya. Banyak yang melihat agama sebagai jalan menuju kedamaian. Banyak pula yang mencari jalan lain, guna memperoleh kedamaian di dalam hatinya.

Namun, keinginan untuk merasa damai justru menciptakan perasaan tidak damai. Segala upaya untuk mencapai kedamaian hanya akan menghasilkan ketegangan. Ketegangan itulah yang menjadi akar dari rasa tidak damai. Inilah inti dari paradoks kedamaian.

Paradoks ketiga adalah paradoks keberanian. Banyak orang menghindari rasa takutnya. Mereka mencari berbagai cara, supaya bisa melampaui rasa takutnya. Mereka bekerja keras untuk menemukan keberanian di dalam hidupnya.

Padahal, keinginan untuk berani adalah tanda dari ketakutan. Semakin kita ingin berani, semakin ketakutan akan mencekam hidup kita. Orang yang mencari segala cara untuk melampaui ketakutannya justru akan selamanya dijajah oleh rasa takut di dalam hatinya. Inilah paradoks keberanian.

Paradoks keempat adalah paradoks memberi. Banyak orang takut memberi, karena mereka takut kehilangan. Akhirnya, mereka menjadi pelit. Mereka menutup diri dari dunia, dan hidup semata untuk dirinya sendiri.

Padahal, di dalam hidup ini, semakin banyak kita melepas, semakin banyak kita mendapat. Orang harus keluar uang, guna mendapat uang. Orang harus memberi, guna mendapat. Orang harus melepaskan keinginan untuk damai, jika ingin memperoleh kedamaian di dalam hidup.

Apakah anda pernah berenang? Mereka yang berenang pasti sadar, bahwa mereka harus tenang, supaya bisa mengambang di air. Semakin kita melawan arus, semakin kita akan celaka, karena tekanan arus tersebut. Namun, sebaliknya, semakin kita pasrah pada arus, semakin kita akan mengambang di atas air, sehingga bisa bertahan hidup. Inilah paradoks kelima, yakni paradoks menyelam-mengambang.

Para ahli manajemen abad 21 sadar akan paradoks keenam, yakni paradoks manajemen. Semakin kita mengontrol orang dengan ketat, semakin semuanya kacau. Namun, semakin kita memberikan ruang kebebasan di dalam manajemen, maka produktivitas dan kebahagiaan perusahaan akan meningkat. Kontrol yang keras akan menghasilkan kebencian dari pihak yang dikontrol.

Manajemen itu sejatinya seperti musik jazz. Ia tidak perlu ketukan yang terkontrol rapat. Ia tidak perlu nada yang pasti yang diatur secara ketat. Yang ia perlukan adalah struktur yang dapat dipercaya, dan kebebasan untuk bergerak di dalam struktur itu.

Paradoks ketujuh adalah paradoks pengetahuan. Banyak orang mencari pengetahuan di dalam hidupnya. Mereka pergi ke sekolah dan perguruan tinggi ternama. Mereka mencari pengetahuan di negara lain, jauh dari tanah air mereka.

Padahal, pengetahuan yang sesungguhnya bisa dicapai, jika kita berhenti dan berdiam diri. Pengetahuan yang sejati tidak berada di luar diri kita, melainkan di dalam diri kita. Ketika bergerak dan berbicara, kita justru akan terlepas dari pengetahuan yang sejati. Kita lalu hanya akan terjebak di dalam jutaan pendapat yang mayoritas adalah omong kosong.

Saat ke Saat

Bagaimana kita bisa hidup dengan segala paradoks ini? Paradoks ini, pada hemat saya, adalah hukum yang menata segala yang ada. Ia adalah aturan-aturan kehidupan. Orang yang mengikutinya akan menemukan kedamaian dan kepenuhan hidup. Orang yang melawannya akan terjebak di dalam penderitaan tanpa henti.

Hidup di dalam paradoks berarti hidup sesuai dengan kenyataan yang ada. Kita melepas semua ambisi dan ketakutan kita. Kita hidup secara alamiah mengikuti hukum-hukum kenyataan yang ada. Kita tidak melawan alam, melainkan hidup berdampingan dengan alam seturut dengan hukum-hukumnya.

Artinya lalu, kita hidup dari saat ke saat. Belajar dari pengalaman masa lalu boleh dilakukan, tetapi tidak pernah boleh melupakan keadaan disini dan saat ini. Membuat rencana tentu saja boleh, asal tetap berjangkar pada keadaan disini dan saat ini. Yang ada hanyalah saat ini. Masa lalu dan masa depan tidaklah ada.

Ketika kita tidak ngotot, semuanya akan tampak jelas. Ketika kita jernih, keberanian dan kedamaian otomatis akan datang. Ketika kita diam dan melihat ke dalam diri, maka kita akan mengetahui segalanya. Sederhana, tetapi begitu banyak orang melupakannya. Sayang sekali.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

24 thoughts on “Kisah Tujuh Paradoks”

  1. Tulisan mas reza sangat menarik dan selalu saya nikmati setiap kali dikirim. Saya ingin bertanya apa itu teori kritis asal perancis, apa yang khas dari ini dan siapa tokoh-tokohnya. terima kasih.

    *Terima Kasih dan salam,* *Thank you and Best Wishes,*

    *Tunggul SP* *Nil Satis Nisi Optimum*

           

    London School of Public Relations  – Jakarta (LSPR), Graduate School of Communication, was established in 1992. It offers Bachelors and Masters degree programs in Communication Studies.  LSPR is recognized as the best Indonesian Graduate School of Communication by the local press and media.  LSPR has also received numerous awards and appreciation both locally and internationally. It has been accredited with the prestigious ‘A’ rating by the National Accreditation Agency for Higher Education (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi – BAN PT) as well as being ISO 9001:2008 compliant.

    This message is for the use of the intended recipient(s) only. If you are not the intended recipient you are notified that disclosing, copying, distributing or taking any action in reliance on the contents of this information is strictly prohibited. LSPR – Jakarta accepts no liability for loss or damage caused by software viruses and you are advised to carry out a virus check on any attachments contained in this message.

     

    Suka

    1. Halo. Teori kritis Prancis terdiri dari pemikiran2 Derrida, Lyotard, Foucault, Bourdieu dan Guattari. Cirinya satu: kecurigaan pada tatanan sosial yang ada. Mereka merasa, bahwa tatanan menyembunyikan penindasan yang harus terus ditanggapi secara kritis.

      Suka

  2. Sebenarnya masih ada paradoks-paradoks lain yang dapat ditemukan, bila kita mau mencarinya secara mendalam secara filosofis. Bukannya pemikir dan filsuf pernah menyatakan bahwa manusia adalah makhluk supra yang tidak dapat dimengerti dengan batasan rasio manusia yang terbatas….

    Suka

  3. Salam sejahtera untuk bapak.
    Sebelumnya, saya pernah memiliki pernyataan, “kebodohan adalah ketika kita sudah merasa pintar.”

    Saya ingin bertanya, apakah bahasa lain dari paradoks rasa sakit adalah, menerima rasa sakit itu sendiri?. Saya pernah berpikir juga, kita tak akan pernah memahami kedamaian sesungguhnya tanpa memahami rasa sakit itu sendiri. Jadi pada dasarnya, kebahagiaan dan rasa sakit itu sama. Bagaimana menurut bapak?.

    Salam.

    Suka

  4. waah…aslii penjelasannya saya suka mas/pak…mengenai paradok…”paradok” adalah sesuatu yang “halus” namun ketika dijelaskan dapat menjadi rumit dan itu sebuah hal yang paradok juga..hahaha..tapi saya bisa mencerna dan menangkap dari gaya penulisannya mas/pak …hingga pilihan mana yang bisa dipilih oleh manusia untuk menyikapi “paradok” itu… Oh ya mas/pak saya minta ijin untuk mencuplik beberapa kalimat yang ada ditulisan mas/pak untuk dijadikan referensi di tulisan saya….
    Trimms..

    Suka

  5. kalau masa lalu tdk ada manusia akan selamanya bodoh. ilmu sejarah punah, sains mandek dan untuk apa buku2 dipublikasikan selain untuk orang-orang di masa depan agar membacanya.
    kalau masa lalu tidak ada utk apa orang-orang memiliki photo di dinding rumah atau di halaman media sosialnya, karena toh ketika ia melihat photo nya ia sadar waktu kejadian yg ada di photo nya.

    satu hal yg kurang. ukuran saat ini, masa lalu dan masa depan itu seperti apa? satu detik yg lalu itu sudah jd masa lalu apalagi sehari yg lalu dst, begitu pun utk masa depan.

    Suka

  6. Bapak Reza, saya sangat menyukai filsafat dan sastra.. postingan anda sangat membantu..
    saya ingin mengomentari
    jika baik ada karena buruk.. hitam ada karena putih. Berarti jika ada diantara keduanya, di tengah -tengah..yakni kita ada di area abu-abu.. apakah itu juga termasuk dalam paradoks?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s