Yang Indah di dalam Sistem Pendidikan Finlandia

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

“Siapa disini yang ingin menjadi guru?”, begitulah pertanyaan Pasi Salhberg, pakar pendidikan asal Finlandia, ketika ia mengunjungi Amerika Serikat. (Anderson, 2011) Kelas itu berisi 15 orang. Sayangnya, hanya dua orang yang mengangkat tangan. Sisanya hanya terdiam membisu.

Di Finlandia, pertanyaan yang sama akan dijawab dengan amat antusias. Kurang lebih, 25 persen peserta didik di Finlandia memilih untuk menjadi guru. Memang, Finlandia kini menjadi negara acuan terkait dengan sistem dan paradigma pendidikan. Peserta didik disana memperoleh peringkat satu di dalam berbagai indikator internasional terkait dengan prestasi pendidikan.

Seorang guru hanya mengajar empat jam sehari di kelas. Di dalam seminggu, setiap guru memiliki waktu dua jam untuk pengembangan diri dengan dukungan penuh dari sekolah. Setiap tahunnya, sekitar 2500 mahasiswa berlomba untuk menjadi guru, setelah mereka lulus kuliah. Padahal, hanya ada 120 tempat setiap tahunnya untuk profesi guru.

Sahlberg juga menambahkan, bahwa di Finlandia, profesi guru lebih dihargai dari beragam profesi lainnya, termasuk dokter maupun pengacara. Mutu tenaga guru yang tinggi adalah kunci keberhasilan sistem pendidikan Finlandia. Ini semua dituangkan di dalam buku yang berjudul Finnish Lessons: What Can the World Learn form Educational Change in Finland?, karya Sahlberg.

Ada Apa dengan Finlandia?

Finlandia memang negara kecil. Jumlah penduduknya hanya sekitar 6 juta orang. Ini tentu menjadi salah satu unsur kemudahan penataan sistem pendidikan. Namun, ini bukanlah satu-satunya unsur penting keberhasilan sistem pendidikan Finlandia.

Pendidikan formal di Finlandia dimulai pada umur 7 tahun. Sebelum itu, anak hanya ditemani bermain sesuai dengan selera mereka. PR, atau Pekerjaan Rumah, juga sangat amat sedikit. Segala bentuk tes ditunda, sampai anak telah menginjak usia remaja.

Walaupun begitu, peserta didik Finlandia terus saja memperoleh peringkat satu di dalam berbagai indikator internasional yang meliputi membaca, berhitung dan menulis. Peringkat ini konsisten sejak 2001 lalu, sampai sekarang. Karena hal ini, Finlandia terus menerima kunjungan dari berbagai institusi pendidikan negara lain. Ada sesuatu yang unik di dalam sistem pendidikan mereka.

Dua hal lain yang kiranya penting diperhatikan. Pertama, Finlandia adalah negara homogen. Hanya sekitar 5 persen warga yang berasal dari negara lain. Faktor cuaca yang amat dingin tentu membuat banyak orang enggan untuk pindah dan tinggal di Finlandia.

Kedua, Finlandia adalah negara yang amat makmur. Sistem sosialisme menopang negara tersebut, sehingga kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin amatlah kecil. Partai buruh memiliki pengaruh politik yang besar disana, sehingga semua kebijakan pemerintah selalu dipastikan mengarah pada kemakmuran kelas pekerja, dan bukan kelas elit ekonomi semata. Bahkan, sebagaimana dicatat oleh Anderson, biaya tilang di jalan raya saja tidak pukul rata, melainkan menyesuaikan dengan pendapatan.

Namun, sistem pendidikan Finlandia tidak datang dari langit. Sekitar tiga puluh tahun yang lalu, sistem pendidikan mereka amatlah bobrok.

Banyak anak kesulitan mendapatkan pendidikan yang layak. Birokasinya amat tebal dan tidak efisien. Guru memiliki pendapatan rendah, dan tidak dipandang sebagai profesi luhur di masyarakat. Tes dan ulangan menjadi acuan utama di dalam penilaian peserta didik. Terdengar sangat mirip dengan sistem pendidikan kita di Indonesia bukan?

Banyak anak di Indonesia masih kesulitan mendapatkan pendidikan yang layak, terutama di daerah-daerah terpencil. Mutu sekolah pun berbeda-beda, sehingga terjadi ketimpangan pendidikan, bahkan di kota-kota besar. Biaya untuk mendapatkan pendidikan bermutu tinggi amatlah besar. Profesi guru pun masih dianggap profesi rendahan yang bergaji rendah.

Di Indonesia, kita juga tergila-gila pada ujian. Beberapa guru bahkan memberikan ujian setiap pertemuan. Keponakan saya yang masih berusia lima tahun dipaksa belajar membaca, menulis dan berhitung. Yang lebih gila lagi, ia juga diberikan ujian oleh guru-gurunya!

Finlandia kira-kira mengalami hal yang sama tiga puluh tahun yang lalu. Namun, mereka berhasil membuat perubahan mendasar. Pada awal 1970-an lalu, pemerintah Finlandia mewajibkan semua guru harus mendapatkan gelar Master, atau S2. Biaya pendidikan guru sampai tingkat S2 dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah.

Serikat guru pun dibangun, guna meningkatkan mutu pendidikan dan kehidupan para guru, dan melindungi mereka dari ketidakadilan yang kerap kali muncul di dalam hubungan industrial. Semua bentuk ujian dan ulangan dihapus, sebelum peserta didik mencapai usia 16 tahun. Pekerjaan Rumah dibuat sangat amat sedikit, bahkan dihapus sama sekali di beberapa sekolah. Pekerjaan Rumah bahkan dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak anak untuk bermain.

Seperti sudah disinggung sebelumnya, pendidikan formal anak baru dimulai, setelah mereka menginjak usia 7 tahun. Sebelum itu, anak diajak bermain, dan menemukan minat mereka. Tidak ada ujian apapun yang diberikan oleh guru.

Sikap Kritis dan Budaya Kesetaraan

Sistem pendidikan adalah sesuatu yang amat kompleks. Sistem tersebut terhubung dengan beragam sistem lainnya, termasuk sistem ekonomi, politik dan kebudayaan. Di Finlandia, setelah usia 16 tahun, anak diminta memilih, apakah mereka akan melanjutkan ke sekolah vokasi (keterampilan: montir mobil, tukang cukur, tukang kue, tukang listrik, tukang ledeng, dan sebagainya), atau sekolah akademik (penelitian ilmiah yang lebih abstrak: di universitas atau lembaga penelitian). Kedua bidang tersebut memiliki kedudukan yang setara, walaupun isinya berbeda.

Masyarakat Finlandia memang sangat menghargai budaya kesetaraan. Kesenjangan, baik dalam bentuk ekonomi maupun status sosial, sedapat mungkin dihindari. Ini, pada hemat saya, merupakan salah satu unsur kunci keberhasilan sistem pendidikan Finlandia. Pendidikan pun dilihat sebagai sebuah proses penting di dalam menciptakan kesetaraan sosial di dalam masyarakat, mirip seperti cita-cita Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia di dalam Pancasila sila kelima.

Pemerintah Finlandia dan pakar pendidikan disana juga berani bersikap kritis terhadap gelombang globalisasi yang juga menghantam dunia pendidikan. Dampak buruk globalisasi pendidikan itu adalah standarisasi pendidikan yang menyiksa peserta didik dengan ujian-ujian yang tak perlu, kompetisi semu dan standarisasi yang merusak keunikan masing-masing peserta didik. Sekolah pun berubah menjadi bisnis pendidikan yang amat kompetitif, dimana anak berlomba menjadi yang terbaik dengan mengalahkan teman-temannya di dalam ujian. Suatu hal yang begitu banyak terjadi di Indonesia sekarang ini.

The Finnish Way

Berkat upayanya untuk bersikap kritis terhadap globalisasi pendidikan, Finlandia pun melahirkan sebuah paradigma sendiri tentang pendidikan. Kita bisa menyebutnya sebagai The Finnish Way. (Weller, 2017) Ada lima hal yang kiranya patut diperhatikan.

Pertama, pendidikan di Finlandia lebih mementingkan kerja sama, daripada kompetisi. Sudah sejak lama, mereka menyadari, bahwa kompetisi di dalam pendidikan memiliki dampak yang merusak. Orang menjadi egois dan siap memangsa kompetitornya hanya demi meraih posisi pertama.

Di Finlandia, peserta didik didorong untuk saling bekerja sama. Kerja sama antar sekolah pun juga sangat dianjurkan. Guru tidak harus menerapkan ujian nasional dengan standar yang sama. Sebaliknya, mereka diminta untuk membuat ujian mereka sendiri dengan berpijak pada keunikan keadaan masing-masing peserta didik.

Dua, profesi guru merupakan profesi paling luhur di Finlandia. Mereka digaji tinggi, dan pendidikannya pun sepenuhnya gratis. Setelah mendapatkan gelar S2, mereka juga harus mengikuti program pelatihan guru yang intensif. Pemerintah Finlandia memang berinvestasi amat besar di dalam bidang pendidikan.

Tiga, kebijakan pendidikan di Finlandia berpijak pada penelitian ilmiah, dan bukan politik praktis yang penuh kepentingan sempit. Jika sebuah penelitian menjanjikan hal yang baik, maka pemerintah tidak segan-segan menerapkannya. Ini tentu amat berbeda di Indonesia. Kepentingan ideologis-religius kerap kali campur tangan di dalam pembuatan kebijakan pendidikan, sehingga banyak hal tidak berjalan efektif dan efisien di kehidupan nyata.

Empat, pemerintah Finlandia tidak takut untuk bereksperimen. Guru didorong untuk bereksperimen, supaya mereka bisa menemukan cara mengajar serta sistem penilaian yang lebih cocok dengan peserta didik mereka. Jika sebuah model dianggap berhasil, maka pemerintah hanya menganjurkannya, dan tidak memaksakannya untuk diterapkan oleh semua guru. Kurikulum nasional hanya menjadi panduan umum, dan bukan patokan yang harus ditaati secara buta.

Lima, sistem pendidikan Finlandia amat menghargai hak anak-anak. Waktu bermain adalah salah satu kebutuhan mendasar setiap anak. Di Finlandia, anak-anak mendapatkan waktu bermain selama 15 menit setiap mereka menyelesaikan pelajaran selama 45 menit. Beragam penelitian menunjukkan, bahwa semakin besar waktu bermain anak, semakin tinggi pula kemampuan mereka untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. (Weller, 2017)

Memang, anak-anak adalah mahluk yang penuh keajaiban. Mereka bisa bahagia, dan membahagiakan orang lain, tanpa alasan apapun. Masyarakat Finlandia beranggapan, bahwa seorang anak memiliki hak untuk hidup seperti anak kecil, selama mungkin. Mereka tidak wajib untuk segera menjadi dewasa, seperti banyak anggapan orang. Dan yang terpenting, mereka tidak wajib untuk menjalankan beragam tes dan ujian yang tak bermakna.

Membangun sistem pendidikan yang baik memang perjalanan yang panjang. Walaupun begitu, ini tetap perlu dilakukan, demi meningkatkan mutu manusia manusia Indonesia saat ini, maupun dimasa datang. Memang, ada sesuatu yang indah di dalam sistem pendidikan Finlandia. Tentu, kita bisa belajar darinya, sambil tetap memperhatikan keunikan budaya kita sebagai masyarakat Indonesia yang majemuk, toleran, terbuka namun sayangnya.. salah asuh.

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

19 thoughts on “Yang Indah di dalam Sistem Pendidikan Finlandia”

  1. saya sering mendengar tentang bagusnya sistem pendidikan di Finlandia, saya kira banyak juga pakar2 dari Indonesia yang mengetahui soal itu. Tapi mengapa tak satupun orang bahkan sekelas menteri Pendidikan yang mengambil contoh meskipun tidak ATP (Amati Tiru Plek) minimum dengan ATM (Amati Tiru Modifikasi) disesuaikan dengan budaya dan sistem politik di Indonesia.
    Kita banyak tau hal yang terbaik, namun sayang kita tidak pernah mau berusaha menjadi yang terbaik.
    istilah kerennya NATO – No Action Talk Only

    Terima kasih – Maaf – Tolong

    Suka

  2. Selamat malam pak Reza…mohon bantuan konfirmasi saya sudah memesan dan membayar buku TEMA-TEMA EKSISTENSIALISME tapi belum ada kabar pengiriman. Respon tidak cepat. Saya lampirkan bukti pembayaran

    Teguh Hindarto

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s