Seperti Naik Sepeda

Dimuat di Harian Kompas 11 November 2017 hal 25

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Naik sepeda memang nikmat. Badan bergerak, sambil diterpa angin sepoi-sepoi mengarah ke tempat tujuan. Ketika naik sepeda, orang justru menjaga keseimbangan dengan terus bergerak. Ketika ia berhenti, ia bisa terjatuh. Inilah keutamaan hidup yang penting di awal abad 21 ini: mencari keseimbangan dengan terus bergerak.

Di abad 21 ini, seluruh peradaban manusia mengalami perubahan yang begitu cepat. Dunia bagaikan berlari kencang, tanpa mempedulikan hal-hal lainnya. Tak berlebihan kiranya, bahwa Anthony Giddens, pemikir asal Inggris, mengatakan, bahwa dunia kita adalah dunia yang tunggang langgang (runaway world). Siapa yang tak siap ikut berlari, pasti akan tertinggal.  

Thomas Loren Friedman, jurnalis New York Times di Amerika Serikat, sekaligus penulis beberapa buku best-seller, mencoba melukiskan beragam gejala dunia yang berlari tersebut di dalam buku ini. Ia menggunakan hukum Moore untuk menjelaskan perubahan yang berlangsung cepat ini, yakni perubahan eksponensial. Teknologi berkembang tidak dengan jalan linear biasa, melainkan dengan jalan berlipat. Inilah yang kiranya terjadi sekarang ini: microchip yang menjadi otak komputer terus berkembang semakin kuat, dengan ukuran yang semakin kecil, serta harga yang semakin murah.

Perubahan teknologi ini juga secara langsung mengubah cara manusia hidup. Pandangan dunia dan nilai-nilai hidup di banyak tempat mengalami perubahan besar. Cara manusia saling berhubungan satu sama lain pun berubah. Pertanyaan penting yang mesti dijawab adalah, bagaimana kita bisa hidup dengan baik di tengah perubahan yang terjadi begitu cepat ini?

Refleksi, Inovasi dan Mengakar

Secara umum, ada tiga hal yang ditawarkan Friedman. Pertama, kita harus melakukan refleksi mendalam dengan mengambil waktu jeda di dalam hidup kita. Waktu jeda ini diperlukan, supaya kita bisa belajar memahahami sekaligus membuka kesempatan di tengah kerumitan dunia di abad 21 ini. Friedman melihat adanya tiga kekuatan besar yang menggerakan dunia sekarang ini, yakni perkembangan teknologi, globalisasi dan perubahan iklim. Ketiga hal ini mempengaruhi keseluruhan hidup manusia, mulai dari hubungan antar bangsa, dunia kerja sampai dengan hidup pribadi.

Dua, kita bisa mengikuti gerak dunia yang terus berubah ini, jika kita mampu menciptakan sesuatu yang baru dan berdaya guna untuk masyarakat kita. Untuk itu, kita perlu berpikir di luar kebiasaan dengan menantang pandangan-pandangan lama yang bercokol di berbagai bidang. Inilah yang disebut Friedman sebagai berpikir inklusif radikal, yakni memikirkan hal-hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya secara mendasar. Ini bukan lagi “berpikir di luar kotak”, seperti ajaran kuno di dalam ilmu manajemen, melainkan “berpikir tanpa kotak”.

Tiga, walaupun telah melakukan refleksi mendalam, dan mengambil langkah-langkah baru yang kreatif, kita perlu tetap kembali ke akar. Akar tersebut adalah rumah dan bangsa kita. Semua ilmu yang kita pelajari, serta pengalaman yang kita dapatkan, akan menjadi tak bermakna, jika itu semua tidak bisa mengembangkan tempat tinggal kita.

Seperti Naik Sepeda

Hidup yang berakar juga berarti hidup dengan pemahaman yang mendalam tentang keadaan dunia yang sesungguhnya. Ini hanya dapat dilakukan, jika orang mampu memiliki sikap keterbukaan terhadap segala kemungkinan yang ada. Sikap terbuka ini, menurut Friedman, terdiri dari tiga hal mendasar, yakni kemampuan untuk melihat dan mendengar dengan jeli, kemampuan untuk membaca peluang serta kemampuan untuk menghubungkan apa yang sebelumnya tampak tak berhubung. Ketiga hal ini akan melahirkan pribadi yang kreatif.

Di sisi lain, bagi Friedman, orang harus belajar untuk menjadi pribadi yang mencintai perubahan, sekaligus mampu menjaga stabilitas. Inilah yang disebutnya sebagai stabilitas yang dinamis, seperti naik sepeda. Ketika naik sepeda, orang mesti terus bergerak, sambil tetap menjaga keseimbangan, sehingga ia tidak jatuh di tengah jalan.

Keseimbangan semacam inilah yang perlu diciptakan antara kemajuan teknologi yang amat cepat di satu sisi, dan nilai-nilai kehidupan manusia di sisi lain, termasuk kemampuan untuk saling bekerja sama, kepemimpinan yang bermutu, kepedulian satu sama lain dan kemanusiaan. Friedman bahkan berpendapat, bahwa di abad 21 ini, orang-orang yang paling berhasil di dunia adalah para stempathy. Artinya, orang-orang yang memahami teknologi dan ilmu pengetahuan modern (strong in modern technology and science), namun juga memiliki empati (empathy). Ia tidak hanya mampu menggunakan teknologi dan ilmu pengetahuan modern secara baik, namun juga memiliki kemampuan untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain yang berbeda darinya.

Empati memang amat diperlukan dewasa ini. Banyak orang mengalami kesepian dan hidup dalam kesendirian, bahkan dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang begitu pesat sekarang. Ironisnya, gejala ini justru ditemukan di kota-kota besar. Memang, teknologi tanpa empati akan menghasilkan manusia-manusia kejam dan kompetitif yang saling memangsa satu sama lain.

Buku Friedman

Isi buku ini cocok sekali untuk menyingkapi kehidupan berbangsa di Indonesia. Kita adalah bangsa yang gemar menggunakan teknologi canggih, seperti telepon genggam ataupun mobil canggih, namun dengan perilaku yang cenderung tidak beradab. Mekanisme demokrasi modern digunakan sebagai ajang untuk korupsi. Berbagai peraturan diabaikan begitu saja, demi keuntungan diri. Radikalisme dan mental primitif di dalam hidup bermasyarakat masih tersebar luas dan dalam.

Walaupun memiliki isi yang mendalam, buku ini disajikan dengan gaya yang cenderung membosankan. Berbagai cerita tentang kehidupan orang diuraikan secara mendalam. Seringkali, rasa bosan muncul, karena arah yang ingin dituju tampak tak jelas. Narasi yang indah tidak dipadukan dengan logika yang ketat.

Lepas dari itu, belajar dari Friedman, kita tetap perlu belajar dari kebijaksanaan para pengguna sepeda: menjaga keseimbangan dan stabilitas hidup dengan terus bergerak. Inilah kunci keberhasilan di dunia berkecepatan tinggi sekarang ini. Sisi kemanusiaan tetap harus dikembangkan berbarengan dengan kemajuan teknologi maupun sains modern. Untuk itu, terkadang kita perlu bergerak lambat.

Mungkin, pepatah Jawa kuno ini juga tepat untuk hidup di dunia di abad 21 ini: alon-alon asal kelakon, biar lambat asal selamat. Saya penasaran, apa tanggapan Friedman terhadap pepatah kuno ini…

 

 

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s