Filsafat “Rok Mini” Martin Heidegger

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Perempuan tampaknya memang tak pernah menjadi “tuan” atas tubuhnya. Beberapa kelompok masyarakat mewajibkan perempuan mengurung tubuhnya atas nama moralitas. Sementara, beberapa kelompok masyarakat lain mewajibkan perempuan membuka tubuhnya atas nama keindahan dan seni. Adakah yang pernah bertanya, apa sebenarnya yang diinginkan perempuan dengan tubuhnya? Permasalahan ini kembali muncul dalam kontroversi rok mini yang baru-baru ini terjadi. “Kasus rok mini” lahir dari gedung DPR, dan dari pernyataan gubernur Jakarta. Ketua DPR Marzuki Alie dari fraksi Partai Demokrat menyatakan, bahwa penggunaan rok mini bisa menimbulkan pelecehan seksual.

Fauzi Bowo, Gubernur Jakarta, juga pernah memberi pernyataan, bahwa orang yang naik angkot, dan kemudian menggunakan rok mini, pasti akan menimbulkan kegerahan dari yang melihatnya. Walaupun akhirnya meminta maaf, pernyataan tersebut sudah menempatkan perempuan sekali lagi sebagai “budak” dari tubuhnya sendiri. Pada hemat saya, pandangan Martin Heidegger tentang teknologi, terutama cara berpikirnya, bisa menerangi permasalahan sebenarnya terkait dengan “kasus rok mini” di atas. Baca lebih lanjut