Agama dan Instrumentalisasi Agama

‘Prayer’ – Stephen Rothwell

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Agama memainkan peranan besar di dalam perkembangan peradaban manusia. Agama berasal dari kata bahasa Latin Religare yang berarti mengikat. Agama mengikat manusia menjadi satu kesatuan komunitas. Komunitas itu lalu dibimbing oleh nilai-nilai yang sama di dalam menjalani kehidupan.

Agama dan Kehidupan

Sejatinya, agama lahir dari pengalaman mistik manusia. Pengalaman mistik, dalam arti ini, adalah pengalaman kesatuan dengan seluruh alam semesta, sekaligus kesatuan dengan sesuatu yang lebih besar dari manusia itu sendiri. Pengalaman ini biasanya menyentuh satu atau sekelompok orang, lalu berkembang menjadi sebuah organisasi di dalam masyarakat. Beberapa agama berkembang menjadi agama dunia, dan bergerak melintasi batas-batas peradaban.

Pada tingkat pribadi, agama membantu manusia menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar kehidupan. Misalnya, mengapa kita lahir ke dunia ini? Apa tugas dan tujuan utama keberadaan kita di dunia? Bagaimana kita seharusnya menjalani kehidupan ini? Apa yang terjadi, setelah kita mati?

Agama berusaha memberikan jawaban terhadap beragam pertanyaan tersebut. Beragam agama menyediakan jawaban yang berbeda-beda. Pengaruh budaya dan perkembangan jaman pun juga besar. Dari upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar kehidupan tersebut, agama pun mengembangkan ajaran-ajaran moral, ritual keagamaan sampai dengan seni yang terus berubah.

Para filsuf dan ilmuwan pun berusaha memahami inti dari agama. Pemikir Jerman, Friedrich Schleiermacher, berpendapat, bahwa agama merupakan “makna dan rasa dari Yang Tak Terbatas” (das Unendliche). Hermann Hesse juga menambahkan, bahwa agama merupakan upaya manusia untuk mengatakan apa yang tak terkatakan dari segala misteri keberadaannya di dunia ini. Agama menyediakan struktur dan makna bagi keberadaan manusia di dunia ini, begitu kata teolog Günter Hegele.

Dengan struktur dan makna hidup yang ditawarkan, agama membimbing manusia menuju kebijaksanaan dan kedamaian. Kedua hal tersebut lahir dari perasaan kesatuan dengan segala yang ada di alam semesta ini, termasuk hewan dan tumbuhan. Kedamaian pun lahir tidak hanya di dalam hubungan antar manusia, tetapi juga di dalam hati pribadi. Seperti yang dinyatakan oleh Hans Küng, pemikir Jerman, perdamaian dunia tidak akan pernah dicapai, tanpa perdamaian di dalam dan antar agama.

Di dalam perjalanan, agama kerap kali jatuh ke dalam kepentingan-kepentingan sempit pemeluknya. Ajarannya ditafsirkan secara serampangan, sehingga menciptakan kesesatan berpikir dan kesalahpahaman. Agama pun digunakan sebagai pembenaran-pembenaran yang tak dapat dipertanggungjawabkan. Ada lima hal yang kiranya perlu diperhatikan.

Instrumentalisasi Agama

Pertama, ajaran-ajaran agama sering diselewengkan untuk membenarkan nafsu pribadi. Hasrat seksual yang berkoar liar disejajarkan dengan kutipan ayat tertentu. Hasrat atas kekayaan yang tak terkendali disesuaikan dengan kutipan ajaran tertentu. Ketika ini terjadi, agama pun kehilangan unsur moralitasnya.

Orang lalu menggunakan agama sebagai kedok untuk mengumbar nafsu. Karena berselubung agama, masyarakat pun mendiamkannya. Inilah yang kiranya banyak terjadi di dalam sejarah perkembangan agama-agama. Tentu saja, hal ini perlu dipertanyakan terus menerus.

Dua, agama juga kerap kali digunakan sebagai pembenaran untuk kemalasan berpikir. Orang mengikuti secara buta ajaran agama yang berasal dari ribuan tahun silam. Padahal, tafsir atas ajaran agama membutuhkan kemauan untuk belajar dan berpikir kritis. Ketika ini tak terjadi, maka agama dengan mudah dipelintir untuk membenarkan kebodohan.

Tiga, agama juga sering digunakan untuk menindas orang lain. Ajaran-ajaran agama dibaca secara brutal, guna membenarkan sikap merendahkan dan diskriminatif terhadap orang ataupun kelompok lain. Perbedaan pendapat dan cara hidup diberantas atas nama agama. Ketika ini terjadi, agama justru memicu konflik dan perang, serta semakin jauh dari tujuan utamanya.

Empat, agama juga kerap digunakan sebagai bagian dari taktik politik kekuasaan. Suara rakyat digiring dengan menggunakan slogan-slogan agama, terutama di dalam pemilihan presiden ataupun pemilihan kepala daerah. Padahal, sejarah sudah mengajarkan, ketika agama berbaur dengan politik kekuasaan, maka bencana adalah buahnya. Di Indonesia, kita memang sulit untuk belajar dari sejarah.

Lima, agama juga sering digunakan untuk pembenaran bagi politik penaklukan. Di dalam gaya politik ini, rakyat dipecah belah, sehingga lemah dan bingung di dalam membuat keputusan. Yang diuntungkan kemudian adalah salah satu kubu politik yang menggunakan gaya politik pemecah belah ini. Pilkada Jakarta 2017 adalah contoh nyata, bagaimana agama dibaurkan dengan politik penaklukan dan pemecah belah semacam ini.

Kelima hal ini adalah gejala instrumentalisasi agama, atau agama yang digunakan untuk membenarkan kepentingan-kepentingan sesat. Gejala ini tentu harus diwaspadai terus menerus, sehingga ia bisa disadari dan kemudian dicegah penyebarannya. Ini tentu amatlah penting bagi Indonesia, terutama karena bangsa ini amatlah majemuk dalam soal agama, dan tafsiran atas ajaran-ajarannya. Jika ini tak dilakukan, maka konflik berkepanjangan sudah menunggu di depan pintu.

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

12 thoughts on “Agama dan Instrumentalisasi Agama”

  1. saya sepakat sekali dengan tulisan pak wattimena. perlu disini saya tambahan , pertanyaan 2 mengenai hidup lebih mudah ditemukan jawabannya diilmu pengetahuan ( “die welle und das meer”- willigis jäger ). agama tidak buruk , hanya banyak “pembimbing domba” dlm agama (apapun) menyeleweng dari tujuan sebenarnya.

    Suka

  2. iya memang. Sedih melihat orang2 yg berperilaku tidak pantas tapi terlihat suci dlm balutan atribut agama, bertindak biadab tapi mengatasnamakan agama. Apalagi kalau sudah di-mix sama politik. Sedih. BTW kak Reza terima kasih, tulisan2nya sangat menginspirasi. Salam kenal.

    Suka

  3. Sdih emang ketika agama yg seharusnya ranah privat dg Tuhan malah di mix dengan ranah duniawi seperti politik, hawa nafsu dsb lalu apa yang kita individu harus lakukan menyikapi fenomena seperti ini agar tak terhanyut dalam primordialisme? Soalnya di bawah tekanan agama mayoritas pasti umat agama minoritas membenci yang mayoritas dan akhirnya jadi terkotak-kotak.

    Suka

  4. Ktika agama di mix sama urusan dunia ya jadinya begini. Pertanyaan saya bagaimana sikap kita mengatasi krisis sosial ini supaya tidak terjerat primordialisme? Susah kalo mau legowo dan bersatu tapi di sekitar kita jumlah manusia intoleran.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s