Anti-Politik: Politik yang Tercabut

café babylon

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Mengapa kita begitu sering menyaksikan kebodohan di bidang politik? Seorang tokoh partai tertentu mengeluarkan pernyataan bodoh, tanpa pertimbangan terlebih dahulu. Seorang wakil rakyat mengeluarkan pernyataan yang jauh dari nalar sehat dan hati nurani yang jernih. Seorang calon gubernur bersikap kasar terhadap rakyat sipil, tanpa alasan yang bisa diterima dengan akal sehat.

Hal yang sama juga terjadi dalam soal pembuatan kebijakan. Seorang gubernur yang tunduk pada tekanan preman-preman berbaju agama yang dulu mendukungnya dalam pilkada. Seorang wakil gubernur yang terus saja mengeluarkan pernyataan-pernyataan bodoh, layaknya badut politik tanpa pendidikan. Ini semua seolah menjadi hiburan-hiburan yang tak mendidik, layaknya sinetron murahan di televisi swasta.

Baru-baru ini, kita juga menerima kabar, bahwa ada persekongkolan pengacara, dokter dan wakil rakyat untuk menipu rakyat dalam soal korupsi. Racun kebodohan politik kini juga menyebar ke profesi-profesi luhur yang seharusnya melayani kepentingan masyarakat luas. Jika tak ada upaya perbaikan, racun politik ini akan terus menyebar ke beragam unsur kehidupan bersama. Apa yang sebenarnya terjadi? Lanjutkan membaca Anti-Politik: Politik yang Tercabut

Kesehatan: Sebuah Pemahaman Menyeluruh

Marco Santos

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Semua orang ingin sehat. Mereka berdoa dan berharap, supaya Tuhan memberikan mereka kesehatan. Orang-orang yang tidak percaya Tuhan pun juga ingin sehat. Beragam cara dilakukan, supaya kesehatan bisa terjaga, sampai kematian datang menjemput.

Namun, apa itu kesehatan? Kesehatan adalah keseimbangan. Manusia yang sehat adalah manusia yang seimbang. Jika semua unsur di dalam diri seimbang, mulai dari fisik, mental sampai dengan spiritual, maka kesehatan akan secara alami tercipta. Lanjutkan membaca Kesehatan: Sebuah Pemahaman Menyeluruh

Kebebasan dan Empati

Abed Alem

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita ingin menjadi manusia bebas. Kita ingin bisa membuat keputusan kita sendiri terkait dengan hidup yang kita jalani. Kita ingin bisa berpikir bebas. Kita ingin bisa bertindak bebas, seturut dengan pilihan yang kita buat.

Kita ingin bisa memilih hobi yang ingin kita tekuni. Kita ingin bisa memilih orang yang kita cintai. Kita juga ingin bisa memilih agama yang kita anut. Namun, kebebasan juga memiliki banyak tantangan. Lanjutkan membaca Kebebasan dan Empati

“Perhatian” di 2018

Oleh Reza A.A Wattimena

Perhatian sudah menjadi barang langka sekarang ini. Begitu banyak gangguan menghantam pikiran kita setiap detiknya.

Serial film di televisi yang kita nantikan. Musik baru yang sedang hits. Gosip artis terbaru. Ini semua ditambah dengan beragamnya tawaran hiburan yang ditawarkan internet dan sosial media yang ada.

Itu semua dari luar. Ada juga gangguan dari dalam diri kita sendiri. Mereka adalah emosi, ketakutan, kecemasan, amarah, dendam, ambisi buta, kerakusan, iri hati dan sebagainya. Pikiran kita pun seringkali menipu kita dengan beragam cerita yang tak sesuai kenyataan. Lanjutkan membaca “Perhatian” di 2018

Agama: Antara Warisan dan Pencarian

good hope by gyurka (Lohmuller Gyuri )

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Dari beragam warisan yang diberikan orang tua kita, agama merupakan salah satunya. Jika anda lahir di Arab Saudi, maka kemungkinan besar, orang tua anda akan mewariskan Islam sebagai agama anda. Jika anda lahir di Jerman, maka anda akan mewarisi agama Kristen ataupun Katolik dari orang tua anda. Jika anda lahir di Thailand, Nepal atau Tibet, maka Buddha akan menjadi agama warisan anda.

Sebagai warisan, seperti sudah kita lihat sebelumnya, agama amat terkait dengan letak geografis kelahiran seseorang. Di negara-negara komunis ataupun sekuler, ada juga kemungkinan, anda tidak akan mewarisi agama apapun. Anda menerima ajaran tentang nilai-nilai kemanusiaan universal dari orang tua anda. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan disini. Lanjutkan membaca Agama: Antara Warisan dan Pencarian

Menuju Masyarakat Bebas Hoax

Remedios Varo – Encuentro

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Bangsa kita memang sedang dihujam oleh HOAX. Akibatnya, kita tidak bisa membedakan lagi antara kebenaran dan kepalsuan, terutama dalam soal politik dan ekonomi. Keputusan yang kita buat pun, misalnya dalam soal Pilkada, tidak lagi jernih. Perpecahan di dalam hidup bersama menciptakan keresahan di dalam hidup sehari-hari.

Apa itu hoax? Hoax adalah penipuan yang bersifat menghina, berlebihan dan penuh dengan fitnah yang kemudian menjadi perhatian masyarakat secara luas. Hoax memuat orang bingung. Orang tak bisa lagi membedakan antara kenyataan dan penipuan. Pada tingkat yang paling parah, Hoax tidak hanya bisa menghancurkan nama baik seseorang, tetapi juga hidupnya. Lanjutkan membaca Menuju Masyarakat Bebas Hoax

Artikel Jurnal Ilmiah Terbaru: Mengurai Ingatan Kolektif

Mengurai Ingatan Kolektif Bersama Maurice Halbwachs, Jan Assmann dan Aleida Assmann dalam Konteks Peristiwa 65 di Indonesia

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti dan Konsultan, Doktor dari Hochschule für Philosophie München, Jerman

Diterbitkan di  Jurnal studia philosophica et theologica Vol. 16 no. 2 Oktober 2016, ISSN 1412-0674 pages 164-196

Abstrak

Tindak mengingat adalah tindakan sosial. Tindak mengingat mengandaikan latar belakang sosial tertentu. Ia juga menggunakan simbol dan bahasa yang adalah ciptaan dari masyarakat tertentu. Ingatan juga adalah dasar bagi identitas, baik pada tingkat pribadi maupun sosial. Citra diri sebuah masyarakat lahir dari ingatannya atas apa yang terjadi di masa lalunya. Beragam peristiwa tersebut lalu ditafsirkan, dan menjadi identitas sosial masyarakat tersebut. Dewasa ini, ingatan kolektif mengalami krisis. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mengubah ingatan kolektif menjadi semata kumpulan informasi yang tanpa arti. Namun, kehadirannya tetaplah diperlukan. Dalam konteks Indonesia, ingatan kolektif bisa menjadi dasar bagi proses rekonsiliasi terkait dengan peristiwa 65. Tulisan ini diinspirasikan dari pemikiran Maurice Halbwachs, Jan Assmann dan Aleida Assmann.

Kata Kunci: Ingatan Kolektif, Identitas, Sistem, Paradoks Ingatan Kolektif, Peristiwa 65.

Abstract

Remembering is a social action. It assumes the existence of certain social context as a background. It uses also language and various symbols which also a product of collectivity. Memory is also the foundation of identity in both personal and social levels. Collective self image of a society is formed by its collective memory and interpretation of events in the past. However, with the development of information and communication technology, collective memory experiences crisis. It changes to a mere technical information without meaning. This does not change the importance of collective memory. In Indonesian context, collective memory plays a very important role as the foundation of reconciliation in the context of 1965 events.This article is inspired by Maurice Halbwachs, Jan Assmann and Aleida Assmann.

 Keywords: Collective Memory, Identity, System, Paradox of Collective Memory, 1965 Events

Artikel lengkap klik link berikut: Ingatan Kolektif

Emosi dan Pengampunan

Rate-P

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Para pengendara di Jakarta pasti pernah mengalami gejolak emosi yang kuat. Cuaca yang panas datang berbarengan dengan macetnya jalan raya. Ini semua ditambah dengan perilaku para pengendara yang kerap kali tidak patuh aturan, dan mau seenaknya sendiri. Gejolak rasa marah memang telah menjadi sahabat akrab para pengendara Jakarta.

Gejolak emosi yang kuat juga kerap kali muncul, ketika kita berhadapan dengan keluarga di rumah. Fakta hubungan darah tidak mengurangi dorongan untuk marah, ketika berhadapan dengan anggota keluarga yang menyebalkan, seperti anak yang sulit diatur, sampai suami atau istri yang tidak menjalankan fungsi sosialnya di dalam keluarga. Gejolak emosi marah biasanya bermuara pada tindakan ataupun kata-kata kasar yang justru memperkeruh suasana. Yang paling buruk, keluarga tersebut bisa pecah. Lanjutkan membaca Emosi dan Pengampunan

Abad Pengemis

Beggar, Andrey Surnov on ArtStation

Oleh Reza A.A Wattimena

Tampaknya, kita hidup di abad pengemis. Jutaan, bahkan milyaran orang, hidup sebagai pengemis di berbagai belahan dunia. Jangan salah. Mereka bukanlah pengemis uang, melainkan pengemis pengakuan dan kebahagiaan.

Seorang pengemis pengakuan selalu haus akan pengakuan. Mereka ingin diakui dan dikenal luas sebagai orang yang hebat dan berhasil, terutama dari keluarga dan orang sekitarnya. Mereka akan bersedih dan patah hati, bahkan bunuh diri, jika gagal mendapatkan pengakuan. Penolakan itu sama beracunnya seperti sianida. Lanjutkan membaca Abad Pengemis

Demokrasi dan Depresi

Young Photographer Takes Surreal Self-Portraits to Cope with Depression

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Pengalaman ribuan tahun sejarah peradaban manusia menunjukkan, bahwa demokrasi merupakan bentuk tata pemerintahan terbaik yang pernah ada. Ia membuka peluang bagi rakyat untuk mengecek tata kelola pemerintahan yang ada. Ia membuka kesempatan bagi terwujudnya keadilan dan kemakmuran tidak hanya bagi segelintir orang, tetapi untuk semua. Namun, demokrasi dengan mudah tergelincir ke dalam depresi yang akan membunuh demokrasi itu sendiri.

Dari Depresi

Pada awalnya, demokrasi lahir dari eksperimen segelintir orang di dalam tata politik. Mereka muak dengan beragam penindasan politik dan ekonomi yang terjadi. Pemerintah tak peduli pada kebutuhan rakyat, dan sibuk terus memperkaya diri melalui korupsi. Di luar negeri, pemerintah terus melakukan menjalankan politik konflik, dan bahkan berperang dengan negara lain demi meraih kekayaan yang lebih besar. Lanjutkan membaca Demokrasi dan Depresi

Manusia Lintas Agama

Pinzellades al món: James C. Christensen

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Kita hidup di abad 21. Setidaknya, ada empat ciri utama abad 21. Pertama, nalar memainkan peranan penting dalam kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun kehidupan bersama. Ini terbukti dari berkembangnya ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial dan teknologi.

Dua, abad 21 ini ditandai dengan semakin kencangnya badai globalisasi. Jaman ini ditandai dengan perubahan pemahaman manusia tentang ruang, waktu dan identitas, terutama akibat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang amat cepat. Tiga, semua ini menciptakan keterhubungan yang luar biasa besar antara berbagai negara di dunia. Tidak ada satu pun negara yang bisa menciptakan keadilan dan kemakmuran, tanpa kerja sama dengan negara-negara lainnya. Lanjutkan membaca Manusia Lintas Agama

Sok Tahu

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Darimana kita berasal? Kemana kita akan pergi, ketika meninggal nanti?

Bagaimana kita harus hidup? Apa bentuk tata kelola politik dan ekonomi terbaik untuk kita?

Inilah pertanyaan-pertanyaan yang sering kita ajukan di dalam hidup. Tradisi dan agama berusaha menjawab.

Filsafat dan ilmu pengetahuan berusaha menjawab. Setiap budaya, dijamannya masing-masing, memberikan jawaban yang berbeda-beda. Lanjutkan membaca Sok Tahu

Solidaritas yang Belum Menetas

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Ia sibuk mengejar karir. Hari-harinya dihabiskan untuk mengumpulkan harta, supaya ia bisa membeli banyak harta lainnya. Banyak hal yang ia punya sebenarnya tak ia butuhkan. Ia terjebak di dalam ilusi konsumtivisme, yakni membeli barang demi membeli barang itu sendiri, tanpa tujuan di luarnya.

Ia tak peduli, jika ada orang lain yang membutuhkannya. Ia tidak peduli dengan kemiskinan yang terjadi di sekitarnya. Ironisnya, ketika ia jatuh, ia pun sendiri. Semua harta tak dapat menolongnya, ketika depresi menghampiri, dan godaan bunuh diri mengintip di pintu hati. Lanjutkan membaca Solidaritas yang Belum Menetas

Buku Filsafat Terbaru: Antara Ingatan Kolektif, Pengakuan dan Rekonsiliasi

Buku terbitan terbaru dalam bahasa Jerman. Bisa diperoleh di

Versi kindle bisa diperoleh di

Mengembangkan Filsafat Indonesia

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Cukup lama, saya mengunjungi berbagai kelas filsafat di Eropa. Tentu saja, filsafat Barat amat kental berkembang di sana. Banyak ahli yang mendalami satu bidang tertentu di dalam filsafat Barat, misalnya filsafat Yunani kuno atau filsafat Jerman, lalu mengajar di berbagai universitas. Dengan cara ini, filsafat Barat, atau lebih tepatnya filsafat Eropa, mampu memelihara dan mengembangkan identitasnya.

Namun, di Eropa, pemahaman tentang filsafat Asia amatlah kurang. Belahan dunia lainnya, seperti Asia, Amerika, Afrika dan Australia memang dianggap tidak menelurkan pemikiran filsafat tertentu. Jika pun ada kuliah ataupun penelitian filsafat tentang peradaban di luar Eropa, nuansa orientalisme masih amatlah kuat. Dalam arti ini, orientalisme adalah pandangan yang berusaha memahami kebudayaan lain dengan menggunakan kaca mata pemikiran Eropa. Pola ini tentu akan jatuh ke dalam kesalahpahaman.

Lalu, bagaimana dengan filsafat Indonesia? Apakah mungkin Indonesia mempunyai ajaran filsafat tersendiri? Untuk bisa menjawab pertanyaan ini, kita perlu memahami arti dari Indonesia dan arti dari filsafat itu sendiri. Lanjutkan membaca Mengembangkan Filsafat Indonesia

Agama dan Instrumentalisasi Agama

‘Prayer’ – Stephen Rothwell

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Agama memainkan peranan besar di dalam perkembangan peradaban manusia. Agama berasal dari kata bahasa Latin Religare yang berarti mengikat. Agama mengikat manusia menjadi satu kesatuan komunitas. Komunitas itu lalu dibimbing oleh nilai-nilai yang sama di dalam menjalani kehidupan.

Agama dan Kehidupan

Sejatinya, agama lahir dari pengalaman mistik manusia. Pengalaman mistik, dalam arti ini, adalah pengalaman kesatuan dengan seluruh alam semesta, sekaligus kesatuan dengan sesuatu yang lebih besar dari manusia itu sendiri. Pengalaman ini biasanya menyentuh satu atau sekelompok orang, lalu berkembang menjadi sebuah organisasi di dalam masyarakat. Beberapa agama berkembang menjadi agama dunia, dan bergerak melintasi batas-batas peradaban. Lanjutkan membaca Agama dan Instrumentalisasi Agama

Yang Indah di dalam Sistem Pendidikan Finlandia

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

“Siapa disini yang ingin menjadi guru?”, begitulah pertanyaan Pasi Salhberg, pakar pendidikan asal Finlandia, ketika ia mengunjungi Amerika Serikat. (Anderson, 2011) Kelas itu berisi 15 orang. Sayangnya, hanya dua orang yang mengangkat tangan. Sisanya hanya terdiam membisu.

Di Finlandia, pertanyaan yang sama akan dijawab dengan amat antusias. Kurang lebih, 25 persen peserta didik di Finlandia memilih untuk menjadi guru. Memang, Finlandia kini menjadi negara acuan terkait dengan sistem dan paradigma pendidikan. Peserta didik disana memperoleh peringkat satu di dalam berbagai indikator internasional terkait dengan prestasi pendidikan. Lanjutkan membaca Yang Indah di dalam Sistem Pendidikan Finlandia

Seperti Naik Sepeda

Dimuat di Harian Kompas 11 November 2017 hal 25

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Naik sepeda memang nikmat. Badan bergerak, sambil diterpa angin sepoi-sepoi mengarah ke tempat tujuan. Ketika naik sepeda, orang justru menjaga keseimbangan dengan terus bergerak. Ketika ia berhenti, ia bisa terjatuh. Inilah keutamaan hidup yang penting di awal abad 21 ini: mencari keseimbangan dengan terus bergerak.

Di abad 21 ini, seluruh peradaban manusia mengalami perubahan yang begitu cepat. Dunia bagaikan berlari kencang, tanpa mempedulikan hal-hal lainnya. Tak berlebihan kiranya, bahwa Anthony Giddens, pemikir asal Inggris, mengatakan, bahwa dunia kita adalah dunia yang tunggang langgang (runaway world). Siapa yang tak siap ikut berlari, pasti akan tertinggal.   Lanjutkan membaca Seperti Naik Sepeda

Memori, Tolong Daku…

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

“Memori, kau membuka luka lama, yang kuingin lupa. Memori, tolong daku, pergi jauh, janji takkan kembali memori..”, begitulah petikan lirik lagu Memori, yang pernah dinyanyikan oleh Ruth Sahanaya, lebih dari 20 tahun yang lalu. Ketika menulis artikel ini, saya sedang menikmati lagu tersebut. Lantunan lirik indah dipadu dengan musik yang bermutu sungguh menggetarkan hati. Makna yang ditawarkan pun juga sangat dalam.

Memang, memori, selanjutnya saya sebut sebagai ingatan, amatlah penting di dalam hidup manusia. Ingatan berisi segala yang kita ketahui tentang diri maupun dunia yang kita tinggali. Tak berlebihan jika dikatakan, bahwa ingatan adalah unsur terpenting bagi identitas kita sebagai pribadi. Aku menjadi aku, karena ingatan yang kupunya. Lanjutkan membaca Memori, Tolong Daku…

Hantu itu Bernama Primordialisme…

Saatchi Art

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Kurang lebih dua ratus tahun yang lalu, Karl Marx pernah menulis, “Ada hantu yang bergentayangan di Eropa…. Hantu komunisme.” Di jaman kita, kalimat ini harus dirumuskan ulang. Ada hantu yang bergentayangan di dunia… hantu itu bernama primordialisme.

Primordialisme adalah paham yang menekankan ikatan-ikatan primordial sebagai dasar utama bagi hubungan antar manusia. Ikatan-ikatan primordial tersebut adalah suku, ras, ikatan keluarga dan agama. Kedekatan primordial menjadi unsur utama dari hubungan pertemanan, percintaan sampai dengan hubungan bisnis. Tanpa dasar primordial semacam ini, hubungan manusia menjadi amat sulit, bahkan tidak mungkin. Lanjutkan membaca Hantu itu Bernama Primordialisme…