Sok Tahu

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Darimana kita berasal? Kemana kita akan pergi, ketika meninggal nanti?

Bagaimana kita harus hidup? Apa bentuk tata kelola politik dan ekonomi terbaik untuk kita?

Inilah pertanyaan-pertanyaan yang sering kita ajukan di dalam hidup. Tradisi dan agama berusaha menjawab.

Filsafat dan ilmu pengetahuan berusaha menjawab. Setiap budaya, dijamannya masing-masing, memberikan jawaban yang berbeda-beda.

Namun, semua itu hanyalah rumusan belaka. Sejujurnya, tidak ada yang tahu.

Kita mesti berani jujur dengan diri kita, dan dengan orang lain. Banyak hal yang tidak ketahui di dalam hidup.

Maka dari itu, kita perlu belajar. Kita perlu menggunakan nalar, supaya bisa menjadi lebih tahu.

Kita perlu bersabar dalam proses pencarian. Kita tidak boleh terburu-buru dan merasa sok tahu, padahal salah.

Sikap jujur akan ketidaktahuan merupakan sebuah sikap rendah hati. Dengan kerendahatian, orang akan semakin dekat pada kebijaksanaan, dan kebahagiaan.

Sikap tidak tahu juga merupakan sebuah tanda keterbukaan. Orang terbuka untuk perbedaan pendapat dan berbagai kemungkinan yang nantinya akan muncul.

Sebaliknya, sikap sok tahu merupakan tanda kesombongan. Sikap sok tahu akan melahirkan kepercayaan diri, namun tanpa kejernihan.

Orang-orang yang sok tahu akan saling bertengkar satu sama lain. Mereka hanya menciptakan masalah lebih banyak di dalam kehidupan.

Mereka berperang, karena membela sikap sok tahu masing-masing. Nyawa dan harta hancur sia-sia di dalam konflik dan perang yang mereka ciptakan.

Maka dari itu, kita harus jujur, bahwa kita tidak tahu. Dari situ, kita bisa belajar bersama.

Dari belajar bersama, kita saling mengenal, lalu mencintai satu sama lain. Dengan sikap tidak tahu, kita justru bisa berdamai.

Bukankah itu yang kita inginkan?

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

13 thoughts on “Sok Tahu”

  1. saya hanya bisa komentar, apa yang tertulis diatas , benar 2 saya pahami dan lakukan sehari2. saya hanya mampu menganjurkan, setiap mahluk mampu/minat untuk mendalami hal2 tersebut diatas.
    salam hangat !!
    gasho

    Suka

    1. benar !! sebetul nya orang yang sok tahu perlu di kasihani, dia haus akan pujian atau dia menutupi kelemahan dia sendiri dgn “sok tahu”, tanpa merasa, bahwa dia sebetul nya justru menunjukkan kebodohan diri sendiri.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s