Menuju Masyarakat Bebas Hoax

Remedios Varo – Encuentro

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Bangsa kita memang sedang dihujam oleh HOAX. Akibatnya, kita tidak bisa membedakan lagi antara kebenaran dan kepalsuan, terutama dalam soal politik dan ekonomi. Keputusan yang kita buat pun, misalnya dalam soal Pilkada, tidak lagi jernih. Perpecahan di dalam hidup bersama menciptakan keresahan di dalam hidup sehari-hari.

Apa itu hoax? Hoax adalah penipuan yang bersifat menghina, berlebihan dan penuh dengan fitnah yang kemudian menjadi perhatian masyarakat secara luas. Hoax memuat orang bingung. Orang tak bisa lagi membedakan antara kenyataan dan penipuan. Pada tingkat yang paling parah, Hoax tidak hanya bisa menghancurkan nama baik seseorang, tetapi juga hidupnya.

Pada tingkat sosial, hoax mengalihkan masyarakat dari masalah sebenarnya. Masyarakat lalu terjebak pada pembicaraan yang dangkal, (seperti ribut soal LGBT, padahal korupsi terlupakan) serta mengabaikan masalah yang seharusnya diatasi bersama. Pada tingkat yang paling parah, hoax bisa memicu perang saudara dan pembunuhan massal, misalnya dengan menggunakan isu agama untuk menciptakan ketegangan dan konflik. Indonesia mengalami ini pada 1965 lalu, ketika jutaan anggota Partai Komunis Indonesia dan dan keluarganya dibunuh, tanpa dasar hukum dan keadilan apapun.

Hoax dan Pemikiran Kritis

Lalu, apa bedanya hoax dengan candaan semata? Hoax biasanya menciptakan ketakutan dan perpecahan di dalam hidup bersama. Candaan menciptakan rasa lucu. Sementara, Hoax menghadirkan rasa takut yang bermuara pada benci.

Jika orang percaya pada Hoax, itu adalah kesalahannya. Artinya, karena ia tak berpikir kritis, dan serba percaya begitu saja, maka ia terjerat hoax. Tentu saja, pencipta dan penyebar hoax juga bersalah. Namun, ketika masyarakat luas mampu berpikir secara kritis, hoax akan hilang secara alami.

Di dalam masyarakat yang miskin pemikiran kritis, hoax dengan mudah tersebar dan dipercaya. Pikiran kritis tidak sama dengan kecerdasan. Orang bisa saja cerdas, namun tak berpikir kritis. Berpikir kritis berarti mempertanyakan semua yang ia terima, sebelum melihatnya sebagai fakta. Cerdas bisa jadi cepat memahami dan menghafal sesuatu, tetapi tidak mempertanyakannya terlebih dahulu.

Dua Sisi Hoax

Ada dua hal yang perlu diperhatikan disini. Pertama, hoax kerap kali tersebar di masyarakat yang terbuka untuk penyebaran informasi. Di dalam masyarakat tertutup, hoax sudah disaring oleh penguasa, sebelum tersebar ke masyarakat luas. Menyebarnya hoax, dalam arti tertentu, bisa menjadi tanda keterbukaan sebuah masyarakat.

Kedua, hoax bisa juga menjadi bagian dari pendidikan masyarakat. Masyarakat dilatih untuk berpikir kritis, yakni untuk membedakan apa yang nyata dan apa yang bukan dengan menggunakan nalar mereka. Seperti semua bentuk pendidikan, ini juga membutuhkan proses. Terkadang, kita tidak bersabar dengan proses mengembangkan dan menggunakan nalar sehat di dalam hidup bersama, serta justru tenggelam dalam hoax.

Mengapa Hoax?

Hoax hadir di masyarakat, karena setidaknya empat sebab. Pertama, hoax adalah alat untuk mencari dukungan politik. Di dalam kajian ilmu politik, ini disebut juga politik demagog, yakni politik merebut kekuasaan dengan menyebarkan fitnah, penipuan dan ketakutan di masyarakat luas. Indonesia sudah memiliki banyak pengalaman tentang ini, mulai dari pembantaian Partai Komunis Indonesia 1965 lalu, sampai dengan Pilkada Jakarta 2017.

Dua, hoax hadir untuk memecah belah masyarakat. Perbedaan agama, suku, ras dan aliran politik dijadikan alat untuk memecah. Masyarakat yang terpecah adalah masyarakat yang lemah. Setelah lemah, ia lalu bisa dengan mudah ditaklukkan oleh kekuatan asing. Inilah taktik adu domba yang amat efektif untuk meraih kekuasaan dengan cara-cara curang di dalam politik.

Tiga, hoax juga efektif digunakan untuk memenangkan persaingan bisnis. Kita hidup di masa globalisasi, dimana kompetisi bisnis antar perusahaan dan antar negara amatlah kuat. Yang menang bisa memperoleh segalanya, dan yang kalah harus siap kehilangan segalanya. Di dalam suasana seperti ini, taktik curang dengan penyebaran fitnah untuk mengalahkan lawan bisnis adalah hal yang biasa dilakukan.

Keempat, hoax juga disebar, karena iri hati atas keberhasilan seseorang. Dalam hal ini, hoax lalu menjadi alat untuk pembunuhan karakter, supaya orang lain mengalami kegagalan. Ini sangat mudah ditemukan di era sosial media sekarang ini. Fitnah terhadap orang yang berhasil diciptakan oleh orang-orang yang kalah dan iri hati, guna menjatuhkan mereka.

Lalu Bagaimana?

Jika kita sudah paham arti dari Hoax, termasuk sebab dan sisi-sisi lain dari hoax tersebut, apa yang bisa dilakukan? Ada tiga hal yang kiranya bisa dilakukan. Pertama, pemikiran kritis harus menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari masyarakat. Pendek kata, berpikir kritis haruslah menjadi jalan hidup di Indonesia, sehingga hoax kehilangan kekuatannya di masyarakat.

Dua, dalam hal ini, berpikir kritis bisa dipahami sebagai himbauan untuk tidak gampang percaya pada apapun. Disini dibutuhkan nalar yang cukup sehat dan kuat, guna menguji secara informasi yang tersebar di masyarakat luas. Sistem pendidikan nasional harus mengedepankan nalar sehat sebagai titik tolaknya, dan bukan kepatuhan buta pada tradisi, baik tradisi agama ataupun budaya setempat. Hanya ketika nalar sehat berkembang, berpikir kritis menjadi sesuatu yang tumbuh secara alami.

Tiga, sebagian besar masyarakat Indonesia begitu mudah percaya ada gosip. Hal ini seolah menjadi budaya. Diperlukan upaya untuk bergerak melampaui budaya semacam ini, supaya hoax tidak lagi memiliki kekuatan untuk menipu masyarakat luas. Tradisi, kebiasaan dan budaya memang menjadi bagian penting dari identitas sosial masyarakat. Namun, kehadirannya perlu untuk ditanggapi secara kritis terus menerus dengan menggunakan nalar sehat, supaya bisa menanggapi perubahan jaman secara tepat.

Hanya dengan begini, masyarakat bebas hoax bisa diwujudkan. Di dalam masyarakat semacam ini, hoax masih tetap ada dan tersebar. Namun, ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk menipu dan memecah belah masyarakat, apalagi mempengaruhi kebijakan politik. Hoax menjadi candaan semata, atau sisa kenangan masa lalu yang kelam.

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

2 tanggapan untuk “Menuju Masyarakat Bebas Hoax”

  1. setuju dengan isi tulisan. hoax sudah dibuat seumur manusia, hanya dengan canggihnya sosmed lebih cepat menyebar.
    saya selalu tersandung di setiap karya bapak dengan kata “nalar sehat”, teringatlah pepatah “alle wege führen nach rom”, hanya untuk saya selalu balik ke ” alle wege führen zu dayo kokushi”.
    perlu saya tambahkan disini, saya mencoba memperkenalkan teman2 website bapak lewat google chrome dan langsung di terjemahkan.
    sangat menarik inti nya. semoga membantu dalam “pencarian nalar sehat dan hati nurani”.
    salam hangat !!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s