Mencintai “Yang Tak Dapat Dicintai”

http://www.myjoypages.com

Suatu Upaya Penafsiran Pemikiran Slavoj Žižek Tentang Cinta

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Apa yang anda lakukan, ketika anda berbeda pendapat dengan sahabat anda? Apa yang anda lakukan, ketika anda berkonflik tajam dengan kolega anda? Apa yang anda lakukan, ketika anda memiliki visi hidup dan keinginan yang berbeda ekstrem dengan kekasih anda? Biasanya orang akan mengambil satu pilihan, yakni pergi; cari pacar lagi, cari teman lagi, cari tempat kerja lain yang lebih cocok, atau cari kolega lain yang mengerti jalan pikiran kita.

Di dalam tulisan ini, dengan berbekal pemaparan yang amat menarik dari O’Dwyer, saya akan mencoba menjelaskan pandangan Žižek tentang cinta. Seperti biasa, pandangannya amat dipengaruhi oleh aliran filsafat sekaligus psikoanalisis yang ia dalami selama ini. Sebagai upaya pengembangan, saya juga akan mencoba menarik konsekuensi logis pandangan Žižek khusus untuk konteks pernikahan. Bagi Žižek, cinta adalah suatu untuk mencintai yang seolah “tak dapat dicintai”. Cinta lahir dari kebebasan, dan tidak pernah dapat diperintahkan, apalagi dipaksakan. Saya akan jelaskan lebih jauh.

Slavoj Žižek dikenal sebagai seorang filsuf psikoanalis ternama di dunia.[1] Ia memiliki gaya yang unik dalam menyampaikan pemikirannya. Seringkali ia tidak menolak kontradiksi (bersatunya hal-hal yang berbeda, seperti jahat sekaligus baik, hitam sekaligus putih), melainkan melihatnya sebagai suatu gerak realitas yang alamiah.

Salah satu argumennya yang paling banyak tampil di berbagai forum adalah, bahwa budaya massa sekarang ini, mulai dari film sampai dengan berbagai bentuk gaya hidup, adalah suatu bentuk mitos ataupun tipuan yang menutupi realitas ganjil yang tersembunyi di baliknya. “Dia”, demikian tulis O’Dwyer, “bukan filsuf biasa, karena ia berpikir dan menulis dengan gaya yang ceroboh sekaligus menyenangkan, ia terus membuat filsafat dengan penuh resiko menjadi menyenangkan.” (O’Dwyer, 2012)

Titik tolak Žižek adalah salah satu ajaran Kristiani tentang cinta, yakni cintailah tetanggamu. Dalam arti ini, menurut saya, kata tetangga bisa diartikan sebagai orang lain, “yang lain” dari saya. Pertanyaan berikutnya adalah, siapa itu orang lain, siapa itu “yang lain” dari saya? Untuk menjawab pertanyaan ini, Žižek mengutip pendapat Lacan, orang lain, termasuk tetanggamu, adalah the real itu sendiri. The real adalah yang tak terduga, yang memecah kita dari rutinitas keseharian. “The real”, demikian tulis O’Dwyer tentang Žižek, “adalah orang lain dengan segala kelemahan, kerapuhan, keanehan, dan kesalahan yang sifatnya traumatik.” (O’Dwyer, 2012)

Mencintai orang lain berarti mencintai tidak hanya sisi-sisi baiknya, tetapi juga sisi-sisi traumatis yang tak terduga, yang terkandung di dalam dirinya. Mencintai yang terduga berarti tidak mencintai sama sekali, karena kita sudah menebak, dan mengkalkulasi dirinya. Mencintai baru bisa dianggap sungguh mencintai, ketika kita mencintai orang-orang yang tak terduga, yang tak dapat kita terka, yang tak dapat kita bungkus dalam kesempitan konsep pikiran maupun keinginan kita.

Di dalam dunia sehari-hari, kita sering mendengar kata-kata luhur, seperti toleransi, kasih universal, dan kesetaraan antar manusia. Menurut Žižek, di balik keluhuran kata-kata ini, ada keengganan yang tersembunyi, yakni keengganan untuk bersentuhan dengan “yang lain”, yang tak terduga, dan traumatik. Artinya, wacana yang bersifat luhur tentang cinta kepada manusia lain seringkali justru mematikan upaya kita untuk sungguh mencintai “yang lain”, yang tak terduga, dan traumatik. Orang lain, sejatinya, selalu berbeda, dan selalu mengancam cara hidup dan gaya berpikir kita dengan keberbedaannya tersebut.

Berpikir tentang toleransi, kesetaraan, dan kasih jelas membuat kita berharap, bahwa orang lain akan juga bersikap sama, yakni bersikap baik pada kita. Di dalam realitas, harapan semacam ini tidak akan terwujud. Yang kita dapatkan, dari harapan semacam ini, adalah kekecewaan, karena orang lain ternyata tak dapat diduga, dan bahkan bertindak sama sekali tidak seperti yang kita harapkan. Orang lain, pada dasarnya, adalah traumatik dan mengancam. Cinta yang sesungguhnya adalah mencintai orang yang membuat kita traumatik dan merasa terancam, karena perbedaan yang ia tampilkan.

Pada titik ini, Žižek, sebagaimana dibaca oleh O’Dwyer, mulai berbicara soal hakekat dari manusia, apa artinya menjadi manusia. Tentu saja, seperti bisa langsung ditebak, konsep Žižek tentang manusia bernuansa ganjil dan gelap. Ia tidak berbicara tentang kemanusiaan universal yang bersifat luhur dan mulia, melainkan tentang manusia yang berbeda, yang lain, yang tak terduga, yang tak tertebak, yang mengancam stabilitas sosial yang sudah ada, manusia yang penuh dengan ketidakpastian dan kontradiksi pada dirinya sendiri. Dalam ketidakpastiannya itu, manusia menjadi sesuatu yang lain, yang terasing, dari apa yang umum, dari apa yang sudah diterima sebagai sesuatu yang baku.

Orang lain adalah suatu realitas yang unik, yang tak dapat kita kurung dalam harapan ataupun pikiran yang kita punya. Orang lain adalah realitas yang nyata, yang tak dapat kita hindari dengan ilusi-ilusi harapan yang kita punya tentangnya. Membayangkan bahwa orang lain bisa selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan dan pikirkan adalah ilusi yang menciptakan konsep-konsep luhur, seperti toleransi, dan kasih universal.

Mudah bagi kita untuk mencintai orang-orang miskin, orang-orang yang tak mampu, sakit, kelaparan, ataupun kaum minoritas yang jinak. Mudah juga bagi kita, demikian kata Žižek, untuk mencintai orang lain, selama orang lain itu tidak mengganggu hidup kita, cukup jauh dari kita, dan ada jarak yang terus memisahkan saya dengan mereka. Namun, itu bukanlah cinta. Itu hanya tawar menawar. Cinta yang sejati bisa terlihat, ketika orang masuk ke dalam hidup kita tanpa jarak, tanpa rencana, dan kita bisa tetap mencintainya.

Kedekatan itu seringkali menyesakkan. Perbedaan seringkali membuat kita cemas, membuat rutinitas yang telah kita bangun menjadi hancur, dan harus dipikir ulang. Perbedaan yang dekat dengan kita memaksa kita berpikir ulang tentang semuanya. Ketidakmampuan mengelola perbedaan yang mendekat secara tajam dalam hidup kita bisa membuat cinta berubah menjadi kebencian. Dalam arti ini, cinta dan kebencian hanyalah setipis benang. Bahkan Žižek mengatakan, bahwa cinta mengandaikan kemungkinan adanya kebencian di dalamnya.

Mencintai berarti mencintai yang traumatis, yang tak terduga, dan yang mengancam kita dengan perbedaan yang ia tawarkan. Cinta adalah komponen utama dalam pernikahan. Pernikahan yang mengharapkan adanya harmoni akan berujung pada kekecewaan yang mendalam. Justru di dalam pernikahan, belajar dari Žižek, kita perlu untuk siap pada yang tak terduga, tak tertebak, yang mengancam kita untuk mengubah segala hal yang kita pegang selama ini. Pernikahan adalah the real itu sendiri.

Di dalam pernikahan, mudah sekali untuk mencintai orang yang memberi kita kedamaian. Mudah sekali juga untuk mencintai orang yang memberikan kita kebahagiaan. Namun, realitas tidak seperti itu. Banyak pasangan berpisah, karena mereka tidak siap pada yang tak terduga, yang mungkin muncul di dalam hubungan mereka. Di dalam pernikahan, mencintai berarti mencintai “yang traumatis”. Selain itu, bersiaplah untuk bercerai.

Pola berpikir yang sama bisa diterapkan di arena politik. Di alam demokrasi, perbedaan adalah udara yang kita hirup sehari-hari. Yang juga mesti diingat adalah, demokrasi mengandaikan adanya cinta. Bukan cinta yang mengharapkan orang lain (dari etnis, suku, ras, ataupun agama lain) untuk bertindak sesuai keinginan kita, melainkan cinta yang berusaha untuk melampaui dirinya sendiri dengan mencintai orang-orang lain (dari etnis, suku, ras, ataupun agama lain) yang seolah tak dapat dicintai.

Di tengah kerumitan hidup dan kekacauan realitas, Žižek mengajak kita untuk tetap untuk mencintai, terutama mencintai mereka “yang tak dapat dicintai”.


[1] Tulisan ini diinspirasikan sekaligus dikembangkan dari tulisan Kathleen O’Dwyer yang berjudul Žižek on Love dalam http://www.philosophynow.org/issues/77/Žižek_on_Love diakses 23 Mei 2012, 15.42

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

40 tanggapan untuk “Mencintai “Yang Tak Dapat Dicintai””

  1. aduh berat sekali pak, tapi bukan berarti tidak bisa. butuh waktu untuk mencintai sesuatu yg tidak dapat dicintai. saya lebih baik pergi dulu untuk memulihkan hati setelah itu saya kembali lagi untuk bersahabat dengan orang tersebut.

    Suka

    1. Yap, sebagai manusia, kita perlu untuk belajar mencintai “yang traumatis”, supaya kita bisa memecah belenggu narsisisme dan egoisme yang membelenggu kita untuk menjadi manusia yang lebih baik.

      Suka

  2. Mantap bro… Ini gw banget… 🙂
    Mnurut q, banyak pasangan cerai karena ga siap dgn “sisi traumatis” dr pasangan’y. Kbanyakan alasan perceraian adl ketidakcocokan, padahal ketidakcocokan itu slalu ada & inheren dlm kecocokan.
    Mencintai “the real” / “yang lain” mnurut q sama dgn mencintai ke luar dr diri qta sendiri; mncintai yg keluar dr ide2 normatif manusiawi; dan mencintai yg keluar dr segala kemapanan nilai2 yg qta miliki.
    Hal itu emang susah banget, membutuhkan kdewasaan, kepribadian yg mantap dan pemikiran manusiawi yg bener2 matang. Klo itu semua lom dimiiliki, agak sulit kliatan’y. tuk bisa mencintai “yang lain” / “yang traumatis” dr org lain. Bener ga sie??? 🙂

    Suka

  3. Terima kasih sekali atas terjemahannya mas Reza…
    Jadi benarkah pemahaman saya kalau saya memahami bahwa menurut zizek manusia itu adalah subyek yg kosong dan terus berproses. Jadi kalaupun kita sampai membenci yg kita benci adalah tindakannya bukan manusianya ?

    Terima kasih sekali lagi
    Salam

    Suka

    1. INi bukan terjemahan, tetapi tafsiran. Jadi banyak sekali pemikiran saya sendiri bercampur dengan pemikiran Zizek. Saya setuju dengan pernyataan yang pertama, tetapi ragu dengan pernyataan yang kedua. Kita harus belajar melampaui kebencian, dan belajar untuk sungguh mencintai “yang kita benci”. Itulah cinta manusiawi.

      Suka

  4. Penafsiran yang keren…..memang berat menjalaninya..”mencintai yang tak terduga…” tetapi akankah berakhir dengan happy ending? bukankah happy ending selalu ingin didapatkan semua orang dalam perjuangannya…..sebuah proses yang menguras hati dan perasaan…

    Suka

  5. Hasil akhir selalu mengikuti proses…
    Aku yakin proses yg baik selalu menghasilkan hasil yg baik pula. Itu teori’y sie…
    ….sebuah proses yg menguras hati n perasaan… –> proses mencintai yg tak trduga emang akan banyak “makan ati”. 🙂

    Suka

    1. sebuah proses yg menguras hati n perasaan… –> proses mencintai yg tak trduga emang akan banyak “makan ati”. 🙂
      sbenarnya ini pengalaman hidup, brarti pernah mengalami juga ya? memang melelahkan,…hahahaha

      Suka

      1. @Ko Chan: Q msh anak bau kencur nie, lom terlalu berpengalaman dlm menjalani hidup. Hny saja, prinsip yg q pegang dlm belajar adl:
        1. Mendaratkan idealisme q dlm kehidupan nyata sehari-hari (gerak turun), dan sbalik’y
        2. Mencari esensi” masalah dlm hidup sehari & mengangkat’y ke level yg lebih tinggi. (gerak naik)

        Jadi’y…. gerak naik-turun. wkwkwkwk….

        Suka

      2. Saya juga bau kencur…lebih bau kencur malah…hahahaha
        beberapa kali pengalaman menyakitkan *curhat*
        pengalaman yang lalu adalah saya pihak yang memberi…sekalipun disakiti, hingga detik ini pun (4 Juli 2012 pkl 15:48 WIB *lebay*) rasanya saya masih hrs tetap memberi kasih *walaupun sudah tidak ada perasaan cinta lagi*
        jd ketika mereka membutuhkan seseorang, saya masih hrs ada buat mereka…
        kadang saya capek *curhat lagi* namun saya juga menyayangi mereka….
        repot jd org melankolis ini (sisi negatifnya maksudnya) hehehehe

        Suka

    2. Ah… Ko Chan, ktika q baca commend’y yg trakhir, mata q jd berkaca-kaca, & hati q bergetar..
      Q baru di tingkat memahami (apriori) & lom pernah mngalami scr pribadi pngalaman dahsyat sperti itu.
      Mnurut q, pngalaman Ko Chan tersebut adl realisasi dr tulisan ini –> mencintai yg tak dpt dicintai itu sendiri. Cinta pd level yg tertinggi.. mencintai tanpa mengharapkan kembali (asal yg qta cintai bahagia, qta jg turut bahagia meski hati sakit, lelah, dan prasaan campur aduk).. cinta yg keluar dr diri (mngarah ke yg lain)..
      Thx Ko Cha atas share pngalaman’y, q belajar banyak dr sharing’y..
      Klo besok hari, q mengalami hal yg sama sperti itu, q pengen bisa tetep bersikap sperti Ko Chan. 🙂
      Btw ada email/FB?

      Suka

      1. hahaha…masa sampe segitunya….tapi yang dirasa itu sakit..bener2 sakit…mungkin juga itu yang Tuhan maksudkan agar saya bisa menjadi berkat bagi mereka….hehehehe
        tetap menjadi yang baik bagi mereka…
        cari aja Chandra Pratama Setiawan.
        kokochan.777@gmail.com

        Suka

      2. Q coba memahami dgn hati aja sie, maka’y kliatan lebay bngt (q sedang latihan tuk mengolah rasa & berempati).. Q coba memposisikan diri, bagaimana ketika q ada di posisi org lain yg mngalami hal itu.. mencintai yg tdk dpt dicintai –> mncintai yg mnyakitkan bngt.. proses yg menyayat hati & perasaan.. Q tau itu

        Suka

      3. Sip Vid. Tapi rasa dan empati berbeda dengan “cengeng” dan galau lo. Kita seringkali mencampuradukan keduanya. Empati itu kemampuan akal budi sekaligus rasa, dan bukan sikap galau.

        Suka

  6. salam mas Reza.bagaimana kalau kita mencintai orang yang tidak setia?. jika pada akhirnya kita melepaskannya atau bercerai karena sadar kita bukan yang dicintainya.bukan berarti kita tidak menerima hal tdk terduga tsb.kita menerima nya kemudian melepaskan agar orang yang kita cintai menemui orang yang membuatnya berubah lebih baik.

    Suka

  7. Saya suka sekali tulisannya, menarik sekali. Makasi mas reza :))
    Saya pernah baca, ktnya tahap kedua dari belajar mencinta adalah men-dia, setelah tahap pertama meng-aku. Yg saya pahami sejauh ini, meng-aku berarti mncintai apa adanya, “tulus”, hanya tau mencinta saja tanpa peduli apakah dicintai. Sekilas, proses ini objektif. Setelah baca tulisan ini, rupanya penafsiran sy tentang mencinta dengan men-dia (menjadi dia) sepertinya masih subjektif juga, lebih didasarkan pada kesadaran subjek saja, tanpa peduli pada realitas objek. Kemudian ternyata Zizek mampu menawarkan pemahaman baru, bahwa mencintai menggabungkan realitas meng-aku dan men-dia, melalui mencintai sisi traumatis yg tak terduga. Dan menurut saya mungkin ini lebih dekat pada hakikat mencintai yang utuh..
    entahlah.. belajar mencintai memang proses panjang yg seperti tak ada habisnya. Wkwk
    Tapi, penjelasannya manis sekali. Saya suka. Terimakasih mas :))

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s