Menuju “Saat Ini”

mshcdn.com
mshcdn.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang di Jerman.

Eckhart Tolle menulis buku berjudul Jetzt, die Kraft der Gegenwart pada 2010 lalu. Tolle mengajak kita untuk kembali ke “saat ini”, yakni sepenuhnya berada pada momen, dimana kita ada sekarang. Di dalam “saat ini”, kita akan menemukan kebahagiaan, kebenaran, cinta, kedamaian, Tuhan, kebebasan. Di “saat ini”, kita akan menemukan semua tujuan hidup kita. Ketika orang meninggalkan “saat ini”, maka ia masuk kembali ke dalam lingkaran penderitaan, kecemasan dan ketakutan dalam hidupnya.

Jika kita berpikir secara jernih, kita akan sadar, bahwa yang ada hanyalah saat ini. Tidak ada masa lalu dan tidak ada masa depan. Masa lalu hanya merupakan kenangan. Masa depan hanya merupakan harapan. Keduanya tidak nyata.

Masa lalu memberikan identitas pada diri kita. Masa depan memberikan janji tentang hidup yang lebih baik. Namun, jika dipikirkan secara jernih dan mendalam, keduanya tidak ada. Keduanya adalah ilusi.

Banyak orang mengira, bahwa waktu adalah uang. Mereka juga mengira, bahwa waktu adalah hal yang amat berharga. Namun, sejatinya, waktu adalah ilusi. Ia tidak memiliki nilai pada dirinya sendiri.

Yang justru amat berharga, menurut Tolle, adaah “saat ini”. “Saat ini” adalah suatu keadaan yang lepas dari waktu. Ketika kita memikirkan waktu, berarti juga memikirkan masa lalu dan masa depan, kita akan kehilangan “saat ini”. Kita akan kehilangan sesuatu yang amat berharga.

Banyak orang juga mengira, bahwa sukses itu ada di masa depan. Jika kita belajar dan bekerja keras saat ini, maka kita akan sukses di masa depan. Kita akan bahagia di masa depan. Ini adalah pikiran yang salah. Ini hanya menciptakan kecemasan dan penderitaan hidup.

Sukses hidup yang sejati adalah dengan menyadari “saat ini”. Kebahagiaan hidup yang tak akan goyah adalah dengan menyadari “saat ini”. Orang yang kehilangan “saat ini” akan kembali masuk ke dalam kecemasan dan penderitaan hidup. Padahal, yang ada sejatinya hanyalah “saat ini”. Yang lain hanya ilusi.

Orang yang pikirannya dilempar antara masa lalu dan masa depan tidak akan pernah menemukan kebahagiaan yang sejati. Sayangnya, banyak orang hidup dengan pola semacam ini. Hampir setiap detik, pikiran mereka dibuat cemas oleh apa yang telah terjadi. Mereka juga terus memutar otak untuk merencanakan masa depan.

Mereka hidup dalam tegangan. Stress dan depresi pun akhirnya menimpa mereka. Namun, ketika mereka melepaskan keterikatan pada masa lalu dan masa depan, mereka lalu bisa kembali ke “saat ini”. Lalu, mereka akan menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sejati. Dengan hati yang damai dan bahagia, mereka bisa memberikan cinta dan perhatian kepada orang lain melalui tindakannya.

Berada “disini” juga amatlah penting. Ketika kita berada di satu tempat, kita harus berusaha untuk berada di tempat itu sepenuhnya. Namun, seringkali, karena berbagai alasan, kita tidak suka pada tempat kita berada. Ada tiga pilihan: pindah tempat, ubah situasi yang ada semampunya, atau tinggalkan tempat itu. Mudah bukan?

Berada “disini” berarti juga berada di “saat ini”. Ini membutuhkan penerimaan atas apa yang ada sekarang ini. Apakah menerima berari pasrah dan menyerah pada keadaan? Apakah berarti kita menjadi pengecut?

Ketika kita menerima keadaan sepenuhnya, segala pikiran cemas dan takut lenyap. Kita lalu bisa tenang dan damai mengalami apa yang terjadi. Pada titik ini, kesadaran kita akan meningkat. Kita akan memiliki pikiran jernih untuk menanggapi apa pun yang terjadi.

Pikiran menciptakan analisis dan pemahaman. Namun, keduanya kerap berujung pada ketakutan dan kecemasan. Ketika orang hidup “disini dan saat ini”, pikiran lenyap. Kesadaran pun muncul dan berkembang, guna menanggapi secara tepat dan jernih apa yang sedang terjadi.

Kekuatan terbesar manusia, menurut Tolle, adalah kesadarannya. Orang bisa melakukan apapun secara tepat sesuai dengan keadaan yang ada, ketika ia mampu menggunakan kesadarannya secara penuh. Jadi, rumusnya adalah: terima keadaan yang ada, lalu bertindak! Kesadaran bisa digunakan, jika orang hidup di “saat ini”. Ia lalu bisa hidup dengan perasaan mengalir yang penuh kedamaian dan kebahagiaan, walaupun banyak tantangan menghadang.

Kehidupan adalah sebuah jaringan. Tidak ada satu hal pun di alam semesta ini yang berada sendirian. Semuanya saling terhubung satu sama lain, tanpa bisa dipisahkan. Perasaan kesepian dan sendiri hanyalah ilusi, karena sejatinya, kita tak pernah sendirian.

Segala masalah yang datang juga adalah bagian dari jaringan kehidupan ini. Semuanya berguna dan berharga, asal ditanggapi tidak melulu dengan pikiran yang analitis, tetapi juga dengan kesadaran. Pikiran untuk menganalisis digunakan seperlunya saja. Sisanya, orang perlu hidup dengan menggunakan kesadarannya.

Pikiran itu memisahkan. Ia menganalisis dan memberi penilaian baik-buruk, benar-salah, dan sebagainya. Ia adalah alat yang berguna. Namun, jika orang hidup hanya dengan menganalisis dan memisahkan, ia akan terus menderita dalam hidupnya.

Pikiran (Gedanken) adalah bagian dari kesadaran (Bewusstsein). Kesadaran lebih besar dari pikiran. Di dalam kesadaran, orang berhenti untuk menganalisis dan memisahkan. Ia hanya ada “disini dan saat ini” dalam hubungan dengan segala sesuatu yang ada.

Orang yang bisa menemukan dan menggunakan kesadarannya tidak akan pernah merasa takut. Ia hidup tanpa penilaian baik-buruk, benar-salah dan enak-tidak enak. Ia melihat dan menerima apa yang ada “saat ini” sepenuhnya. Ia lalu menemukan kekuatan dan kedamaian hati untuk bertindak sesuai dengan keadaan yang ada.

Orang yang hidup di “saat ini” tidak akan pernah merasa susah. Ia akan sadar, bahwa hidup tidaklah perlu terlalu ngotot. Ia sadar akan aspek santai dan lucu dari kehidupan. Bahkan, ia bisa sengaja merasa sedih, supaya bisa menikmati kesedihan itu.

Ia juga sadar, bahwa kebahagiaan dan cinta yang sejati tidak bisa dicari di luar sana. Keduanya ada di dalam hati manusia. Cinta bukanlah perasaan, melainkan cara hidup “saat ini”. Ia selalu ada. Tinggal kita saja yang mencoba meraihnya.

Cinta dan kebahagiaan tidak pernah bisa hilang. Tidak ada yang bisa mengambilnya, karena ia ada di dalam hati setiap manusia. Ketika orang hidup “saat ini”, maka otomatis cinta dan kebahagiaan akan muncul. Kesadaran akan “saat ini” juga menghasilkan cinta dan kejernihan pikiran dalam hidup.

Penderitaan, kecemasan dan ketakutan akan muncul, ketika orang meninggalkan “saat ini”. Ketika orang mengira, bahwa masa lalu dan masa depan adalah nyata, maka ia akan terjebak di dalam penderitaan. Pikirannya sibuk. Ia akan menganalisis, memisahkan dan menilai. Ini menciptakan penderitaan.

Pikiran menciptakan penilaian. Penilaian lalu melahirkan keluhan atau pujian. Keduanya sama saja, karena keduanya tidak berakar pada “saat ini”. Keduanya lahir dari penolakan pada “saat ini”. Ketika keadaan menjadi sulit, ada tiga hal, entah ubah situasinya, terima atau tinggalkan. Mengeluh adalah tindakan sia-sia.

Kita harus belajar untuk hidup tanpa pikiran. Kita harus belajar untuk menunda semua analisis dan penilaian kita. Pikiran, analisis dan penilaian hanya digunakan seperlunya saja untuk keperluan praktis, misalnya memasak, bekerja, dan sebagainya. Ketika pikiran ditunda, yang muncul adalah kesadaran. Kesadaran adalah “saat ini”, yakni sumber dari segala kedamaian dan kebahagiaan manusia.

Masa lalu dan masa depan hanyalah alat yang bersifat sementara. Kita perlu masa lalu, supaya kita bisa belajar dari apa yang telah terjadi. Kita juga perlu masa depan, supaya kita bisa membuat rencana kerja dan rencana hidup yang tepat. Namun, keduanya perlu ditinggalkan, ketika kita tidak lagi memerlukannya. Kita bisa meninggalkannya dengan memasuki kesadaran kita, yakni “saat ini”.

Sejatinya, kita adalah manusia. Kita bukanlah mahluk pekerja atau mahluk berpikir. Bekerja dan berpikir hanya merupakan bagian dari diri kita. Kesadaran kita sebagai manusia lebih luas dan lebih besar daripada pekerjaan dan pikiran kita.

Banyak orang hidup hanya untuk bekerja dan berpikir. Mereka bekerja terlalu banyak. Mereka berpikir terlalu banyak. Kesadaran mereka tidak tersentuh. Mereka pun lalu hidup dalam penderitaan.

Kita juga senang sekali dengan definisi. Kita ingin memberi nama pada segala sesuatu. Memberi nama, menurut Tolle, juga berarti mengurung sesuatu itu. Memberi nama berarti juga membangun penjara.

Di dalam definisi, kita juga memberi penilaian. Kita berpikir, bahwa orang itu baik. Orang itu jahat. Hidup kita pun dipenuhi dengan definisi dan penilaian. Kita tidak akan pernah bahagia dengan cara hidup semacam ini.

Kita perlu belajar untuk menunda semua definisi dan penilaian. Kita perlu belajar untuk membiarkan apa adanya, tanpa definisi dan penilaian. Kita tidak perlu takut. Sebaliknya, tanpa definisi dan penilaian, hidup kita akan damai dan bahagia. Bukankah ini yang diinginkan semua orang?

Lalu, bagaimana jika ada orang yang sibuk menilai hidup kita? Bagaimana jika ada orang yang mendefinisikan kita melulu dengan pikiran mereka? Kita tidak perlu takut. Kita bisa menanggapi, jika diperlukan. Jika tidak, kita bisa membiarkan saja.

Orang yang menilai kita membangun penjara dalam pikiran mereka. Mereka membatasi pikiran mereka sendiri. Mereka tidak akan bisa menemukan kedamaian dan kebahagiaan. Mereka kehilangan “saat ini”. Mereka juga kehilangan kesadaran dirinya.

Dalam hubungan dengan orang lain, kita juga perlu sadar akan “saat ini”. Dengan ini, kita bisa hadir sepenuhnya untuk orang lain. Kita bisa memberikan diri kita seutuhnya untuk membantu dia. Ketika kita kehilangan “saat ini”, hubungan kita dengan orang lain pun dipenuhi dengan ingatan akan masa lalu serta kecemasan akan masa datang. Ini bisa merusak hubungan kita dengan orang itu.

Banyak orang sibuk mencari kebahagiaan di luar dirinya. Mereka berpikir, uang, harta dan nama baik bisa memberikan kebahagiaan. Namun, pikiran ini salah. Ia hanya menghasilkan penderitaan.

Sejatinya, menurut Tolle, setiap orang sudah penuh dan bahagia di dalam dirinya. Yang ia perlukan hanyalah kesadaran akan “saat ini”. “Saat ini” akan menghasilkan kesadaran. Orang yang hidup melulu dengan pikirannya akan kehilangan kesadarannya. Ia akan hidup dalam kecemasan, ketakutan dan penderitaan.

Kita bukanlah pikiran kita. Kita bukanlah kecemasan dan ketakutan yang dihasilkan pikiran kita. Pikiran kita sementara. Ia akan segera berlalu.

Kita adalah kesadaran kita. Itu lebih besar dan lebih agung dari pikiran yang kita punya. Kesadaran kita memberikan kedamaian. Ia memberikan cinta. Ia tidak menilai dan mendefinisikan. Ia membiarkan segalanya ada dengan ketulusan hati.

Orang yang bisa menunda semua pikirannya akan mencapai pencerahan batin. Pencerahan batin berarti orang sudah paham akan hakekat dari segala yang ada, termasuk hakekat dari dirinya sendiri. Hakekat dari segala yang ada, menurut Tolle, adalah kesadaran. Kesadaran itu merawat dan membangun. Ia tidak menilai dan memisahkan.

Orang yang hidup dengan kesadarannya berarti hidup dalam keterhubungan dengan alam semesta. Ia terhubung dengan manusia lain. Ia terhubung dengan semua hewan. Ia terhubung dengan semua tumbuhan. Ia terhubung dengan semua benda yang ada.

Ia menggunakan pikirannya hanya pada saat-saat tertentu saja. Ia tidak melihat dirinya sama dengan pikirannya. Ia melihat dirinya lebih besar dari pikirannya. Ia akan mampu hidup dalam aliran yang alamiah dalam hubungan dengan orang lain.

Pikiran membuat orang tak mampu mencintai sepenuhnya. Sebaliknya, kesadaran “saat ini” sejatinya adalah cinta tanpa syarat. Ia memberikan tanpa mengharap apapun. Ia tidak mengikat dan memenjara, melainkan merawat dan membiarkan berkembang.

Dengan kesadarannya akan “saat ini”, orang bisa hidup secara alamiah. Artinya, ia tidak melawan kehidupan, melainkan mengalir bersama kehidupan itu sendiri. Ia tidak sibuk menilai, apakah sesuatu itu baik atau buruk, benar atau salah. Jika orang sampai pada kesadaran akan “saat ini”, tidak ada tegangan dan penderitaan lagi dalam hidupnya.

Apapun yang kita lawan pasti akan menguat. Apapun yang kita tentang dan tolak justru semakin menguasai kita. Sebaliknya, jika kita membiarkan segala sesuatu ada secara alamiah, justru kita akan tidak akan mengalami tegangan dan pertentangan. Jika kita tidak menolak apapun, maka kita akan bisa mencapai kejernihan pikiran dan kedamaian hati.

Kita juga sering melihat orang-orang yang suka menjajah orang lain. Mereka ingin dipatuhi. Mereka kerap sekali bersembunyi di balik agama. Mereka juga suka memanfaatkan orang lain, guna memuaskan diri mereka.

Menurut Tolle, orang-orang semacam ini hidup dalam penderitaan yang besar. Mereka lemah dan menderita, maka mereka menindas orang lain. Harapannya, dengan menindas orang lain, penderitaan mereka berkurang. Namun, ini tak akan pernah terjadi.

Banyak juga orang yang mengalami kecanduan. Mereka kecanduan narkoba, alkohol, seks, belanja dan sebagainya. Mereka seolah tidak dapat hidup, jika tidak memuaskan kecanduannya. Kecanduan berakar pada penderitaan dan berakhir pada penderitaan juga, jika dipuaskan.

Akar dari kecanduan adalah ketidakmampuan untuk hidup di “saat ini”. Orang menjadi kecanduan untuk mengobati luka, akibat masa lalunya. Orang menjadi kecanduan, karena ia cemas akan masa depannya. Ketika ia melepaskan masa lalu dan masa depannya, ia lalu bisa memasuki kesadaran akan “saat ini”. Di detik itu, kecanduannya hilang.

Banyak orang juga mencari Tuhan di luar dirinya. Ini salah. Tuhan ada di dalam hati setiap orang. Tuhan ada di dalam kesadaran setiap orang. Tuhan ada di “saat ini”.

Segala ritual dan aturan agama hanya ada untuk membantu kita menemukan Tuhan di dalam hati kita. Itu semua hanya alat. Ia tidak boleh menjadi tujuan utama. Di dalam kesadaran akan “saat ini”, kita akan menemukan surga, nirvana, Tuhan dan kebahagiaan yang sejati.

Ketika kita sadar sepenuhnya akan “saat ini”, kita akan berhenti berpikir. Kita berhenti menilai. Kita berhenti cemas akan masa lalu dan masa depan. Kita akan sepenuhnya sadar.

Pada keadaan itu, kita akan menjadi cinta itu sendiri. Cinta sejati itu seperti matahari. Ia bersinar untuk semua, tanpa kecuali. Cinta yang sejati diberikan untuk semua, tanpa kecuali.

Cinta yang sejati dapat diperoleh, jika orang hidup di “saat ini”. Cinta sejati berakar pada kesadaran. Ia tidak dapat hilang. Ia tidak dapat diambil.

Orang yang hidup di “saat ini” berarti hidup secara asli. Ia tidak memiliki kepura-puraan. Ia tidak memiliki kemunafikan. Ia tidak takut akan penilaian dan definisi dari orang lain. Ia sepenuhnya bebas dan damai. Lalu, ia bisa memberikan kedamaian dan cinta pada orang lain dengan tulus.

Banyak orang juga berusaha mencari kebahagiaan. Namun, sejatinya, kebahagiaan tidak bisa dicari. Orang yang mencari kebahagiaan justru tidak akan pernah menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan hanya muncul, jika orang hidup dengan kesadaran akan “saat ini”. Kesadaran ini sudah ada di dalam diri manusia. Ia tidak akan bisa hancur, atau diambil orang lain.

Dunia adalah cerminan dari kesadaran. Sejatinya, tidak ada perbedaan antara kesadaran dan dunia. Keduanya adalah satu dan sama. Pikiran dan bahasa yang memisahkan keduanya.

Namun, banyak orang lupa dengan kesadarannya. Mereka sibuk dengan pikirannya. Mereka sibuk menganalisis, menebak, merencanakan dan mengkhawatirkan segalanya. Ketika pikiran ditunda dan dihentikan, kesadaran muncul, yakni kesadaran “saat ini”. Jika kesadaran dicapai, maka dunia tidak lagi memiliki masalah dan penderitaan.

Lalu, apakan pikiran harus dibuang? Apakah kita harus berhenti berpikir? Berhenti berpikir, menurut Tolle, tidaklah mungkin dilakukan. Berpikir adalah bagian dari kodrat manusia.

Namun, pikiran tidak boleh menguasai manusia. Manusia adalah kesadarannya. Ini lebih luas dari pikiran. Pikiran digunakan seperlunya saja untuk memenuhi kebutuhan praktis. Selebihnya, orang perlu belajar untuk hidup dengan kesadaran akan “saat ini”. Ia lalu akan menemukan kebebasan yang sejati.

Sekarang ini, kita, sebagai manusia, harus mengubah cara hidup kita. Kita harus melakukan revolusi hidup! Kita harus belajar untuk menjaga jarak dari pikiran kita. Kita lalu harus belajar untuk hidup dengan kesadaran akan “saat ini” di dalam diri kita. Hanya dengan ini, kita bisa hidup dalam hubungan yang damai dengan segala hal yang ada. Alternatifnya adalah kehancuran.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

9 tanggapan untuk “Menuju “Saat Ini””

  1. Pak Reza, saya sudah mencoba untuk menjalankan hidup “saat ini” dan hasilnya di luar dugaan banyak hal-hal positif yang saya dapat. Hidup rasanya tenang dan mengalir. Dengan ketenangan batin, kita bisa menyikapi berbagai hal dengan tepat.

    Suka

  2. Maaf pak Reza, saya masih binggung. “saat ini” bagaimana yang di maksud? Bukankah pikiran juga dapat di gunakan untuk menemukan kesadaran? Dan bagaimana mungkin merawat dan membangun sesuatu tanpa berpikir mendalam?

    Suka

    1. berpikir itu satu aspek dari manusia.. namun, jika terlalu banyak dilakukan, berpikir itu membuat lelah dan menderitaa.. kita kembali ke sebelum pikiran, yakni kesadaran akan saat ini… apa yang sedang anda lakukan? Lakukan sepenuh hati…

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s