Agama: Antara Warisan dan Pencarian

good hope by gyurka (Lohmuller Gyuri )

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Dari beragam warisan yang diberikan orang tua kita, agama merupakan salah satunya. Jika anda lahir di Arab Saudi, maka kemungkinan besar, orang tua anda akan mewariskan Islam sebagai agama anda. Jika anda lahir di Jerman, maka anda akan mewarisi agama Kristen ataupun Katolik dari orang tua anda. Jika anda lahir di Thailand, Nepal atau Tibet, maka Buddha akan menjadi agama warisan anda.

Sebagai warisan, seperti sudah kita lihat sebelumnya, agama amat terkait dengan letak geografis kelahiran seseorang. Di negara-negara komunis ataupun sekuler, ada juga kemungkinan, anda tidak akan mewarisi agama apapun. Anda menerima ajaran tentang nilai-nilai kemanusiaan universal dari orang tua anda. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan disini.

Agama sebagai Warisan

Pertama, jika kita hanya melihat agama sebagai warisan, maka kita dengan mudah terjebak pada formalisme agama. Artinya, kita akan melihat agama semata sebagai seperangkat aturan dan ritual yang harus dipatuhi, tanpa pendalaman lebih jauh. Agama hanya menjadi sekedar larangan sekaligus upacara-upacara yang miskin makna. Ini tentu merupakan penyempitan dari agama itu sendiri.

Dua, jika kita hanya memahami agama sebagai warisan, maka pemahaman beragama kita akan menjadi dangkal. Orang cenderung menerima warisan begitu saja, tanpa niat mengembangkannya. Kedangkalan akan melahirkan kesalahpahaman. Kesalahpahaman akan melahirkan penderitaan.

Tiga, jika terjebak pada kedangkalan, maka agama akan berubah menjadi agama massa. Artinya, agama berubah menjadi gaya hidup hasil ikut-ikutan semata. Tidak ada penghayatan pribadi di dalamnya. Agama hanya menjadi kulit dan topeng semata, supaya diterima masyarakat.

Empat, ketika agama hanya sekedar menjadi warisan, maka ia akan mudah digunakan sebagai alat politik. Agama akan diumbar, guna memperoleh suara di dalam pemilihan umum, seperti pada Pilkada Jakarta 2017 lalu. Akibatnya, orang seolah kehilangan akal sehat, dan terjebak di dalam kebingungan. Agama juga bisa digunakan untuk menggiring warga menjadi konsumen, yakni sebagai alat ekonomi semata.

Jika agama hanya dilihat sebagai warisan, maka ia akan membunuh akal sehat dan pemikiran kritis. Maka dari itu, kita harus melihat agama dengan cara baru, yakni agama sebagai pencarian. Sebagai pencari, orang harus meninggalkan apa yang usang, dan tak lagi cocok dengan perubahan jaman. Sebagai pencari, akal sehat dan hati nurani adalah penunjuk jalan utama.

Agama sebagai Pencarian

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, agama harus bergerak dari warisan orang tua menjadi pencarian akan yang transenden. Yang transenden ini adalah sesuatu yang melampaui manusia, dan menjadi alasan dari keberadaan segala sesuatu. Ia memiliki beragam nama, mulai dari Dewa, Tuhan, Allah dan sebagainya.

Dua, sebagai pencarian, agama lalu bergerak ke inti, dan meninggalkan formalitas. Segala bentuk aturan dan ritual menjadi sampingan. Pengalaman kesatuan dengan yang transenden lalu menjadi tujuan utama. Pengalaman inilah yang merupakan inti terdalam semua agama.

Tiga, pengalaman akan yang transenden akan membawa kedamaian sejati di dalam hati. Kedamaian ini tidak berasal dari luar diri, seperti dari uang, harta, seks ataupun makanan, melainkan dari dalam. Kedamaian di dalam diri adalah kunci dari kedamaian di dunia. Inilah yang banyak dilupakan sekarang ini.

Empat, sebagian hasil dari proses pencarian, agama tidak lagi hanya sekedar topeng ataupun kulit semata, guna diterima secara sosial, melainkan menjadi otentik. Agama otentik adalah agama yang asli, yang lahir dari penghayatan dan kedalaman diri. Pada titik ini, agama lalu berubah wujud menjadi spiritualitas. Ia tercermin nyata tidak hanya dalam cara berdoa, tetapi juga di dalam hubungan antar manusia.

Lima, sebagai hasil dari pencarian, dan berkembang menjadi spiritualitas, maka agama pun tidak lagi gampang dipelintir untuk kepentingan politik dan ekonomi. Orang tidak gampang dihasut dan ditipu dengan menggunakan ajaran-ajaran agama tertentu. Akal sehat dan pemikiran kritis pun berkembang di dalam hidup beragama. Orang juga akan sadar, bahwa agama harus dilepaskan dari kepentingan politik praktis yang seringkali kotor.

Enam, seorang pencari akan melepaskan apa yang tak pas, dan memeluk apa yang cocok dengannya. Maka dari itu, sebagai bagian dari pencarian, pindah agama adalah sebuah kemungkinan yang terbuka lebar. Tak semua warisan baik bagi pribadi tertentu. Adalah hak asasi setiap manusia untuk memeluk agama yang bisa memberikan kedamaian bagi dirinya, sekaligus mendorongnya untuk menyebarkan kedamaian itu di lingkungan sekitarnya.

Sebagai pencarian, agama adalah proses yang tak pernah selesai. Orang terus menemukan dimensi baru dari agama yang dipeluknya. Beragam tantangan baru pun terus datang. Namun, ketika waktunya tiba, dan kita harus mewariskan agama kita ke anak cucu kita, wariskanlah agama sebagai sebuah bentuk pencarian.

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

23 tanggapan untuk “Agama: Antara Warisan dan Pencarian”

  1. Salam Kenal mas Reza, kalau menurut mas Reza sendiri apakah mas sudah mendapat Agama yang sesuai dengan pencarian tersebut.Terus apakah kemunafikan umat beragama ada hubunganya dengan warisan Agama tadi, karena setiap Agama memiliki sisi kemunafikan tersendiri.Jadi apakah di saat seseorang mewarisi suatu Agama ia juga mewarisi kemunafikan tersebut.Satu lagi, kita sering melihat bahwa akhir-akhir ini banyak orang yang memanfaatkan Agama sebagai pembenaran atas kejahatan yang dilakukanya misalnya pembunuhan; apa penyebabnya dan juga apa solusinya? Sedih rasanya ketika melihat Agama dijadikan sebagai alat pembenaran dan bukanya media untuk mencari kebenaran. Dan yang terakhir, menurut mas Reza sendiri apakah hak Eklusivisme dalam suatu Agama termasuk primodialisme? Serta apakah Agama yang masih mempertahankan primordialisme masih sesuai dengan perkembangan jaman.
    Salam bahagia

    Suka

  2. wah banyak sekali pertanyaanya. Saya coba jawab ya.
    1. Saya sudah mendapatkan agama yang pas untuk saya.
    2. Kemunafikan itu bagian dari hidup. Cukup sadari, dan kurangi sebisanya.
    3. Itu kesalahpahaman yang lahir, ketika agama hanya dilihat sebagai warisan, tanpa pencarian. Tentu paham ini perlu diluruskan kembali sesuai dengan inti agama yang ada.
    4. Setiap eksklusivisme lahir dari ketakutan. Ini tentu harus dibongkar. Primordialisme harus terus ditanggapi secara kritis, supaya kehadirannya tetap proporsional.

    Semoga membantu. Salam

    Suka

  3. Salam Mas Reza

    Mau bertanya, apa yang menjadi tolak ukur Mas Reza sehingga mengatakan bahwa anda sudah mendapatkan agama yang pas?

    Suka

  4. Super… Saya sangat sepakat, bahwa memang sejatinya Tuhan tidak menurunkan agama tetapi sistem aturan hidup dan kehidupan universal bagi seluruh makhluknya, termasuk manusia. Sebagai bagian tak terpisahkan dari alam semesta, kehidupan manusia pun telah digariskan untuk berintegrasi dengan sistem aturan itu. Bagaimana menata hubungan manusia dengan sesamanya, manusia
    dengan alam semesta dan manusia dengan Tuhan selaku pencipta dan pemelihara kehidupan telah diatur. Memisahkan kehidupan sosial, politik, hukum, ekonomi, budaya, dan semuanya dari sistem aturan itu seperti halnya “paham agama”, hanyalah akan mengantarkan kehidupan manusia kepada penindasan dan penderitaan. Agama mengkerdilkan peran Tuhan selaku subyek yang masih aktif (belum pensiun) dalam mengatur dan memelihara alam semesta included kehidupan manusia, mengabaikan peran kitab-kitab-Nya menjadi hanya sebatas formalisme, upacara-upacara, ritual-ritual yang sangat dangkal.

    Disukai oleh 1 orang

  5. 1. dari Forman Tuhan dalam kitab-kitabNya secara eksplisit menyebutkan demikian
    2. keteraturan dan harmoni alam semesta memberi kesaksian bahwa alam telah, sedang dan akan beroperasional di atas sistem aturan tsb. Hukum gravitasi, pergantian siang-malam dll wujud nyatanya…
    3. Sedikit common sense cukup untuk mengatakan bahwa sebelum menciptakan Alam Semesta Tuhan telah memiliki rancangan pasti (blue print) aturan main beroperasionalnya segala makhluk. Bahkan manusia pun sebelum menciptakan sesuatu semisal sepeda motor akan membuat rancangan sistem kerja sepeda motor sesuai fungsi yang dimaksud.
    Terimakasih salam hangat .. 🙏🙏

    Suka

  6. mantap bung reza. boleh bagi kontak WA atau email nya, saya mau diskusi tentang formalisme agama.

    Mauliate
    God bless

    Suka

  7. Apakah ketika setiap orang yang melakukan pencarian dengan cara yang benar akan bermuara pada satu agama? (hanya ada satu agama yang benar?) ataukah bisa jadi setiap orang akan menghasilkan agama pilihannya yang berbeda (agama bersifat subjektif).?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.