Indonesia dan Kesempitan Berpikir Kita

http://media1.razorplanet.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

Kita hidup dalam dunia yang telah disempitkan. Hal-hal yang kaya dan rumit disempitkan menjadi hal-hal sederhana yang justru membunuh arti pentingnya. Gejala ini dapat dilihat di semua bidang kehidupan, mulai dari pendidikan, politik, sampai dengan seni. Penyempitan dunia kehidupan ini perlu untuk kita refleksikan, lalu kita kurangi sisi merusaknya.

Politik

Dunia politik disempitkan menjadi pengejaran kekuasaan. Aliansi antar partai politik dibangun bukan untuk meningkatkan kinerja politik untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, melainkan untuk bagi-bagi kue kekuasaan. Negosiasi dibangun bukan untuk menciptakan kebijakan yang efektif dan efisien untuk menunjang kinerja mesin politik, melainkan untuk membuat proyek-proyek baru yang penuh dengan lubang untuk dikorupsi.

Dunia politik juga disempitkan menjadi kesempatan untuk menumpuk uang. Orang berlomba-lomba menjadi anggota DPR dan DPRD bukan untuk melaksanakan pengabdian, melainkan untuk mencari celah, guna mengembangkan modal keuangan mereka. Ketika menjabat sebagai kepala daerah, orang berlomba-lomba untuk mendapatkan proyek dan tender, guna mendapatkan uang lebih banyak lagi, setidaknya untuk menutupi ongkos kampanye politik sebelumnya.

Padahal sejatinya, politik adalah soal pengabdian pada kepentingan rakyat untuk mewujudkan terciptanya keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat, tanpa kecuali. Ketika ini disempitkan semata menjadi pengejaran kekuasaan dan kesempatan untuk menumpuk uang, masalah besar muncul. Politik adalah soal tata kelola masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip yang bisa dipertanggungjawabkan bersama. Ketika politik tidak berjalan, tata kelola masyarakat pun tidak berjalan, dan semua urusan akan berantakan. Lanjutkan membaca Indonesia dan Kesempitan Berpikir Kita

Kegagalan Institusi di Indonesia

http://heroesrising.files.wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Sudah lama Maria memiliki mobil. Ia membelinya dari seorang bapak yang sedang membutuhkan uang. Tentu saja, sampai sekarang, secara legal, mobil itu masih atas nama bapak tersebut. Setelah dua tahun mengendarai mobil yang telah ia beli itu, Maria punya keinginan untuk menjadikan mobil tersebut atas namanya sendiri. Ia pun pergi ke kantor resmi terdekat untuk mengurus balik nama mobil yang telah ia beli.

Sampai di kantor itu, Maria mengalami kesulitan. Ia dimintai beragam dokumen yang tak dijelaskan kegunaannya. Bahkan, ia diminta pergi ke berbagai macam kantor. Padahal, ia adalah wanita yang sehari-hari bekerja mencari nafkah untuk mempertahankan dan mengembangkan hidupnya. Inilah lingkaran birokrasi yang mencekik niat baik Maria. Akhirnya, ia menggunakan calo, karena tak punya waktu, tak punya pengetahuan, dan tak punya cukup tenaga serta kesabaran untuk berurusan dengan birokrasi yang terlalu rumit.

Anton punya pengalaman agak mirip. Ia hendak melanjutkan studi ke luar negeri. Ia mendapat beasiswa penuh beserta dengan biaya hidup. Masalah muncul, ketika ia hendak mengurus perpanjangan paspor. Di kantor resmi pengurusan paspor, ia diminta mengantri berjam-jam tanpa kepastian. Ia diminta untuk membeli bermacam-macam hal, serta dilempar ke berbagai kantor. Ia bahkan diminta untuk kembali setelah beberapa hari. Padahal, sama seperti Maria, ia juga perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, serta mengembangkan dirinya.
Lanjutkan membaca Kegagalan Institusi di Indonesia

Para Pengungsi dan Manusia Politis

http://www.up98.org

Menanggapi Konsep Biopolitik Giorgio Agamben

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat

UNIKA Widya Mandala Surabaya

Bayangkan, negara tempat anda tinggal mengalami perang saudara. Rumah anda hancur, karena bom yang dilepaskan oleh salah satu pihak yang berperang. Anda tak punya uang, ataupun alat-alat dasar untuk mempertahankan kehidupan. Makanan pun tinggal sedikit, sementara anda harus melindungi suami/istri dan anak anda. Anda dan keluarga terpaksa harus meninggalkan kota anda, dan pergi ke tempat-tempat yang tak pasti, seperti negara lain. Di negara lain, tempat anda pergi bersama keluarga, anda tidak diterima dengan ramah. Tidak ada jaminan kesehatan dan keamanan, karena anda bukanlah warga negara. Anda dan keluarga hidup dalam situasi ketidakpastian absolut, dan selalu terancam oleh kematian, penyakit, ataupun kelaparan. Bagaimana perasaan anda? Apa yang akan anda perbuat? Apa yang akan anda pikirkan? Inilah situasi yang selalu dialami oleh para pengungsi di seluruh dunia.

Sebagaimana dinyatakan oleh Katherine Southwick dan Michael Lynch dalam laporan Refugees International yang berjudul Nationality Rights for All, A Progress Report and Global Survey on Statelessness pada 2009 lalu, ada sekitar 12 juta orang yang tak memiliki kewarganegaraan yang jelas.[1] Mereka adalah para pengungsi yang kini berada di Thailand, Palestina, Timur Tengah, Suriah, dan orang-orang berbahasa Russia yang kini tinggal di negara-negara Balkan, Eropa Timur. Mereka berasal dari suku Kurdi, kaum Bidun, dan orang-orang Eropa Timur yang kini masih belum mendapatkan status kewarganegaraan yang resmi.  Mengapa status kewarganegaraan resmi ini menjadi begitu penting? Lanjutkan membaca Para Pengungsi dan Manusia Politis

Mencintai “Yang Tak Dapat Dicintai”

http://www.myjoypages.com

Suatu Upaya Penafsiran Pemikiran Slavoj Žižek Tentang Cinta

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Apa yang anda lakukan, ketika anda berbeda pendapat dengan sahabat anda? Apa yang anda lakukan, ketika anda berkonflik tajam dengan kolega anda? Apa yang anda lakukan, ketika anda memiliki visi hidup dan keinginan yang berbeda ekstrem dengan kekasih anda? Biasanya orang akan mengambil satu pilihan, yakni pergi; cari pacar lagi, cari teman lagi, cari tempat kerja lain yang lebih cocok, atau cari kolega lain yang mengerti jalan pikiran kita.

Di dalam tulisan ini, dengan berbekal pemaparan yang amat menarik dari O’Dwyer, saya akan mencoba menjelaskan pandangan Žižek tentang cinta. Seperti biasa, pandangannya amat dipengaruhi oleh aliran filsafat sekaligus psikoanalisis yang ia dalami selama ini. Sebagai upaya pengembangan, saya juga akan mencoba menarik konsekuensi logis pandangan Žižek khusus untuk konteks pernikahan. Bagi Žižek, cinta adalah suatu untuk mencintai yang seolah “tak dapat dicintai”. Cinta lahir dari kebebasan, dan tidak pernah dapat diperintahkan, apalagi dipaksakan. Saya akan jelaskan lebih jauh.

Slavoj Žižek dikenal sebagai seorang filsuf psikoanalis ternama di dunia.[1] Ia memiliki gaya yang unik dalam menyampaikan pemikirannya. Seringkali ia tidak menolak kontradiksi (bersatunya hal-hal yang berbeda, seperti jahat sekaligus baik, hitam sekaligus putih), melainkan melihatnya sebagai suatu gerak realitas yang alamiah.

Salah satu argumennya yang paling banyak tampil di berbagai forum adalah, bahwa budaya massa sekarang ini, mulai dari film sampai dengan berbagai bentuk gaya hidup, adalah suatu bentuk mitos ataupun tipuan yang menutupi realitas ganjil yang tersembunyi di baliknya. “Dia”, demikian tulis O’Dwyer, “bukan filsuf biasa, karena ia berpikir dan menulis dengan gaya yang ceroboh sekaligus menyenangkan, ia terus membuat filsafat dengan penuh resiko menjadi menyenangkan.” (O’Dwyer, 2012)

Titik tolak Žižek adalah salah satu ajaran Kristiani tentang cinta, yakni cintailah tetanggamu. Dalam arti ini, menurut saya, kata tetangga bisa diartikan sebagai orang lain, “yang lain” dari saya. Pertanyaan berikutnya adalah, siapa itu orang lain, siapa itu “yang lain” dari saya? Untuk menjawab pertanyaan ini, Žižek mengutip pendapat Lacan, orang lain, termasuk tetanggamu, adalah the real itu sendiri. The real adalah yang tak terduga, yang memecah kita dari rutinitas keseharian. “The real”, demikian tulis O’Dwyer tentang Žižek, “adalah orang lain dengan segala kelemahan, kerapuhan, keanehan, dan kesalahan yang sifatnya traumatik.” (O’Dwyer, 2012) Lanjutkan membaca Mencintai “Yang Tak Dapat Dicintai”

Kisah “Kasih” Jono dan Sinta

http://maa9.files.wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Namanya adalah Jono. Ia tinggal di sebuah kota besar di Indonesia. Sama seperti banyak anak remaja lainnya, Jono punya banyak teman, baik di sekolah, maupun di kampung tempat tinggalnya. Sejak SMP, ia sering berkumpul bersama teman-temannya.

Di waktu senggang, mereka merokok bersama. Siapa yang tidak merokok akan dianggap lemah, cemen. Jono pun ikut merokok. Ia membeli rokok dari uang jajan yang diberikan oleh orang tuanya, atau meminta dengan paksa dari adik kelasnya yang lebih lemah. Lanjutkan membaca Kisah “Kasih” Jono dan Sinta

Extension Course Filsafat: Relativisme dan Hati Nurani

Narkoba,

Korupsi,

Kekerasan Jaman Ini,

Kehamilan di luar nikah,

Kerusakan Lingkungan yang akut,

Puaskah Anda dengan moralitas jaman ini?

Tidakkah Anda tergelitik untuk mencari kepastian moral?

Anda mengalami kebimbangan nurani?

Ketika relativisme moral dan nilai-nilai menjadi bagian hidup keseharian, di sana manusia cenderung menjadi egois, semau gue, individualis, lantas pranata sosial mengalami kekaburan. Hidup publik yang nyaman dan berkeadilan sesuai martabat manusia berada dalam ancaman. Kita butuh kepastian moral dan nilai-nilai hidup bersama.

Program ini menawarkan pertemanan dan persahabatan dalam peziarahan pencarian kebenaran sebagai panduan bagi nurani Anda! Daftarkan diri Anda segera pada program Extension Course Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala! Lanjutkan membaca Extension Course Filsafat: Relativisme dan Hati Nurani

“Pengungsi”: Pandangan Biopolitik Giorgio Agamben

http://3.bp.blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Tulisan-tulisan Giorgio Agamben, filsuf Italia kontemporer awal abad 21, tentang biopolitik merupakan tanggapannya terhadap filsafat politik Hannah Arendt tentang kaitan antara hak-hak asasi manusia dan situasi politik para pengungsi. Bagi Arendt, sebagaimana dicatat oleh Agamben, ada kaitan yang amat erat antara keberadaan negara-bangsa di satu sisi, dan hak-hak asasi manusia di sisi lain. Hubungan ini bersifat paradoks. Di satu sisi, hak-hak asasi manusia dilindung oleh negara. Namun supaya hak-hak asasi seseorang bisa dilindungi, maka ia harus menjadi warga negara tertentu yang nantinya akan melindungi hak-hak asasinya. Situasi menjadi membingungkan, ketika seorang pengungsi yang baru melarikan diri dari negara tempat tinggalnya, dan pergi ke suatu negara yang bukan merupakan negaranya. Pertanyaannya lalu, siapa yang akan menjamin dan melindungi hak-hak asasinya sebagai manusia? “Di dalam sistem negara bangsa”, demikian tulis Agamben, “hak-hak yang dianggapi suci dan tak dapat diambil dari manusia menunjukkan dirinya mengalami kekurangan perlindungan dan realitasnya pada saat ini di mana ia tidak dapat diambil dari hak-hak warga negara yang melihat.”[1] Artinya, saya rasa, cukup jelas, bahwa hak-hak asasi manusia baru menjadi nyata, ketika orang menjadi warga negara. Jika ia, karena sesuatu dan lain hal, kehilangan kewarganegaraannya, maka ia otomatis akan kehilangan jaminan atas hak-hak asasinya sebagai manusia.

Lebih dari itu, di dalam deklarasi-deklarasi yang terkait dengan hak-hak asasi manusia, Agamben, sejalan dengan Arendt, ada ambiguitas tentang kata manusia, terutama dalam deklarasi hak-hak asasi manusia yang dikumandangkan dalam revolusi Prancis 1789. Di dalam deklarasi tersebut, kata manusia seringkali diartikan sebagai warga negara. Hak-hak asasi manusia diartikan sebagai hak-hak warga negara Prancis. Dengan begitu, yang sungguh dijamin hak-hak asasinya adalah orang Prancis. Sementara orang-orang di luar negara Prancis, seperti yang berasal dari Afrika dan Asia, tidak mendapatkan perlindungan serupa. Bahkan, pada level yang lebih ekstrem, orang-orang yang berasal dari luar Prancis tidak dianggap sebagai manusia, tetapi hanya sebagai mahluk yang lebih rendah, maka bisa dibenarkan untuk dijajah, ataupun dieksploitasi.[2]   Lanjutkan membaca “Pengungsi”: Pandangan Biopolitik Giorgio Agamben

Penyakit “Asal Luar Negeri”

http://2.bp.blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Alkisah hiduplah seorang pemimpin fakultas di salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Selama ia menjalani masa pendidikan sampai level doktoral, ia tak pernah ke luar negeri. Ia menjalani pendidikannya di Indonesia. Ia pun merasa iri dengan teman-temannya yang berhasil menyelesaikan pendidikannya di luar negeri.

Setelah ia menjadi dekan, ia pun membuat kebijakan, agar semua dosen di bawah pimpinannya melanjutkan studi di luar negeri, di universitas apapun, asal di luar negeri. Pada hemat saya, ini adalah kebijakan yang amat salah kaprah. Ada dua alasan. Pertama, tidak semua institusi pendidikan di luar negeri itu bagus. Kita tidak boleh terjebak pada cara berpikir “asal luar negeri”.

Yang kedua, banyak paradigma penelitian di luar negeri dilakukan dalam konteks sosial mereka. Artinya, apa yang mereka temukan, dan cara berpikir di belakangnya, tidak selalu cocok untuk digunakan untuk memahami situasi Indonesia. Cara berpikir “asal luar negeri” ini mencampurkan kedua hal itu, tanpa berpikir sama sekali. Tak heran, banyak lulusan luar negeri di Indonesia tidak mampu menyumbangkan kontribusi nyata bagi perkembangan bangsa. Lanjutkan membaca Penyakit “Asal Luar Negeri”

Sosok Giorgio Agamben, Filsuf Italia (1942-…)

http://www.babelio.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Lahir pada 1942, Agamben kini menjadi sosok ternama dalam konteks filsafat Italia.[1] Ia banyak menulis tentang teori-teori politik dengan menggunakan sudut pandang yang khas. Pemikirannya mempengaruhi wacana politik kontemporer di level internasional. Ia belajar filsafat dan hukum di Universitas Roma. Tesis doktoralnya berisi tentang pemikiran politik Simone Weil. Ia juga sempat belajar dari Martin Heidegger, terutama dalam kuliah-kuliah Heidegger tentang Hegel dan Herakleitos. Agamben telah mengajar di banyak universitas, terutama di Italia, Prancis, AS, dan Swiss.

Karya-karya Agamben tidak memiliki arah perkembangan ide yang jelas. Sebaliknya, ia berusaha untuk menanggapi berbagai persoalan politik yang muncul di dunia dengan cara-cara yang tak tertebak. Dalam hal ini, ia banyak terinspirasi dari gaya pemikiran Walter Benjamin, filsuf asal Jerman yang hidup pada awal abad 20. Di sisi lain, Agamben juga banyak mengambil inspirasi dari pemikiran Heidegger, Carl Schmidt, Aristoteles, Hannah Arendt, dan Hegel.[2] Tidak hanya dari dunia filsafat, Agamben juga banyak mempelajari karya-karya sastra Eropa, seperti yang telah ditulis oleh Kafka, Dante, dan Caproni. Lanjutkan membaca Sosok Giorgio Agamben, Filsuf Italia (1942-…)

Thomas Aquinas tentang Hasrat Manusia

http://api.ning.com

Catatan Singkat tentang Hasrat dan Emosi Manusia

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Manusia adalah mahluk yang terdiri dari banyak aspek. Salah satu aspek yang paling menentukan adalah hasrat. Hasrat menampakkan dirinya dalam emosi manusia. Kedua hal ini, yakni hasrat dan emosi, menurut Thomas Aquinas, filsuf Eropa Abad Pertengahan, pada dasarnya adalah sesuatu yang baik. Keduanya ada dalam diri manusia secara alamiah, dan membantu manusia untuk mencapai kebaikan.

Hasrat dan Emosi Manusia

Thomas Aquinas berpendapat, bahwa ada dua macam hasrat. Yang pertama adalah hasrat-hasrat fisik manusia, seperti hasrat untuk makan, seks, dan dorongan-dorongan fisik lainnya. Yang kedua adalah hasrat-hasrat yang bersifat intelektual, seperti hasrat untuk belajar, untuk ingin tahu, dan berbagai kegiatan intelektual lainnya. Semuanya ada secara alamiah di dalam diri manusia, dan secara mendasar, semuanya adalah baik.

Di dalam hidup manusia, emosi dan akal adalah dua aspek yang berbeda, namun selalu bekerja sama. Ketika manusia melihat sesuatu, dan menginginkan atau menolaknya, emosi dan akalnya secara otomatis bekerja sama untuk menghasilkan pengetahuan dan penilaian. Misalnya, ketika kita melihat makanan yang enak, dan menginginkannya, emosi dan akal sudah langsung bekerja di dalam diri kita untuk membuat keputusan, tentang apa yang akan dilakukan dengan makanan itu.

Dalam konteks ini, yang perlu kita pelajari sebagai manusia adalah, bagaimana cara untuk menata hasrat serta dorongan-dorongan yang muncul di dalam diri kita? Aquinas menawarkan konsep “bekerja dengan emosi”, yang berarti belajar untuk menata hasrat dan emosi di dalam diri, serta mengarahkannya untuk membantu kita menjadi manusia yang baik. Saran praktisnya adalah, supaya kita, sebagai manusia, belajar untuk berpikir secara tepat. Jadi, cara terbaik untuk menata hasrat dan emosi adalah dengan berpikir secara tepat. Lanjutkan membaca Thomas Aquinas tentang Hasrat Manusia

Jurnal Filsafat WIWEKA: Karya Mahasiswa Fakultas Filsafat

Jurnal Filsafat WIWEKA

Karya Mahasiswa Fakultas Filsafat

UNIKA Widya Mandala Surabaya

ISSN: 2252-5025

 

Jurnal WIWEKA memiliki cita-cita untuk menjadi wadah yang bermutu bagi orang-orang yang mempunyai hasrat untuk berpikir dan mengolah seluruh kemampuan budinya, yang otentik, analitis dan kritis secara filosofis dalam memahami dan merefleksikan realitas dunia.

Isi:

1. Kajian Kosmologi Menurut Aurelius Agustinus dalam Confessiones

2. Kajian Moral Menurut Aurelius Agustinus dalam Confessiones

3. Tindakan Manusia menurut Ajaran Zen

4. Perjalanan Bangsa Indonesia menurut Teori Siklus Sejarah Oswald Spengler

5. Kode Etik Profesi Sebagai Parameter dan Faktor Pendukung Kemajuan Bersama

6. Kajian atas Hukum Kodrat Thomas Aquinas

7. Perbandingan Konsep Imamat dan Pandhita dalam Budaya Jawa

Bisa didapatkan di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya, atau versi sederhananya bisa diunduh di Jurnal Mahasiswa

Telp. 088804858799

Menciptakan Perdamaian yang Sejati

http://unitedworldpeace.com

Komentar Kontekstual Indonesia

atas “Lima Pasal” Penting di dalam Buku

Toward Perpetual Peace tulisan Immanuel Kant

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

            Manusia hidup dalam lintasan konflik dan perang. Selama ratusan tahun sebelum Masehi, kekaisaran Romawi kuno menjajah Eropa dan Afrika Utara. Orang-orang yang kalah perang diperbudak, atau dijadikan gladiator yang siap mempertaruhkan nyawa untuk sekedar menghibur warga Roma. Anak-anak dan perempuan dijadikan budak yang siap ditukarkan dengan emas dan uang untuk membiayai perang kekaisaran. Di abad 15-19, negara-negara Eropa juga melakukan penjajahan di seluruh dunia. Begitu banyak korban jiwa berjatuhan. Kekayaan alam yang begitu besar diperas, sementara warga setempat tetap hidup dalam kemiskinan dan penderitaan. Di negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika yang terjajah, termasuk Indonesia, kebodohan dan kemiskinan adalah fakta nyata yang selama berabad-abad mengancam.

            Di sisi lain, sepanjang abad 20 dan awal abad 21, Amerika Serikat, yang mendaku dirinya sebagai negara adidaya, memaksakan kepentingan politiknya ke seluruh dunia. Negara-negara yang menolak untuk patuh bisa mengalami hukuman ekonomi, bahkan aksi militer yang memakan begitu banyak korban jiwa, dan hancurnya begitu banyak harta benda. Otonomi nasional negara-negara di dunia untuk menentukan kebijakan nasional dan internasionalnya menjadi relatif di hadapan kekuasaan Amerika Serikat. Korea, Vietnam, Afganistan, dan Irak adalah contoh-contoh nyata, bagaimana agresi militer bisa digunakan untuk memaksakan kepentingan politik dengan mengabaikan semua prinsip-prinsip politik peradaban modern, seperti otonomi nasional, dan keadilan internasional. Lanjutkan membaca Menciptakan Perdamaian yang Sejati

Negara Hukum Rimba

gtwallpaper.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Di Indonesia, kita hidup selalu dalam situasi ekstrem. Ketika Orde Baru berkuasa, tatanan politik dipaksa untuk stabil oleh militer. Stabilitas politik tercipta, namun memang bersifat semu dan sementara, karena berada di bawah todongan senjata. Kini di era Reformasi, kita hidup dalam anarki. Ketidakpastian menjadi raja, dan stabilitas nyaris hanya menjadi cita-cita.

Krisis Bangsa

Pelanggaran hukum terjadi setiap saat, namun hukuman yang menjamin keadilan tak kunjung datang. Pencuri terus mencuri, dan lolos dengan menyuap para penegak hukum. Provokator massa justru dijunjung tinggi, karena ia bergerak atas nama agama. Perusak kehidupan ratusan ribu orang kini justru mencalonkan diri menjadi pemimpin bangsa. Lanjutkan membaca Negara Hukum Rimba

Indonesia atau “Alaynesia”?

kidsklik.com

Diskursus tentang Bahasa “Alay”

Buletin Cogito Fakultas Filsafat Mei 2012

 

Oleh

Irini Santa Melania

Andreas Ideanov

Yohanes Fakundus

Reza A.A Wattimena (ed)

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

 

Seringkali kita mendengar kata “alay” dalam percakapan sehari-hari, terutama dalam kalangan remaja. Walaupun kita sering mendengar, itu tidak langsung membuat kata ”alay” dipahami. Kata ”alay” memang berasal dari ”dunia gaul”. Namun bahasa dalam dunia gaul memang tidak memiliki asal dan aturan yang pasti, sehingga pengertiannya pun seringkali tidak jelas. Akibatnya, muncul banyak jawaban tentang arti dan asal kata ”alay” ini. Ada banyak singkatan yang muncul dari ”alay” seperti anak layangan, anak kelayapan (baca: jarang pulang), anak layu ataupun anak lebay (baca: berlebihan).

Secara umum bahasa ”alay” dianggap sebagai suatu bahasa yang terlalu melebih-lebihkan. Namun, pengertian negatif terhadap bahasa ”alay” sebaiknya ditangguhkan terlebih dahulu. Tentunya kita akan mengalami kesulitan untuk memahami sesuatu, bila langsung diawali dengan prasangka yang buruk. Bahasa ”alay” akan dibahas bukan sebagai bahasa yang terlalu berlebihan, tetapi sebagai suatu bahasa inovatif yang muncul dari kaum muda. Alasan disebut inovatif, karena menambahkan unsur ekspresi, itu menunjukan jati diri remaja, dan indikator perkembangan bahasa. Lanjutkan membaca Indonesia atau “Alaynesia”?

Jalan Berliku menuju Perdamaian Abadi

wikimedia.org

Pandangan Immanuel Kant

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Immanuel Kant adalah seorang filsuf Jerman yang lahir di Königsberg pada 1724.[1] Pada waktu itu, Jerman masih berbentuk Kerajaan Prussia. Sedangkan Königsberg secara tepat terletak di Prussia Timur. Ia mendapatkan pendidikan di sekolah lokal, dan dari 1747-1754, ia mulai bekerja sebagai tutor pribadi.[2] Pada masa-masa itu, Kant menulis dua disertasi. Dengan ini, ia bisa mengajar sebagai instruktur yang tidak memiliki gaji tetap di Universitas Königsberg. Di sana, ia mengajar beragam mata kuliah, mulai dari matematika, filsafat, dan ilmu-ilmu alam. Ia hidup dari uang yang diberikan murid-muridnya, dan dari buku-buku yang ditulisnya tentang filsafat dan ilmu-ilmu alam pada masa itu.

Ia bercita-cita untuk menjadi professor filsafat di Königsberg. Sebelumnya, ia sudah mendapatkan beberapa tawaran bekerja. Akan tetapi, ia menolak semua tawaran itu. Akhirnya pada 1770, Kant menjadi professor Logika dan Metafisika di Universitas Königsberg.[3] Inilah masa, di mana Kant menjalani dekade-dekade sunyi (silent decades). Ia  hampir tidak menerbitkan karya apapun. Rupanya, ia fokus untuk menyempurnakan argumennya, yang nanti akan tertuang di dalam tiga buku yang mengubah sejarah filsafat, yakni Critique of Pure Reason, Critique of Practical Reason, dan Critique of Judgment. Di dalam Critique of Pure Reason, Kant menyelidiki batas-batas dari pengetahuan manusia.[4] Pendekatannya disebut dengan filsafat kritis. Dengan metode ini, ia “berhasil” menjelaskan, bahwa akal budi manusia secara aktif ikut serta dalam terciptanya pengetahuan mannusia, dan, dengan itu, memberikan batas yang tegas pada pengetahuan metafisis manusia. Pandangan ini kemudian dijelaskan lebih jauh di dalam bukunya yang berjudul Prolegomena (1783). Kant langsung menjadi terkenal sebagai seorang filsuf besar pada masa itu.[5]   Lanjutkan membaca Jalan Berliku menuju Perdamaian Abadi

Buku Filsafat Terbaru: Filsafat Pra Skolastik Eropa

Buku Filsafat Terbaru:

Filsafat Pra Skolastik Eropa

Pengenalan Singkat Sejarah Filsafat Abad Pertengahan

ISBN: 978-602-19758-7-9

Tulisan:

Ramon Nadres

Dr. Ramon Antonio Eguia Nadres lahir die Quezon City, Filipina. Ia meraih gelar sarjana di bidang Zoologi pada 1981 di University of the Philippines. Ia kemudian menyelesaikan studi sarjana di bidang filsafat dari Pontifical University of the Holy Cross di Roma pada 1987. Ia mendapatkan gelar Licentiate in Philosophy dari Universitas Navarre di Pamplona, Spanyol, pada 1998. Pada 2009 ia berhasil mempertahankan disertasi doktoral dengan judul La Memoria en Santo Tomás de Aquino: Fuentes y Originalidad  di universitas yang sama. Saat ini ia bekerja sebagai dosen di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Indonesia.   Lanjutkan membaca Buku Filsafat Terbaru: Filsafat Pra Skolastik Eropa

Filsafat, Ilmu Pengetahuan, dan Demokrasi Kita

humansoul.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Filsafat adalah ibu dari semua ilmu pengetahuan. Ini adalah pernyataan faktual historis. Selama lebih dari 2500 tahun, filsafat mewarnai pemikiran dan kebudayaan Eropa, dan nantinya mempengaruhi seluruh dunia, seperti kita rasakan sekarang ini. Oleh karena itu, sampai sekarang, gelar pendidikan tertinggi masih menggunakan kata Philosophy Doctor (Ph.D) di negara-negara berbahasa Inggris, atau Doktor der Philosophie (Dr. phil) di negara-negara berbahasa Jerman.

Di sisi lain, walaupun sumbangannya dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan manusia tak bisa lagi diragukan, filsafat, sebagai displin akademik, terutama di Indonesia, mendapat amat sedikit perhatian. Beberapa orang berpikir, bahwa filsafat adalah sejenis mistik, dan terkait dengan dunia perdukunan. Beberapa orang lain berpikir, bahwa filsafat adalah hamba agama, maka harus selalu dipelajari dalam kaitan dengan agama. Tempat terhormat yang dulu diduduki filsafat, sebagai alat utama manusia untuk memahami dunia, kini digantikan oleh ilmu pengetahuan. Lanjutkan membaca Filsafat, Ilmu Pengetahuan, dan Demokrasi Kita

Mengapa Kita Perlu Belajar Filsafat?

http://www.prorebel.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Pernahkah anda bertanya dalam hati, apa tujuan hidup ini? Atau mengajukan pertanyaan, mengapa saya ada? Memang, agama memberikan jawaban. Namun, apakah anda puas dengan jawaban yang diberikan agama?(1)

Jika anda tidak puas dengan jawaban dari agama, ataupun dari tradisi anda, maka belajar filsafat adalah sesuatu yang mesti anda lakukan. Setidaknya dengan mempelajari filsafat, anda bisa menemukan metode yang lebih tepat untuk memahami dan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar tersebut. Lanjutkan membaca Mengapa Kita Perlu Belajar Filsafat?

Berpikir Kritis bersama Pierre Bourdieu

guim.co.uk

Filsuf dan Sosiolog asal Prancis

Oleh Reza A.A Wattimena

            Pierre Bourdieu adalah seorang pemikir Prancis yang hendak memahami struktur sosial masyarakat, sekaligus perubahan dan perkembangan yang terjadi di dalamnya. Baginya, analisis sosial selalu bertujuan untuk membongkar struktur-struktur dominasi ekonomi maupun dominasi simbolik dari masyarakat, yang selalu menutupi ketidakadilan di dalamnya. Untuk itu, ia mengembangkan beberapa konsep yang diperolehnya dari analisis data sosiologis, sekaligus pemikiran-pemikiran filsafat yang ia pelajari.

            Pierre Bourdieu lahir pada 1 Agustus 1930 di Denguin, Prancis. Ia meninggal pada 23 Januari 2002 di Paris, Prancis.[1] Ia dikenal sebagai seorang intelektual publik yang lahir dari pengaruh pemikiran Emile Zola dan Jean-Paul Sartre. Konsep-konsep yang ia kembangkan amat berpengaruh di dalam analisis-analisis sosial maupun filsafat di abad 21. Sebelum meninggal, ia mengajar di lycée di Moulins (1955–58), University of Algiers (1958–60), University of Paris (1960–64), École des Hautes Études en Sciences Sociales (dari 1964), dan Collège de France (1982).

            Di Prancis, ia mendirikan Centre for the Sociology of Education and Culture. Dia sudah menulis beberapa buku, antara lain Sociologie de l’Algérie (1958; The Algerians, 1962), La Distinction (1979; Distinction, 1984), Le Sens pratique (1980; The Logic of Practice, 1990), La Noblesse d’état (1989; The State Nobility, 1996), and Sur la télévision (1996; On Television, 1998). Tema-tema bukunya berkisar kritik terhadap konsep sekaligus praktek ekonomi neoliberal, globalisasi, elitisme intelektual, dan televisi. Lanjutkan membaca Berpikir Kritis bersama Pierre Bourdieu

Filsafat “Rok Mini” Martin Heidegger

http://philossophy.files.wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Perempuan tampaknya memang tak pernah menjadi “tuan” atas tubuhnya. Beberapa kelompok masyarakat mewajibkan perempuan mengurung tubuhnya atas nama moralitas. Sementara, beberapa kelompok masyarakat lain mewajibkan perempuan membuka tubuhnya atas nama keindahan dan seni. Adakah yang pernah bertanya, apa sebenarnya yang diinginkan perempuan dengan tubuhnya? Permasalahan ini kembali muncul dalam kontroversi rok mini yang baru-baru ini terjadi. “Kasus rok mini” lahir dari gedung DPR, dan dari pernyataan gubernur Jakarta. Ketua DPR Marzuki Alie dari fraksi Partai Demokrat menyatakan, bahwa penggunaan rok mini bisa menimbulkan pelecehan seksual.

Fauzi Bowo, Gubernur Jakarta, juga pernah memberi pernyataan, bahwa orang yang naik angkot, dan kemudian menggunakan rok mini, pasti akan menimbulkan kegerahan dari yang melihatnya. Walaupun akhirnya meminta maaf, pernyataan tersebut sudah menempatkan perempuan sekali lagi sebagai “budak” dari tubuhnya sendiri. Pada hemat saya, pandangan Martin Heidegger tentang teknologi, terutama cara berpikirnya, bisa menerangi permasalahan sebenarnya terkait dengan “kasus rok mini” di atas. Lanjutkan membaca Filsafat “Rok Mini” Martin Heidegger